Bikin Geregetan Netizen, Begini Cerita Lengkap Lem Aibon Pemda DKI Jakarta

Beberapa hari lalu netizen sempat di gemparkan dengan lem aibon. Di banyak media sosial, keyword  Lem aibon banyak dijadikan sebagai hashtag populer dan juga dijadikan sebagai bahan lelucon banyak warganet Indonesia. Kata ‘lem aibon’ sendiri sempat menjadi trending topik twitter no.1 di Indonesia selama beberapa jam.

Jadi ada apa sebenarnya dengan ‘lem aibon’?

Kata kunci lem aibon di Indonesia menjadi populer seiring dengan banyaknya media massa yang mengangkat topik pengadaan biaya belanja alat tulis kantor (ATK) sebesar Rp82 miliar atau lebih tepatnya Rp82,8 miliar hanya untuk sebuah ‘lem aibon’.

Berbagai kabar berita tentang lem aibon Rp82 miliar ini pun banyak mendapatkan berbagai reaksi dari netizen. Ada yang kaget, gregetan hingga marah dan protes habisan-habisan diberbagai platform online mulai dari cuitan di twitter, komentar pedas di instagram hingga jadi bahan perdebatan di berbagai forum berita online.

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Kronologi Lem Aibon jadi Viral di Indonesia

lem aibon

Dilansir dari kompas, asal muasal lem aibon Rp82 miliar jadi viral adalah ketika William Aditya Sarana salah satu anggota DPRD DKI Fraksi PSI mengungkapkan kejanggalan yang dia temukan dari pengadaan biaya ini ketika dia ingin mencari tahu perincian APDB Jakarta 2020 di website http://apbd.jakarta.go.id lewat twitternya dengan nama akun @willsarana pada tanggal 28 Oktober.

Ini dia isi cuitan William yang viral :

“Ditemukan anggaran aneh pembelian lem aibon 82 milliar lebih oleh Dinas Pendidikan. Ternyata Dinas Pendidikan mensuplai 2 kaleng lem Aibon per murid setiap bulannya. Buat apa? https://apbd.jakarta.go.id/main/pub/2020/1/4/rka/221/list?cd=dW5pdD0xMDEwMTMwMSZpZGdpYXQ9NTY1NTcz. Kalau banyak yang RT besok pagi saya akan buka-bukaan soal anggaran DKI”

Berkat tweet ini, berbagai media berita pun ramai-ramai mendatangi pejabat-pejabat tinggi DKI Jakarta yang dikira terlibat dalam penyusunan RAPDB DKI Jakarta 2020 ini termasuk Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Berbagai jawaban berbeda pun diterima oleh awak media, mulai dari salah ketik, salah input dan sistem error.

Gubernur Anies Baswedan sendiri menyalahkan sistem digital yang tidak "smart". Seperti yang dikutip dari kompas.com, Anies mengatakan bahwa kesalahan sistem elektronik APBD Pemprov DKI Jakarta ini sudah berlangsung sejak lama.

Selain, lem aibon ternyata ada beberapa rincian biaya bernilai fantastis lainnya yang menjadi sorotan banyak orang yaitu anggaran ballpoint Rp124 miliar, anggaran kertas Rp213 miliar, tinta printer Rp400 miliar, stabilo Rp3 miliar, penghapus Rp31 miliar dan Rp31 miliar untuk kalkulator (sumber kompas.com).

Menarik perhatian Menteri Keungan Sri Mulyani. Dilansir dari detik.com akhirnya Sri Mulyani dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pun mengatakan akan turut turun tangan secara langsung untuk membahas dan mengurus kejanggalan dan keanehan yang ada pada pembahasan anggaran di DKI atau RAPBD DKI 2020.

Menuai berbagai kontroversi. Di kutip dari cnnindonesia.com Gubernur Anies Baswedan pun sempat berencana membentuk tim pemeriksa ad hoc guna membongkar letak kejanggalan kasus pembahasan RAPBD DKI 2020 ini, benarkan ini merupakan murni human error, kesalahan sistem digitalnya atau ada dugaan tindakan manipulasi yang ingin dilakukan.

Baca Juga: Ingat! Pendaftaran CPNS 2019 Dibuka 11 November, Lulusan SMA Bisa Ngelamar

Bingung Jadi Viral, Pak Sudarman Akhirnya Mengaku ‘Asal Input’

Setelah berhari-hari menjadi viral, akhirnya terungkaplah sosok sebenarnya yang menginput data RAPDB DKI Jakarta 2020 yang menjadi sorotan banyak orang. Kasubag Tata Usaha Sudin Pendidikan Jakarta Barat Wilayah I Sudarman akhirnya mengklarifikasi mengenai RAPDB viral ini. Dikutip dari liputan6.com, Sudarman mengakui asal input data ketika memasukkan lem Aibon dalam dokumen rancangan KUA-PPAS DKI Jakarta 2020.

Sudarman menjelaskan ketika akan menginput data tersebut, Sudin Pendidikan Jakarta Barat wajib mengisi data anggaran setelah menerima pagu anggaran dari musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) sebelum akhir bulan Juli 2019. Tapi, saat itu sekolah-sekolah di Jakarta Barat belum ada yang mengunggah rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS).

Karena bisa merasa bisa direvisi kedepannya, Sudarman pun memilih dan memasukkan data secara asal untuk tugas mengisi data anggaran untuk KUA-PPAS DKI Jakarta 2020 yang harus selesai sebelum akhir bulan Juli 2019.

Baca Juga: Kenalin Nih, 6 Srikandi di Kabinet Jokowi dan Harta Kekayaannya

Anggaran ATK Ternyata Hanya Rp22 Miliar, Lem Aibon Rp82 Miliar Cuman Mitos?

Kabar baru tentang RAPDB lem aibon 2020 pun setelah lama menjadi sensasi dan buah bibir para netizen adalah hasil revisi keseluruhan yang umumkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat dan timnya.

Dilansir dari cnnindonesia.com, pada hari Rabu, 30 Oktober 2019 Syaefuloh mengatakan setelah melakukan penyusunan anggaran dilakukan secara detail di sekolah ternyata biaya ATK secara seluruhnya hanya mencapai Rp22 miliar. Walaupun angka itu masih sementara karena masih dibutuhkan banyak penyesuaian tapi setelah dilakukan penyelisiran secara detail sudah dipastikan bahwa anggaran lem aibon Rp82 miliar ternyata sudah tidak ada beserta komponen-komponennya.

Baca Juga: Enggak Ribet, Lapor Kejadian Apa Saja Bisa Lewat ‘Google Maps’