20 Hal Ini Wajib Diperhatikan Sebelum Berinvestasi Reksa Dana

Dari tahun ke tahun nilai dana kelolaan reksa dana di Indonesia terus meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai dana keloaan (asset under management/AUM) reksa dana industri mencapai Rp540,91 triliun per September 2019. Dibandingkan pada tahun 2015, nilai AUM reksa dana sebesar Rp272 triliun. Adanya lonjakan tersebut menunjukkan minat masyarakat yang besar terhadap reksa dana.

Pilihan investasi di Tanah Air itu beragam, seperti tabungan dan deposito. Kedua investasi produk bank ini terbilang masih menjadi pilihan investasi favorit masyarakat karena aman dan risiko investasi sangat rendah dan uang yang tersimpan di perbankan mendapatkan jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Namun, apabila kedua investasi tersebut dibandingkan dengan reksa dana, jelas reksa dana lebih menjanjikan dalam pemberian return (keuntungan hasil investasi), dengan risiko yang rendah dibandingkan investasi saham namun reksa dana tidak dijamin LPS.

Sebagai calon investor, bagi Anda yang kini berminat ingin investasi reksa dana, sebagiknya Anda pahami dulu 20 hal di bawah ini agar investasi reksa dana milik Anda bisa maksimal dalam bertumbuh.

Baca Juga: Tips Pintar Belanja Reksa Dana Online

1. Dana Reksa Dana Dikelola Manajer Investasi

Manajer Investasi Reksa Dana

Manajer Investasi Membantu Investor Mengelola Investasi Reksa Dananya via berkettinsurance.com

Reksa dana merupakan produk investasi yang dikelola manajer investasi (MI)  yang bersama bank kustodian berperan sebagai pengelola investasi itu sendiri. Dalam mengelola dana yang berasal dari nasabah, manajer investasi akan menempatkan dana yang terkumpul dari nasabah ke dalam portofolio efek, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi, dan saham. Sementara bank kustodian akan bertugas untuk menyimpan dan menyelesaikan transaksi administrasi reksa dana tersebut.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan manajer investasi harus mengantongi izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan data OJK per Desember 2019, terdapat 98 manajer investasi terdaftar dan berizin. Anda bisa cek daftar nama perusahaan manajer investasi di sini.

2. Reksa Dana Itu Praktis dan Mudah

Reksa dana adalah salah satu produk investasi yang praktis dan mudah untuk dimiliki. Semua kegiatan pengelolaannya akan ditangani manajer investasi yang tentunya telah dibekali keahlian. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa reksa dana sangat cocok bagi investor yang sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk memilih-milih di mana dananya ditempatkan. Atau bahkan bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang baik terkait dengan kegiatan investasi.

3. UU No. 8 Tahun 1995 sebagai Dasar Hukum Reksa Dana

Reksa dana diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 27 yang menyatakan bahwa “Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.”

4. Perkembangan Terkini Reksa Dana di Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan signifikan dari investasi reksadana di Indonesia. Hal ini tercermin dari adanya peningkatan pada total dana kelolaan reksa dana.

Dilansir dari Liputan6.com, Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Sujanto mengatakan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir total dana kelolaan reksa dana meningkat sampai 2 kali lipat, yaitu Rp 272 triliun pada 2016, menjadi Rp 507 triliun per 9 Mei 2019. Selain itu, jumlah produk reksa dana pun meningkat signifikan. Sejak 2016, jumlah produk reksa dana meningkat tiga kali lipat, dari 1.091 produk pada 2016 menjadi 2.082 produk per 9 Mei 2019.

Tentunya, tahun depan seiring dengan perekonomian Indonesia yang di proyeksikan akan bertumbuh positif, investasi reksa dana bisa menjadi pilihan baik. Namun, tetap Anda harus paham, sekalipun diprediksi akan mengalami pertumbuhan positif, investasi reksa dana tetap ada risikonya. Jadi Anda tetap perlu waspada terhadap perkembangan pasar yang fluktuatif.

5. Bisa Mulai Investasi Reksa Dana dengan Modal Rp10.000 

Reksa dana berbeda dengan investasi lainnya, seperti deposito atau obligasi, yang pada umumnya akan membutuhkan sejumlah dana yang cukup besar. Untuk memulai investasi ini, investor dapat melakukannya dengan dana sebesar Rp10.000 saja.

