Harga Logam Mulia Menjulang Tinggi, Beli Emas atau Beli Perusahaannya?

Berdasarkan data bulan Januari 2026 harga emas global sudah tembus 5600 dolar Amerika per troy ounce atau Rp3.000.000 per gram di Indonesia, naik lebih dari 100 persen setahun terakhir. Kondisi geopolitik, data ekonomi global, dan nilai tukar dolar Amerika turut menjadi penyebab harga logam mulia terutama emas dan perak naik dengan cepat, bahkan sejak awal tahun 2026 harga emas naik 28 persen, perak naik 68 persen.

Sumber: Cermati

Kamis 29 Januari 2026 dini hari the Federal Reserve (Fed) rilis data suku bunga sesuai konsensus yaitu tetap di 3.75%. Fokus investor kini bergeser, bukan lagi pada keputusan Januari, melainkan pada seberapa stabil arah suku bunga AS sepanjang 2026 di kisaran 3.5% - 3.75%. Sehingga, diprediksikan harga emas masih naik menuju Rp3.050.000 – Rp3.300.000 per gram walaupun rupiah kembali menguat setelah mencapai titik terlemahnya sekitar Rp16.976 per 1 dolar Amerika pada pekan lalu (20 Januari 2026).

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan cadangan emas terbesar keempat di dunia berdasarkan data U.S. Geological Survey, Mineral Commodity Summaries (USGS). Tetapi Indonesia justru mengimpor emas sebanyak 30-an ton dari beberapa negara termasuk Singapura untuk mencukupi permintaan dalam negeri yang puluhan ton per tahun, sedangkan PT Aneka Tambang (Antam) hanya mampu produksi 1 ton per tahun. Setelah smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik rampung, dalam perjanjian tanggal 7 November 2025, PTFI akan melakukan jual beli 30 ton emas per tahun kepada Antam selama 5 tahun ke depan, sehingga total yang dijual mencapai 150 ton emas batang kadar 99.99%. Seperti diketahui, total produksi emas Indonesia menempati 10 besar terbanyak di dunia.

Selain memiliki emas, banyak investor melirik emiten tambang emas sebagai pilihan strategis untuk menjaga portofolio mereka. Saham emiten emas umumnya bergerak sejalan, meski tidak selalu simultan dengan harga emas global. Berikut perusahaan atau emiten yang memiliki cadangan emas di Indonesia, bahkan ada yang terbesar di Asia Tenggara:

Emiten Cadangan Emas Kapitalisasi Pasar Net Profit EPS PER BVPS PBV ROE ROA DER CRR Dividen 2025
AMMN 1018.96 ton 507.63 Triliun -2.97 Triliun -54.49 -128.47x 1125.46 6.22x -4.84% -1.85% 158.97% 216.25%  
ANTM 5 ton 106.22 Triliun 5.97 Triliun 331 13.33x 1407.28 3.14x 23.56% 16.57% 38.08% 269.85% 151.77
ARCI 74.45 ton 48.96 Triliun 1.18 Triliun 62.05 31.26x 226.86 8.55x 27.37% 9.85% 177.46% 53.26% 19.81
BRMS 133.6 ton 156.67 Triliun 632.3 Milyar 6 184.02x 145.78 7.58x 4.08% 4.15% 14.97% 124.94%  
EMAS 217.72 ton 113.26 Triliun -370.1 Milyar -30.57 -229.01x 396.53 17.65x -7.69% -4.17% 84.48% 88.74%  
MDKA 57.16 ton 79.29 Triliun -579.26 Milyar -31.5 -102.87x 576.44 5.62x -5.48% -0.83% 308.34% 96.43%  
MEDC 32.7 ton 38.08 Triliun 1.43 Triliun 75.73 20.01x 1444.82 1.05x 5.24% 1.36% 277.34% 136.55% 28.45
PSAB 83.98 ton 15.88 Triliun 430.48 Milyar 22 27.67x 207.67 2.89x 10.44% 4.03% 125.20% 57.32%  
UNTR 108.86 ton 93.07 Triliun 11.48 Triliun 4102 6.08x 26020.78 0.96x 15.76% 8.56% 78.43% 146.94% 567

Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika seharusnya menjadi hal baik bagi pasar modal Indonesia, tetapi kali ini justru IHSG terkoreksi sangat dalam dari titik tertingginya 9174.474 pada 20 Januari 2026 ke 8187.735 pada 28 Januari 2026. IHSG sempat mengalami trading HALT karena turun 8% sehari. Sejak awal 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih 188.23 miliar di pasar reguler dan 3.06 triliun di pasar non reguler.

Sumber: TradingView

Emas telah lama dikenal sebagai aset safe haven, yang artinya cenderung mempertahankan nilainya ketika kondisi pasar sedang tidak stabil. Jadi selain potensi kenaikan harga saham, banyak perusahaan tambang emas yang rutin membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Dividen ini bisa menjadi sumber pendapatan pasif yang menarik, terutama bagi investor jangka panjang. Ditambah lagi, seiring dengan meningkatnya permintaan emas global, perusahaan tambang emas di Indonesia menunjukkan prospek pertumbuhan yang menggembirakan.

Jadi pilih mau beli emas saja atau beli saham perusahaan yang memiliki tambang dan produksi emasnya?