Ini Perbedaan Kredit Multiguna Konvensional dan Syariah

Kredit multiguna atau KMG adalah salah satu bentuk produk perbankan yang banyak dibutuhkan serta diminati masyarakat belakangan ini. Hal tersebut adalah wajar, sebab dengan semakin bertumbuhnya ekonomi khususnya sektor riil yang langsung berhubungan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari, maka secara signifikan kebutuhan masyarakat akan permodalan yang mudah dan fleksibel dengan sendirinya juga ikut meningkat.

Dilatarbelakangi oleh alasan tersebut, kredit multiguna kini menjadi produk perbankan yang populer, sampai pada akhirnya semakin banyak lembaga keuangan, baik unit mikro, kecil maupun menengah yang menawarkan kredit multiguna. Mudah dari segi persyaratan, sekaligus cepat dalam aspek pencairan dana merupakan keunggulan produk ini.

Bank Syariah kini juga sudah mulai banyak yang melirik produk KMG ini, mengingat banyak juga diantara masyarakat yang kini juga menghendaki prinsip perbankan yang dilandasi oleh syariah islam ada pada produk KMG. Bagi yang masih awam dengan produk bank syariah, ada beberapa perbedaan mendasar diantara produk KMG konvensional dan KMG Syariah ini.

Mari kita simak beberapa perbedaan keduanya produk tersebut yang akan kami uraikan secara detil berikut ini:

Anggapan Halal dan Non Halal

halal.jpg

Logo Halal via rlv.zcache.com

Kebanyakan dari kita, mungkin memahami perbankan syariah hanya sebatas, bebas riba dan tingkat kehalalannya saja. Padahal sama seperti perbankan konvensional yang berangkat dengan prinsip ekonomi dalam mencari keuntungan, nasabah perbankan syariah juga harus memahami produk syariah yang dia ambil sehingga tidak terjebak dalam pola pikir “syariah-konvensional sama saja” yang akhirnya membuat mereka kecewa pada semua sistem perbankan.

Berikut ini prinsip dasar perbedaan keduanya:

Baca Juga : Kenali Manfaat KMG Dan KTA Agar Tidak Salah Pilih

Perbedaan dari Sisi Akad Bunga dan Tanpa Bunga

bunga bank.jpg

Interest Rate via www.marketbulls.net

Prinsip dasar dalam kredit Multiguna yang dikeluarkan oleh perbankan konvensional adalah adanya akad pinjaman. Dengan demikian secara otomatis, nasabah diharuskan untuk bisa mengembalikan uang yang dipinjam pada pihak bank, plus bunga yang sudah ditentukan di awal akad kredit.

Tidak demikian halnya dalam perbankan syariah, karena adanya larangan untuk memakan riba, dimana melakukan pinjaman dengan memberikan bunga adalah salah satu tindakan yang dianggap riba dan jelas bertentangan dengan syariah Islam.

Oleh karena itu dalam perbankan syariah digunakan akad lain selain pinjaman, misalnya saja akad yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:

  • Akad jual beli atau yang dikenal dengan sebutan murabahah
  • Sewa menyewa yang dilakukan dengan perubahan status kepemilikan atau disebut juga dengan istilah ijarah wa iqtina
  • Akad capital sharing yang dikenal dengan istilah musyarakah mutanaqishah.

Sebagai contoh dari aplikasi prinsip murabahah adalah sebagai berikut

Misalnya saja nasabah ingin membeli sebuah barang dan membutuhkan pinjaman uang untuk membeli produk tersebut, maka pihak bank sebagai pihak yang memiliki uang akan melakukan pembelian benda sebagaimana yang diinginkan nasabah, lalu menjualnya lagi pada nasabah dengan margin tertentu.

Contoh riilnya misalnya dalam transaksi jual beli kendaraan. Pihak nasabah menyampaikan kepada pihak bank ingin membeli mobil. Maka pihak bank akan membelikan terlebih dahulu nasabah mobil seharga 130 juta lalu menjualnya lagi pada nasabah dengan harga 135 juta, kemudian selama jangka waktu tertentu nasabah akan mengangsur dengan besaran sebagaimana yang telah disepakati bersama.

