Mengenang Jakob Oetama, Jurnalis Pendiri Kompas dan Gramedia yang Ingin Mencerdaskan Bangsa

Nama Jakob Oetama dikenal melegenda sebagai tokoh pers nasional. Dr. (HC) Drs. Jakobus Oetama ialah wartawan, guru, dan pengusaha media massa yang menjadi salah satu penggagas Surat Kabar Kompas.

Semasa hidupnya, Jakob Oetama yang akrab disapa dengan inisial JO ini pernah menjadi Presiden Direktur Kompas Gramedia, Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN, dan juga Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia. Bersama sahabat karibnya, Petrus Kanisius Ojong, JO mendirikan Harian Kompas.

Seperti diketahui, Jakob Oetama membangun perusahaan swasta konglomerat Kompas Gramedia, Grid Network, KG Media, Magentic Network, dan lainnya. Jakob menerima Doktor Honoris Causa di bidang Komunikasi dari Universitas Gajah Mada 2003. Ia juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama di tahun 1973 dari Presiden Soeharto. 

Di tahun 2021, Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia memberikan penghargaan Pengabdian Seumur Hidup kepada Jakob Oetama. Ia menutup usia pada tahun ke-88 dalam hidupnya, tepatnya tanggal 9 September 2020, di Jakarta. Kini Lilik Oetomo putranya telah menggantikan mendiang Jakob Oetama dan menjadi CEO Kompas Gramedia sejak 2015.

Baca Juga: Menelusuri Rekam Jejak Pengusaha Eddy Sariaatmadja, Pemilik SCTV yang Hartanya Triliunan Rupiah

Profil Jakob Oetama Kompas

Jakob Oetama (Sumber: megapolitan.kompas.com)

Jakob Oetama lahir dari keluarga sederhana di Desa Jowahan, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 September 1931. Ia adalah putra pertama dari orang tua yang bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung, yakni Soenarko, Prayogo, dan Hendroatmodjo.

Oetama pernah bercita-cita menjadi pastor sewaktu masih belia. Ia menamatkan pendidikan dasar di Yogyakarta dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Seminari (St. Petrus Canisius Mertoyudan) di tahun 1951. Namun belakangan cita-cita tersebut tak jadi diteruskannya.

Jadi Guru hingga Beralih Profesi ke Wartawan

JO lantas meneruskan perjalanan hidupnya dan bekerja sebagai guru. Sebelum meneruskan pendidikan di Sekolah Guru Jurusan B-1 Ilmu Sejarah sampai lulus di tahun 1956, ia sempat bekerja. 

Jakob bekerja sebagai guru di SMP Mardi Yuana dan SMP Van Lith. Ia bahkan sempat juga bekerja sebagai redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Saat itulah ia mulai mempertimbangkan ulang cita-citanya.

Hingga kemudian Jakob Oetama mantap untuk beralih profesi menjadi wartawan. Ia kembali menimba ilmu di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta (1959). JO pun menyelesaikan study Ilmu Komunikasi Massa FISIP Universitas Gadjah Mada (1961). 

Berikut selengkapnya riwayat pekerjaan Jakobus Oetama di masa hidupnya:

  • Guru di SMP Mardi Yuana, Cipanas (1952 – 1953).
  • Guru di Sekolah Guru Bantu (SGB), Bogor (1953 – 1954).
  • Guru di SMP Van Lith, Jakarta (1954 – 1956).
  • Redaktur di mingguan Penabur (1956 – 1963).
  • Ketua Editor di majalah bulanan Intisari.
  • Ketua Editor di harian Kompas.
  • Pemimpin Umum/Redaksi di Kompas.
  • Presiden Direktur di Kompas Gramedia.
  • Presiden Komisaris di Kompas Gramedia.

