Pernah Kerja di Microsoft, Zhang Yiming Sukses Jadi Miliarder karena Ciptakan Tik Tok

Aplikasi Tik Tok saat ini tampak semakin disukai banyak orang dari segala lapisan masyarakat. Bermain Tik Tok tak hanya digemari kalangan umum saja, tapi juga pejabat, selebritas, komedian, musisi, tim medis, hingga para atlet.

Menawarkan berbagai efek istimewa yang unik serta beragam stiker dan filter menarik, bermain platform distribusi konten yang satu ini bikin banyak orang ketagihan. Dengan diiringi berbagai jenis musik, Tik Tok yang berasal dari Tiongkok ini menjadi hiburan seru nan menyenangkan.

Berbagai generasi baik tua maupun muda seakan berlomba membuat video dance hingga konten lucu, informatif, edukatif, dan menarik lainnya agar menjadi viral. Tak ayal, demam Tik Tok pun terjadi di mana-mana.

Sejak dua tahun lalu, Tik Tok sudah diunduh sebanyak lebih dari 500 juta kali di sekitar 150 negara. Meroketnya platform ini tak lepas dari sosok pria bernama Zhang Yiming yang kini menjadi CEO Tik Tok. 

Bagaimana sejarah pembuatan aplikasi yang penggunanya kebanyakan anak muda dan remaja ini? Berikut kisahnya.

Cikal Bakal Terciptanya Tik Tok

Sumber: businessinsider.com

Sebagai ahli perangkat lunak jebolan Nankai University, Zhang Yiming mulai membangun ByteDance, sebuah technology company pada Maret 2012. Merangkak dari bawah, perusahaan ini terus berkembang hingga merilis Douyin (sebuah aplikasi untuk short video).

Tak disangka, kehadiran Douyin disambut hangat oleh masyarakat. Setahun setelah rilis, lebih dari 100 juta user telah menghasilkan sekitar semiliar cuplikan video dengan durasi 15 detik per harinya.

Video dapat dikreasikan dengan banyak pilihan, termasuk penyertaan filter, musik, dan lainnya. Hal inilah yang tampaknya menjadikan platform tersebut lebih unggul dan menonjol. Menawarkan hiburan anyar, Douyin yang sudah terlanjur meroket ini lantas berekspansi ke seluruh dunia dengan menggunakan nama Tik Tok.

Selang empat tahun pasca rilis, Tik Tok menjadi fenomena dan telah digunakan oleh ratusan juta orang seantero dunia. Digandrungi banyak negara termasuk Indonesia, Tik Tok mendulang aliran cash yang kian lama kian membanjiri kantong Zhang Yiming.

Baca Juga: Jadi Orang Terkaya Paling Muda di Dunia, Miliarder Mark Zuckerberg Pilih Gaya Hidup Sederhana

Punya Misi yang Menarik

Lewat aplikasi ini, Zhang Yiming menyasar pasaran umum agar dapat menjadi creator dengan sajian variety show dari mereka. Secara instan, praktis dan pragmatis, berbagai momen asyik dapat dibagikan oleh penggunanya dengan ekspresif.

User Tik Tok dapat dengan simple dan mudah merekam video mereka dengan lebih berwarna dan kreatif. Kemudian video yang yang panjangnya 15 detik tersebut dapat diunggah dan disajikan kepada publik. Inilah yang menjadikan Tik Tok berbeda bila dibandingkan dengan media sosial serta platform lainnya.

Ibarat mak comblang, pengguna dan konten unggahan mereka dapat memanfaatkan Tik Tok sebagai alternatif bereksis ria di dunia maya. User Tik Tok juga tak sebegitunya memerlukan followers karena bukan itu yang menjadi tolak ukurnya.

Sebaliknya, Tik Tok memudahkan pengguna untuk saling menyorot konten apa saja yang disajikan oleh satu sama lain tanpa harus terpatok oleh followers. Pengguna dengan jumlah followers sedikit juga masih bisa sangat populer. Ini dikarenakan videonya dapat ditonton oleh mereka yang bukan pengikut.

Makin Melejit Setelah Akuisisi Musical.ly

Setelah ByteDance melakukan penggabungan dengan Musical.ly (aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk fasih melakukan lipsync), nama Tik Tok pun makin melejit. Para netizen Indonesia semakin antusias menggunakan Tik Tok.

Zhang Yiming memilih langkah akuisisi di akhir tahun 2017 demi mengoptimalkan potensi pencapaian pasar skala internasional dan ternyata, strategi ini cukup jitu. Belakangan, penggunanya kian tertarik mengeksplor konten Tik Tok yang bertambah banyak dan beragam.

Pernah Dicap Alay Hingga Diblokir Kemkominfo

Di tanah air sendiri, Tik Tok sempat booming beberapa waktu lalu. Namun saat itu, Tik Tok diperlakukan seperti anak tiri oleh kebanyakan netizen Indonesia. 

