Mengapa Banyak ‘Department Store’ di Indonesia Tutup?

Jangan abaikan perkembangan zaman jika tak ingin jalan di tempat. Sekelumit nasihat ini seolah nyata menggambarkan kondisi dunia usaha ritel akhir-akhir ini.

Belum lama ini, Matahari Department Store, Ramayana, Lotus, dan Debenhams, mengumumkan penutupan gerainya di beberapa lokasi. Timbul tanda tanya ada apa gerangan? Hingga memunculkan spekulasi di kalangan pemerhati ekonomi dan pengakuan dari para pelaku usaha itu sendiri.

Lalu, apakah keberadaan toko serba ada (Toserba/department store) ini semata-mata hanya karena kalah saing dengan model perdagangan online (e-commerce)?

Ternyata, tidak sesederhana itu untuk menyimpulkan fenomena gulung tikar Toserba di Tanah Air ini. Berikut fakta di balik penutupan gerai department store di Indonesia:

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

1. Perubahan Gaya Hidup ke Konsumsi Leisure

Traveling
Konsumsi traveling

Data Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) menunjukkan proporsi ritel online hingga paruh pertama tahun ini ternyata hanya sebesar US$4,89 juta saja, atau 1,4% dari total kapitalisasi ritel offline yang sebesar US$320 miliar. Artinya, porsi transaksi di ritel offline masih sangat besar ketimbang ritel online.

Namun diakui, penjualan ritel memang mengalami penurunan dibanding 4-5 tahun lalu, yang menyebabkan lesunya sektor ritel. Hal ini tak lepas dari pengaruh perubahan perilaku konsumen. Gaya hidup era millennial banyak memengaruhi sektor ritel.

Sesuai karakter millennial atau generasi Y yang lahir pada 1980 hingga 2000, mereka cenderung lebih memilih menahan belanja dan menggunakan untuk konsumsi mengisi waktu luang (leisure) atau lifestyle.

Mereka cenderung lebih suka traveling, mengeksplor tempat-tempat wisata, baik dalam maupun luar negeri hingga hunting makanan dan tempat nongkrong. Singkat kata, mereka lebih suka belanja pengalaman (experience).

Tak heran bila banyak ditemukan media sosial (medsos) yang memerkan foto-foto bepergian, atau menikmati makanan dan minuman di restoran maupun kafe, juga yang dipesan secara online (delivery order), hingga menginap di hotel. Bahkan, akun-akun bisnis yang menawarkan paket perjalanan dan harga tiket murah pun juga semakin menjamur.

2. Perubahan Prioritas dari Konsumsi ke Investasi

Sadar Berinvestasi
Generasi yang sadar investasi

Perubahan prioritas para millennial ini mau tidak mau ikut andil terhadap kelesuan ritel di Tanah Air. Selain mengubah pola konsumsi dari sekedar belanja barang-barang ritel, mereka juga sudah memiliki skala prioritas dalam hidup.

Kesadaran akan investasi sudah mulai merambah kehidupan para millennial dewasa ini. Mereka sadar pentingnya investasi. Menempatkan dananya di instrumen investasi seperti tabungan, deposito dan lainnya.

Ini bisa dilihat dari data Bank Indonesia (BI) bahwa dana pihak ketiga (DPK) di 6 bulan pertama tahun ini naik 2,3%. Artinya, cukup banyak mereka yang menempatkan dananya di deposito berjangka.

Baca Juga: Mau Investasi Jangka Panjang? Ini Pilihan Produknya

3. Daya Beli Melemah

Daya Beli
Ilustrasi belanja

Meski bukan menjadi penyebab utama, pelemahan daya beli masyarakat juga turut andil terhadap lesunya sektor ritel Tanah Air. Sebab jumlah kelas menengah-bawah (mereka yang pendapatannya pas-pasan hingga rentan miskin dan yang miskin) sangat banyak mencapai sekitar 170-an juta orang, dari total penduduk 261 juta pada statistik 2016.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun mencatatkan penduduk miskin per Maret 2017 sekitar 27,7 juta jiwa. Sedangkan orang yang berada di garis atau di bawah garis kemiskinan itu hampir 70% penapatannya untuk konsumsi makanan.

