Tertarik Tinggal di Hunian TOD: Ini Cara, Biaya dan Prosedurnya!

Baru-baru ini pemerintah gencar mendorong pengembangan hunian vertikal dengan konsep transite oriented development (TOD). Wajar saja, karena dinilai menjadi solusi masalah kemacetan. Itu sebabnya hunian di kawasan TOD ini dibangun pada area-area yang menjadi titik penghubung moda transportasi alias teritegrasi. Diharapkan masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.

Kita semua tahu, kemacetan seolah-olah sudah menjadi hal yang wajar di daerah Ibukota ini. Dari 8 jam kerja setiap harinya, waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju lokasi bisa mencapai sekitar 4-5 jam total pulang-pergi, bahkan lebih. Betapa terbuang sia-sia waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif, namun tidak demikian. Dan ini pun memunculkan ungkapan satir “gila, macetnya bikin tua di jalan!”

Bagaimana tidak? Kenyatannya banyak yang harus berangkat sepagi mungkin dan pulang larut. Tidur minim waktu. Oleh sebab itu sudah sepantasnya kita punya solusi dari masalah ini dengan memanfaatkan program-program pemerintah yang ada. Toh, kita juga yang diuntungkan, bukan?

Bagi Anda yang belum memiliki rumah atau sudah punya tempat tinggal namun jarak tempuh ke lokasi beraktivitas/kerja justru lebih lama dibanding dengan mereka yang tinggalnya di wilayah lebih jauh, punya hunian di kawasan TOD sebagai rumah singgah bisa menjadi alternatif yang bisa dipertimbangkan.

Lantas apa saja keuntungan yang bisa diperoleh bila tinggal di hunian berkonsep TOD ini? Berikut pertimbangannya yang bisa Anda jadikan panduan untuk menentukan dan memantabkan pilihan.

Anda Bingung Cari Produk KPR Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KPR Terbaik! 

1. Praktis

Aktifitas praktis
Moda transportaasi yang terintegrasi membuat aktivitas Anda menjadi paktis

Dengan tinggal di hunian berkonsep TOD ini maka bisa dipastikan perjalanan Anda akan lebih praktis dan menyenangkan. Bagaimana tidak? Tinggal di sini, kita tidak perlu repot-repot lagi mengeluarkan dan memasukkan kendaraan di garasi. Atau tak perlu susah-susah memanaskan mesin sebelum berangkat kerja.

Praktis, karena begitu keluar dari rumah, ada kereta rel listrik (KRL/commuter line) yang menunggu. Anda cukup berjalan kaki sedikit untuk keluar rumah menuju stasiun kereta. Bahkan berjalan kaki menuju area stasiun pun akan terasa menyenangkan karena kawasan ini dilengkapi jaringan pejalan kaki/sepeda yang nyaman. Sesuai dengan konsepnya, hunian ini dibangun di area-area stasiun transit di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi) dan Tangerang.

Ini akan membuat hidup Anda benar-benar praktis! Karena selain mudahnya menemukan transportasi yang nyaman, Anda juga akan dimudahkan melakukan perjalan kemana pun area yang dituju, sebab Anda tinggal di kawasan lintasan atau transit.

Semakin lebih praktis lagi karena sesampainya di stasiun tujuan, Anda bisa melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi massal cepat di bawah tanah (MRT/Mass Rapid Transit) ataupun kereta api ringan (LRT/Light Rail Transit) menuju tengah kota. Atau Anda bisa menggunakan Bus Rapid Transit (BRT/bus way) yang sekarang ini sudah banyak area yang dilaluinya.

Benar-benar praktis bukan?

2. Hemat Waktu

Waktu
Jangan buang waktu percuma

Bukan hanya praktis. Tinggal di hunian berkonsep TOD ini juga akan lebih menghemat waktu Anda. Kok bisa? Ya, kenapa tidak? Semakin menghemat waktu Anda ke tempat beraktivitas karena operasional KRL atau transportasi terintegrasi lainnya sudah terjadwal dengan baik. Sehingga Anda tidak perlu menunggu lama di stasiun atau halte.

Bahkan Anda pun bisa memantau pergerakan perjalanan/keberangkatan moda transportasi terintegrasi itu. Pemerintah terus mengembangkan layanan masyarakat berbasis teknologi. Semuanya serba bisa online. Anda cukup menggunakan ponsel (gadget) dan mengunduh aplikasinya.

