Kaleidoskop Ekonomi 2018: Dolar Mahal, Bunga Kredit Naik hingga Utang RI

Tahun 2018 segera berakhir. Banyak peristiwa penting yang terjadi pada perekonomian Indonesia setahun terakhir. Apa sajakah itu?

Tentu masih segar di ingatan bagaimana nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap mata uang dolar AS. Artinya, bila punya uang Rp100 ribu saja, rasanya seperti punya uang pecahan receh puluhan ribu karena dolar yang terus menguat.

Artinya, dolar AS makin mahal. Bagaimana tidak, US$1 saja harganya sekitar Rp14.523 (berdasarkan kurs BI per 18/12/2018).

Tak tanggung-tanggung, bahkan rupiah sempat terperosok ke level Rp15 ribuan per USD pada bulan Oktober lalu. Rupiah makin murah dibanding dolar AS.

Begitu juga dengan bunga kredit perbankan dan perusahaan pembiayaan bukan bank, yang berangsur-angsur mulai naik karena menyesuaikan kenaikan BI 7 day (reserve) repo rate. Naiknya suku bunga bank Indonesia dalam setahun ini pun dinilai cukup agresif.

Lalu, bagaimana perjalanan rupiah terhadap mata uang dolar AS, serta pergerakan bunga kredit setahun terakhir? Juga, seperti apa potret kemiskinan di Indonesia, ekspor-impor Indonesia, hingga menyoal utang serta pendapatan negara?

Anda Bingung Cari Produk KPR Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KPR Terbaik! 

Seperti apa gambarannya, berikut Cermati.com ulas kaleidoskop ekonomi Indonesia 2018.

1. Dolar Sempat Lampaui Rp15.000, Terendah sejak Krisis 1998

Rupiah Melemah
Dolar AS terus perkasa dibanding rupiah dan mata uang Asia lainnya

Dalam setahun terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak cukup fluktuatif. Dari akhir 2017 hingga awal 2018 rupiah masih bergerak stabil di sekitar Rp13.500an per USD.

Namun terus bergerak liar ke posisi Rp14 ribuan hingga kuartal ketiga tahun ini, dan akhirnya terperosok ke level Rp15.253 pada 11 Oktober 2018, yang merupakan posisi terendah sejak 1998. Jika dipersentasekan, pada periode tersebut rupiah melemah sekitar 7%.

Sebulan kemudian, rupiah kembali menguat di posisi sekitar Rp14 ribuan hingga menjelang berakhirnya tahun Anjing Tanah ini. Seperti apa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tahun 2019? Kita lihat saja perkembangan nanti.

2. BI 7-Day Repo Rate Naik Agresif hingga 6%

Bank sentral Indonesia (BI) yang merupakan lembaga pembuat kebijakan di sektor moneter, yakni mengatur kestabilan sistem keuangan, sistem pembayaran, serta menstabilkan moneter seperti inflasi dan sebagainya.

Nah, untuk menstabilkan indikator tersebut, di tahun ini saja BI sudah 6 kali menaikkan suku bunganya BI 7-day repo rate sebesar 150 basis poin (bps), dengan rincian kenaikannya adalah:

  • 15 November 2018 naik 25 bps dari 5,75% ke 6,00%
  • 27 September – 23 Oktober 2018 naik 25 bps dari 5,50% ke 5,75%
  • 15 Agustus 2018 naik 25 bps dari 5,25% ke 5,50%
  • 29 Juni – 19 Juli 2018 naik 25 bps dari 4,75% ke 5,25%
  • 30 Mei 2018 naik 25 bps dari 4,50% ke 4,75%
  • 17 Mei 2018 naik 25 bps dari 4,25% ke 4,50%
  • 18 Januari – 19 April 2018 sebesar 4,25%

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik Jadi 6%, Kredit ini Bakal Mahal!

3. Bank Mulai Naikkan Bunga Kredit

Bunga Utang
Bunga naik, kredit makin mahal

Tentu saja, setiap kebijakan yang diambil BI bank dan juga perusahaan pembiayaan bukan bank bakal mengikutinya. Termasuk soal naik turunnya suku bunga BI yang juga bakal diikuti oleh kenaikan bunga simpanan serta bunga kredit perbankan dan perusahaan non-bank.

Jika bunga simpanan atau deposito naik, tentu nasabah bersorak kegirangan, tapi tidak dengan nasabah yang meminjam atau kredit. Bunga kredit perbankan maupun perusahaan pembiayaan non-bank pun sudah mulai ancang-ancang untuk menyesuaikan, bahkan sebagian sudah menaikkan bunga kreditnya.

Bunga simpanan atau deposito naik, bunga kredit berangsur-angsur juga bakal naik. Tengok saja beberapa bank yang mengaku sudah bersiap menaikkan bunga kreditnya, seperti yang belum lama ini banyak diberitakan oleh media massa, yakni BRI, BTN , dan Bank Mandiri.

