Lika-liku Karier Slank Sebelum Jadi Band dengan Honor Termahal

Slank menjadi salah satu band papan atas Indonesia yang masih solid hingga saat ini. Terbentuk sejak 1983, grup musik legendaris yang digawangi 5 personil ini tetap eksis di belantika musik Tanah Air. Karya-karyanya pun selalu ditunggu para penggemar setia atau lebih dikenal dengan sebutan Slankers.

Punya nama besar dan berhasil bertahan selama lebih dari tiga dekade, perjalanan karier grup band Slank penuh dengan lika-liku. Mulai dari bongkar pasang personil hingga jerat kasus narkoba. Semua pernah dilewati. Yuk intip perjuangan para personil Slank melewati berbagai cobaan sehingga mampu mereguk kesuksesan seperti sekarang? Simak ulasan yang dirangkum Cermati.com dari berbagai sumber ini.

Baca Juga: 10 Artis Indonesia Terkaya Saat Ini

Anda Bingung Cari Produk Kredit Multi Guna Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KMG Terbaik! 

14 Kali Ganti Formasi hingga Penghargaan

View this post on Instagram

A post shared by SLANK band (@slankdotcom) on

Awal mula terbentuknya Slank berasal dari sebuah band bernama Cikini Stones Complex (CSC). Diinisiasi oleh Bimo Setiawan Almachzumi atau akrab disapa Bimbim sebagai drummer, band ini akhirnya bubar tidak lama setelah terbentuk. Minat bermusik yang tinggi membuat Bimbim akhirnya kembali membentuk sebuah band dengan mengajak sepupu dan beberapa rekannya yang diberi nama Red Evil. Ciri khas lagu-lagu yang dibawakan tidak lagi hanya cover The Rolling Stones, tapi juga lagu baru karya sendiri dan lagu musisi lain yang mereka gandrungi.

Dalam perjalanannya, aksi manggung Red Evil selalu disebut slengean oleh para penonton. Akhirnya keputusan berganti nama pun diambil. Terinspirasi dari candaan teman-temannya, nama Slank yang dipilih. Sejak menyandang nama tersebut, grup band asal Jakarta yang dibentuk pada 1983 ini lebih berani membawakan lagu ciptaan sendiri. Slank kerap tampil dari panggung ke panggung. Tak pernah absen di berbagai festival dan acara gigs. Sayangnya, dewi fortuna belum berpihak pada anak-anak muda ini, belum ada tawaran untuk masuk dapur rekaman.

Bongkar pasang personil Slank begitu cepat. Ditinggal satu persatu personil Slank, Bimbim harus putar otak agar band besutannya bertahan dan tetap eksis. Setelah sempat berganti formasi sebanyak 12 kali, Bimbim kemudian mengajak sepupunya Akhadi Wira Satriaji alias Kaka sebagai vokalis pada 1989.

Di formasi ke-13, Slank makin gencar menyodorkan demo lagu. Namun belum ada juga yang tembus. Saat itu, para personil Slank antara lain, Bimbim (drummer), Kaka (vokalis), Pay (gitaris), Indra Q (keyboardist), dan Bongky (bassis) tak menyerah. Mereka terus berjuang agar menembus dapur rekaman. Hingga takdir mempertemukan Slank dengan desainer cover album musik, Boedi Soesatio dan membantu mereka rekaman.

Album pertama Slank “Suit-Suit... He-He... (Gadis Sexy)” tahun 1990 dirilis. Video klip lagu “Maafkan” di album tersebut menjadi debut perdana Slank berkarier di industri musik Tanah Air. Tak disangka, album pertama ini laris manis di pasaran.
Album meledak, membuat Slank banjir tawaran manggung di berbagai acara, baik off air maupun on air. Dari acara di televisi, menggebrak panggung di kampus-kampus, sampai tampil di luar kota. Karier bermusik mereka perlahan menanjak.

Selang setahun kemudian, album kedua “Kampungan” tahun 1991 lahir. Lagi-lagi, ketika dilempar ke pasaran, meledak. Lewat album pertama dan kedua ini, Slank meraih BSAF Awards atau kalau sekarang dikenal dengan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards untuk kategori album penjualan terbaik tahun 1990-1991 dan 1991-1992.

Namun setelah penggarapan album ketiga “Piss” tahun 1993, Slank pindah haluan dengan keputusan berkarier lewat jalur indie sampai saat ini. Album keempat “Generasi Biru” tahun 1994 diproduksi di bawah perusahaan rekaman milik Slank sendiri, Piss Record.

Kasus narkoba yang menjerat personil Slank mengakibatkan perpecahan di tubuh grup Slank. Konflik ini tidak bisa dihindari. Di antara ke-5 personil hanya tinggal Bimbim dan Kaka saja yang tersisa. Sempat ingin bubar, Slank menyempurnakan diri dalam formasi ke-14 yang bertahan hingga sekarang.

