Investor Wajib Tahu 5 Investasi Ini Bisa Cuan dengan Cara Metode Lump Sum

Setiap orang memiliki kesempatan untuk terjun dan sukses di dunia investasi. Dengan investasi, bukan hanya menambah kekayaan saja, tapi investasi juga membuat keuangan di masa depan menjadi lebih aman. Jadi, masa tua akan lebih terjamin tanpa perlu khawatir tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan.

Saat ini, sudah banyak anak muda yang melek investasi. Adapun dua metode investasi yang biasa anak muda pilih, yaitu dengan cara cost averaging (secara berkala) atau lump sum (sekali bayar).

Bagi anak muda yang memiliki jam kerja dan kegiatan padat dan belum bisa melakukan investasi dengan disiplin, maka investasi lump sum ini bisa menjadi solusi yang tepat. Sebab, Anda hanya perlu melakukan penyetoran modal investasi di awal, kemudian tunggu imbal hasil yang didapat.

Bagi Anda investor pemula dan tertarik melakukan investasi lump sum, berikut ada beberapa ulasan yang perlu diperhatikan dalam investasi lump sum agar investasi bisa berjalan sukses dan membuahkan hasil yang lumayan.

Pengertian Investasi Lump Sum


Lump Sum

Lump sum adalah istilah universal yang digunakan dalam dunia keuangan yang menggambarkan cara pembayaran secara tunggal, atau sekali bayar. Biasanya lump sum sering didengar di bidang investasi, asuransi, perbankan, lelang, akuntansi, hingga yang berkaitan dengan pembayaran gaji maupun tunjangan.

Sebagai contoh, Anda kini memiliki uang sebesar Rp100 juta, atau lebih di rekening bank. Apabila uang tersebut adalah uang ‘dingin’ maka Anda bisa menginvestasikan uang tersebut sekaligus dengan penempatan pada beberapa instumen investasi. Hal ini lah yang disebut dengan investasi metode lump sum.

Ketimbang uang Rp100 juta mengendap di rekening bank, bunganya kecil dan akan terpotong dengan biaya administrasi, lebih baik jika Anda menginvestasikan uang Anda agar bertumbuh.

Baca Juga: Ini Investasi yang Cocok untuk Milenial

Instrumen Investasi Lump Sum

Setiap instrumen investasi memang bisa dilakukan dalam sekali bayar. Pada umumnya, ada beberapa instrumen investasi yang sering dipilih para investor dalam metode pembayaran sekali bayar, yaitu:

1. Deposito

Deposito merupakan produk simpanan di bank yang penyetorannya maupun penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu saja. Kini, sudah banyak kalangan yang beralih dari tabungan biasa menjadi deposito karena bunga yang ditawarkan deposito lebih tinggi dari tabungan biasa. Hal ini tentunya membuat nasabah menjadi lebih tertarik.

Namun, perlu diketahui bahwa dana yang disimpan dalam bentuk deposito ini tidak bisa sebelum waktu yang telah ditentukan sejak awal tiba. Jika dilakukan penarikan, maka nasabah harus membayar denda penalti.

Deposito cocok dan aman dipilih bagi Anda yang punya modal besar, dan menginginkan risiko investasi sekecil mungkin. Anda bisa memilih kurun waktu investasi deposito mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan hingga 24 bulan.

2. Obligasi

Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi perjanjian antara perusahaan emiten sebagai peminjam dana dengan investor sebagai pemberi dana. Penerbit obligasi wajib membayarkan bunga secara rutin serta melunasi pokok pinjaman saat jatuh tempo. Obligasi pada umumnya diterbitkan untuk suatu jangka waktu tetap di atas 10 tahun.

Diterbitkannya obligasi dilatarbelakangi upaya menghimpun dana dari masyarakat yang akan digunakan sebagai sumber pendanaan untuk pembangunan. Misalnya saja, pemerintah mengeluarkan surat utang kepada masyarakat untuk membiayai atau menambah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan negara menjadi lebih baik lagi.

Obligasi memiliki tingkat risiko rendah-menengah dan aman apabila Anda kategori pemula ataupun investor professional. Keunggulan obligasi bagi investor bermodal besar, yakni kupon yang dibayarakan akan terasa signifikan.

3. Sukuk

Sukuk adalah surat utang atau bisa juga disebut sebagai obligasi, dimana konsepnya sesuai dengan prinsip syariah. Untuk pengelolaan dananya sukuk telah dipastikan bebas riba. Sukuk juga dijamin bebas masyir atau judi. Dengan demikian, Anda tidak perlu merasa ‘bertaruh’ terhadap dana yang akan Anda investasikan. 

Bukan hanya itu saja, investasi syariah dengan sukuk juga sudah pasti bersifat transparan dan jelas, karena jauh dari gharar atau ketidakjelasan. Tentunya, dengan transparansi tersebut, Anda bisa melihat dengan jelas mengenai kemanakah dana disalurkan.

