Seberapa Pentingkah MEA Itu? Inilah Penjelasannya

Tak terasa sudah lewat satu tahun Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) berjalan di seluruh negara-negara di Asia Tenggara. Dampaknya memang belum begitu terasa apalagi jika Anda berada di luar kota besar atau tidak pada posisi sebagai pebisnis sehingga kurang begitu peka dengan adanya kebijakan pasar bebas yang berlaku mulai tahun 2015  yang lalu. Bisa jadi di antara kita masih belum mengenal lebih jauh tentang apa itu MEA, apa latar belakangnya, siapa saja negara yang terlibat, tujuannya apa, dan dampak positif serta negatifnya sejauh mana.

Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diikuti 10 negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Laos, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Selain negara-negara pesertanya, MEA memiliki beberapa hal penting yang perlu disimak agar kita makin mantap dalam menghadapinya. Berikut ini penjelasannya.

Baca Juga: Dampak Krusial MEA Bagi Indonesia

Fakta Menarik tentang MEA yang Perlu Anda Ketahui

MEA 2017 World Economic Forum

Pelaksanaan MEA Mendapat Perhatian dalam World Economic Forum via flickr.com

 

Terbentuknya MEA memiliki perjalanan yang cukup panjang. Pada 1977, negara-negara ASEAN melakukan penandatanganan ASEAN’s Preferential Trade Agreement meskipun perjanjian di bidang ekonomi antarnegara ASEAN baru dijalankan pada era 90-an. Pada era sebelumnya, ASEAN sudah membuat beberapa perjanjian di bidang ekonomi, seperti yang tertuang dalam Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation pada tahun 1992. Setelah itu, disusul perjanjian dalam bidang jasa melalui ASEAN Framework Agreement on Services pada tahun 1995. Kemudian menyusul perjanjian di bidang perdagangan barang pada tahun 2010 dengan perjanjian ASEAN Trade in Goods Agreement.

Berikut ini adalah sejumlah fakta di balik MEA.

  1. Jumlah populasi keseluruhan dari negara-negara anggota MEA adalah 622 juta penduduk yang setengahnya merupakan kategori usia produktif. ASEAN memiliki jumlah sumber daya manusia tertinggi setelah negara Cina dan India.
  2. MEA pertama kali dideklarasikan di ASEAN Summit ke-9 pada tahun 2003 yang mengacu pada gambaran besar ASEAN Vision 2020.
  3. Gagasan MEA dipercepat setelah negara-negara anggota ASEAN menyepakati pelaksanaan MEA.
  4. Pada 2007, MEA disepakati bersama dalam momen ASEAN Summit ke-12 dan akan resmi diberlakukan pada tahun 2015.
  5. MEA atau AEC adalah bagian dari ASEAN Community yang mencakup tiga komponen, yang satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan. Tiga komponen tersebut adalah ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Political-Security Community, dan ASEAN Socio-cultural Community.
  6. MEA dibentuk untuk menjaga stabilitas perekonomian di seluruh negara anggota MEA dengan prinsip dan fokus MEA adalah untuk memudahkan dan meningkatkan arus barang, jasa, modal, minat investasi, dan tenaga kerja antarnegara ASEAN.
  7. Selain untuk kepentingan antarnegara ASEAN, MEA juga memiliki tujuan agar semua negara peserta memiliki kemampuan dalam persaingan ekonomi global.

Peluang MEA dalam Kompetisi Pasar Bebas ASEAN dan Kawasan Lainnya

MEA 2017 Tenaga Kerja

Tingkatkan Kualitas Diri agar Mampu Menghadapi Persaingan Kerja via badiatarigan.my.id

 

Tantangan yang dihadapi setiap negara di Asia Tenggara dengan diberlakukannya MEA adalah adanya perbedaan perkembangan ekonomi, perkembangan infrastruktur, dan perbedaan kebijakan hukum. Selain MEA, ASEAN juga terlibat dengan sejumlah pasar bebas lainnya, misalnya:

  1. ASEAN Trade in Goods Agreement (AITIG) adalah perjanjian ASEAN dan negara India dalam bidang perdagangan barang.
  2. ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) adalah perjanjian pasar bebas negara-negara ASEAN dengan Korea.
  3. ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) adalah perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dan Cina.
  4. ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnertship Agreement (AJCEP) adalah perjanjian negara-negara ASEAN dalam kerjas ama di bidang ekonomi dengan Jepang.
  5. ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) adalah perjanjian pasar bebas antara negara-negara ASEAN dan Australia serta Selandia Baru.

