Reksa Dana Berisiko dan Ribet, Benarkah Seperti Itu?

Ada banyak jenis pola pengelolaan dana untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya adalah reksa dana. Sebagaimana namanya, reksa dana merupakan wadah yang dapat digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat dengan tujuan untuk diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Portofolio efek ini merupakan surat berharga, seperti saham, obligasi, ataupun deposito. Dari portofolio efek ini, dana dalam reksa dana nantinya memberikan untung bagi investor. Nah, Manajer Investasilah yang mengelola portofolio efek ini. Mereka ini yang akan melakukan pengelolaan berdasarkan kebijakan investasi yang telah disepakati.

Manajer Investasi juga yang bertanggung jawab atas kinerja reksa dana. Misalnya, memutuskan saham yang akan dibeli, dijual, ataupun dipertahankan. Karena perannya yang strategis, ada kriteria dan standar kualifikasi minimum untuk menjadi Manajer Investasi.

Dari Manajer investasi pula, investor akan mendapat prospektus, yakni dokumen yang di dalamnya berisi kebijakan investasi. Misalnya, strategi dan instrumen investasi dalam reksa dana, legalitas dan pihak pendukung lainnya, seperti akuntan, Bank Kustodian, dan kantor hukum. Prospektus ini wajib dipahami calon investor sebelum melakukan pembelian reksa dana.

Masih minimnya pengetahuan soal reksa dana yang diketahui banyak orang terkadang menjadi kendala kenapa banyak orang belum mau menempatkan dananya di reksa dana. Beberapa hal yang kerap membuat salah paham serta penjelasannya di antaranya:

Baca Juga: 20 Hal Ini Wajib Diperhatikan Sebelum Berinvestasi Reksa Dana

1. Reksa Dana Menghasilkan Keuntungan yang Fluktuatif dan Berisiko

Reksa Dana Pasar Uang

Ilustrasi Fluktuatif via shutterstock.com

 

Atas dasar itulah, banyak orang yang memilih deposito atau tabungan yang mana daripada reksa dana. Pernyataan tersebut kurang tepat. Sebagai salah satu instrumen investasi, reksa dana juga menempatkan dananya dalam deposito atau tabungan atau surat utang dengan waktu jatuh tempo 1 tahun yang disebut sebagai Reksa Dana Pasar Uang.

Sementara reksa dana yang keuntungannya bersifat fluktuatif adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Saham. Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap, dana investor ditempatkan pada surat utang atau obligasi sebesar 80% yang perkembangannya bergantung pada suku bunga dan inflasi.

Lain halnya dengan Reksa Dana Saham, yang 80% dana kelolaanya ditempatkan pada instrumen saham yang perkembangannya tidak menentu. Malah patut dicurigai apabila ada instrumen atau pihak yang menjanjikan keuntungan tinggi, tetapai tanpa ada risiko. Instrumen tanpa risiko sangat mustahil terjadi kecuali terdapat indikasi penipuan.

Untuk keamanan, reksa dana selalu dibandingkan dengan tabungan dan deposito yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Nyatanya, reksa dana juga dijamin keamanannya. Atas izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia atau Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF) bertanggung jawab untuk melindungi dan menjamin hilangnya aset atau dana pemodal atau investor.

Dana atau aset yang gagal dibayarkan atau hilang dikembalikan dengan syarat investor menginvestasikan dananya lewat Anggota Dana Perlindungan Pemodal (DPP) yang di dalamnya adalah Bank Kustodian dan Perantara Pedagang Efek. Siapa saja yang telah menjadi anggota? Bisa dilihat di www.indonesiasipf.co.id.

2. Banyak yang Berpendapat Memulai Reksa Dana Itu Ribet

Reksa Dana Saham

Berinvestasi di Reksa Dana Tidaklah Ribet via shutterstock.com

 

Pernyataan ini muncul sudah sejak lama. Namun, memulai reksa dana tak sesulit yang dibayangkan. Ketika akan memulai berinvestasi di reksa dana, investor akan berhadapan dengan tiga pihak: Bank Kustodian, Manajer Investasi, dan Agen Penjual Reksa Dana.

Paling penting dari semuanya, Anda sudah tahu tujuan berinvestasi reksa dana. Jika yang diinginkan adalah return yang tinggi, investasikan dana Anda di Reksa Dana Saham. Tapi, risiko kerugian yang dihadapi juga terbilang tinggi. Sebab nilai saham cenderung naik turun.

Jika yang diinginkan adalah kepastian dan minim risiko kerugian, investasikan dana Anda di Reksa Dana Pasar Uang. Konsekuensi yang diterima dengan menginvestasikan dana di Reksa Dana Pasar Uang ialah return yang didapat kecil nilainya. Sebab dana Anda ditempatkan di deposito atau tabungan.

Selain dua reksa dana tadi, ada dua reksa dana lainnya lagi: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran. Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap, dana yang diinvestasikan ditempatkan pada surat utang atau obligasi sebesar 80%. Sementara Reksa Dana Campuran merupakan gabungan dari instrumen saham, obligasi, dan pasar uang.

Setelah tahu tujuan investasi, cari tahu mengenai Manajer Investasi yang menjual reksa dana. Kemudian mencari tahu tentang Bank Kustodian yang menyimpan efek. Lalu metode yang digunakan dalam menghitung Nilai Aktiva Bersih (NAB). Semuanya bisa ditemukan dalam prospektus reksa dana. Untuk dapat mengakses prospektus tersebut, Anda bisa lakukan dengan membuka di website Manajer Investasi yang Anda pilih.

Kemudian sesudah mendapatkan Manajer Investasi pilihan Anda, cari tahu apakah bisa dilakukan pembelian langsung secara online ataupun offline di Manajer Investasi. Atau membeli reksa dana lewat agen penjual secara online ataupun offline.

Anda juga bisa membelinya di platform yang menyediakan macam-macam pilihan reksa dana dari berbagai Manajer Investasi. Tahap selanjutnya jika sudah tahu bagaimana mendapatkan reksa dana, Anda tinggal mengikuti prosedur-prosedur yang ditetapkan Manajer Investasi atau platform penyedia reksa dana.

Baca Juga: Tips Pintar Belanja Reksa Dana Online

Asal Mau Mencari Tahu dan Memahami, Memulainya Bukan Perkara Sulit

Selama ini banyak orang yang masih kurang memahami reksa dana ini. Hal ini mengakibatkan banyaknya persepsi yang muncul sehingga khawatir untuk berinvestasi reksadana. Padahal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Selama mau mencari tahu dan memahami reksa dana, memulai berinvestasi di reksa dana bukanlah perkara yang sulit. Malah berinvestasi di reksa dana akan menguntungkan sebagai penjamin masa depan nanti.

Baca Juga: Persiapan Dana Pensiun: Pilih BPJS, DPLK, atau Reksa Dana?