Waspadai Inflasi 2018 Naik, Atur Keuangan dengan Cara ini!

Inflasi. Mendengar satu kata ini, yang terbayang adalah hidup terasa makin sulit karena tergambar harga-harga kebutuhan sehari-hari jadi mahal. Kemudian, berbagai cicilan kredit, KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan KTA (Kredit Tanpa Agunan) misalnya, menjadi naik.

Bagi pekerja, kalau pun ada kenaikan gaji, sejatinya itu bukanlah kenaikan secara riil, akan tetapi hanya sekedar penyesuaian terhadap tingginya biaya hidup. Artinya, secara nominal terlihat bertambah, tapi secara nilai adalah sama saja seperti sebelumnya. Tentu ini tergantung seberapa besar kenaikan gaji tersebut.

Bukan hanya pekerja, para pelaku usaha pun tak luput dari dampak buruk kenaikan inflasi. Bagaimana tidak? Karena inflasi naik, harga makin mahal, orang makin sulit membeli barang, kalaupun terbeli tapi tidak membeli dalam jumlah banyak. Artinya, daya beli masyarakat tergerus atau lemah.

Maka yang terjadi adalah barang yang diproduksi produsen menjadi sulit atau tidak semua laku terjual. Contoh, biasanya mereka bisa menjual 1000 pcs per bulan, karena inflasi naik dan kemampuan membeli masyaralat lemah, maka barang yang terjual hanya separuhnya atau bahkan hanya seperempatnya saja.

Kalau sudah begitu, maka jalan satu-satunya adalah produsen mengurangi jumlah barang yang diproduksinya. Jika pengusaha mengurangi produksinya, maka otomatis mereka juga akan mengurangi jumlah karyawannya.

Selanjutnya, pengangguran akan meningkat. Karena banyak orang yang tidak lagi memiliki penghasilan, otomatis daya beli mereka juga menjadi semakin lemah. Bisa dibilang, pengaruh inflasi itu seperti mata rantai yang saling terhubung.

Maka dari itu, begitu kompleks dampak dari tingginya inflasi ini, bukan? Nah, bagaimana gambaran inflasi di tahun 2018? Berikut ulasannya:

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Inflasi 2018 Perlu Diwaspadai, Karena?

Harga Sayuran
Harga kebutuhan pangan mahal jika inflasi naik

Ada sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi sepanjang tahun ini. Menurut penuturan Peneliti Institute for Development on Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, kepada Cermati.com, setidaknya ada 2 faktor yang bakal mengerek inflasi di 2018 lebih tinggi dibanding inflasi 2017 yang sebesar 3,61%, yaitu:

  • Bahan makanan (volatile foods)

Penyebab potensi tingginya inflasi tahun ini utamanya disebabkan oleh kenaikan harga-harga kebutuhan bahan makanan, khususnya beras, telur ayam, dan cabai, yang saat ini sudah mulai mengalami kenaikan di berbagai wilayah.

Bahkan, harga beras di sejumlah daerah terutama DKI Jakarta pun sudah mengalami kenaikan sejak awal Januari. Padahal, beras merupakan bahan makanan utama yang harus dipenuhi.

Kendati pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras tertinggi Rp9.450/kg untuk beras medium, namun di pasaran harganya sudah menyentuh level di atas Rp12.000/kg. Begitu juga beras premium, dari ketentuan HET Rp12.800/kg, harga di pasaran sudah mencapai sekitar Rp13.800/kg.

  • Harga yang diatur pemerintah (administered price)

Istilah administered prices adalah harga-harga barang dan jasa yang diatur atau ditetapkan oleh pemerintah. Barang-barang tersebut diantaranya BBM (bahan bakar minyak) dan tarif listrik.

Nah, harga BBM dan listrik tahun ini berpotensi naik, karena harga minyak mentah dunia diperkirakan akan naik ke level US$80 per barel, sementara itu pemerintah dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) harga minyak diasumsikan US$48/barel.