Bahkan, aplikasi ini pernah menjadi kontroversi lantaran kontennya dianggap tidak mendidik. Akibatnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sempat memblokir Tik Tok selama satu minggu pada medio 2018 lalu.

Pasalnya, saat itu ditemukan banyak pelanggaran terkait isi kontennya. Terdapat sejumlah muatan negatif yang berkenaan dengan asusila, pelecehan terhadap agama, serta pornografi yang meresahkan netizen dan khalayak banyak.

Selain itu, Tik Tok juga kerap mendapat cap aplikasi ‘alay’ sehingga menjadi sasaran cibiran para netizen. Namun kini, Tik Tok tampak bersaing dan unjuk gigi di tengah ramainya penggunaan berbagai platform di internet.

Baca Juga: Inovatif dan Futuristik, Begini Cerita Elon Musk Jadi Tokoh Teknologi Paling Favorit Saat Ini

ByteDance Jadi Ladang Uang

Sumber: scmp.com

ByteDance yang dirintis Zhang Yiming kini telah menjadi startup teknologi dengan nilai tertinggi sedunia. Ia diketahui menyimpan saham sebesar 24 persen di perusahaan tersebut.

Mendapat investasi sebesar 3 miliar Dollar AS, valuasinya berhasil menembus angka 75 miliar Dollar AS. Di AS sendiri, aplikasi Tik Tok diunduh sekira lima juta kali, sehingga raihan penghasilannya menembus ke angka 2 juta Dollar AS pada bulan Februari tahun lalu.

Adapun di negeri asalnya, Tik Tok tetap memakai nama Douyin dengan 500 juta user dan kurang lebih 300 juta pengguna yang aktif setiap bulan. Informasi ini terakhir didapatkan berdasarkan data pada bulan November tahun 2018 silam.

Tangan dingin Zhang Yiming juga menciptakan sejumlah aplikasi populer lainnya. Salah satunya yaitu Toutiao yang merupakan portal agregasi berita dengan basis Artificial Intelligence (AI).

Mempunyai kurang lebih 120 juta user, Toutiao juga menjadi salah satu aplikasi yang paling sering dan banyak digunakan di China. Dengan demikian, ByteDance pun sukses berjaya menyaingi tiga raksasa internet yang dikenal dominan, yakni Alibaba, Baidu, dan Tencent.

Zhang Yiming Jadi Salah Satu Orang Terkaya

Berkat hasil karyanya, nama Zhang Yiming berada di jajaran orang-orang paling kaya yang umurnya di bawah 30 tahun (Forbes, 2013). Jumlah kekayaan Zhang Yiming yang kelahiran tahun 83 ini terus meningkat seiring dengan semakin mendunianya TikTok.

Nama Zhang Yiming menduduki peringkat ke-545 dalam list tokoh paling tajir sedunia sewaktu dirinya menginjak umur 34 tahun. Memasuki umur 36, ia kembali masuk dalam deretan 10 orang paling kaya di Negeri Tirai Bambu. 

Pertengahan 2018, untuk pertama kalinya Zhang Yiming menjadi miliarder versi Majalah Forbes. Kemudian ia mencapai 10 besar dan menduduki peringkat kedua orang paling muda dalam China Rich List

Masih menurut Forbes, total kekayaannya pernah mencapai 4 miliar Dollar AS (kurang lebih Rp 58 triliun). Menurut data tahun lalu, kekayaan Zhang Yiming telah tembus mencapai lebih dari 16 miliar Dollar AS (senilai dengan Rp 228 triliun).

Tahun lalu, Majalah Time kemudian mencantumkan namanya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh skala dunia. Zhang Yiming juga disukai dengan gaya leadership yang lembut dan lentuk tapi penuh kharisma. Kendati masih muda, namun sosoknya disebut sangat bijaksana.

Berani Ambil Risiko dan Inovatif

Tak banyak yang tahu jika sebelum sukses membentuk ByteDance, Zhang Yiming pernah bekerja di Microsoft. Namun sayangnya, ia tidak merasa begitu nyaman menjadi bagian dari perusahaan besar tersebut.

Sejumlah media massa memberitakan Zhang Yiming merasa Microsoft terlalu kaku baginya. Hingga akhirnya ia resign. Hengkang dari sana, CEO Tik Tok ini kemudian bergabung bersama perusahaan dan startup lain.

Barulah kemudian di tahun 2012, ia menemukan celahnya sendiri. Seperti kisah Zhang Yiming, Anda tak perlu takut melepaskan yang baik demi mendapatkan yang terbaik. 

Bukan berarti kurang bersyukur, namun jangan berhenti memaksimalkan kemampuan diri jika belum meraih capaian yang terbaik. Seperti CEO Tik Tok, siapa tahu Anda menemukan celah sendiri dan meraih kesuksesan yang lebih besar lagi berkat langkah yang inovatif.

Baca Juga: Mau Cepat Kaya? Ini 7 Gaya Hidup yang Mesti Diubah