Sambal Bu Rudy Jadi Ikon Sambal Legendaris dari Surabaya, Begini Sejarahnya

Sebagian besar orang Indonesia, adanya sambal ketika ingin makan adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Apapun makanannya akan terasa lebih nikmat jika disantap dengan sambal. Intinya, tanpa sambal mereka tidak dapat menikmati makanan secara maksimal untuk kepuasan di lidah dan perutnya.

Sekarang ini untuk memperoleh sambal tidak perlu repot-repot harus membuatnya terlebih dahulu, sebab sudah banyak orang yang sengaja memproduksi sambal dalam kemasan plastik atau kaca bening berupa botol sehingga memudahkan orang untuk bisa langsung menyantapnya dan bisa dibawa saat bepergian. Sambal kemasan ini juga memiliki masa konsumsi lebih lama, jadi para penikmat sambal bisa menyimpannya.

bu rudy
Sambal Bu Rudy via depotburudy.com

Contohnya saja Sambal Bu Rudy milik Lanny Siswadi yang kini menjadi makanan atau oleh-oleh khas Surabaya. Sambal ini berbeda dari sambal pada umumnya, sebab Sambal Bu Rudy memiliki varian dan tentunya diracik dengan resep yang sangat khas. Maka tak heran keunikannya tersebut membuat Sambal Bu Rudy menjadi terkenal di seluruh masyarakat. Bahkan, tak sedikit orang yang berpendapat bahwa Sambal Bu Rudy sudah menjadi ikon sambal legendaris Surabaya.

Sebenarnya, seperti apa sejarahnya dibalik Sambal Bu Rudy hingga terkenal seperti sekarang?

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

1. Dagang Sepatu Sekaligus Jual Makanan Siap Santap

View this post on Instagram

A post shared by Ie Lanny Siswadi (@siswadiielanny) on

Perjalanan bisnis wanita yang dulu akrab dipanggil Lanny ini dengan berdagang sepatu di pasar Turi, Surabaya. Bisnis sepatu yang Lanny rintis dari nol cukup berhasil dan memberikan pendapatan yang lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya, Rudy Siswadi. Namun, d iwaktu yang bersamaan Lanny juga menjual makanan siap santap ke teman-teman lingkungan dagang. Ini juga berkat bujuk rayuan dari beberapa kerabat dekatnya yang sering mencicipi masakan khas Lanny untuk menjual hasil masakannya tersebut.

Sebelumnya Lanny memang sering memasak ikan hasil tangkapan mancing suaminya dengan olahan sambal racikannya sendiri tanpa melihat resep dari siapapun. Di beberapa kesempatan Lanny juga mengajak teman-teman dekatnya untuk mencicipi masakan dan mereka sangat menyukainya. Inilah yang menjadikan Lanny yakin untuk menjual makanan siap santap hasil olahannya sendiri.

Pada 1978, Pasar Turi tempat Lanny dan suami dagang sepatu mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan hampir seluruh wilayah pasar tersebut sehingga bisnis sepatu terpaksa harus gulung tikar. Namun, Lanny tidak putus asa begitu saja sebab masih ada bisnis lain yang masih bisa dijalankan, yaitu menjual makanan siap santapnya tersebut.

Baca Juga: 5 Langkah Memulai Usaha Kuliner untuk Pemula

2. Mulai Berjualan Makanan di Kaki Lima

View this post on Instagram

A post shared by Ie Lanny Siswadi (@siswadiielanny) on

Setelah kejadian kebakaran yang melanda Pasar Turi, Lanny fokus untuk membesarkan jualan masakannya yang sangat khas dengan sambal miliknya. Pada tahun 2000, barulah Lanny dan suami memberanikan diri untuk mencoba berjualan di kaki lima. Tidak mendirikan tenda yang dilengkapi dengan etalase untuk majang masakannya, tapi hanya bermodalkan mobil Suzuki Carry yang dijadikan sebagai fasilitas penjualan makanannya.

Lanny menamai makanannya dengan Nasi Udang Bu Rudy yang sengaja diambil dari nama panggilan suami tercinta. Menu yang disajikan cukup simple, yaitu satu piring sudah terdapat nasi, berbagai lauk pauk termasuk udang yang dijadikan sebagai aktor utamanya dan tidak lupa dengan sambal khas buatannya.

