Mengenal AKKI dan Perannya dalam Perkembangan Kartu Kredit di Indonesia

Kartu kredit telah lama beredar dan dikenal masyarakat Indonesia. Perkembangan kartu kredit sendiri semakin pesat seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap beragam manfaat positif dari kartu kredit. Misalnya, berbelanja baju, makanan, tiket perjalanan hingga kuliner di restoran bisa menjadi lebih murah berkat diskon dan promo kartu kredit, ditambah lagi dengan banyak kartu kredit yang menawarkan sejumlah manfaat seperti cash back dan poin reward yang menguntungkan bagi penggunanya.

Pesatnya jumlah pengguna kartu kredit ini tercatat oleh Bank Indonesia. Berdasarkan data Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK), hingga April 2016 tercatat jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 16.896.126 kartu. Angka ini mengalami peningkatan sejak tahun 2009, yang saat itu jumlah kartu kredit yang beredar ialah 12.259.295 kartu. Bila dibandingkan dengan kartu debit, jumlah kartu kredit yang beredar tercatat lebih tinggi. Data BI per April 2016 menunjukkan jumlah kartu debit yang beredar hanya mencapai 7.680.771 kartu.

Perkembangan alat transaksi pembayaran ini mendapat perhatian, dukungan dan pengawasan dari Asosiasi Kartu Kredit Indonesia atau AKKI. AKKI merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan untuk membangun industri kartu kredit di Indonesia yang sehat dan bertanggung jawab bagi semua pihak. Semua pihak yang dimaksud mulai dari bank penerbit kartu kredit, nasabah selaku pemegang kartu, merchant, principle kartu kredit (American Express, Diners Club International, JCB International, MasterCard International dan Visa International) dan pihak lain yang terkait.

Asosiasi Kartu Kredit Indonesia via akki.or.id

 

Terbentuknya AKKI

General Manajer Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Steve Marta menjelaskan awal mula AKKI terbentuk. AKKI berdiri pada tahun 1986, dibentuk oleh 4 penerbit kartu kredit yang ada pada saat itu: BCA,  Bank Duta, American Express, dan Diners Club International. Tujuan dibentuknya AKKI pada saat itu adalah untuk tujuan melakukan kerja sama antar penerbit dalam melakukan koordinasi penyelesaian masalah fraud transaksi kartu kredit.

Pada mulanya, AKKI masih berbentuk perkumpulan bukan asosiasi. Namun seiring dengan bertambahnya anggota yang bergabung mulai dari penerbit kartu kredit hingga principle kartu kredit, maka bentuk perkumpulan ini pun berubah menjadi sebuah asosiasi yang memiliki landasan hukum, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Terbentuknya AKKI murni bersifat dari dan untuk anggotanya. AKKI bukan dibentuk berdasarkan ketentuan dari Bank Indonesia atau regulator lainnya.

Misi dan Visi

Visi dari AKKI adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi semua stake holder dalam membentuk lingkungan transaksi elektronik pada umumnya dan transaksi dengan menggunakan kartu kredit khususnya. Sedangkan misi AKKI adalah meningkatkan transaksi elektronik kartu kredit dengan menciptakan metode transaksi yang baru untuk kebutuhan transaksi masyarakat indonesia serta mengurangi risiko financial bagi stake holder.

Saat ini AKKI beranggotakan seluruh 23 penerbit kartu kredit di Indonesia. Di antara penerbit tersebut 13 institusi yang juga memiliki ijin dan menjalankan business acquiring. Ke 23 penerbit tersebut adalah BCA (Acquirer), BRI (Acquirer), BNI (Acquirer), Mandiri (Acquirer), CIMB Niaga (Acquirer), OCBC NISP , Panin,  ANZ, Standard Chartered Bank, HSBC, Bank Mega (Acquirer), BNI Syariah, Aeon, Maybank Indonesia (Acquirer), Citibank (Acquirer), UOB Indonesia, Bank Permata (Acquirer), QNB Kesawan, Bukopin (Acquirer), MNC Bank, Bank Danamon (Acquirer), Bank Sinar Mas (Acquirer) dan ICBC.

Sebagai informasi tambahan, yang dimaksud dengan business acquiring diatas ialah bank memiliki kewenangan dalam mengelola transaksi kartu kredit yang diterbitkan. Artinya bank tersebut bekerjasama dengan merchant untuk mengelola mesin EDC (Electronic Data Capture) dan memproses tagihan merchant.

Peran AKKI ke Masyarakat

Peran keterlibatan AKKI ke masyarakat tidak secara langsung, tetapi melalui anggotanya yang merupakan penerbit kartu kredit. Contoh peran serta yang pernah dilakukan AKKI antara lain, edukasi masyarakat tentang PIN kartu kredit, menyediakan sarana otentikasi untuk transaksi e-commerce, penanganan kasus-kasus fraud yang terjadi di merchant, penanganan masalah gesek tunai (gestun) dan surcharge. Steve, General Manajer AKKI, berharap di masa mendatang Indonesia akan menjadi negara yang memiliki peningkatan persentase transaksi elektronik, melebihi transaksi tunai. Hal tersebut dapat membentuk lingkungan yang efisien, transparan dan mudah dalam melakukan transaksi.

Selain itu, dalam menjalankan tugasnya guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan dalam transaksi kartu kredit bagi pemegang kartu dan merchant. AKKI juga bekerja sama dengan Criminal Justice Syste (CJS) seperti pihak Kepolisian, Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung. AKKI juga berperan dalam mendukung proses pembuatan RUU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), membuat proses penegakan hukum menjadi lebih baik dalam penanganan kasus-kasus penyalahgunaan kartu pembayaran, termasuk kartu kredit.