Tak dimungkiri, kondisi perekonomian dalam beberapa tahun terakhir melambat. Kenaikan tarif listrik beberapa waktu lalu juga mengerek harga kebutuhan bahan-bahan pokok, memengaruhi harga-harga produk ritel lainnya hingga berkali lipat dari biasanya.

BPS mengakui ada perlambatan daya beli masyarakat. Ini tercermin dari konsumsi masyarakat (terdiri dari belaja barang, sandang, pangan, dan papan/rumah), yang biasanya mampu tumbuh di atas 5%, di kuartal ketiga tahun 2017 hanya mampu tumbuh di sekitar 4,9%.

Bila, pendapatan atau gaji yang didapat tidak sebesar kenaikan harga barang-barang konsumsi itu, maka mau tidak mau orang akan menekan jumlah konsumsinya. Itung-itung, daripada besar pasak dibanding tiang, lebih baik menekan belanja.

4. Perlambatan Ekonomi

Krisis Global
Ilustrsi krisis ekonomi global

Perekonomian domestik dalam 5 tahun terakhir mengalami perlambatan seiring berakhirnya era komoditas (booming commodity), yang merupakan dampak dari pelemahan ekonomi global. Sehingga menjatuhkan harga-harga komoditas dunia seperti kelapa sawit, batubara, dan lainnya, yang merupakan ekspor utama Indonesia.

Ini bermula dari meluasnya krisis finansial yang berasal dari skandal subprime mortgage (KPR Subprima), yaitu pembiayaan kredit perumahaan warga AS, yang membuat salah satu bank terbesar di Perancis, BNP Paribas, membekukan beberapa sekuritas yang terkait, karena pembiayaan KPR ini dinilai berisiko tinggi.

Subprime mortgage adalah pembiayaan kredit kepemilikan rumah untuk masyarakat AS yang non bankable atau kurang memiliki kemampuan finansial yang memadahi.

Akibat itu, gejolak pasar finansial menyebar ke seluruh dunia dan semakin membesar seiring bangkrutnya Lehman Brothers (bank investasi terbesar AS). Diikuti krisis keuangan di negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang.

Akhirnya, krisis keuangan dunia pun pecah di kala itu dan berimbas ke perekonomian Indonesia, yang tercermin dari anjloknya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) hampir separuhnya, dari 2.627,3 ke 1.355,4 pada penutupan di Desember 2008. Nilai tukar rupiah berangsur-angsur tergerus dari sebelumnya di Rp8000-an per dolar AS menjadi sekitar Rp13.000-an belakangan ini.

Semua orang kesulitan keuangan, kredit macet di mana-mana, perdagangan internasional kocar-kacir, nilai tukar berfluktuatif, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di berbagai belahan dunia.

Pelaku usaha pun mengakui, kondisi perekonomian telah memengaruhi operasional sektor ritel. Sebab tak dimungkiri, modal usaha juga tidak murni dari kantong sendiri, melainkan berasal dari utang. Dan gejolak ekonomi ini juga mengakibatkan beban utang semakin besar, hingga mau tidak mau harus melakukan efisiensi, salah satunya menutup gerai.

Baca Juga: 14 Strategi Belanja Bulanan Hemat di Supermaket

5. Pergeseran dari Belanja Offline ke Belanja Online

Belanja Online
Ilustrasi belanja online

Faktor lain dari penutupan gerai ritel ini juga diakui para pelaku usaha sebagai bentuk mengikuti perkembangan zaman. Perubahan cara belanja pun tidak dipandang sebelah mata. Perkembangan teknologi informasi telah mendorong peritel online dan mengubah gaya hidup orang dalam berbelanja.

