Perbedaan Kelas Menengah Saat Ini dan Sepuluh Tahun Lalu

Hingga saat ini, jumlah masyarakat kelas menengah masih mendominasi di Indonesia. Angka pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tiap tahunpun menambah jumlah masyarakat kelas menengah tersebut. Pada tahun 2005, masyarakat kelas menengah mencapai persentase mendekati 40% dari populasi Indonesia. Kemudian pada tahun 2013, jumlahnya meningkat sebanyak 56,7% dari total penduduk Indonesia. Sebuah penelitian bernama The Boston Consulting Group memprediksikan di tahun 2020, jumlah populasi kelas menengah di Indonesia diperkirakan mencapai 141 juta jiwa.

Populasi yang masuk ke dalam kelompok kelas menengah ini adalah masyarakat dengan penghasilan minimal dua juta rupiah per bulan. Selain itu, perkembangan kelas menengah di Indonesia juga dapat dilihat dari data statistik jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, jumlah penumpang pesawat terbang, jumlah rumah tangga yang memiliki telepon genggam, dan rumah tangga yang memiliki komputer serta memiliki akses internet. Sedangkan menurut buku Satu Dasawarsa Membangun untuk Kesejahteraan Rakyat, terbitan Sekretariat Kabinet menyatakan kelompok menengah merupakan kelompok masyarakat yang membelanjakan uang per harinya dengan kisaran 2 hingga 20 dollar AS, atau kira-kira setara dengan 25.000 sampai dengan 250.000 rupiah.

Pada bidang perekonomian negara, masyarakat kelas menengah memiliki peranan penting. Kelompok tersebut memiliki angka produktifitas dan konsumsi yang relatif tinggi. Kelompok masyarakat kelas menengah di berbagai negara mempunyai potensi untuk mengangkat roda perekonomian di suatu negara.

Setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium pada 28 Maret 2015 yang memicu inflasi April 2015 sebesar 0,36%, membuat harga-harga kebutuhan pokok turut meningkat. Dapat dilihat dari perbandingan kehidupan masyarakat kelas menengah 10 tahun lalu hingga saat ini dari harga kebutuhan pokok.

 

1. Harga Bensin

Pom Bensin

Pom Bensin via energitoday.com

 

Jenis

2005

2015

Premium

Rp 2.400,00/liter

Rp 7.300,00/liter

Solar

Rp 2.100,00/liter

Rp 6.900,00/liter

 

Perbedaan yang sangat jelas dapat dilihat dari selisih harga BBM antara tahun 2005 dan tahun 2015 dengan kenaikan yang mencapai 204%. Tahun 2015 sendiri sudah terjadi kenaikan harga BBM sebanyak tiga kali. Jika pemerintah berencana menaikkan lagi, maka sudah dapat dipastikan bahwa kehidupan masyarakat kelas menengah akan semakin terombang-ambing. Pemerintah beranggapan rencana untuk menaikkan harga BBM ini dilakukan untuk menyehatkan anggaran negara. Harapan yang besarpun muncul dari masyarakat Indonesia apabila hal tersebut terjadi. Sebelum menaikkan harga BBM tersebut dilakukan, pemerintah juga disarankan agar bisa memastikan kecukupan stok pangan, dan program sosial yang bisa mempertahankan daya beli masyarakat.

Dengan kenaikan harga BBM selama sepuluh tahun ini, maka masyarakat kelas menengah mengalami pasang-surut perekonomian yang cukup dapat dirasakan. Sebagian dari populasi kelas menengah memang masih menggunakan kendaraan pribadi dan tidak berpengaruh terhadap dampak kenaikan BBM. Sebagian lagi merasa kenaikan ini sangat mempengaruhi kehidupan ekonominya. Banyak masyarakat menengah yang beralih ke angkutan umum seperti taksi, kereta, bis, dan angkutan umum lainnya. Tanpa disadari kenaikan BBM ini juga menggerus perekonomian kelas menengah.