Sehingga ada selisih harga antara yang ditargetkan pemerintah dengan potensi realisasi harga minyak di pasar internasional. Maka dari itu, mau tidak mau selisih tersebut harus ditutup oleh anggaran negara (APBN), dengan cara mau tidak mau pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif listrik nantinya, karena anggaran subsidi tidak mencukupi.

Baca Juga: Harga Beras Makin Mahal, Simak Tips Belanja Hematnya!

Berapa Inflasi hingga Akhir Tahun 2018?

Dengan kedua faktor tersebut, maka inflasi hingga akhir tahun ini diperkirakan bakal dikisaran 3,6%. Angka ini memang tidak jauh lebih tinggi dari target pemerintah yang diasumsikan dalam APBN 2018 yang sebesar 3,5%. Bank Indonesia (BI) sendiri menargetkan inflasi tahun ini di 3,5% plus minus 1%.

Pun demikian, tidak ada jaminan bahwa inflasi akan terjaga seperti yang diharapkan. Tidak menutup kemungkinan ada potensi kenaikan inflasi lebih tinggi dari kisaran tersebut, bila faktor-faktor yang mendorong inflasi itu bergerak liar dan sulit dikendalikan.

Sebab, pendorong inflasi dari harga pangan, seperti harga beras saja di minggu ketiga Januari sudah mengalami kenaikan 4,3% dibanding bulan sebelumnya. Apabila pasokan bahan pangan tidak terjaga, bisa saja inflasi pangan ini bakal naik dan menggerus daya beli masyarakat.

Di sisi lain, potensi inflasi dari administered prices juga turut andil terhadap kenaikan inflasi nantinya, karena ada kekhawatiran kenaikan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik paska Maret 2018.

Artinya, masih ada potensi kenaikan inflasi lebih tinggi lagi dari proyeksi tersebut, bila ternyata nantinya harga-harga pangan bergerak naik dan harga energi juga demikian.

Namun, pemerintah dan BI mengaku berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dalam rangka mencapai target inflasi jangka menengah sebesar 3,5% hingga 4% di 2019 dan 3% hingga 4% di 2020 dan 2021.

Berikut pergerakan realisasi inflasi dalam 10 tahun terakhir:

  1. Inflasi 2017 sebesar 3,61% (target pemerintah di APBN-P sebesar 4,3%)
  2. Inflasi 2016 sebesar 3,02% (target pemerintah di APBN-P sebesar 4,0%)
  3. Inflasi 2015 sebesar 6,25% (target pemerintah di APBN-P sebesar 5,0%)
  4. Inflasi 2014 sebesar 8,36% (target pemerintah di APBN-P sebesar 5,3%)
  5. Inflasi 2013 sebesar 8,38% (target pemerintah di APNN-P sebesar 7,2%)
  6. Inflasi 2012 sebesar 4,30% (target pemerintah di APBN-P sebesar 7,0%)
  7. Inflasi 2011 sebesar 3,79% (target pemerintah di APBN-P sebesar 5,65%)
  8. Inflasi 2010 sebesar 6,96% (target pemerintah di APBN-P sebesar 5,3%)
  9. Inflasi 2009 sebesar 2,78% (target pemerintah di APBN-P sebesar 4,5%)
  10. Inflasi 2008 sebesar 11,06% (target pemerintah di APBN-P sebesar 6,5%)

Tips Jitu Atur Keuangan Saat Inflasi Tinggi

Inflasi
Ilustrasi kenaikan tingkat inflasi

Nah, setelah melihat dampak tingginya inflasi tersebut, maka ada berbapa cara mengatur keuangan agar hidup terasa tak semakin berat. Karena inflasi, uang Anda akan tergerus nilainya. Seperti apa caranya? Berikut tips jitu mengatur keuangan menghadapi inflasi tinggi:

1. Buat Catatan Keuangan

Mencatat Pengeluaran
Catat setiap pengeluaran yang Anda lakukan

Hal pertama yang harus dilakukan dalam mengatur keuangan adalah membuat catatan keuangan yang terdiri pengeluaran dan pemasukan. Ini dilakukan bukan hanya ketika menghadapi tingkat inflasi tinggi, namun juga perlu dilakukan setiap mengelola pendapatan.

