Bank Indonesia (BI) Larang Bitcoin. Kalau Begitu, Cari Profit Di Sini Saja

Ramainya pemberitaan mengenai Bitcoin dan virtual currency (cryptocurrency) tahun lalu jadi perhatian banyak orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terlebih nilainya yang melonjak gila-gilaan hingga tembus >Rp100 juta, membuat Bitcoin beserta cryptocurrency lainnya tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai pilihan investasi.

Investor dan trader, baik pemula maupun kawakan, tidak melewatkannya begitu saja. Mereka melihat fenomena Bitcoin ini sebagai peluang untuk meraih cuan dalam waktu singkat. Daya tariknya jelas, kenaikan fantastis Bitcoin dari Rp13 jutaan (Januari 2017) menjadi Rp200 jutaan (Desember 2017). Siapa pun pasti tergiur dengan cepatnya untung yang dihasilkan.

Di balik berlipat-lipatnya untung yang dihasilkan, Bitcoin menyimpan kekhawatiran sejumlah pihak. Hingga akhirnya Bank Indonesia (BI) membuat pernyataan melarang Bitcoin. Sebenarnya, mengapa Bitcoin bisa begitu fenomenal dan apa alasan Bank Indonesia melarang Bitcoin? Ikuti ulasannya berikut ini.

Baca Juga: Mengenal Bitcoin, Mata Uang Virtual yang Bernilai Fantastis

Sekilas tentang Bitcoin: Mata Uang yang Nilainya Tembus Rp100 Juta

Bitcoin Bank Indonesia
Bagaimana Tidak Menarik? Dalam Tempo Setahun, Bitcoin Tembus Rp100 Juta

Berbeda dengan mata uang fiat (Rupiah, Dolar, dan mata uang negara lainnya), Bitcoin adalah salah satu mata uang digital (virtual currency/cryptocurrency) yang tidak dikontrol otoritas negara atau bank sentral dan penggunanya tak perlu mengungkapkan identitas asli (anonim). Bitcoin pertama kali muncul tahun 2009 dan Satoshi Nakamoto adalah figur di balik munculnya Bitcoin.

Tak berbeda jauh juga dengan uang pada umumnya, Bitcoin dan cryptocurrency lainnya berfungsi sebagai alat transaksi, investasi, ataupun komoditas yang diperdagangkan. Namun, jumlah merchants yang menerima Bitcoin masih sedikit. Meskipun begitu, tercatat beberapa nama besar telah menerima Bitcoin untuk transaksi, seperti PayPal, Microsoft, Dell, Expedia, dan Zynga.

Kalau jumlah uang fiat tersedia berapa pun tergantung kebutuhan, jumlah Bitcoin yang beredar bisa dibilang terbatas. Sekitar 21 juta Bitcoin beredar di dunia. Proses melahirkan Bitcoin yang rumit karena harus memecahkan angka-angka matematis/algoritma atau komputasi (mining) menjadi kendala kenapa suplai Bitcoin minim.

Penerapan Teknologi Blockchain lewat Bitcoin

Kecepatan dan efisiensi adalah keunggulan yang ditawarkan Bitcoin dan banyak cryptocurrency kepada penggunanya. Hal-hal tersebut bisa dimiliki Bitcoin dan cryptocurrency lainnya karena penerapan teknologi Blockchain.

Bayangkan, Anda bertransaksi tanpa bank sebagai perantara atau Peer to Peer (P2P). Sudah tentu lebih cepat dan murah tanpa banyaknya ongkos yang keluar, bukan? Inilah kelebihan dari tekonologi Blockchain dalam Bitcoin dan cryptocurrency.

Teknologi Blockchain ini tak ubahnya buku kas yang mencatat transaksi yang terjadi yang kemudian disebar ke jaringan P2P. Siapa pun yang bertransaksi dengan menggunakan Bitcoin atau cryptocurrency otomatis menjadi bagian dari jaringan tersebut dan punya akses untuk melihat transaksi yang terjadi.

Penyebab Tingginya Nilai Bitcoin

Lalu, apa sebabnya nilai Bitcoin bisa melambung tinggi? Ada beberapa hal yang memengaruhi nilai Bitcoin. Pertama, supply and demand. Banyaknya permintaan (demand), sedangkan supply-nya terbatas membuat nilai Bitcoin melonjak. Kedua, respons Pemerintah. Beberapa negara yang memperbolehkan Bitcoin menjadi sinyal positif bagi para investor dan trader untuk memiliki Bitcoin.

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Kenapa Bank Indonesia Larang Bitcoin?

Di Indonesia fenomena Bitcoin mendapat reaksi negatif dari Bank Indonesia. Lewat pernyataannya yang dirilis di bi.go.id pada 13 Januari 2018, Bank Indonesia (BI) melarang penggunaan Bitcoin, baik untuk transaksi maupun investasi. Sebelumnya, pada 6 Februari 2014, BI sudah memperingatkan masyarakat bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan alat pembayaran yang sah.

Ada aturan atau undang-undang yang digunakan BI sebagai dasar untuk melarang penggunaan Bitcoin. Dengan mengacu UU No.7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, UU No. 23 Tahun 1999, dan UU No. 6 Tahun 2009, BI menyatakan Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan alat pembayaran yang sah.

Kemudian mengacu Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 18/40/206 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran dan PBI No. 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial, BI melarang penyelenggara jasa sistem pembayaran/merchants dan penyelenggara teknologi finansial memproses transaksi yang menggunakan Bitcoin ataupun virtual currency.

