7 Fakta tentang Bank Wakaf Mikro di Indonesia yang Perlu Diketahui

Bank Wakaf Mikro
Bank Wakaf Mikro via wap.mi.baca.co.id

Di Indonesia sekarang telah hadir Bank Wakaf Mikro guna membantu masyarakat kecil yang belum tersentuh lembaga keuangan formal (perbankan) khususnya mereka yang berada di pedesaan maupun pelosok.

Pengertian bank wakaf mikro ialah lembaga keuangan mikro syariah yang didirikan atas izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bertujuan memberikan pinjaman modal usaha kepada masyarakat kecil. Pendirian bank Wakaf Mikro pun dilakukan melalui pesantre-pesantren yang telah mendapatkan izin dari OJK.

Bank Wakaf Mikro pertama kali hadir pada Oktober 2017. Selang 2 bulan, pada Desember 2017 Bank Wakaf berhasil mengumpulkan 827 nasabah. Pertumbuhannya kian pesat setelah diresmikan pada awal tahun 2018. Hal ini terlihat pada Maret 2018, sebanyak 20 bank wakaf berhasil mendapatkan izin usaha dari OJK dan berhasil memiliki 3.876 nasabah. Terbaru, data OJK per akhir Desember 2018, sudah ada 41 bank wakaf mikro yang berizin dari OJK dan mencatatkan sebanyak 8.000 lebih nasabah.

Latar belakang didirikannya bank wakaf mikro ialah menjawab keluhan masyarakat di pedesaan yang sulit mendapatkan akses layanan bank, padahal mereka juga perlu pinjaman tanpa jaminan dan mudah di akses untuk modal usaha, investasi dan lain sebagainya.

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Fakta Penting tentang Bank Wakaf

Fakta Bank Mikro
Fakta Bank Mikro via Berdesa.com

Tujuan utama Bank Wakaf Mikro yang merupakan program OJK bersama pemerintah yakni mengurangi kemiskinan dan membantu masyarakat lebih mudah mendapatkan pinjaman sehingga mereka semakin maju dalam membangun maupun mengembangkan usahanya. Berikut 7 fakta menarik seputar Bank Wakaf Mikro yang perlu Anda ketahui.

1. Nasabah Hanya dari Kalangan Masyarakat Tertentu

Calon nasabah yang bisa mengajukan pinjaman tanpa jaminan di BWM adalah masyarakat yang tidak/sulit memiliki akses ke bank seperti halnya mereka yang tingal di pedesaan/pelosok sehingga jauh dari jangkauan perbankan, dimana mereka belum mengenal lembaga keuangan formal seperti perbankan beserta produknya.

Lalu nasabah juga dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki pendapatan dibawah rata-rata sehingga tidak semua orang bisa sembarangan mengajukan pinjaman tanpa agunan ke bank wakaf mikro.

Baca Juga: Pilihan Situs Crowdfunding Indonesia untuk Diajukan Sumber Dana

2. Pesantren sebagai Fasilitator Utama

Perbedaan bank wakaf mikro dari bank umum/daerah adalah pengelolaannya. BWM dikelola langsung dilakukan oleh orang-orang yang menjadi bagian dari sebuah pesantren yang tentunya pesantren tersebut sudah mendapat izin dari OJK untuk menjalankan BWM.

Pesantren dipilih karena di wilayah pedesaan/pelosok selalu ada pesantren, dan tentunya lingkungan pesantren terasa lebih familiar dan dekat dengan orang-orang di pedesaan sehingga sosialisasi dan distribusi dana pinjaman menjadi lebih mudah.

3. Syarat Utama Peminjam harus Sebuah Kelompok

Untuk menghindari kesalahan penggunaan dana pinjaman, bank bank wakaf mewajibkan peminjaman dana berbentuk sebuah kelompok usaha yang berisi 3-4 orang, dengan tujuan saling mengingatkan satu sama lainnya.

Walaupun sudah berbentuk kelompok, tidak serta merta dana langsung cair, ada pembinaan lain yang harus dilalui oleh kelompok selama 5 hari terlebih dahulu. Setelah berhasil menjadi sebuah kelompok usaha, para nasabah-nasabah tersebut harus mengadakan pertemuan intens setiap minggu untuk meningkatkan solidaritas dan kegiatan ini akan diawasi langsung oleh pihak BWM yang dijadikan tempat pengajuan pinjaman.

4. Sistem Bagi Hasil setara 3%

Pembiayaan ini tidak membebani bunga namun menggunakan sistem bagi hasil setara 3% untuk pinjaman yang disalurkan kepada nasabah. Saat ini jumlah dana yang dipinjamkan mulai dari Rp 1 juta dengan sistem pelunasan Rp20 ribu perhari selama 52 minggu.

Bank wakaf mikro juga memberikan pinjaman hingga Rp 3 juta tapi dengan persyaratan dan kriteria khusus. Para peminjam pun sebelumnya harus melalui proses sosialisasi, seleksi dan pembinaan terlebih dahulu mengenai usaha apa yang didirikan/dikembangkan, siapa saja sumber daya manusianya untuk bisa mendapatkan pinjaman modal usaha.

Baca Juga: Pilihan Situs Crowdfunding Indonesia untuk Diajukan Sumber Dana

5. Pembinaan Usaha Khusus Nasabah

Pengajuan pinjaman memang tidak bisa sembarangan dan ada pembinaan usaha untuk para nasabah. Mereka akan dilatih mulai dari cara mengelolaan uang, usaha, maupun cara mulai bisnis/usaha secara berkelompok dll. Adapun penggunaan dana pinjaman ini sangat dilarang jika tujuannya selain untuk modal usaha.

6. Donatur bukan Investor

Para penyumbang modal untuk BWM adalah memang orang-orang yang memiliki keinginan untuk membantu memperbaiki ekonomi masyarakat kelas bawah atau yang berpenghasilan di bawah rata-rata. Marjin 3% dan sistem bagi hasil yang diterapkan menunjukan bahwa tujuan utama para donatur dari bank wakaf ini memang murni untuk menolong bukan mencari keuntungan tambahan.

7. Bisa Dilakukan oleh Kelompok Agama Lain

Walaupun terdengar sangat islamik dan dijalankan langsung oleh pesantren bukan berarti pengajuan pinjamannya hanya dibatasi oleh umat beragama tertentu dan bukan berarti kelompok agama lain tidak bisa mendirikan lembaga yang sama.

Kelompok beragama lain tentu sangat diperbolehkan membangun BWMnya sendiri dan tetap bisa didukung oleh pemerintah secara penuh. Asal tidak melenceng dari tujuan didirikannya bank wakaf yaitu membantu masyarakat non-bankable mendapatkan modal pinjaman usaha dengan bunga rendah untuk memajukan ekonominya dan menambah pengetahuan masyarakat yang non-bankable menjadi bankable dan lebih mawas terhadap fungsi dan manfaat bank dan produk keuangannya.

BWM untuk Bangun Ekonomi Bangsa dan Berantas Lintah Darat

Keputusan pemerintah dalam mendirikan bank wakaf tidak hanya memberikan mereka modal pinjaman tanpa bunga tinggi, tapi juga wawasan tambahan dalam membangun usaha dan mengelola keuangan dan terhindar dari ancaman lintah darat yang merugikan. Ekonomi masyarakat pedesaan bisa dibangun dan pengurangan kemiskinan bisa lebih cepat teratasi salah satunya dengan memberikan akses bank dan produk keuangan yang ramah dengan sosialisasi yang tepat.

Baca Juga: Jajanan Pasar dengan Modal Kecil, Cocok untuk Ide Usaha di Rumah