Mengenal Mekanisme Konsensus, Program Penyangga Aktivitas di Dunia Crypto dan Blockchain

Banyak orang memahami jika mata uang crypto adalah salah satu aset digital yang memiliki perkembangan begitu pesat dalam 1 dekade belakangan. Namun, belum banyak di antara mereka yang mengerti tentang bagaimana cara kerja dari aset digital tersebut yang membuatnya unik dan lebih unggul dibanding mata uang konvensional. Salah satu hal yang penting untuk dipahami terkait cara kerja dari mata uang crypto adalah mekanisme konsensus atau consensus mechanism. 

Bisa dibilang, mekanisme konsensus merupakan suatu program yang digunakan pada jaringan blockchain untuk bisa meraih kesepakatan menyeluruh terkait kondisi ledger. Secara umum, mekanisme konsensus diimplementasikan pada sebuah jaringan dengan beragam proses oleh banyak pengguna. 

Sebagai istilah yang memiliki peran penting dalam dunia crypto dan juga blockchain, setiap pemain aset digital tersebut tentu perlu memahami tentang apa itu mekanisme konsensus. Nah, jika kamu tertarik untuk tahu lebih lanjut seputarnya, simak penjelasan lengkap mengenai mekanisme konsensus, sejarah singkat, jenis, hingga potensinya di masa depan berikut ini. 

Baca Juga: Beri Portofolio Investasi dengan Return Tertinggi, Ini Pengertian Efficient Frontier dan Contoh Perhitungannya

Apa Itu Mekanisme Konsensus?

Cryptocurrency

Mekanisme konsensus atau consensus mechanism adalah serangkaian prosedur dan aturan yang memungkinkan suatu jaringan komputer agar bisa meraih kesepakatan bersama mengenai validasi transaksi maupun data tanpa harus melalui proses otoritas terpusat. Hal tersebut memungkinkan serangkaian node pada jaringan terdesentralisasi agar mampu mencapai kesepakatan mengenai kondisi terkini dari jaringan. 

Pada jaringan blockchain, mekanisme konsensus memiliki peran yang sangat penting. Alasannya karena mekanisme tersebut merupakan komponen yang bertugas untuk menjalankan jaringan blockchain sekaligus menjamin jika seluruh node di dalam jaringannya setuju terkait validasi suatu transaksi yang baru maupun potensi perubahan pada kondisi jaringan. 

Sejumlah mekanisme konsensus yang umum digunakan pada jaringan blockchain saat ini adalah proof of work atau PoW, dan juga proof of stake atau PoS. Untuk mekanisme PoW sendiri bisa ditemukan para jaringan blockchain Bitcoin, sementara mekanisme PoS mulai diimplementasikan pada jaringan blockchain Ethereum. 

Tentunya, setiap jenis mekanisme konsensus yang diaplikasikan pada sebuah jaringan blockchain mempunyai seperangkat prosedur dan aturan yang wajib diikuti node dalam memvalidasi transaksi. Serangkaian aturan tersebut juga wajib diikuti dalam mencapai kesepakatan atau konsensus. 

Misalnya, pada mekanisme PoW, beragam node akan bersaing untuk bisa mencari solusi atas teka-teki matematika. Untuk node pertama yang mampu menyelesaikan teka-teki tersebut akan memperoleh hadiah, serta bloknya ditambahkan pada blockchain. 

Pada jenis mekanisme ini, semakin besar daya komputasi atau hashing power yang dimiliki pengguna, kemampuannya dalam memecahkan teka-teki matematika dan mendapatkan imbalan akan menjadi lebih tinggi. Aktivitas tersebut dalam dunia crypto atau blockchain dikenal dengan sebutan mining atau menambang. 

Di sisi lain, untuk mekanisme PoS, validator akan dipilih berdasarkan dari jumlah mata uang crypto atau token yang dipertaruhkan oleh para pengguna. Kemudian, secara bergiliran para pengguna tersebut akan menambahkan block yang baru pada blockchain dan seiring waktu mendapatkan imbalan atau imbal hasil.

Sejarah Singkat Mekanisme Konsensus

Ketika teknologi komputer dan jaringan mulai meraih popularitasnya di tahun 1980 sampai 1990an, shared database diciptakan agar banyak pengguna bisa mengakses informasi yang disimpannya. Kebanyakan dari database tersebut memiliki sistem tersentralisasi dengan izin yang memungkinkan pengguna untuk mengaksesnya dari perangkat yang berbeda. 

Cara kerja tersebut kemudian berubah menjadi jaringan tersentralisasi yang memiliki administrator yang memberikan hak pada penggunanya dan menjaga integritas dari data yang terdapat di dalamnya. Shared database tersebut kemudian dikenal sebagai ledger terdistribusi karena menyimpan informasi dan terhubung ke banyak pengguna dari beragam lokasi untuk bisa diakses. 

Salah satu kendala utama yang perlu diatasi pada jenis jaringan tersebut adalah mencegah perusakan data dan akses tak berizin, entah itu yang sifatnya berbahaya atau tidak. Sebuah metode untuk secara otomatis pengelolaan database terdistribusi dibutuhkan untuk memastikan jika data tidak akan diubah tanpa izin. 

Kebutuhan akan solusi tersebut mendorong terciptanya konsensus otomatis terdistribusi, di mana program pada sebuah jaringan setuju terhadap sebuah kondisi database menggunakan teknik kriptografi. Persetujuan dirancang agar bisa diraih melalui algoritme terenkripsi melalui pembuatan benang panjang atau nomor alfanumerik yang disebut hash. 

