Batas Penghasilan Orang Miskin RI Rp400 Ribu per Bulan, Begini Cara Mengaturnya

Di tengah ramainya #2019gantipresiden, pelemahan kurs rupiah, sampai tiket konser Incess Syahrini yang menuai kontroversi, Indonesia menorehkan sejarah baru dengan catatan tingkat kemiskinan di level satu digit per Maret 2018. Jumlah orang miskin di Tanah Air berkurang 1,82 juta selama setahun terakhir. Pemerintah pun berbangga hati.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82% di Maret 2018. Rekor sejarah baru bagi Republik ini karena sejak dulu tingkat kemiskinan selalu berkutat di dua digit. Contohnya 7 tahun lalu, tingkat kemiskinan masih berada di level 12,49% dengan jumlah orang miskin 30,12 juta jiwa.

Dengan level di bawah 10 persen, ada 25,95 juta jiwa orang miskin di Indonesia. Angka kemiskinan ini berhasil ditekan sebanyak 1,82 juta jiwa dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 27,77 juta jiwa orang miskin.

Orang miskin di Indonesia menyebar. Paling banyak berada di desa 13,20%, sedangkan di kota 7,02%. Dari sisi jumlah, orang miskin terbanyak tinggal di Pulau Jawa 13,34 juta jiwa, tapi dari persentase terbesar ada di Maluku dan Papua 21,20%.

Ironisnya, kabar baik ini ternoda dengan bencana kelaparan di Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Beberapa orang warga Suku Mause Ane, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi tewas karena kelaparan. Beginilah potret kemiskinan di negeri yang katanya “Tanah Surga.”

Jangan kan di desa, di kota pun, kita masih menjumpai keluarga miskin yang hidup di gubuk reyot, makan nasi aking, atau mungkin harus rela puasa Daud (sehari puasa sehari tidak) karena alasan tidak ada uang.

Sebenarnya kategori orang miskin itu apa sih? Bagaimana cara BPS mengukur dan menghitungnya? Mari simak ulasannya.

Baca Juga: 8 Kebiasaan Boros yang Bisa Membuat Anda Miskin 

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Definisi Orang Miskin versi BPS

Definisi Orang Miskin
Penduduk Miskin di Indonesia 

Perlu dipahami, dalam mengukur kemiskinan di Indonesia, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach). Metode ini dipakai BPS sejak 1998 supaya hasil perhitungannya konsisten.

Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan (GK).

GK Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan makanan dan minuman (setara 2.100 kkalori per kapita per hari). Per kapita adalah per orang. Sebagian besar negara di dunia menggunakan standar 2.100 kkalori per kapita per hari, ditambah kebutuhan dasar non-makanan.

GK Bukan Makanan adalah nilai paling rendah pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok bukan makanan lainnya. Jadi, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per orang setiap bulan di bawah garis kemiskinan itu.

Berapa batas garis kemiskinan di Indonesia?

Dari metodologi ini, BPS menetapkan garis kemiskinan sebesar Rp401.220 per orang per bulan. Jadi kalau penduduk yang pengeluarannya di bawah itu, sudah masuk kategori orang miskin. Jika Rp401.220 dibagi 30 hari, maka rata-rata belanja orang miskin kurang dari Rp13.374 per hari.

Patokan garis kemiskinan tersebut merupakan garis kemiskinan Indonesia secara umum, sementara antarwilayah batas kemiskinannya berbeda. Sebagai contoh di DKI Jakarta, garis kemiskinan Rp 593.108 per orang per bulan atau sekitar Rp19.770 per hari, sementara di Provinsi Papua kebutuhan minimum penduduknya Rp499.643 per orang per bulan atau sekitar Rp16.654 per hari.

Kelihatannya mah kecil ya. Tapi kalau dihitung per keluarga terdiri dari 4 orang misalnya, maka basis garis kemiskinan atau rata-rata pengeluaran Rp1,6 juta. Dengan kata lain, untuk memenuhi kebutuhan dasar, setiap rumah tangga atau keluarga harus memiliki pengeluaran Rp1,6 juta per bulan supaya tidak masuk kategori miskin. Kurang dari itu, dianggap miskin.

Artinya, setiap orang atau keluarga harus memiliki pendapatan sama atau melebihi konsumsinya, sehingga bukan termasuk penduduk miskin. Kalau penghasilannya lebih kecil dari pengeluaran, yang ada malah berutang untuk memenuhi kebutuhan. 

Versi Bank Dunia

Bank Dunia
Bank Dunia

Berbeda, Bank Dunia menetapkan standar garis kemiskinan sebesar USD 1,9. Apabila dikonversi dengan kurs rupiah saat ini 14.400 per USD, maka batasnya sekitar Rp27.360 per orang per hari. Kalau kurang dari itu, termasuk penduduk miskin.

Akan tetapi berdasarkan paparan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), perhitungannya mengacu pada USD PPP (Purchasing Power Parity/paritas daya beli). Dasar yang dipakai Bank Dunia, 1 USD dikonversi ke dalam PPP setara dengan Rp5.341. Jadi bukan pada kurs rupiah saat ini.