Pun demikian,  diakui hingga saat ini belanja online belum menggeser cara belanja offline. Ini merujuk pada proporsi ritel yang masih 1,4% dari kapitalisasi ritel offline tadi. Artinya, barang-barang ritel yang dibeli secara online tidak ada separuhnya dibanding secara offline.

Akan tetapi, peritel pun tidak mengesampingkan potensi ritel online ini ke depannya. Perubahan gaya berbelanja konsumen memaksa pengusaha ritel konvensional untuk mengubah strategi pemasaran, sekaligus efisiensi operasional.

Penutupan Gerai Ritel jadi Fenomena Global

Toko Ritel Tutup
Ilustrasi toko ritel yang akan tutup

Tidak hanya di Indonesia, lesunya penjualan ritel dan berbuntut pada penutupan toserba dan gerai ritel lainnya tampaknya juga menjadi fenomena global. Perlambatan ekonomi dunia telah membuat warga mulai mengurangi pengeluaran perabot, pakaian, dan makanan di berbagai negara seperti Australia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Malaysia, dan masih banyak lagi.

Berikut Gerai Department Store dan gerai ritel lainnya di Indonesia dan Luar Negeri yang mulai ditutup satu per satu:

1. Matahari Departement Store

Matahari Department Store
Gerai Matahari Departement Store via Tribunnews.com

Siapa yang tak kenal toko serba ada satu ini. Departement Store yang merupakan bagian dari Lippo Group ini sudah lebih dulu bertransformasi ke perdagangan online (e-commerce) yakni MatahariMall.com. Di tengah perlambatan industri ritel selama ini, mereka menutup 2 gerai di Pasaraya Blok M dan Manggarai.

Terbaru, mereka mengumkan akan menutup gerai Matahari Department Store yang ada di Mall Taman Anggrek pada akhir tahun ini. Penutupan gerai oleh PT Matahari Department Store Tbk ini disinyalir salah satunya lesunya penjualan ritelnya. Tak tanggung-tanggung, kinerja keuangannya dikabarkan menyusut seperempat lebih dari omzet sebelumnya.

2. Ramayana Departement Store

Ramayana Department Store
Gerai Ramayana Department Store visa Foursquare.com

Toko serba ada yang sudah cukup lama berdiri milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk ini telah tutup sebanyak 8 gerai di berbagai daerah karena merugi. Gerai Ramayana yang ditutup itu antara lain 2 gerai yang ada di Surabaya, 1 di Gresik, 1 di Banjarmasin, 1 di Bulukumba, 1 di Bogor, 1 di Pontianak, dan 1 gerai Ramayana di Sabang.

3. Lotus Department Store

Lotus via Skyscrapercity
Gerai Lotus Department Store via skyscrapercity.com

Lotus Department Store dioperasikan oleh PT Java Retailindo (JR) yang sahamnya 100% dimiliki oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP). Kali ini, bukan hanya satu atau dua gerai saja yang ditutup, namun diputuskan gerai Lotus ditutup semua, yakni gerai yang ada di Jakarta, Bekasi, dan Cibubur.

Lagi-lagi, keputusan penutupan gerai ini tidak lain juga dikarenakan penjualannya yang tidak mendukung baik terhadap kinerja keuangan. Sebagaimana hukum ekonomi, mau tidak mau mesti ditutup karena tidak menguntungkan.

4. Debenhams Department Store

Debenhams Department Store
Gera Department Sore via Draperonline.com

Swalayan ini masih di bawah naungan yang sama dengan Lotus. Debenhams merupakan lisensi dari peritel multinasional asal Inggris. PT Mitra Adiperkasa Tbk menghentikan operasional secara total department store ini di Indonesia.

Setidaknya ada 3 gerai Debenhams di Indonesia, yaitu gerai Debenhmas di Kemang, Debenhams Karawaci, dan Debenhams Senayan City. Manajemen MAP mengaku mentransformasi penjualan ritel dari department store ke e-commerce dengan nama MAPeMall.