Setali tiga uang dengan obligasi, sukuk sama dengan obligasi. Semakin besar modal yang diinvestasikan maka keuntungan / imbal hasil yang didapatkan akan terasa. Sukuk termasuk kategori invetasi risiko rendah - menengah dan aman dipilih.

4. P2P Lending

P2P lending merupakan platfoarm yang mempertemukan pemberi pinjaman kepada peminjam. P2P lending ini menjadi salah satu cara investasi yang banyak dipilih kalangan anak muda, sebab hanya sekali setor modal investor bisa mendapatkan bunga yang lumayan tinggi.

Risiko investasi pemodal di p2p lending tergoling menengah-tinggi. Dengan catatan, lakukan investasi p2p lending di platfoarm terpercaya yang telah terdaftar dan mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal ini perlu sebab, investasi di p2p lending tergolong high risk, high return. Anda harus jeli sebelum investasi guna menghindari investasi bodong atau investasi di fintech illegal yang bisa menyebabkan risiko gagal bayar.

5. Saham

Saham adalah sebuah bukti kepemilikian nilai sebuah perusahaan. Artinya pemilik saham adalah pemilik perusahaan. Semakin besar saham yang dimiliki maka semakin besar kekuasaannya di perusahaan tersebut.

Memang pada umumnya, investor saham akan menyetorkan modal investasinya secara berkala tergantung dari harga saham. Namun, bukan berarti saham tidak bisa dilakukan dengan metode lump sum.

Dengan catatan, Anda harus paham bahwa saham merupakan kategori investasi high risk, high return. Apabila Anda memang mahir dan memiliki ilmu pengetahuan tentang saham dan strateginya, maka Anda bisa investasi saham dengan modal besar sekaligus.

Baca Juga: Tips Investasi Pemula Sesuai dengan Usia

Tips Dapat Cuan Tinggi dari Investasi Metode Lump Sum


Investasi dengan metode lump sum

Agar investasi dengan metode lump sum bisa berjalan dengan lancar dan sukses, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan di antaranya:

1. Kumpulkan Modal Investasi

Mengingat investasi lump sum ini dilakukan dalam sekali bayar, maka investor perlu perhatikan seberapa besar modal yang akan disetorkan. Semakin besar modal investasi maka akan semakin besar pila keuntungan yang didapat dan begitupun sebaliknya.

Untuk itu, Anda perlu mengumpulkan uang terlebih dahulu hingga jumlahnya lumayan banyak untuk dijadikan sebagai modal investasi dengan metode sekali bayar. Mudah saja, Anda sisihkan setiap bulannya dari gaji bulanan sekitar 10% - 20%, kemudian jika jumlah uang sudah cukup, maka langsung setorkan ke salah satu instrumen investasi lump sum yang dipilih.

Hindari pinjam uang alias utang uang dari bank untuk di investasikan. Ingat Anda harus paham bahwa investasi yang baik adalah investasi dari modal uang yang tidak digunakan, alias modal ‘ngganggur’ dan bukan uang yang digunakan untuk keperluan seperti dana darurat.

2. Pilih Instrumen Investasi Pendapatan Tetap Rendah Risiko

Setiap instrument investasi memberikan dua jenis imbal hasil, yaitu capital gain atau meningkatknya nilai atau harga instrumen investasi dan imbal hasil pendapatan tetap yang memberikan pembayaran bunga kepada investor secara berkala dan pengembalian pokok pada jatuh tempo.

Bagi Anda yang memilih investasi dengan metode sekali bayar ini, maka pilihlah investasi imbal hasil pendapatan tetap yang rendah risiko. Tujuannya, agar modal yang Anda setorkan tetap aman tanpa harus khawatir mengalami kerugian yang besar.

Adapun instrumen investasi pendapatan tetap yang bisa Anda coba, yaitu deposito dan surat utang yang dikeluarkan oleh negara atau swasta.

3. Jadikan Sebagai Investasi Jangka Pendek hingga Menengah

Investasi lump sum ini cocok dijadikan sebagai investasi jangka pendek. Hal ini dikarenakan, modal yang dibutuhkan tidaklah terlalu besar. Jika dibandingkan investasi jangka panjang yang membutuhkan dana investasi yang lebih besar.

Investasi jangka pendek ini bisa dilakukan lima tahun ke bawah yang bertujuan untuk renovasi rumah, membeli rumah, membeli mobil, liburan ke luar negeri hingga menikah.

Asah Ilmu Investasi Biar Jadi Investor Sukses

Sembarang dalam melakukan investasi hanya akan membuat Anda salah melangkah ambil keputusan. Hal ini tentunya bisa berujung pada kerugian investasi. Untuk itu, sangat penting mempelajari berbagai ilmu investasi melalui diskusi dengan para investor, sosial media atau situs-situs yang membahas tentang investasi. Hal ini tentunya akan membuat Anda menjadi investor sukses, investasi bisa berjalan lancar dan keuntungan mengalir deras ke kantong Anda.

Baca Juga: Melek Investasi: Simak Beda Investasi Saham, Reksa Dana, SBR, ORI, dan Deposito