 

2. Kenaikan Harga Properti

Sudirman Central Business District

Sudirman Central Business District via flickr.com

 

Perkiraan Harga Tanah di Jakarta

2005

2015

 

Rp 15.000.000,00/m 2

Rp 50.000.000,00/m 2

 

Layaknya harga BBM yang terus melonjak, demikian pula harga properti. Harga yang terus meningkat tiap tahun ini ‘mencekik leher’ masyarakat kelas menengah yang ada di Indonesia. Harga tanah di Jakarta sampai saat ini tercatat mencapai angka 50-60 juta rupiah per meter persegi. Harga tanah tersebut berlaku untuk kasawasn CBD (Central Business District) Sudirman dan Thamrin, Segi Tiga Emas Jakarta (Ratu Plaza-Pancoran-Thamrin). Harga tanah di kawasan ‘emas’ tersebut memang terus melonjak. Pada tahun 2005 harga tersebut masih pada angka 15-20 juta rupiah per meter persegi namun kini sudah mencapai tiga kali lipat. Apabila dihitung, maka ratarata kenaikan harga tanah di kawasan tersebut mencapai 20% per tahun.

Seandainya laju kenaikan gaji tidak sebanding dengan laju kenaikan harga rumah, maka yang akan terjadi adalah harga rumah yang kian tinggi membuat masyarakat makin kesusahan. Bisa saja kelak harga rumah 100m2 akan dengan mudah menembus angka tiga miliar rupiah. Pendapatan kelas menengah tidak akan mudah mendapatkan hunian dengan angka yang fantastis tersebut.

 

3. Tarif Listrik

Listrik Prabayar

Listrik Prabayar via pln.co.id

 

Tarif Dasar Listrik

2005

2015

 

Rp 659,00/Kwh

Rp 1.352,00/Kwh

 

Adanya peningkatan pada tarif dasar listrik juga ikut serta mempengaruhi kehidupan masyarakat kelas menengah dari sepuluh tahun lalu hingga saat ini. Konsumsi rumah tangga juga senantiasa melonjak. Harga yang konon ditingkatkan akan bermanfaat untuk mengurangi subsidi pemerintah dan untuk meningkatkan belanja pembangunan. Hal ini juga mempengaruhi anggaran belanja dan anggaran rumah tangga masyarakat kelas menengah. Kenaikan selama sepuluh tahun ini sangat signifikan karena menyebabkan biaya listrik semakin tinggi. Bagi masyarakat kelas menengah, ada yang menyiasatinya dengan menggunakan pulsa listrik agar tetap bisa berhemat.

 

4. Harga Tabung Gas

Tabung Gas 12kg

Tabung Gas 12kg via andikafm.com

 

Tabung Gas 12 kg

2005

2015

 

Rp 51.000,00

Rp 134.700,00

 

Bagi masyarakat kelas menengah, kebutuhan tabung gas menjadi kebutuhan pokok. Tabung gas sangat berguna untuk mengolah bahan baku makanan menjadi bahan makanan siap saji untuk kebutuhan sehari-hari. Apabila dalam sebulan tiap keluarga dari kelas menengah memerlukan satu tabung, maka mereka harus membayar sebesar Rp 134.700,00 demi memenuhi kebutuhan pangan mereka. Sedangkan sepuluh tahun lalu, hanya dengan Rp 51.000,00, setiap keluarga sudah dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi sebagian besar kehidupan masyarakat kelas menengah.

Baca Juga: Potensi Finansial yang Meningkat dan Melemah di 2015

 

Istilah Kelas Menengah Tak Berarti Lagi

Kondisi kenaikan harga-harga di atas membuat perekonomian kelas menengah makin terdesak. Dengan adanya kenaikan harga pokok sehari-hari dan kenaikan bahan bakar minyak tersebut membuat istilah kelas menengah menjadi tak berarti lagi. Kelas menengah yang sepuluh tahun lalu bisa membeli mobil pribadi yang berkelas, di tahun ini kondisinya sangat berubah dengan kemampuan masyarakat membeli mobil sekelas LCGC (Low Cost Green

Car).

Masyarakat kelas menengah membiayai kehidupan mereka dari gaji per bulan. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer beserta sekunder seperti uang transportasi, biaya makan, dan lainnya. Dengan situasi ekonomi seperti ini, maka kehidupan masyarakat kelas menengah sepuluh tahun lalu dan saat ini sangatlah berbeda. Demikian pula dengan jumlah populasi masyarakat kelas menengah di Indonesia akan terus bertambah karena perilaku konsumtif mereka tetap ada.

Baca Juga: Seperti Apakah Tempat Tinggal Kamu di Masa Depan?