Investasi Sukuk, Apa Itu dan Bagaimana Caranya?

Saat ini di Indonesia memiliki kesadaran untuk berinvestasi sudah mulai menjadi budaya bagi sebagian besar masyarakat kita. Investasi ini penting karena merupakan bagian dari perencanaan keuangan untuk waktu-waktu yang akan datang. Khususnya bagi Anda yang muslim ada tuntunan untuk menyiapkan kebutuhan masa depan dengan persiapan dana mulai dari sekarang. Salah satunya dengan cara melakukan investasi tersebut. Banyak produk investasi yang bisa dijadikan pilihan, namun satu hal yang harus diperhatikan adalah investasi tersebut harus sesuai dengan tuntunan syar’i.

Disadari atau pun tidak, setiap transaksi keuangan misalnya saja investasi, tidak jarang mengandung hal yang bertentangan dengan prinsip dasar syariah Islam. Inilah mengapa banyak lembaga perbankan belakangan juga mengeluarkan produk investasi berbasis syariah sebagai alternatif lain selain produk dari lembaga perbankan konvensional.

Produk Bank Berbasis Syariah sebagai Alternatif Lain dari Produk Konvensional

produk bank berbasis syariah

Produk Bank Berbasis Syariah via smart-money.co

 

Produk bank berbasis syariah sejatinya bukan bertentangan dengan produk konvensional, namun lebih sebagai salah satu upaya untuk menciptakan alternatif layanan bagi dunia perbankan khususnya bagi masyarakat yang ingin transaksinya sesuai kaidah syariah Islam. Lalu bagaimana dengan investasi? Produk investasi pun kini juga sudah banyak yang berbasis syari’ah.

Barangkali Anda pernah mendengar atau familiar dengan istilah obligasi. Obligasi merupakan investasi dalam bentuk surat berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan yang ingin menerbitkan surat utang tersebut. Saat ini obligasi semacam ini punya alternatif syari’ahnya juga, dengan nama Sukuk.

Jadi, apa itu investasi sukuk dan bagaimana cara untuk mendapatkan investasinya? Simak uraian lengkap berikut ini:

Resmi dan Syar’i, Sukuk, Pilihan selain Obligasi Konvesional

Secara definitif Obligasi adalah surat pengakuan utang yang resmi dan biasanya diterbitkan oleh pemerintah untuk perorangan. Obligasi bisa menjadi salah satu instrumen investasi yang dimiliki oleh siapapun asalkan memenuhi syarat dan ketentuan sebagaimana yang diajukan pemerintah. Obligasi atau nama panjangnya Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dikeluarkan dalam satuan seri, salah satunya adalah ORI Kesepuluh disingkat ORIO10.

Sebagai tambahan informasi, ORI terbit pertama kali pada seputaran 2006. Setiap penerbitan ORI diikuti pula dengan perubahan tenor dan juga bunga yang diberikan. Untuk seri ORI yang terakhir tenor yang dikeluarkan adalah tiga tahun dengan suku bunga berkisar antara 8,5%.

Dalam konteks syariah, ada alternatif obligasi dengan nama Sukuk. Penerbitan ORI dan Sukuk, kepanjangannya Sukuk Ritel (SR) biasanya beriringan. Jika ORI yang diterbitkan adalah seri kesepuluh, sukuk yang terakhir diterbitkan adalah seri 005. Berdasar dari data yang ada, mulai dari tahun 2009, setiap Sukuk yang diterbitkan punya tenor masing-masing untuk setiap tiga tahun.

Baca Juga : Mengenal ORI dan Sukuk Ritel, Apa Keuntungan dan Risikonya?

Sukuk Ritel, Investasi Syariah, Menarik dan Halal

logo halal

Logo Halal via blogspot.com

 

Berbeda dengan obligasi konvensional, Sukuk Ritel yang diterbitkan berada dibawah fatwa MUI dengan kendali Dewan Syariah Nasional. Dengan demikian keabsahan Sukuk yang diterbitkan jelas bisa dipertanggungjawabkan secara Syariah. Perbedaan antara Sukuk Ritel dengan Obligasi Konvesional terletak pada pelaksanaannya dimana untuk Sukuk lebih menekankan pada sifat investasi tersebut dianggap sebagai sertifikat kepemilikan dan atau penyertaan.

