Kamu Perlu Tahu, Ini Biang Kerok Penyebab Inflasi di Indonesia

Pernah dengar kenaikan harga cabai bikin inflasi melonjak? Ya itulah faktanya. Meningkatnya permintaan dan lonjakan harga barang atau jasa dapat mengerek inflasi ke level tertentu setiap bulan.

Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa, pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan. Nah kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang. Kenaikan harga secara kontinyu ini dapat membuat daya beli masyarakat turun. Gaji atau penghasilan masyarakat tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.  

Sebagai contoh, tadinya sebelum kenaikan harga cabai misalnya, dengan uang Rp5.000 bisa mendapat seperempat kg cabai. Begitu harga melonjak, uang segitu cuma dapat sejumput cabai yang bisa dihitung jumlahnya. Atau biasanya makan 3 kali sehari dengan uang Rp30 ribu, karena inflasi naik, jadi hanya bisa makan 2 kali sehari.

Kalau daya beli masyarakat turun akibat inflasi, efeknya akan merembet ke pertumbuhan ekonomi nasional. Ini karena konsumsi masyarakat ikut merosot lantaran harga barang atau jasa naik. Padahal konsumsi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Oleh sebab itu, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus berupaya mengendalikan laju inflasi lewat berbagai kebijakan. Kalau sudah tahu pengertian inflasi, yuk cek faktor-faktor penyebab inflasi di Tanah Air?

Baca Juga: Inflasi: Pengertian, Penyebab, Rumus Menghitung, dan Dampaknya ke Ekonomi RI

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

1. Meningkatnya permintaan atau kebutuhan masyarakat 

Inflasi
Meningkatnya permintaan atau kebutuhan masyarakat

Peningkatan jumlah permintaan atau demand pada suatu jenis barang tertentu menjadi satu dari sekian banyak penyebab inflasi. Saat permintaan naik, namun stok atau suplai terbatas, pasti akan terjadi lonjakan harga.   

Barang seolah-olah langka, sehingga harga makin menggila. Kalau ingat, harga cabai rawit merah pernah menembus Rp120 ribu per kg. Hampir sama dengan harga daging sapi. Faktor penyebabnya karena stok terbatas akibat gangguan cuaca.

Tapi senaik apapun harganya, cabai rawit merah tetap kebutuhan masyarakat untuk bumbu masak. Jadi, permintaan tetap tinggi. Orang-orang yang sangat membutuhkannya, seperti pemilik warung makan, restoran, atau lainnya memborong cabai rawit merah karena khawatir barang semakin langka dan harganya tak terkendali. Ini juga yang dapat membuat inflasi naik tinggi.

Kenaikan permintaan bukan hanya terjadi pada bahan makanan, bisa juga disebabkan barang atau jasa lain, di antaranya tabung gas, bahan bakar minyak (BBM), dan masih banyak lainnya. Karena Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung inflasi dari 7 kelompok pengeluaran masyarakat.

Kelompok pengeluaran masyarakat itu, antara lain kelompok bahan makanan; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; kelompok sandang; kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

2. Meningkatnya jumlah uang yang beredar di masyarakat

Uang
Meningkatnya jumlah uang yang beredar

Banyak yang bertanya, kenapa Bank Indonesia (BI) tidak mencetak uang yang banyak saja supaya masalah utang negara beres, bagi-bagi duit ke masyarakat. Mencetak banyak uang dan mengedarkannya melebihi kebutuhan justru bisa membuat ekonomi terganggu. Jadi itu bukan solusi.

Mulanya berimbas ke kenaikan inflasi. Mencetak uang dalam jumlah 2 kali lipat akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang. Misalnya harga biskuit dari Rp5.000 per bungkus, naik menjadi Rp7 ribu per bungkus. Kenaikan harga ini berarti inflasi dan ‘korbannya’ adalah masyarakat, terutama orang-orang miskin.

Baca Juga: Uang Rp100 Ribu Sekarang Dapat Apa, Sih?

3. Meningkatnya sewa rumah

Rumah
Meningkatnya sewa rumah

Inflasi juga bisa disebabkan karena kenaikan sewa rumah. Masuknya di kelompok pengeluaran sandang. Setiap tahun, juragan atau pemilik kos pasti mengerek tarif sewa kontrakan atau kos.

Misalnya di tahun 1990-an, dengan uang Rp700 ribu-Rp1 juta sewa kos lengkap dengan fasilitasnya. Tapi begitu masuk tahun 2000-an, buat mendapatkan kos lengkap dengan fasilitas listrik, AC, kamar mandi dalam, dan lainnya, harus merogoh kocek lebih mahal sekitar Rp1,2 juta-Rp1,5 juta.  

4. Meningkatnya biaya-biaya 

Inflasi
Meningkatnya biaya-biaya

Faktor penyebab inflasi lainnya adalah kenaikan biaya-biaya, seperti biaya SPP atau biaya sekolah, biaya listrik, air, biaya rumah sakit, kenaikan cukai rokok, biaya produksi barang atau jasa dan masih banyak lainnya. Biaya ini biasanya dibebankan ke konsumen.

Contohnya biaya produksi sebuah barang atau jasa mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan harga bahan baku maupun upah pekerja. Dari situlah, produsen akan mengambil tindakan mengerek harga jual barang atau jasa.

Belanja Sesuai Kebutuhan 

Masyarakat Indonesia termasuk tipe yang konsumtif. Pantas saja kalau konsumsi masih menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Inflasi seperti jadi konsekuensi dari tingginya konsumsi masyarakat. Beda dengan Jepang yang selalu mengalami deflasi.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara dapat ikut berperan aktif mengendalikan inflasi dengan konsumsi atau belanja sesuai kebutuhan. Bukan didasari keinginan. Maka sebaiknya, rutin menyusun daftar pendapatan dan pengeluaran setiap bulan, sehingga pengeluaran dapat terkontrol dengan baik.  

Baca Juga: Cara Mendapakan Gaji Rp 27 Juta dalam Sebulan, Gampang Banget!