Dengan membuat catatan keuangan, maka Anda akan memiliki daftar arus kas dari penghasilan Anda setiap bulannya. Sehingga antara pendapatan dengan pengeluaran tampak jelas tercatat, dan Anda bisa memperhitungkan dengan baik apakah keuangan Anda ini sehat atau tidak.

2. Bujet Pengeluaran yang Tepat

Bujet Pengeluaran
Buatlah bujet pengeluaran yang tepat

Buatlah atau susun anggaran pengeluaran Anda dengan tepat. Maksudnya, hanya anggaran kebutuhan Anda yang memang benar-benar penting, seperti kebutuhan makanan pokok, transportasi, investasi/menabung, dan lainnya. Hitung semua pengeluaran utama itu sesuai dengan bujet Anda serta  potong pengeluaran yang memang tidak benar-benar mendesak dan diperlukan.

Oleh karena itu, bila memang kondisi keuangan tidak memungkinkan lagi untuk menganggarkan suatu kebutuhan seperti yang disusun sebelumnya, jangan segan-segan untuk mengubah rencana. Karena bagaimanapun juga, untuk merealisasikan sebuah rencana itu dibutuhkan dana, bila dana tidak mencukupi, carilah alternatif lain yang sesuai dengan bujet.

3. Tidak Boros

Belanja Boros
Hindari sifat boros

Boros dan tidaknya seseorang kerap terjadi karena kebiasaan, atau terbawa arus alias ikut-ikutan orang lain. Tapi kita semua tahu, boros bukanlah sikap yang bijak terhadap kesehatan keuangan. Apalagi bila memang kondisi perekonomian nasional tidak baik seperti tingkat inflasi yang melambung.

Oleh karena itu, tidak boros menjadi kunci menjaga keuangan yang sehat dan mengatur serta mempersiapkan hidup yang lebih baik di masa depan. Maka, hindari sifat boros ini dan jadilah orang yang merdeka finansial.

4. Cari Harga Diskon

Belanja Diskon
Manfaatkan produk-produk yang sedang promo

Mencari harga yang sedang diskon saat berbelanja menjadi salah satu cara menghadapi inflasi tinggi. Dengan diskon, maka Anda akan mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan harga lebih murah ketimbang biasanya.

Tentu ini akan membantu Anda untuk berhemat, bukan? Jangan enggan untuk mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari yang sedang dipromosikan, serta jangan malas untuk membandingkan antara produk yang satu dengan lainnya agar mendapatkan harga murah namun kualitas tetap baik.

Untuk mendapatkan produk-produk dengan harga diskon, Anda juga bisa memanfaatkan kartu kredit. Sebab biasanya banyak merchants yang bekerja sama dengan bank penerbit kartu kredit untuk mengeluarkan harga promo.

Baca Juga: 4 Dampak Inflasi Terhadap Hidup Anda

5. Disiplin

Produk Lucu
Hindari beli produk hanya karena lucu tapi sebenarnya tidak dibutuhkan

Disiplin ini menjadi sangat penting dalam mengatur keuangan. Ditambah lagi bila terbiasa bersikap impulsif, yakni mudah berubah dan tertarik dengan hal-hal yang dilihat secara spontan, artinya tidak terencana. Contoh, ketika jalan-jalan ke Mall, sebelumnya tidak berencana ingin membeli baju dan boneka. Tapi begitu melihat baju unik dan boneka lucu yang dipajang di toko, tanpa pikir panjang, baju juga boneka itu pun dibeli.