Hal ini bermakna bahwa secara fisik, pemegang Sukuk memiliki hak atas barang milik negara berupa aset berwujud seperti misalnya, bangunan infrastruktur milik negara atau tanah yang dikuasai negara. Jelas berbeda dengan Obligasi Konvesional (ORI) yang berwujud surat pengakuan utang.

Sisi lain yang menjadi perbedaan mendasar adalah dari segi perolehannya. Jika obligasi mendapatkan bunga atau kupon. Sedangkan Sukuk Ritel mendapatkan hasil pembagian dari hak atas sertifikat yang dipegangnya. Secara syariah hal tersebut sama sekali tidak menyalahi ketetapan dalam Hukum Jual Beli yang berlandaskan Islam.

Keuntungan Memiliki Sukuk Ritel

Dari segi keuntungan ada tiga hal mendasar yang bisa dijadikan pertimbangan untuk memegang Sukuk Ritel ketimbang Obligasi yaitu:

  1. Risiko gagal bayar sangat kecil sekali, sehingga dari segi investasi jelas menguntungkan. Sampai dengan hari belum ada Sukuk yang diterbitkan pemerintah mengalami gagal bayar, dengan kata lain resmi dan dijamin pemerintah.
  2. Dari segi perolehan, bagi hasil jelas lebih tinggi, sebab bunga deposito bisa saja fluktuatif.
  3. Pajak yang harus dibayarkan lebih rendah daripada Obligasi yang menganut bunga deposito yaitu 15% untuk Sukuk ritel dan 20% untuk Obligasi Konvesional atau ORI.

Jadi jika Anda tertarik untuk membeli Sukuk ritel berapa besaran yang harus disiapkan? Tak banyak, sebab pemerintah telah menyiapkan besaran Sukuk Ritel mulai dari besaran 5 juta rupiah.

Ingin Berinvestasi Sukuk? Berikut Cara-Cara Mendapatkannya

Cara mendaftar investasi sukuk

Cara Berinvestasi Sukuk via huffingpost.com

 

Sama seperti Obligasi Konvesional atau ORI, Sukuk Ritel juga merupakan surat berharga yang sah dan diterbitkan oleh negara. Hanya saja karena berlandaskan hukum syar’i (Syariah) Sukuk disebut juga sebagai Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN.

Tapi bagaimana cara untuk mendapatkan Sukuk Ritel ini dan siapa sajakah yang boleh mendapatkannya? Karena Sukuk merupakan surat berharga negara, hal-hal yang terkait dengan prosedur serta mekanisme bisa dipastikan berlaku surut jika ingin mendapatkan Sukuk.

Secara gamblang ada dua cara untuk mendapatkan Sukuk Ritel, jika dijabarkan adalah sebagai berikut:

1. Melalui Mekanisme Pasar Perdanaa

Disebut demikian karena membeli langsung pada agen yang ditunjuk resmi oleh negara untuk melakukan jual beli Sukuk Ritel. Dengan mekanisme tersebut syarat yang perlu dilengkapi cukup sederhana, pertama jelas harus menghubungi Agen penjualan Sukuk Ritel yang telah ditunjuk oleh negara.

Selanjutnya, Anda bisa melakukan pengisian formulir sebagaimana yang telah disediakan oleh pihak Agen Penjual Sukuk Ritel (SR). Melampirkan persyaratan terkait data diri dan kependudukan seperti misalnya KTP serta hal lain sebagaimana yang diminta dan diperlukan oleh pihak keagenan.

Mekanisme berikutnya adalah mekanisme keuangan murni seperti misalnya, melakukan transfer dana sesuai dengan jumlah yang ingin dibeli, penerimaan tanda bukti kepemilikan sekaligus juga melakukan pengambilan sisa dana yang ditransfer apabila jumlah Sukuk yang diterbitkan oleh pihak emiten (Pemerintah) tidak mencukupi sebagaimana jumlah dana yang diberikan, memperoleh penjatahan, selanjutnya hanya tinggal menunggu proses investasi bergulir sebagaimana tenor yang diajukan oleh emiten.