Untuk memantau keberangkatan transportasi Busway, bisa memanfaatkan aplikasi Trafi pada Android di Google Play dan iOS di App Store. Sehingga Anda bisa dengan mudah memperkirakan perjalanan menuju ke tempat pemberhentian bus atau halte.

Anda cukup memantaunya sesuai dengan jurusan dari tempat Anda beraktifitas. Anda akan tahu di mana posisi bus jurusan Anda. Semakin mudah dan efektif, bukan?

Begitu juga untuk memantau pergerakan perjalanan commuter line, Anda bisa menguduh aplikasinya yaitu KRL Access di Google Play. Nah, perjalanan pun semudah membuka gadget di genggaman Anda, bukan?

3. Hemat Biaya

Kereta api
Nikmati transportasi umum yang bebas macet ini

Tinggal di hunian konsep TOD ini bisa menghemat biaya? Mari kita hitung dari mana Anda bisa berhemat. Tarif transportasi umum pemerintah tentu harganya jauh lebih murah dibanding swasta seperti ojek, taksi, dan kendaraan sejenis lainnya. Jika mengendari kendaraan pribadi, Anda pun harus menyisihkan uang untuk membeli bensin dan uang parkir. Belum lagi Anda harus merogoh kocek lebih untuk perawatan atau perbaikan mesin kendaraan secara berkala.

Berikut simulasi perbandingan biaya transportasi yang harus dikeluarkan untuk aktivitas sehari-hari:

Tarif KRL:

Jarak tempuh 25 km pertama Rp3.000 dan setiap km berikutnya Rp1.000

Ongkos KRL pulang-pergi (PP) totalnya sebesar Rp6.000 jika jarak perjalanan Anda di kisaran 25 km. Bila transportasi yang Anda gunakan hanya KRL, maka dalam sebulan uang transportasi yang dikeluarkan hanya Rp120.000.

Peritungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp6.000 (ongkos KRL PP) = Rp120.000 per bulan

Tarif Bus Rapid Transit (Bus Way):

Jenis transportasi massal yang satu ini tidak memiliki patokan jarak tempuh. Ke mana pun Anda pergi, selama tidak keluar dari halte bus, maka Anda hanya membayar Rp3.500 sekali perjalanan. Dan Anda bisa berpindah atau transit di halte lainnya untuk menuju tempat yang Anda inginkan. Pulang-pergi, Anda hanya mengeluarkan uang transportasi Rp7.000, dan dalam sebulan menghabiskan Rp140.000.

Perhitungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp7.000 (ongkos Bus Way PP) = Rp140.000 per bulan

Tarif Ojek Online (motor):

Besaran tarif ojek online ini juga dihitung berdasarkan jarak tempuhnya atau kilometer. Rata-rata tarifnya sekitar Rp6.000-an per km.

Jika Anda memilih menggunakan transportasi ini untuk aktivitas sehari-hari, berapa banyak Anda harus menguras kantong? Katakanlah jarak tempuh tempat tinggal Anda ke lokasi kerja 10 km dengan rata-rata tarif sebesar Rp20.000, maka dalam satu hari PP sebesar Rp40.000 uang yang Anda keluarkan. Berapa ongkos yang harus Anda keluarkan dalam 1 bulan?

Perhitungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp40.000 (ongkos per hari PP) = Rp800.000 per bulan

Tarif Kendaran Online (mobil):

Untuk tarif kendaraan roda empat online ini tentunya dua kali lipat lebih mahal ketimbang tarif motor. Rata-rata tarif mobil online sekitar Rp12.000 per km. Total pulang-pergi jika jaraknya sama maka ongkos yang dikeluarkan menjadi Rp24.000. Jika sebulan, maka biaya transportasi Anda mencapai Rp480.000.

Perhitungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp24.000 (ongkos per hari PP) = Rp280.000 per bulan

Ingat, itu kalau jarak perjalanan Anda hanya 1 km saja. Namun bila ternyata jarak tempuhnya mencapai 10 km, maka tarifnya akan lebih mahal lagi. Rata-rata tarif mobil online dalam 10 km katakanlah bisa mencapai Rp90.000. Jika PP menjadi sekitar Rp180.000. Berapa ongkos yang harus Anda keluarkan dalam sebulan?

Perhitungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp180.000 (ongkos per hari PP) = Rp3.600.000 per bulan

Tarif Taksi:

Ada tarif khusus untuk kendaraan yang satu ini. Artinya, baru membuka pintu saja kita dikenakan biaya sekitar Rp7.500 yang tertera di layar argo. Ini rata-rata tarif taksi biasa. Bila jenis taksi premium/eksklusif tentu tarifnya akan lebih mahal lagi. Dan tarif itu perlahan-lahan bertambah menyesuaikan dengan jarak tempuhnya.

Katakanlah Anda mengendarai taksi dari rumah ke Gedung A yang jaraknya sedang saja alias tidak jauh. Lalu setelah Anda menyelesaikan perjalanan, tarif pada papan argo menunjukkan sekitar Rp50.000 misalnya. Jika pulang-pergi totalnya menjadi Rp100.000. Bagaimana bila dalam satu bulan? Tinggal dikalikan saja dengan jumlah hari kerja dalam sebulan.

Perhitungannya adalah:

20 (hari kerja) x Rp100.000 (ongkos sehari PP) = Rp2.000.000 per bulan

Jadi bila Anda tinggal di hunian TOD dan menggunakan KRL, misalkan perjalanan Anda dari Stasiun Pondok Cina Depok ke Stasiun Juanda, jarak tempuhnya sekitar 25 km. Maka Anda hanya mengeluarkan ongkos Rp3.000 dan total pulang-pergi menjadi Rp6.000 saja. Dalam satu bulan, Anda hanya mengeluarkan ongkos transportasi sebesar Rp120.000.

Atau Anda mesti melanjutkan perjalanan ke dalam kota menggunakan Bus Way dengan tarif Rp3.500 sekali jalan dan menjadi Rp7.000 untuk rute pulang-pergi. Maka total ongkos untuk perjalanan menggunakan KRL dan Bus Way pulang-pergi sebesar Rp13.500.

Simulasinya:

Rp6.000 (ongkos KRL PP) + Rp7.000 (ongkos Bus Trans Jakarta PP) = Rp.13.000 (total ongkos sehari)

20 (hari kerja) x Rp13.000 (total ongkos sehari) = Rp260.000 per bulan

4. Bisa Menabung Lebih Banyak

Menabung rupiah
Menghemat biaya transportasi untuk menambah tabungan itu keren

Dengan perhitungan berapa besar ongkos yang dikeluarkan untuk transportasi menuju tempat kerja/berktifitas, maka bila sebelumnya bujet ongkos ini lebih besar, maka Anda bisa menambahkan sisanya ke tabungan.

Bila bujet transportasi Anda sebulan Rp1.000.000 dan Anda kemudian tinggal di hunian TOD yang mempersingkat rute perjalanan ke tempat kerja, maka Anda bisa menabung sebesar Rp880.000 atau menanamkan ke instrumen investasi keuangan lainnya. Ini kalau Anda hanya menggunakan KRL saja dengan estimasi ongkosnya sebesar Rp120.000 per bulan.

5. Kualitas Hidup Meningkat

Hidup berkualitas
Nikmati hidup yang berkualitas

Dengan kemudahan perjalanan menuju tempat beraktifitas, maka kualitas hidup Anda juga akan meningkat. Bagaimana tidak? Adanya moda transortasi umum yang terintegrasi itu membuat Anda tidak penat atau stres. Karena dengan jarak tempuh yang efektif dan efisien, maka Anda pun akan menghemat banyak tenaga dan uang juga.

Bisa dibayangkan bila Anda harus menyetir sendiri kendaraan menuju tempat kerja. Selain lelah, ada potensi stres karena menghadapi macet dan konsentrasi juga menjadi berlipat ganda. Pulang tepat waktu, membuat Anda memiliki banyak waktu berkualitas untuk beristirahat atau bercengkerama bersama keluarga.

6. Bisa Dijadikan Investasi

Investasi Properti
Investasi di properti merupakan salah satu yang menguntungkan

Bila Anda memang sudah tinggal di lokasi yang strategis dengan tempat beraktifitas, maka tidak ada salahnya memiliki hunian di kawasan TOD ini. Karena berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan menghuni di lokasi tersebut, maka berpotensi menjadi incaran para urban yang sekedar mencari penghidupan di kota besar.