Baca Juga : Investasi Reksadana Bukalapak vs Tokopedia, Modal Receh Rp 10 Ribu

6. Reksa Dana Bisa Dibeli Kapan Saja

Keuntungan Reksa Dana

Tak Ada Kewajiban Rutin Membeli Reksa Dana via christianvc.com

Selain terjangkau, investasi reksa dana juga semakin mudah. Tidak harus dibeli secara rutin sebagaimana investasi lainnya. Reksa dana dapat dibeli kapan saja, misalnya ketika Anda punya rejeki tambahan, lalu ingin investasi reksa dana, Anda bisa memilih reksa dana yang sesuai, dan harganya sudah terjangkau mulai dari Rp10.000. 

Baca Juga: 6 Manajer Investasi Reksadana Terbaik Beserta Produknya

7. Tidak Dijamin LPS

Sebagaimana produk investasi lainnya, reksa dana juga mengandung risiko. Tidak ada jaminan atas hal tersebut. Berbeda halnya dengan produk tabungan atau deposito yang dijamin risikonya oleh LPS. Sementara risiko yang terdapat pada reksa dana tidak dijamin LPS.

8. Tak Perlu Mengelolanya Sendiri

Investor tidak akan mengelola sendiri dana reksa dananya. Sebab hal ini menjadi tanggung jawab manajer investasi yang memang bertugas untuk melakukan hal itu.

9. Bisa Dibeli atau Dijual secara Online

Reksa dana bisa dibeli dan dijual secara online atau offline. Secara online, Anda bisa beli reksa dana melalui fintech atau e-commerce, seperti ipotfund, tokopedia, Bukalapak. Atau, beli reksa dana secara langsung di manajer investasi atau melalui agen yang terdaftar seperti Agen Penjual Reksa Dana (Aperd) dan bank yang telah bekerjasama menjual reksa dana. Sebelum investasi, baca prospektus dengan cermat dan penuhi persyaratan yang diperlukan sehingga prosesnya bisa berjalan dengan lancar.

10. Tugas Manajer Investasi

Manajer investasi adalah pihak yang bertugas untuk mengelola keseluruhan dana investasi yang ditempatkan dalam reksa dana. Mereka ini akan melakukan berbagai transaksi terkait dengan reksa dana.

Kegiatan usaha manajer investasi, meliputi:

  • Mengelola portofolio efek (surat berharga) nasabah berdasarkan perjanjian pengelolaan dana, baik bersifat bilateral dan individual yang disusun sesuai peraturan pengawas pasar modal
  • Pengelolaan portofolio investasi kolektif untuk kepentingan sekelompok nasabah melalui wadah produk-produk yang diatur dalam peraturan pengawas pasar modal. Termasuk reksadana
  • Kegiatan lain yang sesuai dengan ketentuan pengawas pasar modal.

11. Transaksi Gratis

Reksa Dana Gratis

Tak Ada Pungutan Biaya dalam Transaksi Reksa Dana via productfocus.com

Jika membeli atau melakukan penjualan reksa dana secara online, investor tidak akan dikenakan biaya apa pun. Sebab semua transaksi yang berkaitan dengan reksa dana ini gratis.

Baca Juga:  Ini 3 Situs Penyedia Infromasi Reksadana Gratis Terbaik

12. NAB Menjadi Tolok Ukur Reksa Dana

Hasil investasi reksa dana akan dinilai berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB). NAB per unit merupakan harga portofolio yang telah dikurangi biaya operasional dan dibagi dengan jumlah unit penyertaan yang dimiliki investor saat itu.

Contoh: Anda membeli reksa dana “A” dengan harga NAB Rp1.200. Untuk membeli 1.000 UP, akan dibutuhkan dana sebesar Rp1.200.000 (ditambah komisi/fee).

  • Jika akhir tahun Anda ingin mencairkan reksa dana tersebut dengan NAB seharga Rp1.600, keuntungan Anda adalah Rp400.000 (dikurangi komisi/fee).
  • Jika ternyata NAB adalah Rp1.100, kerugian Anda adalah Rp100.000 (ditambah komisi/fee).

