KTA atau P2P Lending, Manakah yang Lebih Menguntungkan?

Ada saja kebutuhan yang datang tanpa diduga-duga. Terlebih sampai mengharuskan untuk mengeluarkan dana yang lumayan banyak. Memakai dana tabungan ternyata masih kurang. Mengandalkan gaji juga belum cukup. Untungnya, ada fitur pinjaman yang menjadi solusi atas permasalahan tersebut.

Bank selain dikenal sebagai lembaga jasa yang menyediakan simpanan juga memberikan pinjaman/kredit. Pinjaman yang disediakan bank terbilang beragam dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Multiguna (KMG), Kredit Mobil, hingga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Nah, bagi yang kurang dana, pinjaman dari bank bisa digunakan sebagai sumber pendanaan untuk mewujudkan apa yang sudah direncanakan. Bila ingin membeli mobil, tapi belum siap membayarnya secara kontan, cukup mengajukan Kredit Mobil maka mobil yang diinginkan bisa dimiliki. Atau kalau berniat memiliki rumah, tapi dana yang dimiliki hanya cukup membayar DP, dengan mengajukan KPR, kekurangan dana bisa tertutupi. Betul-betul membantu, bukan?

Kini bank bukanlah satu-satunya yang memberikan pinjaman. Belakangan ini muncul fitur pinjaman yang dinamakan Peer to Peer (P2P) Lending. Sama seperti pinjaman dari bank yang dapat diakses secara online melalui fintech, P2P Lending juga bisa diajukan secara online. Bahkan, sejak awal kemunculannya P2P Lending yang diwadahi fintech tampil sebagai ‘pinjaman online’.

Baca Juga: Pilih Mana, KTA Konvensional atau KTA Online?

Mengenal KTA dan P2P Lending

  Fintech di Indonesia

Fintech Selain Menyediakan P2P Lending juga Menyediakan KTA via shutterstock.com

 

Ditelisik lebih jauh, akan terasa bahwa P2P Lending mirip-mirip dengan KTA. Kedua pinjaman ini memang tidak mensyaratkan agunan/jaminan kepada debitur. Namun, tetap saja keduanya memiliki perbedaan. Kalau begitu, apa bedanya KTA dengan P2P Lending? Sebelum membahas perbedaannya, ada baiknya mengetahui lebih dulu tentang kedua pinjaman ini.

Apa Itu KTA?

Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau dikenal sebagai Unsecured Loan merupakan salah satu jenis pinjaman yang bisa didapat tanpa perlu menjadikan aset apa pun (rumah atau kendaraan) sebagai jaminan. Selama ini yang diketahui banyak orang jika ingin mengambil pinjaman, calon debitur harus menyediakan aset sebagai jaminan. Seandainya debitur gagal bayar maka otomatis asetnya menjadi milik kreditur.

Untuk KTA, ketentuan tersebut ditiadakan. Lalu, bagaimana bank yakin bahwa pinjaman diberikan ke debitur yang tepat? Bank mengambil keputusan untuk memberikan KTA dengan terlebih dahulu melihat riwayat kredit calon debitur. Seluruh riwayat kredit terekam dalam BI Checking. Dari situlah bank mengetahui baik atau buruknya riwayat kredit calon debitur.

Apa Itu P2P Lending?

Diperkenalkan startup di bidang finansial (financial technology/fintech), Peer to Peer (P2P) Lending merupakan suatu sistem yang mempertemukan pemberi pinjaman/kreditur (lender) dengan peminjam/debitur (borrower). Sama seperti KTA, P2P Lending tidak meminta jaminan dari borrower atas pinjaman yang diberikan.

Startup yang mewadahi P2P Lending berperan untuk menyediakan website sebagai fasilitas yang nantinya digunakan borrower untuk mengajukan pinjaman dan lender untuk memberikan pinjaman. Karena itu, P2P Lending dikenal juga sebagai ‘pinjaman online’. Borrower akan menerima dana pinjaman setelah aplikasinya dianalisis lalu disetujui tim analis yang bekerja di startup tersebut.

Apa Bedanya KTA dengan P2P Lending?

Perbedaan yang paling jelas terlihat antara KTA dan P2P Lending adalah sumber dana pinjamannya. Dana KTA umumnya berasal dari bank, sedangkan P2P Lending berasal dari individu/lembaga yang mendaftarkan diri sebagai lender.