PPP merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menghitung sebuah alternatif nilai tukar antar mata uang dari dua negara. Dengan melihat ambang batas garis kemiskinan di Indonesia Rp401.220, berarti USD 2,5 PPP per hari. Ini sudah melebihi standar internasional.

Baca Juga: Program Keluarga Harapan, Apa Manfaat yang Ditawarkan? 

Tips Mengatur Keuangan

Mengatur Keuangan
Rokok Berkontribusi Pada Kemiskinan

Melihat standar kemiskinan di Indonesia dengan pendapatan atau pengeluaran Rp400 ribu sebulan, biasanya pekerjaan orang-orang yang berada di garis kemiskinan adalah buruh tani, pekerja serabutan, dan lainnya. Dengan penghasilan sebesar itu, bisa kok mengatur keuangan sehingga bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan paling utama. Berikut tipsnya:

1. Kurangi atau Hentikan Kebiasaan Merokok

Percaya atau tidak, kontribusi rokok menempati peringkat kedua terhadap kemiskinan, setelah beras. Sumbangan rokok pada garis kemiskinan 11,07% di kota dan 10,21% di desa. Tinggi kan, mengalahkan kontribusi telur, daging, mie, tahu, dan tempe. Padahal rokok tidak termasuk dalam sembilan bahan pokok (sembako).

Dari data ini, bisa disimpulkan banyak orang miskin mengonsumsi rokok. Walaupun bukan berarti yang kaya tidak merokok lho. Pantas lah ya, kalau rokok disebut-sebut sangat dekat dengan kemiskinan.

Rokok tidak bikin perut kenyang. Selain mengganggu kesehatan, rokok bisa bikin kantong jebol dan bikin orang miskin tambah miskin karena harganya pasti naik setiap tahun akibat penyesuaian cukai rokok.

Jadi lebih baik mulai dari sekarang kurangi atau hentikan kebiasaan merokok. Lebih baik uangnya ditabung buat nyicil rumah. 

2. Jangan Keranjingan Main Medsos

Pengeluaran penduduk miskin juga disumbang dari pulsa ponsel. Berdasarkan data Bappenas, kontribusi konsumsi pulsa mencapai 25% per orang per bulan. Apalagi sekarang eranya internet dan jejaring media sosial (medsos). Kaya miskin, dewasa anak-anak, semua keranjingan medsos.

Dengan ponsel China seharga Rp200-300 ribu, sudah memiliki fitur yang membuat kita terhubung ke medsos, asal tersambung internet. Buat berselancar di dunia maya, pengguna perlu pulsa untuk membeli kuota internet.

Lagi-lagi, pulsa bukanlah kebutuhan pokok. Gunakan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan vital, seperti makan, biaya pendidikan anak, sewa rumah.

3. Kurangi Jajan

Jangan turuti nafsu membeli ini itu yang bukan merupakan kebutuhan utama. Itu namanya konsumtif. Ingat, saat pendapatan sangat minim, jangan terbawa arus ikut-ikutan berlagak sosialita jika tidak ingin berutang

4. Makan Enak Tidak Harus Daging

Kebutuhan makan biasanya tiga kali sehari. Belum lagi kalau anggota keluarganya banyak. Bagaimana caranya penghasilan sehari cukup untuk makan. Jadi, tidak harus menu wah lauk daging sapi atau daging ayam. Menunya bisa diganti dengan sayur, tempe atau tahu. Selain sehat, juga murah meriah. Sesekali jika ada rezeki lebih, boleh lah membeli daging ayam atau telur untuk menambah gizi dari protein hewani.

5. Sisihkan Buat Pendidikan Anak

Meski hidup susah, pendidikan anak jangan sampai terabaikan. Para orangtua memiliki tanggung jawab menyekolahkan sang anak. Dari pendapatan yang diperoleh misalnya Rp50 ribu per hari, sebisa mungkin disisihkan untuk biaya sekolah anak.

Pendidikan merupakan salah satu jalan memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak yang cukup gizi, pendidikan yang layak, diharapkan tumbuh cerdas dan mandiri sehingga kelak bisa meningkatkan derajat keluarga, dan menggapai cita-cita.

Para orangtua tentu tidak mau anaknya bernasib sama hidup melarat serba kekurangan. Mereka ingin melihat sang anak sukses dan menjadi kebanggaan keluarga. 

Jangan Sepelekan Kelola Keuangan

Merencanakan dan mengatur keuangan bukan saja milik orang berduit. Siapapun bisa melakukannya, termasuk orang yang berpenghasilan rendah. Apabila dialokasikan dengan tepat, sekecil apapun pendapatannya, maka akan bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga. Sebaliknya, banyak uang tapi kalau salah mengelolanya, bakal habis sia-sia. Mau pilih yang mana?

Baca Juga: Kartu Indonesia Pintar: Apa itu, Manfaat, dan Siapa Berhak Menerima