Anda bisa memiliki hunian ini sebagai investasi. Sebab ada pilihan dari hunian konsep TOD ini, yakni selain skema subsidi untuk kalangan menengah ke bawah, juga bersifat komersial yang peruntukkan untuk kalangan menengah ke atas. Kita semua tahu, investasi properti memiliki prospek yang bernilai tinggi. Jadi Anda bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

Baca Juga: Mengenal SKMHT dan APHT Dalam Penggunaan KPR

7. Harganya Lebih Murah

Harga properti murah
Harga properti yang murah menjadi keuntungan tersendiri

Harga yang ditawarkan dari hunian konsep TOD ini juga terbilang ramah di kantong. Harga hunian model rumah susun (rusun) ini dibanderol mulai dari sekitar Rp200 juta. Bagi yang memenuhi syarat memperoleh program subsidi KPR (Kredit Pemilikan Rumah) oleh pemerintah yakni Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), Anda bisa memanfaatkannya. Namun untuk harga komersial alias yang golongan mampu tentunya harganya berbeda atau lebih mahal ketimbang yang subsidi.

Lalu Bagaimana Cara Memiliki Hunian di Kawasan TOD ini?

Rusunami
Rusunami via Perumnas.co.id

Syarat bisa memiliki hunian berkonsep TOD untuk yang MBR adalah penghasilan atau gaji tiap bulannya tidak lebih dari Rp7 juta. Ini sesuai dalam Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang merupakan program KPR kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di mana fasilitas yang bisa diperoleh adalah suku bunga rendah, cicilan ringan, dan bunga tetap selama jangka waktu kredit. Bahkan sudah dilengkai asuransi jiwa dan asuransi kebakaran.

Saat ini, setidaknya PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama dengan PT Perum Perumnas, PT Wijaya Karya (WIKA), dan PT PP Properti, telah bersinergi untukmembangun hunian berkonsep TOD ini.

Sudah ada 3 lokasi yang dilakukan groundbreking atau peletakan batu pertama dan siap dibangun hunian berkonsep TOD, yakni stasiun Pondok Cina Depok, Tanjung Barat, dan Pasar Senen. Dalam waktu mendatang akan dilakukan pembangunan hunian TOD di Stasiun Juanda, Tanah Abang, lalu stasiun Rawa Buntu, Pesing, Klender, dan masih banyak lagi segera menyusul pembangunannya.

Ada 2 tipe yang ditawarkan hunian TOD ini yaitu studio dengan 1 kamar rata-rata seluas 22 meter persegi dan 2 kamar tidur rata-rata seluas sekitar 32 meter persegi. Dari unit-unit yang akan dibangun, sekitar 20 – 30% diperuntukkan bagi MBR.

Di mana membelinya?

Untuk bisa mendapatkan hunian TOD ini, Anda dapat memesan dengan mengambil Nomor Urut Pemesanan (NUP) di lokasi pelaksanaan proyek yaitu di stasiun-stasiun yang sudah dilakukan groundbreaking seperti di stasiun Pondok Cina, Tanjung Barat, dan Pasar Senen. Atau juga bisa di Kantor Pusat Perumnas yang berlokasi di:

Jalan D.I. Pandjaitan, Kav. 11, Jakarta Timur, 13340

Telp. 021-8194807 dan 021-8193825

Atau bisa menghubungi melalui email di: ktrpusat@perumnas.co.id

Untuk mengambil NUP di lokasi, Anda cukup membawa fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan menyerahkan uang tanda jadi (booking fee) sebesar Rp1 juta.

NUP ini sebagai syarat untuk bisa memilih unit yang akan ditempati. Dengan NUP ini maka Anda bisa segera memilih unit rusun TOD saat penjualan resmi dibuka.

Kisaran Harga:

Hunian Rumah Susun berkonsep TOD ini dibanderol dengan harga sekitar Rp7 juta – Rp9,2 juta per meter persegi atau Rp200 juta – Rp224 juta untuk MBR dan sekitar Rp16 juta – Rp18 juta per meter persegi atau hingga Rp380 juta untuk yang komersial (bukan subsidi).

Uang Muka (DP/Down Payment) mulai dari 1% dan suku bunga cicilan sekitar 5% selama maksimal 20 tahun untuk MBR melalui Bank Tabungan Negara (BTN).

