Tabungan dan Investasi dari Gaji UMR, Cukupkah untuk DP Rumah?

UMR selalu berubah tiap tahunnya. Ada yang setuju, tapi tak sedikit yang kecewa dengan penetapan nilainya. Bahasan-bahasan seputar UMR, baik pro maupun kontra, bermunculan. Sampai-sampai ada bahasan alokasi gaji UMR bisa untuk ditabung dan diinvestasikan. Baca sampai tuntas, berpikir sejenak, ngomong-ngomong cukupkah untuk DP Rumah?

Berita soal penetapan UMR bisanya sudah ada menjelang pergantian tahun. Berapa besar kenaikannya atau berapa angkanya masih spekulatif saat itu. Mulai dari birokrat, akademisi, serikat pekerja, hingga asosiasi pengusaha bersama-sama merapatkan untuk menemukan berapa besaran yang pas dan diterima semua pihak.

Begitu sudah ditetapkan, berbagai opini menyeruak. Ada yang pro, ada yang kontra. Bagi yang kontra, dengan angka sebesar itu, cuma sejumlah kecil kebutuhan saja yang tertutupi. Sementara menurut yang pro, dengan besaran segitu, bisa kok untuk memenuhi kebutuhan sambil menyodorkan skema perhitungannya dan pengalokasiannya. Yang pro meyakinkan bahwa itu cukup asalkan becus mengaturnya.

Penasaran, bagaimana gaji UMR katanya bisa diurai, diatur, lalu diposisikan untuk kebutuhan ini itu, bahkan masih bisa ditabungkan dan diinvestasikan? Berikut ini ulasannya.

Baca Juga: Cari Rumah dengan Harga Miring, Rumah Sitaan Bisa Jadi Solusi

Ini Dia Skema Canggih Mencukup-Cukupkan Gaji UMR

Gaji UMR

Ilustrasi Pengaturan Gaji UMR via shutterstock.com

 

Bicara soal kebutuhan, tiap-tiap orang punya kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Kebutuhan menurut yang tak lagi melajang berbeda dengan kebutuhan menurut yang melajang. Belum lagi kalau sudah bicara gaya hidup. Biasanya cenderung besar kebutuhannya.

Untungnya, solusi-solusi finansial kini bertebaran di mana-mana seiring kemudahan dalam mengakses informasi berkat kecanggihan teknologi. Katakanlah solusi ini ditujukan bagi yang melajang dan punya pekerjaan dengan gaji UMR (UMR DKI Jakarta 2017: Rp3.350.000) di Jakarta Metropolitan, seperti inilah cara mengelola gaji dengan baik menurut sumber-sumber yang bertebaran di dunia maya.

Kebutuhan Rutin

Biaya/Bulan

Bagaimana?

Hunian/Tempat Tinggal

Rp500.000

Banyak penawaran kos-kosan yang menarik seperti yang terpampang iklannya di mamikos.com. Tempat kos dengan harga minim di Jakarta bisa ditemukan di sana.

Makan dan Minum

Rp1.350.000

Ada yang bilang biaya makan di Jakarta mahal. Kenyataannya, masih ada yang memasang harga sekali makan Rp15.000. Harga segitu dapat apa saja? Di warteg, Anda akan mendapatkan nasi, ayam goreng, mi goreng, dan sayur plus teh manis.

Transportasi

Rp600.000

Angka tersebut didapat dengan estimasi per harinya Rp20.000 (untuk PP Transjakarta, Commuter Line, dan transportasi online). Jika tempat kos dan lokasi kerja dekat halte Transjakarta, seharinya kurang lebih Rp10.000.

Total

Rp2.450.000

 

Ada sisa sebesar Rp900.000 (Rp3.350.000-Rp2.450.000). Sisa yang ada bisa dialokasikan ke kebutuhan masa depan yang idealnya sebesar 20% dari pemasukan. Bagaimana alokasinya?

Kebutuhan Masa Depan

Biaya/Bulan

Bagaimana?

Tabungan

Rp335.000

Idealnya, jumlah uang ditabung itu diambil 10% dari pemasukan yang diterima tiap bulannya.

Investasi

Rp100.000

Cukup dengan Rp100.000, sudah bisa berinvestasi. Tempatkan di reksa dana atau buka tabungan saham.

Dana Darurat

Rp235.000

Dengan berpedoman pada angka ideal 20% dari pemasukan untuk kebutuhan masa depan, dana yang tersisa setelah dibagi ke tabungan dan investasi ditempatkan ke dana darurat.

Total

Rp670.000

 

Total pengeluaran dengan menghitung jumlah kebutuhan rutin dan masa depan sebesar: Rp2.450.000 + Rp670.000 = Rp3.120.000. Ada sisa sebesar: Rp3.350.000-Rp3.120.000 = Rp230.000. Sisa sebesar itu bisa digunakan untuk belanja perlengkapan kebersihan, pakaian, pulsa, hangout, minum kopi di kafe, atau pergi ke tempat hiburan atau rekreasi (semoga cukup).

Baca Juga: 8 Cara Cermat Mengatur Gaji Bulanan

Mari Berhitung, Cukupkah Tabungan dan Investasi dari Gaji UMR untuk DP Rumah?

Tabungan DP Rumah

Ilustrasi Tabungan DP Rumah via shutterstock.com

 

Kini rumah telah menjadi kebutuhan setiap orang. Siapa pun menginginkan punya rumah sendiri. Hitung-hitung rumah yang dimiliki menjadi aset yang suatu saat dapat diwariskan ke anak, cucu, dan cicit. Bila mencari tahu informasi soal harga rumah, entah didapat secara online ataupun dari marketing properti, harga rata-rata rumah untuk Jakarta sekitar Rp480 juta.

