Peran Penting Fintech ‘Primadona’ di Era Digital

Perusahaan teknologi keuangan atau lebih dikenal dengan nama financial technology (fintech) tengah menjadi buah bibir. Bukan saja karena dominasi dan peluangnya di Indonesia, tapi juga sedang disorot lantaran berbagai kasus fintech ilegal yang mencoreng industri layanan jasa keuangan berbasis teknologi ini.

Perkembangan fintech di Tanah Air tak bisa dibendung lagi. Arusnya semakin kuat, bahkan sudah menjadi tren layanan keuangan di era digital sejak 2016. Boleh jadi ungkapan “semua akan fintech pada waktunya,” bakal terbukti.

Industri fintech sekarang ini seperti gadis molek yang mampu menarik investasi kakap. Banyak perusahaan rintisan atau startup yang menggarap bisnis fintech mengantongi pendanaan dari investor besar. Tentu saja, ongkos ini untuk membangun infrastruktur, sumber daya manusia, dan lainnya.

Sebetulnya apa peran penting fintech dan dampak positifnya terhadap masyarakat dan perekonomian Indonesia?

Baca Juga: Makin Menggurita, Ini Aturan Baru Pengawasan Fintech di Indonesia

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Fintech Jadi Primadona

Fintech Jadi Primadona
Fintech Jadi Primadona

Masyarakat Indonesia bisa dibilang paling update di jagat maya. Bagaimana tidak? Data Hootsuite yang dipaparkan Pengamat Fintech, Hasnil Fajri menyebut per Januari 2018, pengguna ponsel pintar atau smartphone di Indonesia mencapai 177,9 juta orang. Sebanyak 132,7 juta merupakan pengguna internet. Yang aktif di media sosial mencapai 130 juta pengguna. Pantas saja kalau Indonesia masuk lima besar negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia.

Sayangnya, tingkat pengetahuan atau literasi keuangan masyarakat Indonesia masih cetek, sehingga pemerintah tengah berjuang mengejar target indeks penggunaan atau inklusi keuangan di angka 75% pada 2019. Fenomena-fenomena tersebut nyatanya membuahkan inovasi layanan jasa keuangan, dari yang tadinya konvensional bertransformasi ke digital. Inilah yang dinamakan fintech. Kehadiran fintech menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini kesulitan, bahkan tak tersentuh akses layanan keuangan perbankan.

Berkat fintech, akses layanan keuangan bukan barang mewah lagi. Kirim uang, mencari produk keuangan bank dan non-bank, sampai mengajukan kredit atau pinjam meminjam kini bisa dilakukan jarak jauh hanya dalam hitungan detik saja. Kemudahan ini semakin mengangkat sektor fintech.

Fintech telah menjadi primadona. Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), pengguna layanan fintech terbesar adalah generasi milenial berusia 25-35 tahun, kelas menengah dengan gaji Rp5 juta sampai Rp15 juta per bulan. Kelompok ini sudah melek teknologi. Sementara jumlah peminjam di perusahaan fintech sekitar 3 juta orang sampai saat ini, data dari OJK.

Peran Penting dan Dampak Positif Fintech di Indonesia

Peran Penting dan Dampak Positif Fintech di Indonesia
Peran Penting dan Dampak Positif Fintech di Indonesia

Perusahaan fintech tumbuh subur dalam beberapa tahun terakhir karena ada peluang pasar yang besar. Akan tetapi bukan melulu cari fulus, fintech diharapkan berperan penting dalam era digital saat ini. Menurut Hasnil kepada Cermati.com, tiga peran penting fintech, antara lain:

1. Memberikan solusi bagi masyarakat yang tidak memiliki akun di bank

2. Memberi solusi bagi masyarakat yang tidak mempunyai agunan dalam hal pinjam meminjam

3. Fintech bisa menjadi alternatif masyarakat mendapat layanan jasa keuangan.

Sementara dampak positif fintech, diakui Hasnil telah membantu pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperdalam inklusi keuangan di Tanah Air. Selain itu, membantu usaha kecil naik kelas menjadi skala menengah.

Untuk diketahui, nilai transaksi fintech di Indonesia mencapai USD18,6 miliar di tahun 2017. Jumlah itu setara dengan Rp269,7 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS). Bayangkan jika uang tersebut atau separuhnya saja digunakan untuk modal kerja, sektor riil makin bergeliat sehingga mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

“Transaksinya besar, ekonomi bisa tumbuh, sektor riil bergerak. Tadinya terbatas mendapat modal kerja, tapi sekarang ada alternatif selain bank untuk memperoleh modal kerja. Akhirnya, pertumbuhan ekonomi bisa naik,” ungkap Hasnil.

