Nurhayati Subakat Siap Bawa Wardah Masuk Jajaran 5 Besar Merek Dunia

Siapa yang tak mengenal Wardah? Pelopor produk kosmetik halal yang sukses dirintis Nurhayati Subakat. Dialah pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Wardah di bawah bendera PT Paragon Technology and Innovation. Di tangan dinginnya, Wardah mampu menguasai pasar kosmetik di Indonesia.

Riuh tepuk tangan penonton menggema di sebuah Ballroom Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta saat Nurhayati Subakat menjadi panelis dalam sesi pertama acara Pembukaan Sidang Tahunan ICCIA bertajuk “The Development of Halal Economy for OIC Countries,” beberapa waktu lalu. Wanita bersahaja ini tampil penuh percaya diri di depan para pengusaha lain memaparkan pencapaian Wardah di industri kosmetik Tanah Air.

Selesai sesi tersebut, Nurhayati yang sudah turun dari panggung langsung diserbu pengusaha yang ingin sekadar berkenalan, berfoto, dan saling tukar kartu nama. Wanita berhijab ini juga didatangi pengusaha Bangladesh yang menawarkan kerja sama atau joint venture (JV) untuk memasarkan Wardah di negara tersebut.

Begitulah kalau sudah sukses, tawaran kerja sama dengan sendirinya mengalir. Beruntung, Cermati.com berkesempatan mewawancarai Nurhayati Subakat untuk menggali bisnis yang dilakoni wanita kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 27 Juli 1950 itu.

Baca Juga: Mengintip Gebrakan Bos JNE Hadapi Arus Digitalisasi Lewat Transformasi Bisnis

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Berawal dari Industri Rumahan

Berawal dari Industri Rumahan
Berawal dari Industri Rumahan via paragon-innovation.com

Nurhayati memutar memori masa lalu saat pertama merintis bisnis kosmetik dari nol. Dia bercerita, berbekal pengetahuan dan pengalamannya bekerja di perusahaan kosmetik selama 5 tahun, Nurhayati menjajal peruntungan membuat merek sendiri pada tahun 1985. Mulanya PT Pusaka Tradisi Ibu yang kini bertransformasi menjadi Paragon Technology and Innovation memproduksi shampo untuk salon dengan merek Putri. Jadi target pasarnya salon.

Selanjutnya jebolan farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengembangkan produk kosmetik halal pada 1995 dengan nama Wardah. Adalagi merek Makeover dan Emina. Semuanya dimulai dari skala industri rumahan (home industry). Modal uang pun minim.

“Kami mulai dari 33 tahun yang lalu. Modal kecil dan dari home industry. Tapi saya lulusan farmasi dan pernah bekerja di perusahaan kosmetik,” kenang Nurhayati saat berbincang dengan Cermati.com.

Seperti bisnis pada umumnya, di awal merintis tentu ada saja kendalanya. Terutama saat penjualan lewat Multi Level Marketing (MLM) mulai surut. Tak main-main, Wardah terus dibenahi. Duet dengan sang anak, Salman Subakat sebagai Direktur Pemasaran mulai melakukan re-branding sehingga penjualan kosmetik Wardah terus menanjak.

Tidak ada usaha yang sia-sia. Wardah kini menjadi nomor satu di kategori make-up, peringkat pertama untuk penjualan moisturizer (pelembab), nomor satu di skin care (perawatan kulit), dan menduduki peringkat ketiga penjualan produk cleanser atau face care (perawatan wajah). Atas pencapaian tersebut, pertumbuhan nilai (value growth) Wardah mencapai 40,1% atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5%.

Bangganya lagi, diakui Nurhayati, Wardah berhasil mengungguli merek-merek kosmetik asing yang sebelumnya merajai Tanah Air. “Di Indonesia banyak global brand dan kami sudah melewati produk luar tersebut, seperti Maybelline, Revlon,” kata Nurhayati sembari melempar senyum.  

Target Ambisius Masuk 5 Besar Merek Kosmetik di Dunia

Dengan 6 pabrik seluas 20 hektare (ha) di area Jatake, Tangerang dan kapasitas produksi 95 juta produk personal care dan make up, Nurhayati optimistis dapat memasok produk kosmetik halal di dunia dalam jangka panjang. Tentunya dengan dukungan dari 10 ribu karyawan sekarang ini.

