AFPI Bangun Pusat Data Fintech Lending Agar Bisnis Pinjol Tumbuh Sehat

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) membangun pusat data teknologi finansial atau Fintech Data Center (FDC) untuk perusahaan penyedia layanan pinjaman online (fintech)  di Tanah Air. Data OJK mencatat total sebanyak 144 fintech peer to peer lending yang telah terdaftar dan berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir Oktober 2019.

AFPI  mengungkapkan pusat data fintech akan mempermudah perusahaan fintech peer to peer (p2p) lending dalam melakukan penilaian kredit (credit assessment) terhadap para peminjam sehingga bisnis fintech pinjol di Tanah Air bisa bertumbuh sehat. 

Dengan hadirnya pusat data fintech ini, sebetulnya apa saja fungsi, cara kerja dan keuntungan FDC bagi fintech pinjol terdaftar selaku pihak pemberi pinjaman online (lender)? Untuk lebih jelasnya, Cermati.com akan mengulasnya.

Fungsi Fintech Data Center (FDC)

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh AFPI_P2PLendingID (@afpi_p2plending) pada

Kehadiran FDC merupakan salah satu terobosan inovatif AFPI yang memiliki peran dan fungsi sebagai self-regulatory organization yang mewadahi industri fintech pinjol di Indonesia.

Secara umum, fungsi FDC ialah mempermudah seluruh penyedia layanan pinjol dalam melakukan credit assessment saat menyalurkan kredit sebab sistem FDC memungkinkan semua data antar penyenggara fintech (yang telah terdaftar dan diawasi OJK) saling terintegrasi.

FDC bermanfaat positif bagi penerapan manajemen risiko perusahaan fintech karena potensi penipuan dari peminjam bisa terdeteksi lebih awal. Jadi, secara sederhana, FDC memiliki fungsi yang sama dengan BI Checking dari Bank Indonesia dan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari OJK.

Dikutip dari Kompas.com, Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi menjelaskan bahwa fintech data center dibangun sebagai upaya untuk memastikan industri fintech P2P lending di Indonesia lebih sehat karena menghindari potensi kredit macet, serta menghindari fraud (penipuan) dengan cara mengidentifikasi potensi fraud.

Cara Kerja Sistem FDC

Para penyelenggaran diwajibkan menyerahkan data pelanggan kepada AFPI dan OJK untuk dimasukkan ke dalam sistem FDC. Pusat data fintech ini bisa diakses oleh para penyedia layanan pinjol legal dimana setiap ada peminjam yang hendak meminjam dana, perusahaan fintech pinjol wajib mengecek data nasabahnya (peminjam) di FDC.

Data nasabah yang wajib dilaporkan ke FDC dan bisa terakses oleh antar penyelenggara fintech pinjol antara lain Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan kolektabilitas kredit dari peminjam (borrower). Sementara itu, nama penyelenggara (fintech) akan dirahasiakan demi kepentingan bersama.

AFPI menegaskan data yang bisa dilihat penyelenggara dari FDC sebelum memberi pinjaman yaitu data nasabah secara umum, frekuensi pinjaman nasabah hingga karakteristik perilaku nasabah peminjam seperti lancar, tidak lancar atau macet.

AFPI memastikan bahwa sistem teknologi di FDC dipercaya mampu mendeteksi peminjam (debitor) yang gemar meminjam di berbagai platform pinjol, debitor dengan catatan perilaku meminjam buruk dan identifikasi penipuan. Sebagai gambaran, apabila di setelah di cek data peminjam ternyata tercatat pernah bermasalah seperti cicilan macet di banyak pinjol, maka data tersebut bisa diketahui dan terbaca oleh fintech lainnya.

Penerapan FDC

AFPI mengatakan sebanyak 15 perusahaan fintech pinjol yang telah berpartisipasi dalam uji coba FDC, yaitu Amartha, Danamas, Dompet Kilat, Finmas, Investree, Kimo, KlikACC, KoinWorks, Kredit Pintar, KTA Kilat, Maucash, Modalku, Taralite, Tokomodal, dan UangTeman.

Seperti yang diberitakan media online, AFPI menargetkan pada kuartal I-2020, semua informasi di FDC akan disajikan secara real time agar bisa mempercepat analisa penyaluran pinjaman ke peminjam. Nantinya, FDC juga akan diintegrasikan ke sistem basis data milik perbankan dan SLIK  OJK. Selain itu, AFPI juga berencana akan memperluas kerjasama FDC  dengan menggandeng beberapa pusat data dari BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, asuransi, multifinance dan pasar modal.