Cara Mudah untuk Mendapatkan Saham Terbaik

Memilih saham berkualitas membutuhkan kemampuan analisis, baik analisis fundamental maupun teknikal. Banyak investor pemula yang terjebak transaksi saham hanya berdasarkan analisis teknikal dan mengabaikan analisis fundamental.

Berinvestasi hanya dengan melihat naik turunnya harga saham dalam dashboard bursa efek sangat berisiko. Untuk membantu Anda mendapatkan hasil yang terbaik dalam investasi saham, berikut ini beberapa cara dalam memilih saham terbaik.

Baca Juga: Apa Itu Saham Lapis Satu, Dua, dan Tiga di Bursa Efek? Ini Penjelasannya

1. Bagaimana Kapitalisasi Pasarnya? Apakah Masuk Saham Likuid?

Kapitalisasi Pasar

Pilih Saham dengan Kapitalisasi Pasar Besar dan Bersifat Likuid via shutterstock.com

 

Langkah pertama memilih saham yang baik adalah memerhatikan kapitalisasi pasar. Sebagai informasi, kapitalisasi pasar merupakan harga saham dikalikan dengan total jumlah saham yang diterbitkan emiten dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kapitalisasi pasar penting untuk dilihat karena:

  • Bisa memberikan informasi terkait seberapa tinggi volatilitas harga saham.
  • Mengetahui seberapa besar kepemilikan publik di emiten tersebut.
  • Melihat potensi perusahaan ke depan.

Selain itu, perlu juga dicari tahu sifat dari saham itu sendiri. Apakah terbilang likuid, cukup likuid, atau kurang likuid? Saham yang baik adalah saham yang sifatnya likuid. Kenapa? Sebab saham tersebut diperdagangkan dengan frekuensi lebih tinggi atau di atas batasan minimal frekuensi yang telah ditentukan.

Percuma nilai kapitalisasinya besar, tetapi kurang likuid. Jadi, carilah saham yang kapitalisasinya besar dan sifatnya terbilang likuid.

2. Amati Pendapatan, Profit, dan Marginnya

Bagaimana laporan keuangan perusahaan yang terdapat pada dashboard pasar modal? Untuk memilih saham berkualitas, perlu dilakukan pengamatan terhadap pendapatan, profit, dan margin. Caranya:

  • Cek pendapatan (revenue) dan net income selama dua tahun terakhir.
  • Cek perbandingan pendapatan dalam laporan kuartal (kuartal I dengan kuartal II) dan laporan tahunan (tiga tahun terakhir).
  • Perhatikan rasio price to sales (P/S) dan rasio price to earnings (P/E).
  • Perhatikan tren terbaru apakah pertumbuhannya fluktuatif atau konsisten. Atau apakah terjadi perubahan besar (lebih dari 50% dalam setahun) ke arah atas maupun bawah.
  • Cek juga margin perusahaan apakah trennya secara umum naik, turun, atau tetap sama saja.

3. Tingkat Persaingan dan Prospek Industri ke Depan

Industri

Ilustrasi Industri via shutterstock.com

 

Perkembangan teknologi yang cepat sering kali “membunuh” perusahaan yang tidak siap. Jangan sampai Anda terjebak membeli saham perusahaan yang tidak peka dengan perubahan.

Anda bisa membandingkan satu perusahaan dengan perusahaan pesaingnya untuk mengukur seberapa besar pangsa pasar keseluruhan bagi produk-produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. Jangan lupa untuk melakukan proyeksi masa depan industri tersebut. Apakah masih bisa bertahan atau cenderung menurun.

4. Buat Analisis Beberapa Rasio Berikut Ini

Dalam memilih saham yang baik, ada beberapa rasio yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Price-earnings ratio (P/E ratio) dihitung dengan membagi harga saham dengan earning per share/EPS (laba setiap saham) suatu perusahaan. Pastikan angka net earnings selama beberapa tahun untuk memastikan angkanya normal dan tidak melejit karena mengalami perubahan drastis.
  • Price-to-book-ratio (P/B ratio) untuk mengetahui nilai wajar saham. Indikator ini didapat dengan membagi harga saham yang ada di pasar saham dengan nilai book value dari saham tersebut.
  • Price/earnings to growth ratio (PEG ratio) untuk memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan earnings pada masa depan dan membandingkannya dengan kondisi earnings saat ini. Saham dengan PEG ratio mendekati 1 biasanya dinilai cukup bernilai dalam kondisi pasar normal.