Adanya beberapa kesepakatan pasar bebas tersebut diharapkan tidak saling tumpang tindih dari sisi kebijakan. Namun, diharapkan justru bisa saling bersinergi demi pertumbuhan ekonomi negara ASEAN yang semakin baik. Pelaksanaan MEA ditopang Initiative for ASEAN Integration (IAI) yang bertugas untuk memperkecil adanya perbedaan perkembangan ekonomi antarnegara anggota ASEAN. Beberapa hal berikut ini bisa menjadikan MEA sebagai bentuk kerja sama yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi negara anggota di tengah perjanjian kerja sama yang lainnya.

  1. Tujuan utama dari MEA adalah menciptakan pasar tunggal berbasis produksi yang berdaya saing tinggi dengan integritas regulasi perdagangan.
  2. MEA merupakan kesempatan emas bagi pelaku usaha untuk melakukan penambahan fasilitas, investasi, dan memiliki tingkat bersaing yang lebih luas.
  3. Pasar bebas MEA terfokus pada beberapa sektor, di antaranya sektor barang dan jasa.
  4. Pada sektor barang, yang menjadi prioritas utama adalah industri pertanian, otomotif, perikanan, peralatan elektronik, industri berbasis karet, industri berbasis kayu, dan tekstil.
  5. Di sektor jasa, yang menjadi prioritas utama, di antaranya teknologi informasi, pelayanan kesehatan, pariwisata, dan logistik.

Perjanjian Khusus dalam Bidang Profesi dan Tenaga Ahli

Dalam bidang profesi dan tenaga ahli, pelaksanaan MEA didukung dengan perjanjian Mutual Recognition Arrangements (MRA). Tujuan perjanjian tersebut adalah untuk mengakui akreditasi berbagai profesi supaya memudahkan kerja sama profesi dari tiap-tiap negara.

Ada delapan profesi yang sudah memiliki MRA seperti yang tertuang dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangements, yaitu:

  1. Profesi insinyur (SDM di bidang teknik) dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangements on Engineering Services.
  2. Profesi perawat dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Nursing Services.
  3. Profesi arsitek dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Architectural Services.
  4. Profesi tenaga survei dalam ASEAN Framework Agreement on Mutual Recognition of Surveying Qualification.
  5. Profesi dokter gigi dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Dental Practitioners.
  6. Profesi tenaga medis dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Medical Practitioners.
  7. Profesi akuntan dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement Framework on Accountancy Services.
  8. Profesi tenaga pariwisata dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Tourism Professionals.

Fakta Kekuatan Indonesia dalam Menghadapi MEA

MEA 2017 Indonesia

Persiapkan Diri Sebaik Mungkin agar Sanggup Berkompetisi dalam MEA via beritagar.id

 

Pelaksanaan MEA mendapat tanggapan pro dan kontra di Indonesia. Bagi pebisnis yang suka akan tantangan, mereka selalu optimis tentang terbukanya peluang-peluang baru yang menjadikan masa depan bisnis mereka punya kesempatan berkembang di masa mendatang. Jika dilihat dari sisi kekuatan yang dimiliki Indonesia, kita sepantasnya optimis. Mengapa? Simak ulasan di bawah ini.