Nah, hal-hal seperti ini sebisa mungkin harus dihindari. Apalagi di saat inflasi sedang tinggi. Bisa-bisa bujet untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting lainnya akan terbengkalai, bukan?

6. Jangan Tunda Investasi

Investasi Kalau tidak investasi sekarang, kapan lagi?

Jangan menunda berinvestasi. Ini penting, karena investasi bisa membuat keuangan Anda akan lebih baik dan stabil. Sebab investasi memberikan keuntungan lebih dibanding hanya sekedar menabung biasa, terlebih lagi bila hanya disimpan di bawah bantal. Karena uang yang itu akan dengan mudah tergerus oleh inflasi.

Pilihlah instrument investasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Anda. Ada banyak instrumen investasi yang bisa dijadikan pilihan, mulai dari deposito, logam mulia, reksa dana, saham, dan lainnya. Jangan lupa juga untuk selalu memperhatikan kondisi ekonomi terbaru dengan selalu mencari informasi terkini seputar investasi. Tak lupa, kenali ciri-ciri investasi yang benar, jangan sampi tergiur dan tertipu oleh investasi bodong.

7. Ubah Cicilan Kredit

Kredit Rumah
Pilih cicilan kredit rumah yang tidak terlalu memberatkan

Apakah Anda memiliki tanggungan cicilan? Terutama cicilan KPR. Lalu, apakah cicilan KPR Anda di bank konvensional? Jika ya, sebaiknya Anda pikir ulang memindahkan cicilan atau mengalihkannya ke bank Syariah.

Kenapa? Sebab bank Syariah menerapkan sistem cicilan kredit secara rata alias flat selama jangka waktu kredit yang diambil. Artinya, jika Anda mengambil jangka waktu kredit rumah itu selama 15 tahun, maka dalam kurun waktu tersebut besaran cicilan sama atau tidak berubah sama sekali.

Sementara itu, jika Anda mengambil KPR menggunakan bank konvensional, cicilan yang Anda bayarkan akan berubah sewaktu-waktu karena bunga bank tersebut mengikuti pergerakan inflasi. Jika inflasi rendah, maka bunga kredit juga rendah, sebaliknya, bila inflasi tinggi maka maka bunga kredit juga semakin tinggi karena suku bunga acuan Bank Indonesia juga naik.

Memang, bunga kredit di bank Syariah relatif cenderung lebih tinggi ketimbang bunga kredit di bank konvensional. Akan tetapi, di bank Syariah tidak ada risiko fluktuasi bunga cicilan kredit. Artinya, ada kepastian di awal dari cicilan kredit Anda.

8. Ubah Gaya Hidup

Belanja Pakai Kartu Kredit
Gunakan kartu kredit dengan bijak dan jangan boros

Mengubah gaya hidup. Ini penting bila memang Anda terbiasa dengan gaya hidup yang terbilang hedon alias boros. Sebab dengan gaya hidup yang tetap sama borosnya, sementara pendapatan pas-pasan dan tidak ada peningkatan, maka yang terjadi pasti keuangan Anda akan kedodoran dan berantakan.

Bila Anda memiliki kartu kredit, gunakan kartu multifungsi tersebut dengan bijak. Jangan menggunakannya melebihi kemampuan bayar tagihan. Manfaatkan keuntungan memiliki kartu kredit dengan baik dan maksimal, seperti menggunakannya untuk berbelanja dari merchant-merchant yang memberikan diskon. Maka, Anda justru akan lebih diuntungkan berbelanja dengan kartu kredit tersebut.

Keuangan Tetap Aman Meski Inflasi Menghadang

Yup, keuangan Anda bisa saja tetap aman meski inflasi menghadang. Asalkan, Anda benar-benar tahu caranya membuat keuangan itu aman. Dengan tips-tips di atas, Anda tetap bisa menjaga keuangan sehat dan tidak banyak terpapar oleh gerusan inflasi. Lakukan dan disiplinlah! Itulah kuncinya.

Baca Juga: Tips Menghemat Belanja Listrik