5. Reputasi Manajemen dan Komposisi Kepemilikan Saham

Reputasi Manajemen Perusahaan

Berkembang atau Tidaknya Perusahaan Tergantung Manajemennya via shutterstock.com

 

Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perusahaan yang Anda incar masih dijalankan para pendirinya ataukah manajemen perusahaan sudah digerakkan orang-orang baru. Perhatikan reputasi dan cari informasi terkait biodata tokoh-tokoh kunci perusahaan untuk melihat seberapa luas pengalaman mereka.

6. Perhatikan Laporan Keuangan

Melihat laporan keuangan tidak perlu sampai detail yang bisa membuat kita jadi pusing. Cukup perhatikan hal penting berikut ini:

  • Laporan Keuangan Konsolidasi untuk melihat aset dan liabilitas secara keseluruhan
  • Cek kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban jangka pendek dan jumlah utang jangka panjang yang ditanggung perusahaan.
  • Cek debt-to-equity ratio untuk melihat seberapa banyak ekuitas positif yang dimiliki perusahaan dan bandingkan dengan data pesaing untuk mendapatkan perspektif yang lebih baik.

Ada baiknya juga memerhatikan setiap catatan kaki yang menyertai laporan keuangan dan laporan tahunan/kuartal. Laporan keuangan bisa didapat dengan mudah pada dashboard pasar modal.

7. Riwayat Harga Saham Setidaknya dalam 3 (Tiga) Tahun Terakhir

Riwayat Saham

Ilustrasi Riwayat Saham via shutterstock.com

 

Melihat riwayat harga saham penting untuk dilakukan agar Anda bisa mendapatkan harga yang wajar saat membeli saham tersebut. Selain itu, riwayat harga saham juga bisa memberi Anda petunjuk tentang bagaimana proyeksi profit yang bisa didapat ke depannya.

8. Cari Tahu Kemungkinan Adanya Options dan Dilusi

Aksi korporasi seperti menerbitkan options, melakukan dilusi, atau aksi lainnya penting untuk diketahui karena bisa mengubah komposisi kepemilikan saham di perusahaan tersebut. Perlu diingat bahwa penerbitan options atau dilusi bisa berdampak besar pada harga saham kalau Anda telah telanjur memilikinya. Karena itu, perlu diantisipasi dengan baik.

9. Cari Tahu Informasi Tambahan terkait Rencana Aksi Korporasi

Aksi Korporat

Selalu Update Informasi terkait Aksi Korporasi via shutterstock.com

 

Sebagai investor, Anda perlu menggali lebih jauh lagi beberapa hal berikut ini.

  • Estimasi revenue dan profit hingga dua sampai tiga tahun ke depan.
  • Tren jangka panjang yang tengah dialami industri di mana perusahaan itu beroperasi.
  • Informasi mengenai kerja sama, joint venture, dan sejenisnya.

Informasi di atas yang beredar kadang kala masih sebatas isu. Oleh karena itu, langkah terbaik adalah cek langsung atau monitor informasi resmi dari website perusahaan sehingga tidak keliru dalam memilih saham yang tepat.

10. Pahami Risiko dari Perusahaan yang Sahamnya Ingin Dibeli

Setiap industri memiliki tren dan risiko yang berbeda. Jika berinvestasi di pasar modal, Anda tentunya mengetahui bahwa ada potensi profit dan ada potensi risiko. Anda harus memahami kedua sisi tersebut dengan baik.

Baca Juga: Investasi Saham: Hal-Hal Dasar yang Mesti Anda Ketahui

Memilih Saham yang Tepat harus Diawali Pengetahuan yang Cukup

Memilih saham tidak bisa dilihat sekilas dari tren pergerakan harga saham sebuah perusahaan di pasar modal. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti yang telah disampaikan dalam ulasan diatas.

Apa yang dipaparkan di atas lebih bisa memberikan potensi hasil maksimal dalam jangka panjang. Lebih baik daripada ikut-ikutan tren yang justru bisa menjebak Anda melakukan aksi jual beli hanya berdasar insting semata.

Baca Juga: Tertarik Berinvestasi Saham? Ini Tips dan Cara Aman Investasinya