Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim, Hapus Ujian Nasional. Setuju Gak?

Cermati.com, Jakarta - Wacana menghapus ujian nasional (UN) SD, SMP, SMA bakal menjadi babak baru sistem pendidikan Indonesia. Inilah gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim yang akan membuat beban para siswa tingkat akhir lebih ringan.

Sebetulnya bola panas menghapus ujian nasional sudah beberapa kali dilemparkan, namun tak jua terealisasi. Wacana ini selalu mencuat tiap kali pergantian Mendikbud baru. Belum lama ini, pernah diutarakan Sandiaga Uno dalam debat Pilpres 2019.

Kini, wacana menghilangkan ujian akhir kembali bergulir. Bahkan nadanya lebih serius. Nadiem yang juga mantan CEO Gojek itu sepertinya tahu betul keinginan guru, murid, dan orangtua. Penasaran dengan kabar wacana penghapusan ujian nasional ini? Cermati.com akan mengulasnya seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Baca Juga: Cara Lulus SNMPTN Agar Bisa Kuliah di Universitas Negeri

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Ujian Nasional Bikin Stres Siswa, Benar Gak Ya?

View this post on Instagram

#SahabatDikbud, rilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 dihadiri Mendikbud Nadiem Makarim, di Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/11/2019). . Mendikbud mengatakan laporan PISA sangat penting bagi Indonesia karena memberikan sebuah perspektif, sebuah insight baru, atau angle baru. Menurutnya, hasil PISA bukan hanya untuk mengukur capaian sistem pendidikan Indonesia, tap juga menunjukkan hal-hal yang tidak kita sadari tentang diri kita. "Saya menyebutnya cara belajar. Kita tidak mungkin mengetahui apa yang harus kita perbaiki atau lanjutkan kalau kita tidak dapat perspektif dari luar. Di sinilah kunci kesuksesan belajar, yaitu untuk mendapatkan perspektif dari berbagai macam area bidang," ujar Mendikbud. . Hasil PISA untuk Indonesia disampaikan oleh Yuri Belfali dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Selain itu, Kepala @litbangdikbud Totok Suprayitno juga memberikan keterangan pers lebih detail tentang hal-hal yang akan ditindaklanjuti Indonesia dari hasil PISA 2019. . #PISA #CerdasBerkarakter . Foto: Tasori

A post shared by Kemdikbud.RI (@kemdikbud.ri) on

Persiapan ujian nasional panjang. Sampai ikut bimbingan belajar (bimbel) dengan biaya cukup mahal. Khawatir tidak mampu mengerjakan soal ujian, mendapat nilai jeblok, hingga bayang-bayang tidak lulus menghantui siswa.

Momok ujian nasional saban tahun menyerang psikologis anak. Anak jadi stres berat, depresi, sakit keras, dan ujung-ujungnya berakhir dengan kabar duka meninggal dunia gegara UN. Inilah alasan yang melatarbelakangi rencana Nadiem membenahi sistem pendidikan di Tanah Air, termasuk wacana kebijakan menghapus ujian nasional.  

  • “Banyak sekali aspirasi dari masyarakat, guru, murid, orangtua. Sebenarnya banyak dari mereka bukan ingin menghapus, tapi menghindari hal negatif (dari UN),” ucap Nadiem, dikutip dari kontan.co.id.
  • Contohnya, ungkap Nadiem, tingkat stres tinggi yang dialami siswa menjelang ujian nasional. Begitu menghadapi ujian akhir, muncul rasa khawatir yang berlebihan, terutama bila soal ujian menyangkut pelajaran yang bukan bidang mereka.

Asal tahu saja, kasus kematian atau bunuh diri akibat tekanan ujian nasional di Indonesia bukan baru satu dua kali. Jumlahnya mencapai belasan kasus sejak 2007-2015. Periode di mana ujian nasional masih menjadi syarat utama kelulusan siswa.

Di tahun 2015 juga, pemerintah mengubah kebijakan. Ujian nasional tak lagi jadi penentu kelulusan. Namun mempertimbangkan seluruh nilai mata pelajaran, sehingga seorang siswa bisa dinyatakan lulus atau tidak.

Meski demikian, kasus kematian atau bunuh diri karena ujian nasional tidak berhenti. Masih ada saja siswa yang mengakhiri hidupnya, contoh kasus lantaran nilai UN tak sesuai harapan maupun tidak lulus.

Ujian Nasional Bakal Diganti Asesmen Kompetensi?

Wacana menghapus ujian nasional masih dikaji. Nantinya akan ada perbaikan sistem kelulusan bagi siswa. Pengganti ujian nasional digadang-gadang adalah asesmen kompetensi. Sistem ini sudah disiapkan Kemendikbud.

  • Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) untuk mengidentifikasi capaian belajar siswa. Adalah program pemetaan capaian pendidikan untuk memantau mutu pendidikan secara nasional atau daerah yang menggambarkan pencapaian kemampuan siswa.
  • Asesmen ini untuk membantu guru mendiagnosa kemampuan siswa pada topik-topik yang substansial, dan dapat memperkaya penilaian formatif di sekolah.

Baca Juga: Biaya Kuliah di Universitas Indonesia

Siswa Masih Akan Bertemu Ujian Nasional di 2020

Ujian Nasional
Ujian Nasional masih akan diterapkan pada 2020

Jangan senang dulu. Ujian nasional belum akan dihapus tahun depan. Itu artinya, para siswa yang kini sudah masuk tingkat akhir, masih akan menghadapi ujian nasional di 2020.

“UN masih akan jalan di 2020. Itu kan sudah kami umumkan, biar tenang bagi (siswa) yang sudah belajar dan sebagainya,” tutur Nadiem.

Tanggapan Masyarakat soal Wacana Penghapusan UN

Ujian Nasional
Tanggapan masyarakat soal wacana penghapusan UN via Instagram Kemendikbud

Wacana penghapusan ujian nasional disambut gembira para siswa. Walaupun tetap akan menghadapi ujian akhir tahun depan, Alfiani, siswi SMA di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat sangat mendukung kebijakan tersebut.

Menurutnya, ujian nasional bukan suatu hal yang terlalu penting lagi di zaman now. Ujian nasional dinilai Alfi begitu panggilan akrabnya, hanya menambah beban berat siswa.

“Dilihat dari efektivitas dan efisiensi UN yang kecil, UN bukan suatu hal penting lagi sekarang. Ditambah banyaknya ujian yang harus dihadapi, UN cuma nambah beban kami. Selain itu, banyak kecurangan yang tidak bisa dihindari, jadi alasan kenapa UN harus dihapus,” saran remaja kelahiran Jakarta ini.

“Untuk SMA dihapus saja (UN), biar kami fokus ke Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Ada lagi ujian sekolah dan ujian praktik. Jadi kalau UN dihapus, mungkin bisa lebih meringankan kami,” pungkas Alfi.

Di jagad Instagram, salah satu unggahan pidato inovasi pendidikan dari Nadiem di akun @Kemendikbud.ri dihujani dengan komentar soal penghapusan ujian nasional. Ada yang pro, ada juga yang kontra.

Seperti akun @bimmerjax: “Pak, UN 2020 hapus pak :(.” Sementara akun @yennyratnawbintisoetrisno meminta agar UN tidak dihapus. “Pak Nadiem, UN biarkan, karena untuk seleksi sekolah.”

Merdeka Belajar, RI Contek Negara Lain Hapus Ujian Nasional

Nadiem tengah mendesain platform pendidikan yang disebut merdeka belajar. Merdeka untuk murid, guru, dan lembaga pendidikan. Wajah dan sistem pendidikan Indonesia harus berubah. Bukan lagi sekadar menghapal, tapi beralih ke kompetensi.

Dalam merencanakan penghapusan ujian nasional, Indonesia bisa mencontek negara lain yang sudah menerapkan kebijakan serupa:

1. Singapura

Ujian sekolah dihapus mulai tahun 2019. Sebagai gantinya, murid diberi lebih banyak waktu untuk berdiskusi, PR, dan kuis.

2. India

Kebijakan penghapusan ujian nasional di India mulai berlaku tahun 2021. Langkah ini ditempuh karena ujian nasional dinilai memberatkan siswa

3. Finlandia

Meniadakan ujian nasional. Negara yang terkenal dengan sistem pendidikan terbaik di dunia ini memang jarang membebani siswa dengan PR, apalagi ujian nasional

4. Jepang

Pelajar hanya menghadapi ujian satu kali, yakni ketika ujian masuk perguruan tinggi

5. Amerika

Tidak ada ujian nasional. Akan tetapi, siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus memenuhi persyaratan nilai yang sudah ditentukan

6. Jerman

Para siswa di Jerman tidak menghadapi ujian nasional

7. Australia

Meniadakan ujian nasional, tapi ada ujian state. Ujian ini hanya sebagai penentu melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi, bukan syarat utama kelulusan siswa.

Tingkatkan Keahlian dan Kemampuan

Bila nanti ujian nasional betul-betul dihapus, bukan berarti kamu berhenti belajar. Asah terus keahlian, kemampuan, dan kompetensi. Ini penting sebagai bekal kamu untuk melanjutkan pendidikan maupun terjun ke dunia kerja. Buat kamu yang akan menghadapi ujian nasional tahun depan, tetap semangat!

Baca Juga: Menghitung Biaya Sekolah Anak dan Pilih Tabungan Pendidikan yang Tepat