2. Melalui Mekanisme Pasar Sekunder

Untuk proses yang kedua ini, pembelian dilakukan melalui mekanisme sebagaimana yang ada dalam proses pembelian obligasi yaitu melalui mekanisme bursa atau perbankan. Proses memakan waktu kurang lebih 2 minggu hingga pihak pembeli Sukuk mendapatkan apa yang disebut dengan Surat Konfirmasi Kepemilikan Sukuk Ritel yang dikeluarkan oleh pihak bursa atau bank umum sesuai dengan mekanisme sekunder yang diikuti.

Jika dilihat dari prosesnya jelas Sukuk sama dengan obligasi, yang aman dan bisa menguntungkan dari segi investasi. Namun memahami cara penggunaannya, ada beberapa perbedaan dalam beberapa hal yang harus diperhatikan dengan seksama agar tidak mendapatkan efek negatif dari investasi yang sedang berjalan.

Baca Juga : Berinvestasi Reksadana Sejak Kuliah, Kenapa Tidak?

Pakai Sudut Pandang Investor, Pantau Suku Bunga Sebelum Memutuskan  

Sudut pandang investor

Sudut Pandang Investor via wisegeek.com

 

Sebagai investor, setelah proses pembelian yang mengarah pada kepemilikan Sukuk. Anda jelas harus berpikir sebagai seorang investor, karena mau tidak mau, walaupun berlandaskan syariah proses yang bergulir tetap sama dengan proses investasi secara formal dan mainstream.

Beberapa pihak yang sempat melakukan pembelian Sukuk ritel menjelaskan tentang tidak kembalinya investasi dalam bentuk bagi hasil. Hal tersebut jelas tidak sepenuhnya benar. Ini karena sama seperti obligasi, Sukuk juga diterbitkan langsung oleh pemerintah, dimana sangat kecil kemungkinan pemerintah melakukan gagal bayar.

Bisa jadi ketidaktahuan seperti misal hasil dari sharing profit yang dilakukan kurang memuaskan, ini disebabkan karena pemegang Sukuk yang telah melakukan penjualan Sukuk yang dipegangnya sebelum jatuh tempo. Dengan demikian jika mengharapkan bagi hasil maksimal ada baiknya Sukuk yang dipegang, dilepaskan saat jatuh tempo.

Hal lain yang biasa terjadi dan menimbulkan salah paham adalah manajemen kepemilikan Sukuk yang tak memperhatikan perputaran investasi. Sukuk yang dipegang sebenarnya bersifat aktiva sehingga kapan saja seseorang pemegang Sukuk membutuhkan dana bisa menggadaikan Sukuk tersebut kepada lembaga keuangan yang bisa melakukan prosesnya.

Biaya pembelian Sukuk juga tergantung dari Agen penjualan atau mekanisme yang diikuti. Beberapa Agen penjualan Sukuk memungut pos biaya yang cukup banyak seperti misalnya, biaya penyimpanan, pemesanan, biaya transfer imbalan atau pokok, serta pos biaya lain yang bisa jadi merugikan Anda bila tidak jeli dalam memilih Agen penjualan Sukuk yang tepat.

Pos pembiayaan yang terlalu banyak jelas berpengaruh pada hasil pembagian profit yang diterima selama tenor pemegang Sukuk Ritel berlangsung. Sebagai tips ada baiknya untuk memastikan biaya apa saja yang harus dibayarkan agar jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Agar Maksimal, Ambil Sukuk Ritel atau Obligasi Konvensional Sebagai Bagian dari Investasi Keuangan dengan Pertimbangan Matang

Pilihan akan mengambil Sukuk Ritel atau Obligasi Konvensional sebagai bagian dari investasi keuangan jelas harus diperhatikan matang-matang. Karena tingkat suku bunga deposito biasa menjadi pertimbangan seseorang sebelum mengambil Obligasi Konvensional (ORI) sedangkan profit dari bagi hasil dan jumlah biaya yang harus dikeluarkan selama proses pembelian hingga Sukuk berada di tangan harus juga diperhatikan agar tak ada pos pembiayaan yang alpa. 

Baca Juga : Antara Reksa Dana Saham dan Pasar Uang, Mana yang Lebih Menguntungkan?