Apa yang harus Anda siapkan? Untuk memiliki hunian, secara umum Anda harus memenuhi syaratnya sebagaimana ketentuan di BTN, di antaranya:

Persyaratan Pemohon:

  • WNI dan berdomisili di Indonesia
  • Berusia minimal 21 tahun atau telah menikah
  • Belum memiliki rumah dan belum pernah menerima subsidi untuk memiliki rumah ditandai dengan surat keterangan dari kelurahan
  • Gaji/penghasilan pokok tidak melebihi Rp4 juta untuk rumah sejahtera tapak dan Rp7 juta untuk rumah sejahtera susun
  • Atau maksimal gaji/penghasilan pokok sesuai ketentuan pemerintah
  • Masa kerja atau usaha minimal 1 tahun
  • Memiliki NPWP dan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
  • Menandatangani surat pernyataan di atas materai

Biaya yang dibutuhkan:

  • Biaya provisi 0,5%
  • Biaya administrasi Rp250.000
  • Biaya notaris

Baca Juga: Ragam Biaya Tambahan KPR yang Sering Terabaikan

Dokumen yang harus dilengkapi:

Pegawai/Karyawan:

  • Form Aplikasi Kredit dilengkapi dengan Pasfoto terbaru (Pemohon dan Pasangan)
  • Fotocopy KTP (Pemohon dan Pasangan)
  • Fotocopy Kartu Keluarga (KK)/Fotocopy Surat Nikah/Cerai
  • Slip Gaji terakhir/Surat Keterangan Penghasilan, Fotocopy SK Pengangkatan Pegawai Tetap/Surat Keterangan Kerja
  • Fotocopy NPWP
  • Fotocopy Rekening Koran/Tabungan 3 bulan terakhir
  • Surat Pernyataan belum memiliki rumah (dari pemohon dan pasangan)
  • Surat Pernyataan belum pernah menerima subsidi rumah dari pemerintah (dibuat oleh pemohon dan pasangan)

Wiraswasta:

  • Form Aplikasi Kredit dilengkapi dengan Pasfoto terbaru (Pemohon dan Pasangan)
  • Fotocopy KTP (Pemohon dan Pasangan)
  • Fotocopy Kartu Keluarga (KK)/Fotocopy Surat Nikah/Cerai
  • SIUP, TDP & Surat Keterangan Domisisi serta Laporan Keuangan 3 bulan terakhir
  • Fotocopy NPWP
  • Fotocopy Rekening Koran/Tabungan 3 bulan terakhir
  • Surat Pernyataan belum memiliki rumah (dari pemohon dan pasangan)
  • Surat Pernyataan belum pernah menerima subsidi rumah dari pemerintah (dibuat oleh pemohon dan pasangan)

Perhatikan Ketentuan yang Berlaku bagi MBR

Ingat, karena Anda mengambil program subsidi KPR dari pemerintah, maka perhatikan dan ikuti ketentuan yang berlaku untuk menghuni rumah nantinya. Berikut ketentuan penghunian yang berlaku:

  1. Digunakan sebagai tempat tinggal pemilik yang mengajukan KPR MBR
  2. Jika tidak ditempati selama 1 tahun tanpa memenuhii kewajiban berdasarkan perjanjian, maka pemerintah akan mengambil alih atau mencabut kepemilikan rumah tersebut
  3. Bisa disewakan atau dialihkan kepemilikan rumah tersebut dengan ketentuan:
  • Pewarisan
  • Telah dihuni lebih dari 5 tahun untuk rumah tapak dan 20 tahun untuk rumah susun
  • Pindah tempat tinggal akibat peningkatan sosial ekonomi
  • Untuk kepentingan bank pelaksana dalam rangka penyelesaian kredit atau pembiayaan bermasalah

Di Mana Saja Bisa Menemukan Hunian Konsep TOD?

Stasiun kereta api
Ilustrasi stasiun kereta api

Saat ini pemerintah memang sudah melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) hunian konsep TOD di tiga kawasan yakni dekat Stasiun Pondok Cina Depok, Stasiun Tanjung Barat, dan di Stasiun Senen.

Namun pemerintah mengungkapkan setidaknya ada sekitar 74 stasiun di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekari yang direncanakan akan dibangun hunian berkonsep TOD ini.

Tingkatkan Kualitas Hidup dengan Cermat Pilih Hunian

Dengan cermat memilih hunian yang bisa memenuhi kebutuhan, kita akan memperoleh banyak keuntungan. Salah satunya adalah kualitas hidup yang baik. Kita tidak perlu menghabiskan waktu lama bermacet-macetan ria di jalan dan membuang waktu serta tenaga dengan sia-sia. Bila kualitas hidup itu baik, maka akan ada banyak hal produktif yang bisa kita lakukan. Terlebih lagi bila porsi tabungan atau investasi kita bisa meningkat signifikan karenanya. Jadi, manfaatnya berlipat dan menguntungkan, bukan?

Baca Juga: KPR Mandiri: Macam Produk dan Keunggulannya