Baca Juga: Ingat-Ingat! Kenali Fintech yang Sudah Kantongi Izin Bank Indonesia

Ada Fintech, Bank Ketar Ketir?

Suka tidak suka, mau tidak mau, saat ini eranya fintech. Bisnis serupa layanan jasa keuangan dari fintech diprediksi akan menggerogoti transaksi perbankan. Lama-lama bank bisa mati karena kalah bersaing dengan fintech. Tapi perlu diingat, mereka yang tergilas adalah yang tidak mau beradaptasi mengikuti perubahan.

Sudah bukan zamannya lagi bersaing, sikut sana, sikut sini. Bank harus menangkap peluang kolaborasi dengan perusahaan fintech agar pasarnya tidak tergerus. Fintech dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengakses produk-produk keuangan, termasuk yang dimiliki perbankan sesuai kebutuhan dan kemampuan nasabah.

“Maraknya fintech tidak bisa ditahan, teknologinya akan ke sana. It’s matter of time dan pasti beberapa pekerjaan di bank akan hilang diganti fintech. (Mereka) bisa hilang, kalau tidak berbenah,” ujar Hasnil.

Tidak hanya perbankan yang khawatir, pelaku pasar modal pun dibuat kewalahan oleh fintech. Startup fintech mulai merambah jualan produk pasar modal, seperti reksa dana. Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK, Hendrikus Passagi memperkirakan ke depan, perusahaan fintech akan menjadi agen paling banyak untuk pasar modal.

“Manajer investasi dan perusahaan sekuritas suatu saat bisa saja hilang karena akan terganti oleh fintech. Perusahaan fintech peer to peer lending (P2P) sudah mulai menawarkan reksa dana,” kata Hendrikus.

Oleh karenanya, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko Bursa Efek Indonesia (BEI), Fithri Hadi mengungkapkan, pihaknya akan bekerja sama dengan e-commerce dan fintech dalam rangka meningkatkan basis investor pasar modal. Dengan demikian, kehadiran fintech bukan merupakan ancaman, tapi justru peluang bagi industri pasar modal.

“Bursa dan perusahaan efek sudah punya inisiatif rencana untuk bermitra dengan e-commerce dan fintech,” paparnya.

Sikat Fintech Ilegal

Sikat Fintech Ilegal
Sikat Fintech Ilegal

Industri fintech tengah dirundung masalah. Seperti peribahasa nila setitik rusak susu sebelanga, kehadiran fintech ilegal merugikan fintech secara keseluruhan. OJK pun dibuat gerah dengan ulah fintech pinjam meminjam (P2P) abal-abal. Sebagai langkah tegas, OJK melalui Satgas Waspada Investasi telah memblokir 404 fintech pinjaman online ilegal. Kebanyakan berasal dari China. Ada juga dari Thailand dan Malaysia.

Sekadar informasi, hingga saat ini tercatat 49 perusahaan fintech sudah terdaftar di Bank Indonesia (tautan: https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/fintech/Pengumuman-Penyelenggara/Contents/default.aspx). Sementara fintech pinjam meminjam yang terdaftar resmi di OJK sebanyak 78 perusahaan (tautan: https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10476). Padahal jumlah fintech yang beredar dan tak berizin mencapai ratusan perusahaan.

“Ini ada fintech-fintech ilegal yang menyalahgunakan. Yang muncul 300-400 perusahaan ilegal,” ungkap Wakil Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Harry K.W Haryono.

Selain menghentikan kegiatan fintech ilegal, tindakan OJK lainnya yaitu:

1. Mengumumkan ke masyarakat nama-nama fintech P2P ilegal

2. Memutus akses keuangan P2P ilegal pada perbankan dan fintech sistem pembayaran bekerja sama dengan BI

3. Mengajukan blokir website dan aplikasi secara rutin kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika

4. Menyampaikan laporan informasi ke Bareskrim Polri untuk proses penegakkan hukum.

Pahami Risikonya dan Waspadai Fintech Bodong

Patut disayangkan kehadiran fintech yang sejatinya untuk mempermudah akses keuangan masyarakat harus ternoda dengan praktik-praktik tak beretika dari fintech bodong. Jadilah masyarakat cerdas dengan memahami fintech maupun risikonya. Hindari berhubungan dengan fintech ilegal dan Anda bisa mengunjungi www.ojk.go.id atau telepon ke nomor 157, maupun email konsumen@ojk.go.id untuk memperoleh informasi kegiatan fintech pinjam meminjam.

Baca Juga: Waspada Fintech Bodong, OJK Rilis 5 Ciri Fintech Lending Ilegal