Namun untuk jangka pendek, Istri dari Subakat Hadi ini akan memperluas pasar ekspor ke negara-negara Timur Tengah. Saat ini, Wardah baru dilempar ke pasar Malaysia. “Timur Tengah (target ekspor). Pokoknya kami sudah ada partner, kami akan masuk,” tuturnya.

Pasar ekspor bertambah, target besar pun siap digeber. Mimpi Nurhayati ingin mengantarkan Wardah masuk 5 besar merek kosmetik di dunia. “Sekarang kan masih di Indonesia, mimpinya ingin jadi global brand nomor 5 di dunia,” harapnya.

Tidak ada yang tidak mungkin kalau melihat potensi bisnis kosmetik halal yang begitu besar di Indonesia maupun dunia. Akan tetapi, persaingan bisnis yang semakin ketat membuat Nurhayati harus rajin berinovasi dan merilis produk-produk teranyar. Termasuk ikut menyesuaikan diri terhadap perkembangan era digitalisasi saat ini.

“Strategi pengembangan, setiap tahun kami akan keluarkan produk-produk baru. Totalnya sekitar 200-an per tahun. Karena prospek bisnis kosmetik di Indonesia sangat bagus, salah satu yang paling tinggi growth-nya,” ucap Nurhayati yang enggan menjelaskan lebih detail mengenai produk tersebut.

Baca Juga: Sarita Sutedja Blakblakan Resep Sukses Warunk UpNormal Cs

Resep Sukses Bos Wardah

Resep Sukses Bos Wardah
Resep Sukses Bos Wardah via cnbcindonesia.com

Membangun bisnis selama puluhan tahun lamanya bukan perkara mudah. Butuh keringat dan cucuran air mata, jatuh bangun untuk memperkenalkan dan membesarkan nama Wardah. Tak ketinggalan strategi pemasaran yang tepat. Nurhayati mengaku, resep suksesnya dalam membangun bisnis tak terlepas dari menjalankan bauran pemasaran.

Marketing mix, yakni produk yang bagus, harganya bersaing, distribusi dan promosi yang baik, serta bisa mengikuti pasar. Kalau saya tambah satu lagi, yaitu pertolongan dari Allah,” ungkap Wanita yang masuk dalam daftar pebisnis paling berpengaruh di Asia (Woman in Business 2018) versi Majalah Forbes itu.

Nah buat kamu yang mau sukses menjadi entrepreneur di bisnis kosmetik atau usaha lain, kata Bos Wardah ini kuncinya cuma dua yaitu, mau dan bisa. Pertama, kemauan. Artinya, niat yang harus diwujudkan sehingga bukan hanya sekadar rencana. Kedua, bisa. Berarti harus memahami produk atau jasa yang akan dijual.

“Kalau bisnis kosmetik, berarti harus ngerti dong produk kita, bisnisnya seperti apa, pasarnya bagaimana. Itupun berlaku buat usaha apa saja. Kita tidak bisa masuk ke bisnis yang kita tidak mengerti,” pungkas Nurhayati mengakhiri perbincangan.

Semangat, Tidak Ada yang Mustahil

Ketika niat usaha sudah terlaksana, tinggal bagaimana seseorang totalitas, mencurahkan segala pikiran dan tenaga untuk membangun bisnis tersebut. Jangan hanya takut pada modal dan risiko. Butuh modal, ada pinjaman Kredit Tanpa Agunan (KTA) maupun Kredit Multiguna (KMG) yang bisa dimanfaatkan. Sementara risiko dapat dikelola atau dicari solusinya.

Ibarat kata jangan mundur sebelum berperang. Semua orang bisa sukses asalkan mau berikhtiar dan berdoa. Jadi terus tancapkan semangat dalam diri, sehingga kamu semakin bergairah untuk membaca peluang pasar, menyusun strategi jitu, dan melahirkan inovasi baru untuk pengembangan bisnis kamu ke depan. Semoga menginspirasi.

Baca Juga: Modal Nekat, Ini Kisah Sukses Raam Punjabi Raja Sinetron Indonesia