Tips Jadi Generasi Milenial Sukses dari Menteri Keuangan Sri Mulyani

Tak ada yang meragukan bila generasi milenial yang lahir di era 1980-an hingga 2000-an sangat fasih menggunakan perangkat teknologi. Segala jenis gadget dikuasai supaya tidak dibilang gaptek alias gagap teknologi. Namun di balik kemampuan tersebut, milenial termasuk anak muda yang sulit mengatur keuangan mereka.

Kaum milenial dengan rentang usia 18-35 tahun cenderung memiliki gaya hidup hedonisme. Mereka rela menguras isi dompet hanya untuk kongkow atau makan minum di kafe, beli gadget terbaru, dan pakaian bermerek demi menaikkan gengsi mereka di mata keluarga, teman, bahkan orang lain. Padahal mah baru juga kerja, gaji bulanan saja pas-pasan atau masih berada di level satu digit. Tapi gayanya selangit.

Sudah gaji mentok, pola hidup konsumtif, mengatur keuangan pun tak mahir. Ini nih yang bikin milenial akrab dengan masalah finansial. Mulai dari terlilit utang kartu kredit untuk kemewahan, tidak punya tabungan maupun investasi lain. 

Akan tetapi, tidak semua anak milenial seperti itu. Banyak pula dari mereka yang mulai atau sudah merencanakan keuangan demi masa depan yang lebih baik. Itu penting, apalagi buat anak muda yang sudah bekerja dan memperoleh gaji setiap bulan. 

Baca Juga: 7 Peluang Bisnis Menguntungkan Bagi Generasi Milenial

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Tips Mengatur Keuangan dari Menkeu Terbaik di Dunia

Tips Mengatur Keuangan dari Menkeu Sri Mulyani

Tips Mengatur Keuangan dari Menkeu Sri Mulyani via Kemenkeu.go.id

Gaya hidup sampai problem keuangan anak milenial mendapat perhatian dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sebagai bendahara negara, Sri Mulyani ingin generasi muda sekarang mulai mengubah kebiasaan mereka yang konsumtif dan kemudian mengelola keuangan dengan benar.

Menteri terbaik di dunia versi World Government Summit 2018 ini menganalogikan mengatur keuangan pribadi sama seperti menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun. Pemerintah harus membuat asumsi penerimaan dan belanja negara dalam kurun waktu setahun. APBN tersebut juga mesti mendapat persetujuan dari para anggota dewan.

Oleh karena itu, mesti ditetapkan belanja-belanja produktif yang sangat prioritas, baik untuk pusat maupun daerah. Jadi jangan sampai uang yang dikumpulkan dari pajak masyarakat dan sumber pendapatan lain habis untuk belanja konsumtif. Nah bagi para generasi muda yang susah atur duit dan mau sukses, ini tipsnya dari Menkeu Sri Mulyani:

1. Tentukan Mana Kebutuhan yang Penting atau Tidak

Buat kamu milenial, harus mampu menentukan mana prioritas, mana yang tidak atau hanya keinginan saja. Pertama kali yang harus dilakukan adalah membedakan hal tersebut. Kalau sudah tahu, akan mudah mengatur keuangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Misalnya prioritaskan gaji untuk membayar uang kuliah, membeli buku jika mengambil pendidikan lebih tinggi, memberi jatah bulanan untuk orangtua, atau sesuatu penting lainnya. Kalau hanya sekadar keinginan saja, biasanya lebih bersifat konsumtif, contohnya ingin beli sepatu baru, padahal masih ada beberapa sepatu yang layak dipakai.

2. Kurangi Jajan Kopi

Ini nih kebiasaan anak muda zaman now, rajin beli kopi. Jajan kopinya merek yang terkenal seharga Rp25 ribu sampai Rp50 ribu per cup ukuran kecil. “Milenial kita lebih senang membelanjakan uang untuk beli kopi. Kalau enggak ngopi, enggak hidup. Mereka itu baru mulai kerja, gajinya berapa sih?” sindir Sri Mulyani, belum lama ini.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyarankan agar milenial mengurangi jajan kopi. Pelan-pelan, dari yang tadinya setiap hari ngopi di kafe, menjadi dua hari sekali. Supaya lebih hemat, bikin kopi sendiri di rumah, jadi enggak harus beli kan.

