Kredit In-House, Pembayaran DP Rumah Jadi Ringan

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dianggap sebagai solusi ampuh untuk masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hunian. Rumah seharga ratusan juta bisa diangsur selama beberapa kurun waktu, sehingga bagi mereka yang tidak bisa menyediakan dana tunai pun tetap bisa memiliki rumah. Lantaran merupakan sebuah kebutuhan primer, rumah menjadi wajib dimiliki bagi siapa saja, karena berfungsi menjadi tempat perlindungan, penyedia keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya.

Tidak heran jika kehadiran KPR maupun KPA membuat masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan membayar angsuran selama beberapa tahun, rumah idamanpun akan menjadi milik Anda.

Hanya saja, solusi ini rupanya belum cukup menyentuh lapisan masyarakat yang kurang memiliki kemampuan finansial untuk melunasi uang muka KPR. Maklum saja, melalui Surat Edaran No. 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013, Bank Indonesia mewajibkan calon pembeli rumah membayar muka minimal 30% dari harga total.

Apabila rumah yang akan dibeli seharga Rp350 juta, maka nasabah akan diminta membayar uang muka sebesar Rp105 juta. Masih banyak masyarakat yang tidak mampu menyediakan dana sebesar itu, apalagi bagi pasangan muda yang baru saja meniti karir di dunia kerja.

Banyak juga yang memanfaatkan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Tapi bukannya lega, mereka malah akan semakin sulit melunasinya. KTA memang memungkinkan seseorang membayar uang muka rumah, namun pembayarannya akan memberatkan. Pasalnya, KTA merupakan pinjaman jangka pendek dengan bunga yang besar. Keadaan seperti ini nantinya malah akan membuat pengelolaan keuangan Anda menjadi berantakan dan akhirnya kesulitan membayar angsuran pinjaman.

Apakah ada solusi lain? Tenang, masih ada cara lain mendapatkan rumah tanpa harus mengeluarkan uang muka yang banyak. Anda tidak harus mengeluarkan uang langsung Rp105 juta demi rumah yang diinginkan. Caranya dengan melakukan cicilan uang muka rumah. Cara ini disebut dengan kredit in-house.

Pengertian Kredit In-House

Kredit In-House

Lamanya Cicilan Kredit In-House bisa Dinegosiasikan via wikimedia.org

Sistem cicilan uang muka yang disebut kredit in-house ini memang jadi alternatif lain bagi lapisan masyarakat yang selalu urung mengambil KPR karena besarnya uang muka. Kredit in-house memang tidak diproduksi oleh bank, melainkan oleh developer atau pengembang. Merekalah yang menawarkan kemudahan ini kepada para konsumen.

Dengan begitu runtutan prosesnya menjadi lebih pendek. Konsumen cukup berhubungan dengan developer saja, tidak perlu melibatkan bank. Dengan begitu, konsumen tidak merasa disulitkan dengan prosedur dan waktu pengurusan yang panjang.

Karena itu tidak jarang kita melihat spanduk, brosur, atau banner yang menyebutkan rumah bisa dikredit tanpa harus bayar DP atau uang muka. Sebenarnya bukan berarti tidak ada uang muka sama sekali, namun uang muka itu bisa dicicil hingga beberapa kali. Cicilan uang muka bisa 10 kali, 20 kali, atau seterusnya tergantung kebijakan developer.

Developer biasanya akan meminta tanda jadi yang disebut dengan bookingfee yang jumlahnya tidak begitu besar. Misalkan, rumah yang dibeli seharga Rp350 juta, itu berarti uang mukanya sebesar Rp105 juta. Konsumen nanti akan diminta membayar tanda jadi sebesar Rp1 juta.

Setelah itu, 15 hari berikutnya dia diminta melunasi setengah dari uang muka keseluruhan, yaitu senilai Rp52,5 juta. Kemudian ia akan mencicil sisa uang muka selama 20 kali, yaitu Rp2,625 juta.

Itu berarti di awal transaksi, konsumen hanya perlu menyediakan uang sekitar Rp53,5 juta (tanda jadi + ½ uang muka). Selama 20 bulan ke depan ia hanya perlu membayar Rp2,625 juta tiap bulan untuk pelunasan uang muka.

Skema pembayaran setiap developer bisa saja berbeda dari ilustrasi di atas. Yang pasti, konsumen tidak akan dikenakan bunga tambahan dalam transaksi tersebut. Berbeda dengan KPR atau KPA yang mengenakan bunga pada konsumen saat mencairkan kredit.

Kredit in-house masih memiliki beberapa keuntungan lain. Kredit ini sifatnya lebih fleksibel karena lamanya pembayaran cicilan bisa dinegosiasikan. Sekalipun developer meminta cicilan uang muka rumah dibayar 30 kali, Anda bisa saja meminta lebih lama lagi.

Pembeli juga tidak harus dibingungkan dengan biaya-biaya tambahan yang harus dibayarkan seperti ketika berurusan dengan bank. Biaya-biaya seperti biaya provisi, biaya survei, ataupun biaya appraisal tidak perlu dipusingkan, sebab developer tidak akan meminta itu. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, pastinya akan menarik banyak orang untuk menggunakan kredit in-house.

Baca Juga: Appraisal Rumah untuk KPR Rendah? Ini Penyebabnya

Proses Kredit In-House

Kredit In-House

Tidak Banyak Rumah Bisa Dibeli dengan Kredit In-House via financesonline.com

Penawaran cicilan uang muka rumah semacam ini sebenarnya mudah ditemukan karena brosur, spanduk, atau banner penawaran kredit in-house ini akan disebar di mana-mana oleh para developer. Bila berminat, tinggal hubungi saja nomer yang bisa dihubungi. Akan tetapi, setiap developer tersebut nantinya akan memberikan skema atau proses yang berbeda-beda.