Selain bertentangan dengan hukum, ada beberapa alasan kenapa Bank Indonesia melarang Bitcoin dan virtual currency lainnya. Pertama, nilai tukar Bitcoin dan cryptocurrency lainnya sangat fluktuatif. Misalnya, sekarang 1 Bitcoin Rp120 juta, besok sudah Rp160 juta. Kenaikan yang cepat ini membuat BI berpendapat Bitcoin dan virtual currency lainnya berisiko mengalami penggelembungan (bubble). Akibatnya, masyarakat dirugikan atas risiko tersebut.

Kedua, karena kepemilikannya tak perlu memberi identitas asli, BI berpendapat Bitcoin dan virtual currency lainnya rawan disalahgunakan untuk pencucian uang (money laundry), perdagangan ilegal, ataupun sumber dana terorisme.

Ketiga, Bank Indonesia menilai Bitcoin dan virtual currency lainnya tidak memiliki underlying asset sebagai dasar harganya, tak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak adanya otoritas yang mengawasi, dan minimnya perlindungan konsumen yang menggunakan Bitcoin ataupun virtual currency lainnya.

Baca Juga: Kesalahan dalam Melakukan Investasi dan Cara Memilih Investasi yang Tepat

Selain Bitcoin, Inilah Cara Cari Profit yang Menguntungkan

Investasi Bitcoin
Masih Banyak Jalan Cari Profit Selain Di Bitcoin

Memang keberadaan Bitcoin ataupun virtual currency lainnya yang kemudian fenomenal belakangan ini menjadi kabar gembira bagi yang ingin cari profit buat memenuhi pundi-pudi keuangan. Profit berlipat-lipat yang diperoleh dalam waktu sangat cepat, bahkan melebihi saham, jadi faktor pemicu memiliki Bitcoin.

Walaupun di Indonesia Bitcoin dilarang, ada beberapa cara cari profit yang bisa dimanfaatkan selain investasi saham, obligasi, foreign exchange (forex), ataupun reksa dana. Apa saja itu?

1. P2P Lending: Imbal Balik (Return) >10%

Model bisnis Peer to Peer (P2P) Lending sudah memiliki banyak pemain di Indonesia. Konsep yang ditawarkan P2P Lending adalah mempertemukan pemberi pinjaman/kreditur (lender) dengan peminjam/debitur (borrower). Pinjaman yang diambil borrower melalui P2P Lending sama sekali tak memerlukan jaminan atau agunan.

Di Indonesia imbal balik (return) yang ditawarkan P2P Lending bervariasi. Mulai dari 15% hingga 20%. Berinvestasi di P2P Lending bisa mulai dari Rp100.000. Selain terjangkau, biaya yang dikenakan (kalau ada) terbilang minim.

Namun, perlu diketahui berinvestasi di P2P Lending bisa juga mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan investasi P2P Lending adalah pembayaran cicilan/kredit macet hingga mengakibatkan gagal bayar. Untuk itu, hati-hati dalam memilih borrower yang akan Anda berikan pinjaman.

2. Investasi Patungan: Dari Beli Jual Properti hingga Komoditas

Berinvestasi itu pastinya harus punya modal. Memang bisa-bisa saja berinvestasi dengan modal pas-pasan misalnya Rp100.000. Namun, imbal balik yang diperoleh juga minimal (jangan harap 100% kecuali investasinya di virtual currency) dan lama pula.

Nah, kalau ingin profit yang didapat besar, lakukan saja investasi patungan. Ajak teman atau kerabat yang mau dan tentunya dapat dipercaya untuk berinvestasi patungan. Dengan investasi patungan, Anda bersama teman/kerabat bisa membeli properti (rumah, apartemen, ruko) dan komoditas (hasil pertanian atau hewan ternak) untuk dijual kembali.

Untuk mengantisipasi risiko yang tak diinginkan, buatlah perjanjian bersama antara Anda dan teman atau kerabat Anda yang pastinya ditempelei materai agar menjadi alat bukti di pengadilan. Isinya mengenai besaran dana yang diinvestasikan dan besaran imbal balik (return) yang diperoleh menurut persentase dana tersebut.

Kalau mau mudah, ada platform yang mewadahi investasi khusus komoditas. Di platform tersebut diterangkan komoditas apa yang butuh investasi, berapa estimasi profitnya, lamanya investasi tersebut berjalan, dan ada simulasinya. Return investasi yang diberikan mulai 2,4-101%.

Cermati Perkembangan yang Terjadi agar Tak Tertinggal Meraih Profit

Mengejar profit juga harus diimbangi dengan seberapa banyak informasi yang diketahui. Abai terhadap informasi terbaru, bisa saja memberikan kerugian. Misalnya, karena tidak tahu Bitcoin dilarang, Anda tetap cari profit di Bitcoin. Begitu ada tindakan tegas, Anda malah dirugikan nantinya.

Nah, di sinilah peka terhadap informasi terbaru menjadi kunci, baik dalam berbisnis maupun berinvestasi. Dengan tahu banyak informasi, Anda jadi tahu ternyata selain investasi saham, reksa dana, ataupun obligasi, Anda bisa cari profit di P2P Lending atau investasi patungan. Jadi, selalu cermati perkembangan yang terjadi agar tak tertinggal meraih profit.

Baca Juga: 7 Trader Forex Raksasa Di dunia