Kenali Penyebab dan Pencegahan Penyakit Diare

diare

Pernahkah Anda atau keluarga Anda mengalami sakit perut atau mulas yang menyebabkan keinginan untuk buang air besar berkali-kali? Mungkin penyebabnya adalah karena Anda mengalami diare.

Diare adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada organ pencernaan. Penyakit ini ditandai oleh perasaan mulas pada perut disertai buang air besar yang tidak tertahankan.

Di Indonesia, penyakit ini cukup sering terjadi pada masyarakatnya. Biasanya, diare oleh orang awam disebut dengan istilah mencret atau buang-buang air. Meskipun umum terjadi, diare nyatanya tidak boleh dianggap sebagai penyakit sepele.

Jika penderita diare dibiarkan tanpa pengobatan selama berhari-hari, asupan nutrisi dalam tubuh menjadi terganggu. Alhasil daya tahan tubuh menjadi menurun dan meningkatkan terjangkit penyakit lainnya. Untuk itu, agar hal tersebut tidak terjadi, simak penjelasan mengenai penjelasan penyakit diare berikut ini.

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

1. Penjelasan tentang Penyakit Diare

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, diare adalah sebuah penyakit yang mengganggu fungsi organ pencernaan. Biasanya, penderita diare akan mengeluarkan feses yang lebih lembek atau bahkan cair saat sedang buang air besar.

Berdasarkan seberapa lama penderita mengalami penyakit ini, diare dapat dibedakan menjadi 2, diare akut dan diare kronis. Diare akut merupakan jenis diare yang seringkali diderita oleh masyarakat umum.

Untuk penderita diare akut, lama infeksinya hanyalah selama 3 hingga 7 hari. Penyebabnya pun hanyalah karena adanya gangguan kecil pada sistem pencernaan yang membuat diare jenis ini hanya berjangka pendek.

Untuk diare kronis, penderita biasanya akan mengalami mulas selama 4 minggu atau lebih. Penyebabnya pun berbeda dari diare akut, yakni, karena kondisi medis yang mengganggu, alergi makanan atau obat-obatan, dan juga infeksi kronis pada organ pencernaan. 

Penyakit diare umum diderita baik orang dewasa ataupun anak-anak. Bahkan, orang dewasa rata-rata mengalami diare hingga 4 kali dalam satu tahun. Jadi, saat Anda atau keluarga Anda mengalami diare, usahakan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter akan dapat dilakukan pengecekan.

2. Tanda dan Gejala Penyakit Diare

Umumnya, penyakit diare ditandai dengan rasa sakit atau mulas pada perut dan juga keinginan untuk buang air besar secara terus-menerus. Namun, terdapat beberapa tanda serta gejala lain dari penyakit diare.

Penderita diare biasanya akan merasa mual hingga menyebabkan muntah. Hal ini juga seringkali dibarengi dengan hilangnya nafsu makan oleh penderitanya. Tak hanya itu, penderita seringkali merasa haus dan dehidrasi.

Untuk kondisi yang cukup kronis, penderita diare akan merasa pusing dan demam. Bahkan, jika tidak mendapatkan penanganan dalam waktu yang cukup lama, penderita diare bisa mengeluarkan feses dalam jumlah banyak yang disertai darah.

Baca Juga: Biang Kerok Batuk Gak Sembuh-sembuh, Jangan Sepelekan!

 

3. Kondisi Penderita Diare yang Perlu Penanganan Dokter

Penyakit diare seringkali sembuh dengan sendirinya dan tidak memerlukan bantuan dokter. Namun, terdapat kondisi tertentu pada penderita diare yang sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.

Pada bayi atau anak yang menderita diare, penderita disarankan untuk mendapatkan penanganan dari dokter jika mengalami dehidrasi akut. Hal ini ditandai dengan produksi urin yang sedikit, mulut dan kulit kering, lemas, serta feses berwarna hitam dan berdarah. Jika hal tersebut dialami oleh bayi yang menderita diare, orang tua harus memeriksakan buah hati mereka ke dokter.

Untuk orang dewasa yang menderita diare, penanganan dokter wajib diberikan saat penderita mengeluarkan feses gelap dan berdarah. Pemeriksaan dokter juga perlu dilakukan jika penderita mengalami mual, kurang tidur, hingga berat badan menurun. Jadi, jika penderita diare mengalami hal-hal diatas, berkonsultasi pada dokter sangat disarankan untuk dilakukan.

4. Hal yang Menyebabkan Diare

Karena disebabkan oleh gangguan dan infeksi pada sistem pencernaan, penyakit diare seringkali terjadi karena konsumsi makanan yang kurang higienis. Bakteri atau virus dari makanan yang dikonsumsi seringkali menginfeksi dan mengeluarkan racun penyebab diare.

Selain itu, diare juga dapat disebabkan oleh orang yang tidak toleran terhadap kandungan laktosa pada produk susu, atau fruktosa dan pemanis buatan. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak dapat mengurai gula secara otomatis. Jadi, kandungan tersebut yang tidak terurai masuk ke dalam usus besar dan menyebabkan kembung serta diare.