Hash ini sendiri kemudian akan diverifikasi oleh program yang berjalan pada jaringan yang bersangkutan. Suatu hash hanya akan berubah saat informasi yang dimasukkan pada algoritma hashing diubah, sehingga program tersebut didesain untuk membandingkan beragam hash guna memastikan kecocokannya. 

Ketika setiap program pada sebuah jaringan membuat benang alfanumerik yang cocok, data tersebut kemudian akan dianggap disetujui oleh konsensus jaringan. Sehingga, mekanisme konsensus diciptakan, di mana hal tersebut bisa terjadi berkat jasa Satoshi Nakamoto selaku pembuat jaringan Bitcoin. Akan tetapi, sebelum diluncurkan oleh Nakamoto melalui whitepaper yang menjadikan Bitcoin terkenal, banyak orang sebelumnya sudah berupaya pada pembuatan mekanisme konsensus selama bertahun-tahun. 

Apa Saja Kegunaan Mekanisme Konsensus?

Jadi, apa sih kegunaan dari mekanisme konsensus ini pada jaringan blockchain? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mekanisme ini secara umum diimplementasikan pada jaringan yang mempunyai banyak pengguna dan proses. Hal tersebut mencakup mata uang crypto, blockchain, dan juga distributed ledger, di mana teknologi tersebut bisa mendapat manfaat dari penggunaan mekanisme ini mampu menggantikan proses verifikasi dan audit manusia yang lambat. 

Misalnya, pada jaringan blockchain Bitcoin menggunakan mekanisme PoW yang membutuhkan daya komputasi untuk bisa memecahkan teka-teki terenkripsi yang disebut hash. Ketika teka-teki tersebut berhasil diselesaikan, mekanisme tersebut mengharuskan setiap node untuk memverifikasinya dengan mengecek berbagai aspek, seperti struktur data, block header hash, block timestamp, block size, dan informasi transaksi pertama. Seluruh proses transaksi tersebut membutuhkan waktu yang jauh lebih ringkas. 

Baca Juga: Mengenal Konsep Liquidity Pool pada Dunia Crypto, Kegunaan, dan Cara Kerjanya

Beragam Jenis Mekanisme Konsensus

Hingga saat ini, ada beragam jenis algoritma mekanisme konsensus dengan prinsip cara kerja dan aturan yang berbeda-beda. Contohnya adalah PoW yang umum digunakan pada jaringan crypto ternama, seperti Bitcoin dan Litecoin. Mekanisme konsensus ini mengharuskan partisipan node untuk membuktikan jika kinerja yang diselesaikannya sesuai dengan aturan untuk bisa ditambahkan sebagai transaksi baru di jaringan. 

Jenis mekanisme konsensus lainnya adalah PoS, yang juga umum digunakan sebagai alternatif PoW karena menawarkan biaya dan konsumsi daya yang rendah. Mekanisme ini mencakup alokasi tanggung jawab dalam menjaga keamanan public ledger sesuai dengan proporsi dari jumlah mata uang virtual yang dimiliki node. Tapi, mekanisme ini memiliki kekurangan yang mendorong penumpukan aset ketimbang pengeluaran.  

Potensi Penggunaan Mekanisme Konsensus di Masa Depan

Investasi Crypto

Kendati digunakan oleh semua mata uang crypto, mekanisme konsensus sejatinya memiliki peran penting selayaknya jaringan distributed ledger yang ada pada perusahaan. Beragam platform telah diciptakan untuk penggunaan bisnis maupun pemerintahan, yang memungkinkan tiap pihak memilih dari modul yang dibuat sesuai kebutuhannya, dan didukung oleh mekanisme konsensus. 

Hyperledger Fabric, salah satu platform distributed ledger ternama, menawarkan beragam jenis mekanisme konsensus. Sebagai contoh, sebuah entitas mungkin tidak membutuhkan mekanisme PoW, sementara entitas lainnya mungkin tidak membutuhkan tingkat konsensus lainnya. 

Masa depan dari mata uang crypto mungkin sulit ditebak dan volatilitasnya tinggi. Tapi, mekanisme konsensus tetap menjadi sebuah bagian penting dari perkembangan teknologi karena fungsinya untuk menjaga keamanan data dan integritasnya, sekaligus mencegah risiko munculnya masalah yang mengancam pada jenis ledger terdistribusi.

Jenis Mekanisme Konsensus Terbaik untuk Dipilih

Setelah memahami penjelasan di atas, kamu mungkin penasaran, jenis mekanisme konsensus apa yang terbaik untuk dipilih? Pada dasarnya, tidak ada jawaban pasti terkait pertanyaan tersebut karena consensus mechanism yang terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan dari para penggunanya. 

Misalnya, mekanisme proof of work diyakini sebagai yang terbaik pada jaringan Bitcoin, sementara mekanisme proof of stake yang diadopsi pada jaringan Ethereum dipercaya sebagai yang terbaik bagi komunitasnya. Tentunya, ada potensi di mana jenis mekanisme lain bekerja lebih baik dan sesuai dengan perusahaan, bisnis, maupun kegunaan pribadi tertentu.  

Tidak Hanya Crypto, Mekanisme Konsensus Penting bagi Perkembangan Teknologi Lain

Mekanisme konsensus pada dasarnya sudah menjadi aspek esensial pada teknologi database, distrubuted ledger, dan juga blockchain, terlebih perkembangan dunia yang semakin mengarah ke teknologi digital. Kepemilikan aset fisik yang mulai ditokenisasi pada ledger dan blockchain membutuhkan jaminan keamanan yang lebih tinggi dan juga optimal. Nah, hal tersebut bisa terwujud melalui penggunaan mekanisme konsensus dengan jenis yang paling sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Baca Juga: Picu Investor Salah Ambil Keputusan, Yuk Kenali Apa Itu Kondisi FUD dan Cara Atasinya