  1. Pemerintah optimis tentang MEA bahwa Indonesia memiliki kekuatan yang potensial untuk melakukan penetrasi terhadap pasar bebas Asia Tenggara karena banyak produk Indonesia yang sebenarnya sudah sejak lama masuk ke negara-negara lain.
  2. Dibandingkan negara-negara tetangga, Indonesia unggul di bidang produk otomotif. Namun demikian, Pemerintah melalui Balai Riset dan Standarisasi Industri yang berada dalam naungan Kementerian Perindustrian harus selalu siap dalam meningkatkan kualitas SDM.
  3. Sektor UKM harus segera bisa secepat mungkin menyesuaikan diri agar mampu membuat produk-produk yang memiliki daya saing tinggi sehingga dapat segera melebarkan sayapnya ke luar negeri. Yang menjadi tantangan para pelaku usaha kecil menengah adalah bagaimana caranya untuk memproduksi barang yang berkualitas. Dan hal itu rasanya tidak mungkin tanpa dibarengi kebijakan Pemerintah untuk menyediakan bahan baku yang murah sehingga dapat menekan biaya produksi.
  4. Standarisasi gaji dan upah di Indonesia tergolong sangat kecil dibandingkan negara-negara tetangga sehingga pasar tenaga kerja kita relatif aman dari serbuan tenaga kerja asing. Meskipun demikian, situasi ini menyebabakn tenaga-tenga profesional dari luar enggan masuk ke Indonesia karena gajinya kecil. Termasuk tenaga dalam negeri yang berkualitas yang memilih ke luar negeri.
  5. Indonesia memiliki peluang yang sangat besar di bidang pariwisata. Dengan penyerapan turis asing yang besar, pada era MEA ini, para pelaku bisnis pariwisata bisa memanfaatkan momen tersebut untuk mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar.
  6. Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah. Derasnya arus investasi dan permodalan dari investor asing membuat kondisi Indonesia rawan akan eksploitasi yang bisa berdampak buruk terhadap kelangsungan ekosistem.

Ancaman yang Dihadapi Indonesia dalam Menghadapi MEA

Selain kekuatan di atas, dalam menghadapi MEA, Indonesia perlu mewaspadai kelemahan hal-hal ini.

  1. Laju tahap infrastruktur di Indonesia tergolong masih sangat rendah. Hal ini tentunya akan sangat memengaruhi kelancaran arus barang dan jasa baik yang masuk ataupun keluar.
  2. Adanya gelontoran produk dari luar negeri sangat mengancam keberadaan produsen ataupun pengusaha dalam negeri. Untuk kasus yang satu ini, Indonesia sebenarnya sudah menghadapi persoalan ini sejak lama. Produk luar yang lebih baik dalam kualitas dan harga menyebabkan konsumen dalam negeri berpaling pada produk-produk tersebut. Inilah yang perlu jadi perhatian Pemerintah untuk mendorong terciptanya produk dalam negeri yang berkualitas dengan harga kompetitif.
  3. Kalau dilihat dari seluruh kesiapan dan kekuatan yang dimiliki, Indonesia harus berjuang lebih keras agar dapat bersaing dengan negara-negara peserta MEA.
  4. Kualitas pendidikan dan tenaga kerja Indonesia masih belum sebaik negara-negara tetangga, semisal Singapura. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua.

Baca Juga: Tips Menjalankan Bisnis di Era MEA Bagi Pelaku Usaha

Selalu Kembangkan Kreativitas dan Inovasi agar Sukses dalam MEA

Apa pun kondisinya, MEA sudah berjalan lebih dari setahun. Sudah selayaknya, kita mempertahankan, bahkan meningkatkan kekuatan yang dimiliki saat ini dan memperbaiki kekurangan yang ada. Sebab MEA yang merupakan pasar bebas ASEAN dalam pelaksanaannya pasti diikuti persaingan. Karena itu, dalam iklim kompetitif tersebut, kita harus memahami aturan-aturan yang berlaku dalam MEA mulai dari sekarang, termasuk yang ada sangkut pautnya dengan profesi dan bisnis. Dan jangan lupa untuk selalu mengembangkan kreativitas dan inovasi agar sukses dalam menjalani karier dan bisa merebut pasar ASEAN.

Baca Juga: Daftar Skills yang Wajib Dikuasai Pelajar pada Era MEA