5. H&M Store

H&M Store
H&M Store via Miami.com

Perusahaan ritel pakaian Hennes & Mauritz (H&M) multinasional asal Swedia ini pun dikabarkan telah menutup beberapa gerainya dan setidaknya ada puluhan gerai di eropa yang juga akan mengalami nasib yang sama.

Namun penutupan gerai ini tidak terjadi di H&M yang ada di Indonesia. Saat ini gerai-gerai ini bisa ditemu di H&M Central Park Mall, H&M Lippo Mall Puri, H&M Grand Indonesia, H&M Kota Kasablanka, H&M Gandaria City Mall, H&M Pondok Indah Mall, dan H&M Supermal Karawaci.

6. Bebe Store

Bebe Store
Bebe Store via Sunsentinel.com

Butik pakaian asal California, Amerika Serikat, ini dikabarkan telah menutup ratusan gerainya. Saat ini Bebe Store Inc., memiliki 9 gerai di Indonesia yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

7. Hero Supermarket

Hero Supermarket
Gerai Hero Supermarket via Insideretailasia.com

Bukan hanya riwayat toserba, namun peritel di Indonesia seperti PT Hero Supermarket Tbk, juga mengalami nasib yang sama. Hero telah menutup 74 gerai dari semua jenis supermarket dan hypermarket di tahun 2015 lalu. Diakui, penutupan gerai ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari ini salah satunya karena terdampak pelemahan ekonomi.

8. Hypermart

Hypermart
Gerai Hypermart via Supermallkarawaci.com

Gerai ritel yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari ini terpaksa tidak bisa dioperasikan semua. PT Matahari Putra Prima Tbk tahun ini telah menutup 2 gerai Hypermart, salah satunya lantaran mengalami penurunan penjualan. Selain itu, diungkapkan juga karena biaya operasional yang tidak mendukung untuk tetap efisien.

9. Giant Hypermarket

Giant Hypermarket
Gerai Giant Hypermarket via Palmmall.my

Kali ini, gerai ritel yang ditutup bukanlah di Indonesia, melainkan di Malaysia. GCH Retail Sdn Bhd mengungkapkan telah menutup 5 gerai Giant Hypermarket di beberapa kota. Penutupan gerai ini disinyalir juga akibat lemahnya penjualan.

10. Sevel (7-Eleven)

Sevel
Gerai Sevel via 7eleven.au

Bukan hanya supermarket, namun ritel jenis convenient store seperti Sevel (7-Eleven) pun mengalami nasib yang sama. Bukan hanya 1-2 gerai atau beberapa gerai saja yang tidak mampu bertahan, namun Manajemen PT Modern Internasional Tbk nyatanya memilih menutup seluruh outlet 7-Eleven.

Gerai yang biasa disebut sebagai ‘Kafenya’ anak muda dan gaul ini tak mampu mempertahankan eksistensinya. Bukan apa-apa, masalah biaya operasional yang tak sesuai dengan pendapatan telah menjerat langkah Sevel ini untuk bisa terus eksis.

Karena model bisnisnya yang semi kafe, tentu 7-Eleven ini tidak bisa beralih strategi ke sistem online seperti peritel lainnya. Tidak mungkin bukan, menjual tempat tongkrongan di online? Itu sama saja menjual imajinasi nongkrong di kafe.

Terbuka dengan Perubahan untuk Pertahankan Eksistensi

Kondisi ekonomi memang tidak ada yang bisa memastikan tetap berjalan baik dan stabil sesuai harapan. Namun dinamika ekonomi ini setidaknya bisa disikapi dengan inovasi-inovasi dan membuka diri akan hal-hal baru untuk menciptakan efisiensi dan menjaga eksistensi.

Baca Juga: Belanja Online Jadi Hemat dengan Kartu Kredit dengan 8 Cara Ini