Hal inilah yang dinamakan prinsip murabahah. Dengan kata lain prosesnya adalah jual beli hanya dengan cara mencicil, nasabah mendapat barang yang diinginkan dan pihak bank mendapatkan keuntungan dari margin yang diberikan pihak bank.

Prinsip ijarah wa iqtinah, berlangsung dengan asas sewa menyewa. Hal ini terjadi sebagaimana contoh berikut:

Pihak bank akan melakukan pembelian barang tertentu sebagaimana yang diinginkan pihak nasabah. Lalu dalam masa atau jangka waktu tertentu pihak nasabah menyewa benda tersebut, untuk kemudian pihak nasabah bisa membelinya secara penuh setelah masa sewanya berakhir dan semua biaya sewa sudah dipenuhi nasabah.

Prinsip mutanaqishah atau sharing capital bisa diartikan sebagaimana berikut:

Nasabah dan pihak yang memiliki modal menaruh modal dalam bentuk kerjasama. Misalnya saja pihak bank membayar 60% dari harga keseluruhan untuk pembelian mobil, sedangkan nasabah membiayai 40% sisanya. Maka pihak nasabah nantinya bisa mengangsur pada pihak bank sisa dari harga pembelian sebesar 60% sampai dengan lunas untuk kemudian memiliki benda tersebut sepenuhnya.

Baca Juga : 6 Biaya Tambahan Untuk Pengambilan KTA dan KMG

Perbedaan dari Sisi Resiko yang Harus ditanggung

sisi resiko.jpg

Sisi Resiko yang Harus Ditanggung via blogspot.com

Jika nasabah meminjam dana di produk KMG Konvensional, maka apapun hasil usaha yang dia lakukan baik untung maupun rugi, maka kewajiban nasabah adalah tetap yaitu membayar seluruh pinjaman pokok dan bunga yang sudah diperjanjikan dalam akad pinjaman.

Namun jika produk yang diambil adalah KMG Syariah, maka jika usaha yang dijalankan nasabah mengalami kerugian, maka nasabah hanya membayar sesuai dengan porsi modal yang dia berikan jika akadnya adalah capital sharing (mudharabah), kerugian lain akan menjadi tanggungan pihak bank.  

Kehalalan Dalam Penggunaan

Produk KMG Syariah mewajibkan nasabah menjelaskan secara rinci tujuan penggunaan dana dalam bentuk usaha yang akan dilakukan. Usaha yang dilakukan harus sesuai dengan syariah dan tidak boleh menyimpang atau melanggar ketentuan syariah islam.

KMG Konvensional tidak akan meminta penjelasan secara rinci usaha yang dilakukan apakah sesuai atau tidak dengan syariah. Hal ini yang menjadi pembeda diantara kedua produk ini.

Produk KMG Syariah lebih Fleksibel dan Variatif

Kebanyakan dari pihak nasabah, melakukan pinjaman Kredit Multi Guna untuk kepentingan tambahan permodalan ataupun hal-hal konsumtif lainnya. Kebutuhan konsumtif ini sangat cepat perkembangannya khususnya kebutuhan untuk tujuan ibadah yang membutuhkan dana sehingga seringkali banyak kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dipenuhi oleh bank konvensional dengan alasan harus adanya pemenuhan syarat syariah didalamnya.

Seperti misalnya pinjaman haji dan umroh yang dimiliki oleh Bank Permata Syariah, atau pinjaman pendidikan sebagaimana produk pinjaman yang diluncurkan Syariah Mandiri.

Anda Bingung Cari Produk Kredit Multi Guna Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KMG Terbaik! 

Apapun produknya, Pastikan Pinjaman Anda Sesuai dengan Tujuan Penggunaannya

Kredit Multi Guna baik yang berlandaskan pada prinsip dasar perbankan konvensional maupun yang didasari dengan prinsip syariah harus dialokasikan dengan cermat dan hati-hati. Untuk itu ada baiknya Anda untuk tetap memperhatikan dengan seksama implementasi dan penggunaan dana pinjaman yang dicairkan sesuai dengan rencana keuangan yang Anda buat.

Coba Juga : Kredit Multiguna dengan Jaminan Deposito, Apa Keuntungannya?