Walau usahanya terbilang sederhana, tapi ternyata laris manis. Setiap harinya pengunjung terus berdatangan untuk menikmati masakan Bu Rudy yang penuh cita rasa yang khas. Hingga pada akhirnya, usahanya tersebut sudah memiliki sebuah rumah makan ‘Depot Bu Rudy’ yang menjual beraneka macam makanan.

Hampir semua menu yang dihidangkan menjadi andalan para pengunjungnya, di antaranya Nasi Udang Empal, Nasi Pecel Empal, Nasi Campur hingga berbagai pepes dan botok. Selain itu juga menjual berbagai macam produk untuk dijadikan oleh-oleh, antara lain sukun goreng, pisang madu, tahu pong, nangka goreng, dan makanan ringan lainnya.

Baca Juga: Dari Hobi Mendaki, Muda Mudi ini Sukses Bikin Event Planner Outbound ‘Areo Indonesia’

3. Antusias Penikmat Sambal semakin Tinggi

View this post on Instagram

A post shared by Ie Lanny Siswadi (@siswadiielanny) on

Lanny memutuskan untuk menjual sambal khas buatannya secara terpisah semenjak banyak pengunjung yang sangat antusias membeli sambalnya saja ketika masih menjajakan makanannya secara kaki lima. Saat itu, udang yang dijadikan sebagai menu utamanya terkalahkan dengan sambal khasnya.

Awalnya Lanny merasa kebingungan, lantaran hampir semua pengunjung yang datang tidak hanya sekedar makan di tempat tapi juga ingin membeli sambalnya untuk dibawa pulang. Sementara sambal yang dibuatnya tidaklah banyak.

Melihat pelanggannya sangat antusias terhadap sambalnya, Lanny memikirkan ide yang cukup inovatif. Tak butuh waktu lama, ia langsung membuat kemasan sendiri untuk menjual sambalnya tersebut secara terpisah. Akhirnya terbukti sukses dan produk sambal terjual dengan mudah, laris manis layaknya kacang goreng. Mulai dari situlah, Lanny mempercantik tampilan kemasan sambalnya dengan botol plastik berukuran kecil yang diberi label “Sambal Bu Rudy”. Bahkan sambalnya tersebut juga dijadikan sebagai oleh-oleh di Depot rumah makannya.

4. Rahasia Kesuksesan Sambal Bu Rudy

View this post on Instagram

A post shared by Ie Lanny Siswadi (@siswadiielanny) on

Salah satu prinsip yang tertanam dalam diri Lanny adalah pelanggan harus selalu menjadi nomor satu, kepuasan mereka menjadi segaLannya. Meski sudah memiliki keuntungan yang banyak, Lanny selalu memposisikan dirinya di bawah para pelanggannya untuk selalu berusaha menerima masukan demi usaha sambalnya. Dengan begitu, seberat apapun rintangan yang dialaminya, ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik demi kepuasan pelanggan. Lanny juga tidak lupa untuk melakukan inovasi terhadap sambalnya tersebut dengan memproduksi varian sambal baru, yaitu sambal bawang, sambal teri, sambal ijo, sambal petis dan sambal bajak.

Lanny mengungkapkan, dalam menjalankan sebuah bisnis jangan pernah merasa iri haru atau mudah marah. Misalnya saja ketika ada salah satu produsen yang sengaja menjiplak produk sambal miliknya. Lanny berusaha tetap profesional toh pada akhirnya, customer yang akan menilai dan memilih mana yang lebih baik dan layak untuk dibeli.

Berkat kerja kerasnya tersebut, kini Lanny sudah mempekerjakan banyak karyawan dan penjualan Sambal Bu Rudy tidak hanya dijual di depotnya saja melainkan sudah melebar ke seluruh Indonesia. Bahkan, sambal yang kini sudah menjadi legendaris di kota pahlawan tersebut sudah bisa dibeli di beberapa supermarket ternama. Hal ini membuat Lanny bisa mengantongi omzet penjualan yang sangat besar, yaitu mencapai ratusan juta rupiah per harinya.

Cepat Bangkit Ketika Bisnis Jatuh

Walau sempat mengalami jatuh pada bisnis yang pertama, jangan terlalu lama mengalami keterpurukan. Tetaplah tegar dan segera bangkit untuk membangun bisnis yang baru. Kegigihan dan semangat dalam mengelola serta munculnya ide-ide yang orisinil menjadi kunci utama dalam meraih keberhasilan dalam berbisnis.

Baca Juga: Kopi Kapal Api: Dari Jualan Keliling hingga Jadi Kopi Legendaris