Mengenal Cara Kerja Blockchain: Teknologi di Balik Cryptocurrency yang Wajib Kamu Tahu

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum mungkin sering berseliweran di timeline media sosial kamu. Banyak orang membicarakan potensi keuntungannya, fluktuasi harganya, hingga teknologi canggih yang menjadi tulang punggungnya. Nah, teknologi canggih itulah yang disebut dengan blockchain.

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya blockchain itu? Mengapa teknologi ini digadang-gadang sebagai revolusi internet masa depan? Dan yang paling penting, bagaimana cara kerja blockchain dalam mengamankan data dan transaksi digital tanpa perantara bank?

Memahami blockchain bukan hanya untuk mereka yang ingin terjun ke dunia kripto, lho. Teknologi ini mulai merambah ke sektor perbankan, logistik, hingga kesehatan. Dengan memahaminya, kamu jadi lebih melek teknologi dan siap menghadapi era keuangan digital.

Yuk, simak penjelasan lengkap mengenai definisi, komponen, hingga cara kerja blockchain yang telah Cermati.com rangkum khusus untuk kamu.

Apa Itu Blockchain?

Sebelum masuk ke teknis cara kerjanya, mari kita bedah dulu definisinya secara sederhana. Bayangkan blockchain sebagai sebuah buku besar digital (digital ledger) yang mencatat segala aktivitas transaksi.

Bedanya dengan buku besar bank konvensional adalah sifatnya yang terdesentralisasi (decentralized). Jika buku besar bank disimpan di satu server pusat yang hanya bisa diakses oleh pihak bank, blockchain justru didistribusikan ke ribuan, bahkan jutaan komputer di seluruh dunia.

Setiap komputer ini disebut dengan node. Karena tersebar luas, tidak ada satu pihak pun yang memiliki kontrol mutlak atas data tersebut. Hal inilah yang membuat blockchain sangat transparan dan sulit untuk diretas (hack). Sesuai namanya, blockchain terdiri dari rantai (chain) blok-blok (block) yang berisi informasi data.

3 Komponen Utama dalam Blockchain

Agar lebih paham mengenai cara kerja blockchain, kamu perlu mengenal tiga elemen kunci yang menyusunnya. Tanpa ketiga hal ini, sistem rantai blok tidak akan berjalan.

  1. Data (Informasi Transaksi)

    Setiap blok pasti menyimpan data. Jenis datanya tergantung pada fungsi blockchain itu sendiri. Misal, pada jaringan Bitcoin, data yang disimpan meliputi detail transaksi seperti siapa pengirim, siapa penerima, dan berapa jumlah koin yang dikirimkan.

  2. Hash (Sidik Jari Digital)

    Ini adalah komponen keamanan yang paling krusial. Setiap blok memiliki kode unik yang disebut hash. Anggap saja hash ini seperti sidik jari manusia. Ia bersifat unik dan berfungsi untuk mengidentifikasi blok serta seluruh isinya. Jika ada seseorang yang mencoba mengubah data di dalam blok (misalnya mengubah nominal transaksi), maka kode hash blok tersebut akan berubah total. Inilah yang membuat manipulasi data di blockchain sangat mudah dideteksi.

  3. Hash dari Blok Sebelumnya

    Inilah elemen yang menciptakan "rantai". Setiap blok baru yang tercipta akan menyimpan kode hash dari blok sebelumnya. Hal ini menciptakan sambungan yang sangat kuat. Jika satu blok dirusak, maka blok-blok setelahnya akan menjadi tidak valid karena rantai hash-nya putus.

Langkah Demi Langkah: Cara Kerja Blockchain

Setelah tahu komponennya, sekarang mari kita lihat bagaimana proses sebuah transaksi terjadi di dalam jaringan ini. Berikut adalah simulasi cara kerja blockchain ketika kamu melakukan transaksi aset kripto:

  1. Permintaan Transaksi: Katakanlah kamu ingin mengirim sejumlah Bitcoin ke temanmu. Kamu melakukan request transaksi melalui dompet digital (wallet) kamu.
  2. Penyebaran ke Jaringan (Broadcasting): Permintaan transaksi kamu tidak masuk ke server pusat, melainkan disebarkan ke jaringan peer-to-peer (P2P) yang terdiri dari ribuan komputer (nodes).
  3. Validasi oleh Nodes: Komputer-komputer di jaringan tersebut (yang sering disebut penambang atau miners) akan berlomba-lomba memvalidasi transaksi tersebut. Mereka menggunakan algoritma matematika rumit untuk memastikan bahwa kamu benar-benar memiliki saldo yang cukup dan transaksi tersebut sah.
  4. Pembentukan Blok Baru: Setelah transaksi divalidasi, data transaksimu akan dikumpulkan bersama transaksi orang lain yang terjadi di waktu yang sama. Kumpulan data ini kemudian dibungkus menjadi satu blok data baru.
  5. Penguncian dengan Hash: Blok baru tersebut kemudian diberikan "sidik jari" unik alias hash, serta disisipkan hash dari blok sebelumnya. Proses ini menghubungkan blok baru ke rantai yang sudah ada.
  6. Penambahan ke Rantai (Chaining): Blok yang sudah jadi kemudian ditambahkan ke blockchain secara permanen. Karena salinan blockchain ini ada di ribuan komputer, semua komputer akan memperbarui catatan mereka secara otomatis (real-time).
  7. Transaksi Selesai: Transaksi kamu dinyatakan berhasil (confirmed). Aset berpindah dari dompetmu ke dompet temanmu, dan catatannya tersimpan abadi di jaringan.

Baca juga: Mengenal Arti Ledger pada Sistem Blockchain, Apa Jenis dan Manfaatnya?

Kenapa Blockchain Dianggap Sangat Aman?

Banyak ahli finansial menyarankan untuk memahami teknologi ini karena tingkat keamanannya. Berikut adalah alasan mengapa cara kerja blockchain sulit ditembus oleh peretas:

  • Desentralisasi: Tidak ada satu titik kegagalan (single point of failure). Jika hacker ingin menyerang, mereka harus meretas jutaan komputer sekaligus secara bersamaan, yang mana hampir mustahil dilakukan dengan teknologi saat ini.
  • Sifat Immutable (Tak Bisa Diubah): Sekali data masuk ke blok dan terkonfirmasi, data tersebut tidak bisa diedit atau dihapus. Ini berbeda dengan database konvensional yang bisa diedit oleh admin.
  • Transparansi: Siapa saja bisa melihat riwayat transaksi di public ledger. Ini mengurangi risiko korupsi atau penggelapan dana.

Pemanfaatan Blockchain Selain untuk Kripto

Meskipun populer karena Bitcoin, sistem blockchain sebenarnya bisa diaplikasikan ke banyak sektor kehidupan kamu, lho.

  • Sektor Perbankan dan Keuangan: Transfer uang antarnegara biasanya butuh waktu berhari-hari dan biaya mahal. Dengan blockchain, proses ini bisa selesai dalam hitungan menit dengan biaya yang jauh lebih murah. 
  • Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain): Kamu bisa melacak asal-usul barang yang kamu beli. Misalnya, memastikan apakah tas branded yang kamu beli asli atau palsu, atau melacak perjalanan makanan dari petani hingga ke piringmu.
  • Layanan Kesehatan: Rekam medis pasien bisa disimpan dalam blockchain. Ini memungkinkan dokter di rumah sakit berbeda untuk mengakses riwayat kesehatanmu dengan cepat dan akurat, tanpa risiko data tersebut bocor atau dimanipulasi.
  • Pemungutan Suara (Voting): Isu kecurangan pemilu bisa diminimalisir. Karena sifatnya yang tidak bisa diubah, suara yang masuk melalui sistem blockchain akan terjaga keasliannya dan transparan.

Masa Depan Blockchain dan Keuangan Kamu

Teknologi terus berkembang dengan cepat. Memahami sistem blockchain adalah langkah awal untuk menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial di era digital. Baik itu untuk sekadar pengetahuan, atau jika kamu berniat mulai berinvestasi aset digital.

Namun, ingatlah bahwa setiap instrumen investasi atau teknologi baru pasti memiliki risiko. Penting bagi kamu untuk selalu melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) dan tidak terjebak tren semata. Pastikan kondisi keuangan dasar kamu sudah kokoh sebelum mencoba instrumen berisiko tinggi.

Kamu bisa mulai dengan merapikan manajemen keuangan pribadi, memiliki asuransi, dan memastikan laporan kredit kamu aman. Kemudian, pastikan kamu mulai berinvestasi kripto di tempat yang aman. Untuk urusan ini, kamu bisa mengandalkan Cermati sebagai penyedia layanan investasi kripto terpercaya. Yuk, mulai perjalanan invetsasi kripto!