Sementara itu, beberapa bank yang sudah menaikkan bunga kreditnya adalah Bank Danamon, BCA, CIMB Niaga, OCBC NISP, dan lainnya.

4. Kemiskinan di Indonesia Terendah sejak 1999

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia tahun ini mengalami penurunan. Angka kemiskinan per Maret 2018 sebesar 9,82% dati total penduduk di Indonesia sekitar 265 juta jiwa.

Jadi, jumlah penduduk miskin sebanyak 25,95 juta orang atau berkurang sekitar 630.000 orang dibanding September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang atau 10,12% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dengan penurunan angka kemiskinan tersebut, diklaim bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia ini merupakan terendah sejak 19 tahun lalu.

5. Ekspor Indonesia Rendah, Impor Lebih Tinggi

Ekspor Indonesia
Indonesia mengekspor ke berbagai negara di dunia

Masih seperti yang dibukukan oleh BPS, ekspor Indonesia menjelang akhir tahun ini lebih rendah ketimbang impornya.

Total ekspor RI selama Januari-Oktober 2018 sebesar US$150,88 miliar atau hanya naik 8,84% dibanding tahun 2017. Sementara itu, impornya sebesar US$156,40 miliar atau naik 23,37% dibanding tahun lalu.

Tentu saja, ketika pendapatan tak sebesar pengeluaran, maka hasilnya adalah defisit. Maka dari itu, total defisit neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Oktober 2018 tahun ini sebesar US$4,52 miliar.

Wah, kalau dirupiahkan jadi berapa, ya? Coba hitung saja, katakanlah dengan kurs rupiah baru-baru ini yang rata-rata Rp14.000/USD, maka defisitnya mencapai sekitar Rp63,28 triliun!

Baca Juga: Utang Indonesia Membengkak: Bahayakah?

6. Pendapatan Negara Sebesar Rp1.654,5 Triliun

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan pendapatan negara hingga akhir November 2018 ini mencapai Rp1.654,5 triliun. Sebelumnya pemerintah menargetkan pendapatan negara sepanjang tahun ini dalam APBN 2018 diharapkan bisa mencapai Rp1.894,7 triliun.

Dengan realisasi pendapatan hingga menjelang akhir tahun tersebut, artinya telah mencapai sekitar 87,3% dari yang ditargetkan hingga penghujung tahun 2018. Apakah akan mencapai target? Kita tunggu saja hasil laporan pemerintah yang akan diumumkan pada tahun depan.

7. Pengeluaran Negara Sebesar Rp2.220,7 Triliun

Infrastruktur Indonesia
Indonesia gencar membangun infrastruktur untuk menyambung konektivitas antar daerah

Pengeluaran negara biasa disebut sebagai belanja negara. Hingga 30 November 2018, pengeluaran negara mencapai Rp2.220,7 triliun. Tentu saja, pengeluaran negara ini digunakan untuk menjalankan roda perekonomian Indonesia, termasuk membangun infrastruktur hingga membayar gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Nah, seperti yang kita semua ketahui, jika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, maka hasilnya adalah defisit. Jika pendapatan negara tersebut sebesar Rp1.654,5 triliun sementara pengeluaran mencapai Rp2.220,7 triliun, maka negara mengalami defisit Rp287,9 triliun atau 1,95% dari PDB (Produk Domestik Bruto).

Apa itu PDB? Menurut parah ahli, pengertian PDB adalah suatu nilai pasar barang dan jasa yang diproduksi suatu negara. Analogi sederhananya adalah misalnya Anda punya toko kue. Nah, nilai dari toko kue Anda, mulai dari nilai semua bahan dan barang atau stok untuk kue, dan lainnya, hingga hasil penjualan kue-kue Anda.

Lalu, berapa sih PDB Indonesia? PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada Kuartal III-2018 sebesar Rp3.835,6 triliun dan atas dasar atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp1.684,2 triliun.

8. Utang Indonesia Mencapai Sekitar Rp5.371 Triliun

Bank Indonesia (BI) mencatatkan jumlah utang Indonesia hingga September atau kuartal III-2018 mencapai sekitar Rp5.371 triliun. Tentu saja, jumlah utang ini tidak hanya utang pemerintah saja, tapi juga utang swasta. Swasta dalam hal ini seperti perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, termasuk BUMN.

Selamat Tahun Baru 2019, Semoga Perekonomian Indonesia Lebih Baik

Happy New Year

Begitulah sekilas peristiwa kondisi perekonomian di Tanah Air Indonesia. Seiring dengan bergantinya tahun, semoga 2019 menjadi tahun yang cemerlang bagi perekonomian Indonesia dan pada akhirnya semakin menyejahterakan rakyat di seluruh penjuru Nusantara.

Semoga tahun yang akan datang menjadi sebuah pengharapan yang nyata bagi semua masyarakat Indonesia. Selamat menyambut tahun baru 2019!

Baca Juga: Cara Menghitung Biaya KPR dan Cicilannya