Memang kredit in-house biasanya menjadi incaran banyak orang. Masalahnya adalah, developer tidak menyediakan banyak unit untuk skema in-house ini. Bisa jadi, dari 100 unit dalam satu perumahan, hanya 5-10 yang bisa diangsur uang mukanya.

Developer biasanya menetapkan kebijakan berbeda-beda mengenai skema pembayarannya. Ada yang 10 kali, 20 kali, 36 kali, hingga 50 kali. Lama angsuran ini pun masih bisa dinegosiasikan lagi. Beberapa developer mungkin saja meminta pembayaran uang muka, ada juga yang tidak. Yang pasti, biasanya ada tanda jadi yang disebut dengan bookingfee.

Bila harga rumah Rp360 juta, dengan lama cicilan 36 kali tanpa uang muka, berarti pembeli harus membayar 10 juta setiap bulannya selama jangka waktu 3 tahun. Bila perlu membayar uang muka, cicilannya tentu lebih murah, namun harus menyediakan uang cukup besar di awal.

Biasanya, serah terima rumah baru dilaksanakan setelah pembayaran angsuran telah mencapai 80%. Walau demikian, itu semua tergantung dari kesepakatan antara developer dengan pembeli. Agar ada kejelasan, sebaiknya masalah serah terima rumah juga dicantumkan saat membuat Pra Perjanjian Jual Beli (PPJB). PPJB biasanya akan mengatur hal-hal berikut:

  • Rumah dibeli dengan cara in-house atau mengangsur
  • Uang muka yang perlu dibayarkan (jika ada)
  • Jumlah cicilan yang harus dibayarkan dan lama masa cicilan
  • Waktu serah terima rumah (jika diperlukan)
  • Sanksi maupun denda terhadap masing-masing pihak jika melanggar kesepakatan

Bila seluruh angsuran rumah telah diselesaikan, nantinya PPJB akan diubah menjadi Akta Jual Beli (AJB). AJB ini nantinya akan menjadi bukti sah dan menjadi dasar untuk peralihan hak tanah maupun bangunan. Pada saat pembuatan AJB, tidak hanya developer dan pembeli saja yang bertemu, namun juga notaris. Notarislah yang nantinya akan mengesahkan AJB.

Baca Juga: Sudah Siapkah Anda Membeli Rumah?

Bisa Menjadi Sarana Investasi

Kredit In-House bisa Jadi Instrumen Investasi

Kredit In-House bisa Jadi Instrumen Investasi via hellopamevans.com

Berminat dengan investasi rumah? Sistem cicilan uang muka rumah ini bisa menjadi salah satu cara yang bagus. Anda bisa beli rumah dengan cara mencicil DP. Lalu setelah DP dilunasi, harga properti rumah mungkin saja sudah naik.

Misalnya, harga rumah Rp350 juta. Lalu kita mendapatkan kredit in-house dari developer dengan uang muka 10 persen ditambah cicilan 24 kali. Berarti kita harus membayar uang muka sebesar Rp35 juta dengan Rp13,125 juta setiap bulan.

Setelah dua tahun, rupanya harga properti di wilayah tersebut naik 30 persen. Itu artinya, harga rumah akan naik menjadi Rp455 juta. Kalau saat itu kita menjual rumah tersebut, kita akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp105 juta.

Cara investasi seperti ini sudah mulai banyak dijalani banyak orang. Tentu perlu kelihaian melihat perubahan harga pasar. Kapan harga properti bisa naik atau malah turun. Berarti diperlukan kemampuan memprediksi perubahan harga properti di masa depan.

Anda Bingung Cari Produk KPR Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KPR Terbaik! 

Waspada Developer 'Nakal'

Penawaran kredit in-house yang meringankan pembayaran DP pembelian rumah pasti menggiurkan banyak orang, apalagi bagi mereka yang berpenghasilan di bawah Rp10 juta/bulan.

Di sisi lain, konsumen tetap harus cermat saat ingin membeli rumah dengan sistem kredit in-house. Bukan apa-apa, banyak juga developer yang suka nakal terhadap konsumennya. Padahal sekali kita menandatangani akad kredit, mau tidak mau harus membayar cicilan setiap bulannya.

Salah satu bentuk kenakalan itu misalnya spesifikasi rumah yang kita dapatkan ternyata tidak sesuai dengan penawaran di awal. Ini belum lagi ditambah pembangunan rumah yang tidak juga rampung. Padahal tujuan kita mengambil kredit supaya segera dapat menempati rumah.

Bank tidak memiliki kaitan dengan kenakalan para developer ini. Bagaimanapun, cicilan tetap harus dibayarkan sekalipun ada masalah dengan pembangunan rumah. Jadi, teliti kembali segala halnya sebelum menandatangani akad.

Hal terakhir yang perlu pahami, melakukan pembatalan pembelian bisa merugikan pembeli. Developer mau mengembalikan DP yang telah dibayarkan, namun tidak sepenuhnya. Mungkin hanya separuhnya saja yang akan dikembalikan. Jadi, sekali lagi teliti dan waspada dalam membeli sangatlah penting agar pembeli tidak merugi.

Baca Juga: 5 KPR Terbaik yang Bisa Anda Pertimbangkan