Adapun 3 personil baru tersebut, adalah Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho sebagai gitaris), Abdee Negara (Abdee sebagai gitaris), dan Ivan Kurniawan Arifin sebagai bassis. Perubahan formasi tersebut menjadi tonggak kebangkitan Slank. Studio rekaman di Jalan Potlot, Jakarta Selatan dijadikan markas Slank. 

Pada 11 Oktober 1997, Slank dengan formasi baru ini manggung pertama kalinya. Sejak saat itu sampai sekarang, mereka terus kompak, menelurkan karya-karya yang mampu dinikmati masyarakat Indonesia, sehingga nama Slank makin berkibar. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga kerap manggung di luar negeri. Termasuk bekerja sama dengan beberapa musisi asing dan melakukan rekaman di Amerika Serikat, merilis album Anthem For The Broken Hearted - USA Edition.

Album dan lagu-lagu Slank selalu menjadi hits dan diganjar sejumlah penghargaan, seperti AMI. Slank juga tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2010 sebagai Grup Musik Indonesia Pertama yang Merilis Album Melalui Handphone. Dua album mereka pun masuk dalam daftar 150 album terbaik Indonesia.

Baca Juga: Lucinta Luna Makin Tajir, Ini Koleksi Barang Mahal Miliknya

Tersandung Kasus Narkoba

View this post on Instagram

A post shared by SLANK band (@slankdotcom) on

Saat berada di puncak kesuksesan, para personil Slank justru terjerat narkoba. Awalnya mereka merasa dengan mengonsumsi barang haram ini, produktivitas dalam bermusik mereka semakin baik. Namun lambat laun, narkoba justru merusak karier dan hidup mereka. Bahkan membuat Slank nyaris bubar. 

Bunda Iffet, Ibunda Bimbim memiliki peran besar dalam setiap metamorfosa Slank. Ia akhirnya mengambilalih untuk mengelola Slank menggantikan Bens Leo. Sebab ia adalah sosok wanita yang paling ditakuti Bimbim dan Kaka. Sempat sulit lepas dari ketergantungan narkoba, keinginan kuat untuk sembuh akhirnya datang menghampiri tiga personil Slank, yakni Kaka, Bimbim, dan Ivan. Ridho dan Abdee yang sama sekali tidak menyentuh barang haram itu pun memacu semangat mereka.

Demi kesembuhan para personilnya, Slank vakum sementara. Markas mereka di Gang Potlot beralih fungsi. Tidak hanya menjadi tempat untuk berkumpul, tetapi juga wadah bagi para personilnya menjalani rehabilitasi. Pengawalan ketat diberikan Bunda Iffet agar mereka terputus dari jaringan narkoba. Termasuk dengan meminta bantuan polisi dan lingkungan tempat tinggal mereka. Bahkan dompet dan ponsel turut disita.

Pada tahun 2000, mereka dinyatakan bersih dari narkoba. Berjuang cukup lama dengan proses yang begitu melelahkan untuk sembuh dari ketergantungan narkoba, Slank akhirnya berbalik menjadi pihak yang aktif menyuarakan anti narkoba lewat lagu, konser, dan menjadi narasumber di berbagai acara dengan tema tersebut.

Grup Musik dengan Honor Termahal di Indonesia

View this post on Instagram

A post shared by SLANK band (@slankdotcom) on

Berkarier lebih dari 3 dekade di industri musik Tanah Air menempatkan Slank dalam jajaran grup band dengan bayaran tertinggi di Indonesia. Sekali manggung saja, honornya diperkirakan mencapai Rp500 juta. Bisa dibayangkan kalau sebulan manggung 4 kali, sudah mengantongi Rp2 miliar.

Pendapatan itu belum termasuk dari hasil penjualan album dan merchandise yang sering diburu Slankers. Ditambah lagi royalti yang terus mengalir dari lagu-lagu mereka. Wajar saja, jika pundi-pundi rupiah semakin menggunung.

Setiap Orang Berhak Sukses

Passion Slank dalam bermusik, dan diwujudkan dalam tindakan konkret dapat menjadi contoh untukmu. Fokus, serius, berjuang, dan pantang menyerah ketika menjalani pekerjaan yang kamu cintai. Apapun bidangnya, karena setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Tidak ada yang sia-sia.

Tapi ingat, jangan pernah menyentuh atau coba-coba narkoba jika tidak ingin masa depanmu hancur berantakan. Lakukan hal-hal positif yang membuat hidupmu lebih bahagia dan sukses. Menghasilkan karya sehingga mampu menjadi inspirasi atau bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Baca Juga: 8 Artis Ini Makin Tajir Berkat Investasi Saham