Rupiah Nyaris Sentuh Rp15.000 Per USD, Saatnya Jual Dolar?

“Jual …tidak, jual …tidak, jual …tidak, ya?”

Bingung. Begitulah gejolak hati saat mengantongi dolar AS dan rupiah sedang melemah. Lalu berspekulasi “apa sebaiknya dijual sekarang? Atau ditahan dulu barangkali masih ada potensi rupiah makin melemah?”

Jual sekarang dengan perhitungan keuntungan yang terukur? Dijual nanti -entah kapan- berharap untung berlipat ganda karena berpikir ada potensi rupiah makin terdepresiasi?

Atau justru buntung telah melewatkan momen puncak penguatan dolar karena rupiah kembali menguat? Bimbang memang.

Tapi sebelum berlarut-larut dengan kegalauan, sebaiknya pahami dahulu apa yang sebenarnya terjadi hingga rupiah belakangan ini makin terpuruk. Dan bagaimana prospek mata uang Garuda ini ke depannya. Sehingga Anda bisa memutuskan kapan waktu yang tepat ‘jual dolar’!

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Rupiah Terpuruk

Depresiasi Rupiah
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Seperti kita tahu, nilai tukar acuan dalam Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) USD-IDR dari laman Bank Indonesia (BI) atau perdagangan kurs antar bank di dalam negeri, menunjukkan rupiah berfluktuatif dan melemah cukup dalam beberapa bulan terakhir.

Terbukti dari kurs rupiah di awal tahun (2 Januari) masih di Rp13.542 per USD, merangkak ke level Rp14.927 per dolar AS pada 5 September 2018. Artinya, rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS lebih dari Rp1.000 selama 7 bulan terakhir.

Tentu nilai ini bisa berbeda bila di pasar spot alias perdagangan di pasar valas seperti di money changer maupun di bank untuk jual-beli secara ritel, yang rata-rata harga per satuan dolar sudah dijual di atas Rp15 ribu. Tak heran bila baru-baru ini banyak masyarakat yang berbondong-bondong menjual dolarnya.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp14.000an, ini Tips Hemat ‘Travelling’ ke Luar Negeri

Apa Penyebab Rupiah Melemah?

Investor Ambil Untung
Ilustrasi investor ambil untung

Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan terhadap dolar AS belakangan ini, baik itu karena kondisi dalam negeri, maupun luar negeri.

Begitulah ungkapan sejumlah pakar ekonomi, yakni Ekonom dari Institute for Development on Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, dan Dzulfian Syafrian, serta Ekonom Senior sekaligus Project Consultant di Asian Development Bank (ADB) Institute, Eric Alexander Sugandi, saat berbincang dengan Cermati.com belum lama ini.

Faktor luar negeri atau faktor esksternal penyebab USD makin perkasa terhadap rupiah adalah:

  • Banyak investor global yang mengambil untung dari investasinya di negara berkembang (emerging markets)
  • Rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve Fund Rate)
  • Sentimen negatif akibat krisis di negara-negara berkembang yang menular ke negara lain
  • Risiko bertambahnya perang dagang AS-Cina

“Kondisi (rupiah) diperparah rencana kenaikan Fed rate pada akhir September ini. Akibatnya investor melakukan flight to quality atau menghindari risiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US Dollar index naik 0,13% ke level 95,2. Dollar index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang lainnya,” kata Bhima.

Apa faktor dalam negeri atau domestik yang membuat rupiah terus melamah? Penyebabnya antara lain:

  • Defisit transaksi berjalan yang melebar akibat defisit neraca perdagangan. Artinya impor lebih besar ketimbang ekspor.
  • Rentan pelarian modal asing karena saham dan SBN (surat berharga negara) banyak dimiliki asing
  • Likuiditas valas ketat dan banyak berada di bank-bank besar
  • Banyak perusahaan yang transaksinya menggunakan valas tidak lakukan lindung nilai terhadap risiko fluktuasi nilai tukar (hedging)

“Tekanan utamanya (pelemahan rupiah) masih dari eksternal. Seperti great rotation atau waktunya investor global panen profit dari emerging markets setelah banyak investasi sejak 2008. Jadi, walaupun pemicunya karena faktor eksternal, ada beberapa kelemahan struktural di ekonomi Indonesia,” tutur Eric.

Baca Juga: 'Traveller' Wajib Punya Kartu Kredit ini, Kenapa?

Jadi, Kapan Waktunya Jual Dolar?

Konversi Rupiah ke Dolar AS
Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS

Bagi yang terbiasa jual-beli valas (valuta asing) tentu tidak asing lagi dengan istilah sell or hold (jual atau tahan) saat memiliki mata uang asing. Selisih nilai tukar inilah sebagai celah untuk mengambil untung.

