5 Efek Buruk akibat Kerja Berlebihan

Siapa yang suka kerja keras bagai kuda? Bekerja tidak kenal waktu, bahkan bisa sampai 24 jam non-stop. Manusia atau robot?

Robot saja punya batas kemampuan, butuh rehat, apalagi tubuh manusia. Perlu istirahat untuk mengembalikan energi dan pikiran biar tetap waras.

Bekerja tujuh sampai delapan jam per hari adalah porsi yang ideal dan dianjurkan. Jam kerja seperti ini dapat menjaga produktivitas dalam bekerja.

Kamu tetap bisa menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan baik tanpa kelelahan, mengantuk, bosan atau jenuh, maupun kehilangan semangat. Namun faktanya, banyak orang atau dari kamu yang kerja berlebihan.

Hati-hati, kerja berlebihan apalagi dilakukan dalam jangka panjang, dapat berakibat buruk. Walaupun itu dikategorikan sebagai lembur. Berikut 5 efek buruk kerja berlebihan:

Baca Juga: 7 Pertimbangan yang Harus Diketahui Jika Ingin Gaji Tinggi

1. Produktivitas turun

Maksud hati kerja melebihi jam ideal agar produktivitas semakin naik, tetapi justru sebaliknya. Kinerja maupun kualitas kerja kamu akan menurun, atau malah jadi kacau balau.

Itu karena pikiran dan tenagamu habis untuk mengerjakan sesuatu yang dipaksakan. Sesuatu yang seharusnya dapat kamu lanjutkan esok hari, tetapi dikebut agar cepat selesai.

Memang ini baik, dalam arti kamu tidak ingin menunda pekerjaan terlalu lama. Tetapi pikirkan juga dampaknya. Kerja berlebihan hanya akan membuatmu kelelahan. 

Kamu jadi sulit konsentrasi, karena sebetulnya sudah capek. Kalaupun pekerjaan itu selesai, hasilnya pasti ada yang kurang.

Saking lelahnya, akhirnya kamu tepar ketika pulang ke rumah. Jadi kurang istirahat, sehingga keesokan harinya, bangun dalam keadaan tidak bugar. Namun tetap harus kembali bekerja.

Bukannya bersemangat saat bekerja. Yang ada hanya rasa malas lantaran energimu sudah terkuras sebelumnya. Kalau sudah begini, siapa yang rugi? Kamu sendiri kan.

2. Stres berat

Siapa bilang jam kerja tinggi berbanding lurus dengan produktivitas? Tidak sama sekali. Jam kerja terlalu banyak justru bisa membuat stres.

Satu atau dua kali stres bisa diobati. Tetapi begitu sudah menumpuk, stres ini dapat berubah menjadi akut. Lama-lama depresi atau terganggunya kesehatan mental, sehingga kualitas hidupmu juga ikut menurun.

Kesehatan mental yang terganggu juga bisa membuatmu beralih pada hal-hal negatif, seperti merokok dan mengonsumsi minuman keras sebagai pelampiasan.


Bekerja berlebihan

3. Ditinggalkan keluarga dan sahabat

"Teman" orang-orang yang kerja berlebihan adalah pekerjaan. Tiada hari tanpa bekerja, meskipun di hari libur atau sedang cuti. Kamu mengabaikan keluarga dan sahabat-sahabatmu, karena tidak punya waktu buat mereka.

Apalagi sekadar menikmati hobi atau melakukan sesuatu yang kamu senangi. Ini namanya kamu tidak menikmati hidup yang diberikan Tuhan.

Padahal ada keluarga dan teman yang menyayangimu. Jika kamu cuek dengan mereka, lambat laun mereka pun akan bersikap acuh terhadapmu.

Mereka akan meninggalkanmu dan tidak mempedulikan kamu lagi. Begitu kamu sadar, keluarga dan sahabatmu menjauh, penyesalan pun tiada arti.

Sukses dan banyak uang dari kerja berlebihan tidak akan dapat membeli kembali perhatian orang-orang yang kamu cintai. 

4. Bikin pengeluaran membengkak

Kerja berlebihan bukan hanya mengorbankan waktu bahagiamu, tetapi juga uangmu. Sebab untuk bisa tetap on fire selama bekerja, kamu butuh pendukungnya.

Contohnya seperti kopi, minuman berenergi, suplemen atau vitamin, sampai makanan atau minuman bergizi agar tidak gampang sakit. Semua ini butuh biaya ekstra. Pengeluaran bulanan kamu berpotensi membengkak.

Jadi, percuma kan gaji besar, tetapi pengeluaran juga besar. Apalagi yang kerja berlebihan, tetapi "argonya" pas-pasan. Uang lembur saja tidak ada. Keuanganmu justru tekor atau minus karena besar pasak daripada tiang.

5. Ancaman penyakit berat sampai kematian

Kamu pasti pernah dengar ada pekerja yang mati akibat kerja berlebihan? Mau hal itu menimpamu? Pastinya tidak ingin terjadi.

Kerja berlebihan sangat rentan sakit, termasuk ancaman penyakit kritis, seperti stroke, penyakit jantung, hingga kematian. Hal ini diperkuat dengan Laporan Badan Kesehatan Dunia dan Badan Perburuhan Internasional PBB.

Dalam studi yang berjudul Environment International, menyebutkan bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan serius. 

Studi tersebut juga mengemukakan, bekerja 55 jam atau lebih per minggu dapat berisiko menderita stroke dan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dibanding yang bekerja 35 sampai 40 jam per minggu.

Baca Juga: 6 Tips Menciptakan Lingkungan Kerja Nyaman dengan komunikasi Lancar