Ada yang mengatakan masih terdapat rumah yang dijual dengan harga di bawah itu. Ya, memang ada. Namun, di telusuri lokasinya, ternyata berada di daerah pinggiran Jakarta di wilayah perkampungan. Sekalipun ada, jumlahnya sangat-sangat terbatas.

Untuk sekadar melakukan perhitungan, ambil saja harga pasaran rumah Rp480 juta. Berdasarkan aturan BI yang berlaku, besaran Down Payment (DP) rumah yang ditetapkan sebesar 10-15% dari harga rumah yang ingin dibeli. Ini berlaku bagi yang mau mengambil rumah secara KPR.

Mari berhitung berapa DP yang perlu dipersiapkan untuk mencicil rumah seharga Rp480 juta.

Aturan DP Rumah 10-15% dari harga rumah maka DP Rumah Rp480 juta: 10% x Rp480.000.000 = Rp48.000.000.

Cukupkah tabungan dan investasi yang dirumuskan di atas untuk membayar DP rumah? Mungkin saja asalkan tiap tahun tak ada kenaikan harga rumah. Tapi, mustahil harga rumah tidak naik tiap tahun. Kenapa tidak bisa membayar DP rumah dengan tabungan dan investasi dari gaji UMR? Perhitungan di bawah ini jadi jawabannya.

Terinspirasi dari tulisan Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Mangement, yang berjudul Mungkin Ga Sih? Punya Rp 200 Juta Di Usia 30 Dengan Gaji Awal UMR…, inilah perkiraan perhitungan tabungan dengan gaji UMR dengan mengasumsikan kenaikan UMR 8% per tahun dan bunga tabungan 4% per tahun.

 

Tahun

Gaji UMR

UMR/Tahun

Tabungan (10%)

Asumsi Tabungan + Bunga (4%)

1

3.350.000

40.200.000

4.020.000

4.180.800

2

3.618.000

43.416.000

4.341.600

4.515.264

3

3.907.440

46.889.280

4.688.928

4.876.485

4

4.220.035

50.640.420

5.064.042

5.266.604

5

4.557.638

54.691.656

5.469.166

5.687.933

6

4.922.249

59.066.988

5.906.699

6.142.967

7

5.316.029

63.792.348

6.379.235

6.634.404

8

5.741.311

68.895.732

6.889.573

7.165.156

9

6.200.616

74.407.392

7.440.739

7.738.368

Total

52.207.981

 

Untuk investasi Rp100.000/bulan yang ditempatkan di reksa dana (pendapatan tetap) dengan ekspektasi suku bunga 7%, return yang diperoleh dengan menggunakan kalkulator online reksa dana sekitar Rp1.353.716,55. Kalau mengikuti jangka waktu tabungan di atas, investasi reksa dana selama 9 tahun sekitar Rp15.260.726,34.

Jadi, total tabungan ditambah total reksa dana selama 9 tahun sekitar Rp67.468.707,34. Lalu, bagaimana DP rumah seharga Rp480 juta pada tahun ke-9?

Tahun

Harga Rumah (Asumsi Kenaikan 10% per tahun)

DP Rumah (10% dari Harga Rumah)

1

480.000.000

48.000.000

2

528.000.000

52.800.000

3

580.800.000

58.080.000

4

638.880.000

63.888.000

5

702.768.000

70.276.800

6

773.044.800

77.304.480

7

850.349.280

85.034.928

8

935.384.208

93.538.421

9

1.028.922.629

102.892.263

 

Perhatikan, untuk mendapatkan dana sekitar Rp48 juta saja, harus menabung dan berinvestasi selama 9 tahun. Susah payah menabung dan berinvestasi, tapi pada tahun ke-9 rumah yang harganya Rp480 juta telah naik menjadi Rp1 miliar lebih. Sementara DP yang mesti dipersiapkan untuk harga sebesar itu sekitar Rp102.892.263. Wow, harga yang fantastis, bukan?

Meskipun UMR tiap tahun berubah, sangat sulit untuk mengejar kenaikan harga rumah. Begitu terasa jaraknya yang terbilang jauh antara kenaikan UMR dan kenaikan harga rumah. Kalau hanya mengandalkan tabungan dan investasi gaji UMR, memiliki rumah begitu teramat jauh dari harapan, kecuali dibantu Negara.

Perubahan Cepat, Gerak Juga Harus Cepat

Dari apa yang sudah dipaparkan di atas, pergerakan harga rumah betul-betul harus jadi perhatian. Bagi Anda yang bergaji UMR dan ingin memiliki rumah, perubahan yang ada jangan sampai luput dari pantauan. Perubahan yang cepat terjadi harus disikapi dengan gerak yang juga harus cepat.

Apabila saat ini gaji yang didapatkan terbilang UMR, carilah pekerjaan baru yang menawarkan gaji lebih dari UMR. Bisa juga mencari pemasukan tambahan di luar sana, baik dengan buka usaha sendiri, jual barang-barang secara online ataupun offline, menerima proyek sebagai freelancer, maupun mendaftarkan diri sebagai driver transportasi online. Jadi, jangan sampai menjadi orang yang kurang peka dengan perubahan.

Baca Juga: 6 Cara Mengatur Pendapatan Tambahan Anda