13. Ada 4 (Empat) Jenis Reksa Dana

Reksa dana dibagi dalam 4 (empat) jenis, yakni:

  • Reksa dana pasar uang
  • Reksa dana pendapatan tetap
  • Reksa dana saham
  • Reksa dana campuran

14. Risiko Investasi Reksa Dana

Beberapa risiko yang terkandung dalam reksa dana, di antaranya:

  • Tidak adanya jaminan keuntungan.
  • Risiko umum yang terjadi di dalam pasar modal.
  • Risiko efek yang mungkin saja terjadi akibat kinerja perusahaan atau hal lainnya.
  • Risiko likuiditas yang mungkin menurunkan nilai investasi.
  • Risiko terhadap terjadinya inflasi.
  • Risiko ketidakpatuhan, terkait dengan berbagai aturan dan juga ketentuan di dalam reksa dana.
  • Risiko terhadap kinerja manajer investasi yang menangani reksa dana tersebut.

15. Reksa Dana Masuk Investasi yang Legal

Reksa dana merupakan produk investasi yang legal sehingga tidak bertentangan dengan hukum untuk memilikinya. Namun, dengan maraknya kasus penipuan, ada baiknya untuk selalu cermat dan berhati-hati saat akan berinvestasi dalam instrumen ini.

Baca Juga: Investasi Reksa Dana, Hukumnya Halal atau Haram?

16. Reksa Dana Berada Di Bawah Pengawasan OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

OJK Menjadi Lembaga yang Mengawasi Kegiatan Jasa Keuangan via financial.id

 

Sesuai dengan undang-undang yang berlaku, seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan transaksi jual beli reksa dana harus mendapatkan izin dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Badan inilah yang juga berwenang untuk melakukan kegiatan pengawasan terhadap investasi tersebut.

17. FCC Sebagai Sarana Pengaduan Penipuan Reksa Dana

Peluncuran Layanan Konsumen Keuangan Terintegrasi atau Financial Customer Care (FCC) oleh OJK memungkinkan investor atau masyarakat luas untuk melakukan pengaduan atas berbagai tindakan penipuan dan masalah lainnya di dalam investasi mereka. Hal ini tentu berlaku juga bila ada yang merasa tertipu dalam melakukan investasi reksa dana.

18. Cara Berkomunikasi Langsung ke OJK

OJK dapat dihubungi melalui call center di layanan telepon (Kode Area) 1500 655. Bila ingin berkomunikasi secara online, dapa dilakukan lewat email ke konsumen@ojk.go.id atau melalui sikapiuangmu.ojk.go.id. Bisa juga melalui fax (021) 3866032.

Selain melalui beberapa cara tersebut, keluhan juga dapat dikirimkan melalui surat ke alamat Menara Radius Prawiro Lantai 2 Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jalan M.H. Thamrin No. 2 Jakarta, yang ditujukan kepada Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen.

19. Syarat Penyelesaian Sengketa

Sengketa yang dapat diajukan ke OJK adalah yang bernilai <Rp500 juta untuk beberapa bidang, di antaranya perbankan, pasar modal, dana pensiun, asuransi jiwa, pembiayaan, perusahaan gadai, atau penjaminan. Sementara khusus untuk bidang asuransi umum, nilainya harus <Rp750 juta.

20. Cara Memulai Investasi Reksa Dana

Untuk mulai berinvestasi dalam reksa dana, Anda bisa mulai dengan mengakses fasilitas investasi reksa dana secara online. Di sana kegiatan jual beli investasi ini bisa dilakukan dengan mudah dan gratis. Selain itu, Anda juga bisa membeli reksa dana di bank-bank yang telah menjual reksa dana.

Baca Juga : Daftar Bank Penjual Reksadana Terbaik

Tentukan Tujuan Investasi, Pahami Reksa Dana dengan Baik

Sebelum Anda investasi, ada baiknya Anda tahu lebih dahulu apa tujuan Anda investasi. Tanyakan diri Anda, apa tujuan keuangan Anda yang ingin diraih dan bagaimana Anda bisa menggunakan produk investasi reksa dana untuk mewujudkan tujuan Anda. 

Setelah Anda paham, Anda barulah menentukan produk reksa dana mana yang cocok dan sesuai dengan tujuan Anda. Misalnya, reksa dana untuk tujuan investasi jangka panjang, menengah atau pendek. Semua itu adalah kunci agar Anda bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Selamat investasi ya!

Baca Juga: Belajar Investasi Reksa Dana Saham dengan Modal Rp100 ribu, Mau?