Jual dolar saat rupiah melemah, pasti menguntungkan. Atau sebaliknya, simpan dolar saat rupiah menguat.

Lalu, kapan waktu yang tepat jual dolar? Sebelum itu, simak penjelasan para pakar ekonomi tersebut mengenai nasib rupiah ke depan?

Ketiga para ahli ekonomi itu pun sepertinya sama-sama mengamini harapan rupiah tidak terus terperosok. Tentu ada syaratnya, selama faktor eksternal tidak makin memberikan sentimen buruk, dan kebijakan BI serta pemerintah mendukung penguatan rupiah. Simak ulasan seputar rupiah berikut ini:

1. Nasib Rupiah hingga Akhir Tahun 2018

Rupiah
Mata uang rupiah

Tidak hanya rupiah, tapi mata uang negara-negara berkembang lainnya juga diperkirakan masih akan dibayangi tekanan ekternal dari hasil pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS (U.S. FOMC/Federal Open Market Committee) pada 18-19 Desember tahun ini.

“Ini karena para pelaku pasar finansial global menunggu realisasi kenaikan US-FFR (US Fed Fund Rate), setidaknya dua kali lagi sampai akhir tahun," ujar Eric.

Namun ia memastikan bahwa tekanan ini sifatnya akan timbul tenggalam alias sementara, tergantung persepsi dan sentimen pelaku pasar.

Dalam beberapa hari ke depan (jangka pendek) rupiah, kata Eric, mungkin akan bergerak di kisaran Rp14.900-Rp15.200 per USD. Hingga akhir tahun dipperkirakan di kisaran Rpp14.600-Rp14.800 per USD.

Bahkan, Bhima pun memprediksikan pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut hingga tahun 2019, karena ada kemungkinan suku bunga acuan bank sentral Amerika bakal naik tiga kali.

Dzulfian pun sependapat, bahwa pelemahan rupiah masih bisa terus terjadi setidaknya hingga beberapa bulan ke depan.

“(Pelemahan rupiah saat ini sudah level tertinggi?) Tidak. Sangat besar kemungkinannya akan menyentuh Rp15 ribu (per dolar AS). Perkara waktu saja. Sedikit sekali kemungkinan rupiah akan menguat (hingga akhir tahun ini),” kata Dzulfian, kandidat Doktor di Durham University Business School, Inggris, ini.

2. Jangan Gambling, Tak Ada Salahnya Paham Soal Ekonomi walau Sedikit

Ilmu ekonomi
Ilustrasi pelajari ilmu ekonomi

Wajar saja bila bimbang dan ragu tentukan kapan baiknya menjual dolar. Dijual sekarang? Atau tahan dahulu sambil menunggu barangkali masih akan terus melemah, hingga nantinya bisa raup untung besar saat memutuskan menjualnya.

Bagi pemegang mata uang dolar AS, tentu momen penguatan mata uang negeri Paman Sam ini jadi sebuah angin segar untuk meraup pundi-pundi rupiah bila ditukarkan ke mata uang lokal.

Apakah Anda termasuk yang saat ini juga memiliki sejumlah aset dalam bentuk USD? Jika ya, pasti Anda bertanya-tanya bahkan bimbang apakah sudah saatnya menjual dolar dan menghimpun nilai rupiah yang ‘menggendut’.

Atau, Anda justru galau kalau-kalau rupiah masih akan berpotensi terus melemah, hingga keputusan menahan dolar AS yang selama ini disimpan merupakan keputusan tepat?

Ada pepatah Cina mengatakan “zi zu chan zu,” artinya puas akan diri sendiri akan menghasilkan kepuasan. Maksudnya, orang jangan terlalu serakah. Sebab ketidakpuasan yang berlebihan dan tidak pandai bersyukur dapat menimbulkan stres.

Atau nasihat lama dari Sunan Gunung Jati “amapesa ing bina batan” yang artinya jangan serakah atau berangasan dalam hidup.

Jadi, tidak ada salahnya mengerti dan memahami walau sedikit saja soal perekonomian terkini agar tidak mudah terbawa arus alias ikut-ikutan atau lebih parahnya lagi termakan hoaks, juga ingatlah akan petuah tersebut.

3. Aksi BI dan Pemerintah Selamatkan Rupiah

Bank Indonesia
Gedung Bank Indonesia

Sebagai otoritas moneter, sebagaimana banyak diberitakan, BI mengakui rupiah saat ini sudah keluar dari fundamentalnya. Untuk itu, BI mengambil langkah intervensi guna menstabilkan dan mencegah rupiah terus merosot.