Mengkonsumsi beberapa jenis obat tertentu juga dapat membuat seseorang menderita diare. Antibiotik, obat jantung, dan anti depresan adalah beberapa jenis obat yang seringkali menyebabkan diare. Jadi, ketika Anda merasa gejala diare setelah mengkonsumsi obat, segeralah meminta bantuan dokter agar penanganan tepat bisa dilakukan.

Diare juga seringkali terjadi pada penderita radang usus atau penyakit Crohn. Untuk penderita radang usus, diare seringkali dirasakan secara kambuhan dan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karenanya, penderita penyakit ini disarankan untuk senantiasa berada dibawah pengawasan dokter.

5. Faktor yang Meningkatkan Risiko Penyakit Diare

Selain disebabkan oleh beberapa hal diatas, terdapat beberapa kondisi dimana penyakit diare lebih rentan menyerang seseorang. Salah satunya adalah kebiasaan jarang mencuci tangan saat ke toilet.

Menyimpan makanan di tempat yang kurang bersih juga dapat membuat penyakit diare lebih mudah menyerang. Memiliki sumber air atau mengkonsumsi air kurang bersih juga menjadi salah satu penyebab umum orang menderita diare.

Bahkan, bagi Anda yang hobi meminum teh, kopi, atau minuman bersoda, hal tersebut dapat meningkatkan risiko menderita diare. Untuk itu, agar penyakit diare tidak mudah menyerang Anda, hindari melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Baca Juga: Jangan Tunggu Parah, Kenali Gejala hingga Jenis Kanker Telinga Sejak Dini

6. Cara Penanganan dan Pengobatan Penderita Diare

Penderita penyakit diare yang tak kunjung membaik sangat disarankan untuk mendapatkan penanganan dari dokter. Saat melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, dokter akan bertanya tentang beberapa hal untuk mendiagnosa penyakit diare.

Setelah melakukan diagnose, dokter akan melakukan beberapa tes untuk mengetahui kondisi si penderita diare. Beberapa tes yang dilakukan biasanya adalah tes darah, feses, dan kolonoskopi.

Untuk tes kolonoskopi, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan tabung berukuran tipis dan terang ke dalam rektum. Dengan begitu, dokter dapat melihat kondisi usus besar penderita diare dan memutuskan untuk melakukan penanganan lebih lanjut jika diperlukan.

Pengobatan pada penderita diare bisa dilakukan dengan sering mengkonsumsi air dengan jumlah banyak. Karena diare menyebabkan penderita mengalami dehidrasi, konsumsi air putih sangat disarankan untuk dilakukan oleh penderita diare. Bila perlu, dokter juga akan memberikan oralit atau cairan elektrolit sebagai penolong pertama penderita penyakit diare.

Penderita diare juga disarankan untuk memiliki waktu istirahat yang cukup. Konsumsi makanan sehat, seperti, pisang, nasi, dan juga roti, pun hendaknya dilakukan. Gunanya adalah untuk mengembalikan tenaga dan juga rasa lemas yang diderita oleh penderita diare. 

Untuk konsumsi obat, penderita diare bisa meminta resep dokter sebagai penanganan lebih lanjutnya. Obat Loperamide dan Attapulgite adalah jenis obat yang umum diberikan oleh dokter untuk dikonsumsi penderita diare.

Namun, karena memiliki efek samping, penderita diare wajib mengikuti aturan pakai obat diare saat mengkonsumsinya. Untuk itu, Anda wajib memiliki resep dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan obat diare.

7. Komplikasi Akibat Penyakit Diare

Meski jarang berakhir dengan fatal, penyakit diare tetap saja dapat menimbulkan komplikasi jika tidak segera ditangani. Jika tidak mendapatkan penanganan dari dokter saat kondisinya telah akut, penderita diare dapat mengalami kekurangan nutrisi dalam tubuhnya.

Karena memiliki kecenderungan untuk buang air besar secara berlebihan, nutrisi dalam tubuh penderita diare juga ikut terbuang. Alhasil, kebutuhan nutrisi dalam tubuh menjadi tidak tercukupi dan dapat menyebabkan infeksi penyakit berbahaya lainnya.

Diare kronis juga bisa menyebabkan penderitanya mengalami pendarahan dan juga iritasi pada saluran pencernaan. Hal inilah yang membuat feses penderita diare seringkali berwarna gelap dan juga berdarah. Jika dibiarkan, iritasi pada usus dapat menjadi luka dan mengganggu kinerja sistem pencernaan.

Dehidrasi yang dialami oleh penderita diare juga dapat membuat racun dalam tubuh sulit untuk keluar. Jika dibiarkan mengendap dalam waktu lama, racun dalam tubuh dapat menjadi penyakit dan mengganggu kondisi si penderita. Untuk itu, orang yang menderita diare disarankan untuk mengkonsumsi air dalam jumlah banyak.

Penyakit Diare Tidak Boleh Dianggap Sepele

Penyakit diare biasa memang hanya berlangsung selama beberapa hari dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, untuk jenis diare kronis, penderita sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan pada dokter agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat. Untuk itu, jika ada penderita diare yang berlangsung dalam waktu lama, pemeriksaan oleh dokter wajib diberikan agar diare dapat ditangani dengan segera dan sesuai.

Baca Juga:  Penyakit ini Sering Menyerang Anak-Anak, Kenali Hepatitis A dari Gejala Hingga Penanganannya