Lewat tabel di bawah ini, akan jelas terlihat perbandingan antara KTA dan P2P Lending. Dari situ bisa ketahui dari sisi manakah KTA berbeda dengan P2P Lending.

 

KTA

P2P Lending

Suku Bunga

Mulai dari 0,96%

Mulai dari 0,75%

Limit Pinjaman

Hingga Rp300 juta

Hingga Rp500 juta

Lama Pinjaman (Tenor)

Hingga 60 bulan

Hingga 24 bulan

Proses

Pengajuan:

  • 3-5 hari kerja (minimal)
  • 14-21 hari kerja (maksimal)
  • Pengajuan: 3-4 hari kerja
  • Pengucuran dana: 6-14 hari kerja

Pembayaran

Cicilan tiap bulan

Cicilan tiap bulan

Biaya-Biaya*

 

  • Biaya Provisi: 1-3,5% dari kredit
  • Biaya di muka: 1,5-5% dari kredit
  • Biaya Penalti: 5-6% dari sisa tagihan
  • Biaya Materai: ketentuan bank
  • Biaya Asuransi: ketentuan bank

 

  • Administrasi: 3%-5%, ada juga yang Rp100.000
  • Persetujuan kredit: 2%-4%
  • Asuransi jiwa: 0,24%
  • Biaya keterlambatan: tergantung ketentuan platform

Syarat-Syarat

 

  • Identitas pribadi: KTP/KITAS
  • Dokumen: NPWP, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Surat Keterangan Penghasilan, Surat Izin Praktik, ataupun SIUP/TDP
  • Catatan kartu kredit*
  • Status profesi: karyawan, wiraswasta, profesional
  • Bukti penghasilan
  • Fotokopi tabungan (3 bulan terakhir)
  • Rasio utang: tidak >30%
  • Nomor telepon yang valid

 

  • Identitas pribadi: KTP
  • Dokumen: NPWP, Kartu Keluarga
  • Bukti penghasilan
  • Laporan keuangan
  • Fotokopi tabungan (6 bulan terakhir)

* Catatan: tidak semua diberlakukan.

Manakah yang Lebih Menguntungkan?

Mengajukan KTA

Ilustrasi Dana Pinjaman via shutterstock.com

 

Dari perbandingan di atas, terpapar secara jelas persamaan dan perbedaan antara KTA dan P2P Lending. Dari suku bunga, limit pinjaman, tenor pinjaman, proses aplikasi,  pembayaran kredit/cicilan, biaya-biaya yang disertakan, dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Bicara soal keuntungan dari sisi peminjam (debitur/borrower), tergantung dari apa yang diinginkan dari fitur pinjaman tersebut. Jika yang diinginkan adalah bunga yang rendah, KTA dan P2P Lending menawarkan bunga yang kompetitif.

Sementara bila yang diinginkan adalah tenor pinjaman yang lama, KTA adalah pilihan yang tepat karena lamanya sampai 60 bulan. Seperti yang ditawarkan Standard Chartered, membayar cicilan bulanannya boleh sampai 60 bulan. Begitu juga penawaran dari Bank ANZ yang memberi peluang bagi yang menginginkan pinjaman dengan tenor yang lama.

Setidaknya, keberadaan kedua pinjaman tersebut menambah peluang untuk memperoleh kucuran dana. Andaikan pengajuan aplikasi KTA ditolak bank, P2P Lending bisa menjadi pilihan alternatif. Atau seandainya dana tidak didapat dari P2P Lending karena belum ada yang mau mendanai, KTA boleh jadi pilihan untuk mendapatkannya.

Baca Juga: Mengenal KTA Online serta Keunggulan yang Diberikan

Pastikan Riwayat Kredit Bersih dari Catatan Buruk

Pasti atau tidaknya aplikasi disetujui tergantung dari hasil analisis, baik yang dilakukan bank maupun fintech. Supaya proses pengajuan tidak mengalami kendala, pastikan seluruh kredit atau riwayat kredit tidak bermasalah atau mendapat catatan buruk. Ini penting, baik bank maupun fintech, tidak akan merisikokan diri mereka untuk menyetujui aplikasi pinjaman calon debitur (borrower) yang bermasalah. Jadi, sudahkah mengecek catatan kredit Anda?

Baca Juga: Apa Perbedaan Peer-To-Peer (P2P) Lending dengan Crowdfunding? Ini Penjelasannya