Caranya? BI membeli dolar di pasar valas dan obligasi negara (SBN/Surat Berharga Negara) yang nilainya mencapai Rp11,9 triliun sejak akhir Agustus hingga awal September 2018, diambil dari cadangan devisa (cadev) negara.

Nah, pemerintah juga mengaku telah turun tangan menyelamatkan rupiah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong ekspor serta investasi dan mengendalikan impor. Mengingat, selama ini impor menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

Tentu saja, dampak positif dari kebijakan pemerintah ini tidak bisa singkat alias butuh waktu untuk berproses. Artinya baru akan menguatkan rupiah dalam beberapa bulan ke depan.

Beda dengan kebijakan BI yang pengaruhnya ke rupiah bisa langsung dirasakan seketika itu juga. Terbukti dari posisi kurs pada hari Rabu (5/9/2018) mencapai Rp14.927 per dolar AS, namun langsung berangsur-angsur menguat di hari berikutnya (6/9) ke level Rp14.891 per USD, dan terus terapresiasi ke Rp14.884 per USD pada akhir pekan lalu (7/9).

Dari instagram Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan di @bkfkemenkeu disebutkan langkah pemerintah menyelamatkan rupiah, yaitu:

  • Penggunaan biodiesel (B20) sebagai substitusi (pengganti barang) impor per 1 September 2018
  • Kenaikan tarif PPh 22 impor barang konsumsi
  • Peningkatan penggunaan komponen lokal (TKDN) pada proyek infrastruktur
  • Pemberlakuan layanan online (OSS) dan pengelolaan dampak post-border
  • Kepastian & kemudahan layanan e-commerce termasuk penyesuaian deminimus barang kiriman
  • Assesment impor barang konsumsi melalui program sinergi Ditjen Pajak dan Bea Cukai

Kebijakan yang mendorong ekspor dan investasi di antaranya:

  • Pengawasan & pengamanan DHE (devisa hasil ekspor) dengan program sinergi Ditjen Pajak dan Bea Cukai
  • Pemberian insentif peningkatan daya saing ekspor & kemudahan investasi
  • Perluasan pasar ekspor baru & mendorong perlakuan MRA di negara tujuan
  • Perluasan kewajiban LC atas ekspor komoditi
  • Peningatan peran PLB sebagai media konsolidasi ekspor-impor IKM (industri kecil dan menengah)
  • Klinik fasilitas fiskal & prosedural untuk mendorong ekspor(Kemenkeu & LPEI)

Nah, setelah tahu bagaimana kondisi perekonomian, baik dalam negeri maupun luar negeri, maka tergambar jelas bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD ke depannya, bukan? Tentu saja, keputusan kapan sebaiknya melepas dolar AS itu, ada di tangan Anda!

Tapi paling tidak, sebagai warga negara Indonesia yang cinta Tanah Air, tak ada salahnya turut serta, dari hal yang kecil dan dimulai dari diri sendiri, untuk menjaga martabat rupiah.

Sederhana Saja, Anda Bisa ‘Menolong’ Rupiah dengan Cara ini!

Travelling di Indonesia
Banyak juga lho tempat wisata di Indonesia yang tak kalah menarik dibanding luar negeri

Bukan hanya pemerintah, tapi kalangan ekonom juga menyarankan agar masyarakat ikut menolong rupiah agar kembali menguat, setidaknya stabil, dengan cara:

  • Kurangi beli produk impor
  • Beli barang-barang produksi dalam negeri (made in Indonesia)
  • Kurangi beli BBM (pakai kendaraan umum)
  • Tukarkan dolar AS ke rupiah
  • Tunda jalan-jalan ke luar negeri
  • Liburan di tempat-tempat wisata Indonesia
  • Berwirausaha
  • Investasi di obligasi negara (contoh SBR004)
  • Percaya pada pemerintah dan BI dalam menjaga rupiah
  • Tidak memanfaatkan kondisi melemahnya rupiah

Cintai Rupiah dan Banggalah Berjiwa Nasionalis

Cinta Rupiah
Ilustrasi cinta rupiah via loisaoctv.blogspot

Dari ulasan di atas, setidaknya Anda bisa memutuskan nasib dolar AS yang ada di genggaman. Mau ambil untung boleh-boleh saja, tapi sebagai anak bangsa, lahir dan hidup di Bumi Pertiwi, makan dan tidur di Tanah Nusantara ini, tak ada salahnya menanamkan rasa nasionalis pada diri sendiri demi masa depan kita bersama sebagai warga negara dan bangsa Indonesia ke depannya.

Baca Juga: Wujudkan Mimpi Keliling Dunia, Ini Tips bisa ‘Travelling’ Tiap Tahun