3. Be Your Self, Jangan Tergoda Hidup Hedon

Be your self, jangan sampai prioritas kamu didikte orang lain. Begitu pesan Sri Mulyani. Jika prioritas kamu misalnya ingin membaca buku di perpustakaan, jangan tergoda kalau diajak teman nonton film, nongkrong, atau minum kopi di kafe

4. Jangan Banyak Gaya

Apalagi sampai ikut-ikutan cuma mau dibilang keren. Contohnya lihat teman pakai sepatu baru, jadi ikut beli. Teman pergi nonton film terbaru, enggak mau kalah, nonton juga supaya bisa cerita film itu ke teman lain. Padahal kamu bisa mengakalinya dengan lihat trailer di Youtube dan melihat referensi atau ulasan film tersebut di internet. 

Baca Juga: Tips Mengatur Keuangan Menurut Zodiak Anda

5. Sisihkan Uang untuk Investasi

Mumpung masih muda, jangan habiskan uangmu hanya untuk foya-foya. Investasi sangat penting, apalagi ke depan kamu akan menikah dan memiliki anak. Jika masih bingung membagi uang untuk kebutuhan sehari-hari, pakai rumus umum 50/30/20.

Sebesar 50 persen pendapatan yang diperoleh dialokasikan untuk membayar sewa rumah, biaya transportasi. Sebesar 30 persen untuk kebutuhan makan minum, termasuk hang out. Sedangkan sisanya 20 persen untuk tabungan, investasi maupun cicilan kredit.

Saran Sri Mulyani sisihkan gaji kamu untuk investasi di dana pensiun, sehingga masa depan kamu di hari tua akan terjamin. Kamu bisa buka tabungan dana pensiun di lembaga pengelola dana pensiun atau ikut serta program Jaminan Hari Tua (JHT) di Badan Penyelenggara (BPJS) Ketenagakerjaan. Pasalnya tidak semua perusahaan mengikutsertakan karyawannya pada program JHT.

  • Contoh simulasi atau perhitungan dana pensiun sederhana dari BNI Simponi, layanan program pensiun yang diselenggarakan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Bank BNI. Simulasi ini menggunakan asumsi tingkat bunga sebesar 10%, http://www.bni.co.id/id-id/personal/simulasi/bnisimponi.
  • Menggunakan rumus untuk investasi 20% dari gaji Rp5 juta per bulan = Rp1 juta. Namun karena ada kebutuhan lain, maka uang Rp1 juta dibagi-bagi untuk tabungan konvensional atau membayar cicilan kredit dan investasi dana pensiun, masing-masing Rp500.000.
  • Usia saat ini = 30 tahun
  • Rencana usia pensiun = 50 tahun
  • Masa kepesertaan = 20 tahun
  • Simpanan awal = Rp500.000
  • Iuran bulanan = Rp500.000
  • Total akumulasi dana pada saat pensiun Rp348.327.129.

Dari dana pensiun yang terkumpul pada usia 50 tahun, kamu bisa membuka usaha agar tetap produktif. Bukan berarti meski sudah pensiun tidak bisa menghasilkan uang. Usaha tersebut juga bisa dibantu sang anak. Dengan perencanaan yang matang, maka hari tua kamu akan terjamin tanpa bayang-bayang kemiskinan atau nelangsa.

6. Kurangi Baca atau Klik Akun Gosip

Selain memberi nasihat tentang cara mengelola keuangan, Menkeu terbaik se-Asia Pasifik versi majalah keuangan FinanceAsia 2018 ini pun mengingatkan para milenial yang ingin sukses untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan belajar, berinovasi, dan kreatif sesuai karakter milenial. Kurangi membaca berita gosip.

“Gunakan waktu bukan untuk klik gosip-gosip yang bisa mencampuradukkan perasaan kamu. Waktu 24 jam sangat sedikit kalau untuk sesuatu yang bermanfaat, tapi terasa lama kalau untuk mencari barang-barang tidak jelas. Kamu yang menyetir diri sendiri, jangan biarkan orang lain yang menyetir diri kamu,” pinta Sri Mulyani.

Masa Depan Kamu yang Menentukan

Mengatur keuangan sangat penting bagi milenial. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri kamu sendiri karena masa depan kamu, kamu sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Buang jauh-jauh hidup boros yang justru akan membawa kamu pada kehidupan melarat. Pergunakan kartu kredit untuk hal-hal produktif atau kebutuhan dana mendesak yang disesuaikan dengan kemampuan kamu.

Dengan melakukan hal tersebut, kondisi finansial kamu akan jauh lebih baik. Segala perencanaan keuangan yang telah disusun, akan terwujud, pelan tapi pasti. Buktikan kamu adalah generasi milenial yang melek keuangan dan peduli masa depan.

Baca Juga: Ekonomi Mulai Bangkit, Bisnis Ini Diprediksi Makin Moncer di 2018