Mendirikan Gurita Bisnis Kompas Group

Harian Kompas sudah lama diketahui sebagai salah satu pemain lama di dunia Jurnalistik Indonesia. Surat kabar lawas yang didirikan para jurnalis senior Indonesia ini terbit setiap hari dan telah eksis sejak 1965.

Surat kabar ini dicetak oleh PT Kompas Media Nusantara, suatu perusahaan media yang telah berdiri sejak 28 Juni 1965. Adapun versi elektroniknya, Kompas.com telah meluncur sejak 1995 dan Kompas.id eksis mulai 2017.

Kompas Group mencakup Gramedia, Kompas TV, Kontan, Harian Kompas, Grid.id, Tribunnews.com, Kompas.com, Gramedia Printing, dan masih banyak lagi anak perusahaannya. 

Keseluruhan unit bisnis/anak perusahaannya terbilang bervariasi seperti lembaga pendidikan, media massa cetak dan juga daring, percetakan, toko buku, penerbitan, bentara budaya, radio, stasiun televisi, hotel, penyelenggara acara, dan juga universitas.

Kompas adalah Nama Pemberian Bung Karno

Awal mula berdirinya Kompas dan Gramedia tak lepas dari kehadiran Majalah Intisari di tahun 1963. Saat itu, Jakob Oetama masih merintis awal kariernya sebagai wartawan. Ia bersama sahabatnya, P.K. Ojong kemudian mendirikan Intisari. 

Kompas kemudian menyusul lahir pada tahun 1965. Tak banyak yang tahu, rupanya nama Kompas diusulkan langsung oleh Presiden Soekarno. Tadinya, koran yang didirikan JO dan Ojong akan dinamai Bentara Rakyat, namun belakangan Presiden Soekarno menyodorkan nama Kompas.

“Aku akan memberi nama yang lebih bagus...Kompas! Tahu, tokh, apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba,” tutur Bung Karno, sebagaimana dikutip dari halaman Kompas.

Akhirnya nama itu pun disetujui oleh semua pihak dan sisanya adalah sejarah. Belakangan, pada tahun 1970, nama Kompas Gramedia lahir dan terus memajukan bisnisnya di berbagai bidang sampai sekarang. 

Perusahaan yang beralamat di Jl. Palmerah Selatan 22-26, Jakarta, ini menjadi induk untuk unit usaha KG Media (Kompas Media Nusantara, Gramedia Pustaka Utama, dll), Dyandra Promosindo, Universitas Multimedia Nusantara, dan Santika Indonesia Hotel & Resorts. Mereka pun mengkreasikan produk berupa properti, media, yayasan, konsumen tisu, dan event organizer.

Baca Juga: Menapaki Suksesnya Kiprah Budiono Darsono, Pendiri Portal Berita Kenamaan Detik.com

Aktif Berorganisasi dan Melahirkan Karya Tulis

Di sepanjang hidupnya, Jakob Oetama pernah bergabung dengan berbagai organisasi penting yang berhubungan dengan Pers dan Jurnalistik. Berikut posisi Jakob Oetama selama mendapatkan pengalaman berorganisasi:

  • Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
  • Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia.
  • Anggota Dewan Penasihat PWI.
  • Anggota DPR Utusan Golongan Pers.
  • Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar.
  • Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai, Amerika Serikat.
  • Anggota Dewan Federation Internationale des Editeurs de Journaux (FIEJ).

Adapun sejumlah karya tulis yang pernah dibuatnya antara lain yaitu:

  • Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin (skripsi di Fisipol UGM tahun 1962).
  • Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).
  • Bersyukur dan Menggugat Diri (Penerbit Buku Kompas, 2009).
  • Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001).

Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata

Jakob Oetama wafat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Jenazahnya pun diserahterimakan kepada negara melalui Ketua MPR. 

Saat itu, dokter spesialis penyakit dalam yang menanganinya memastikan bahwa beliau negatif virus Corona (Covid-19). Pihak rumah sakit telah dua kali melakukan pemeriksaan PCR serta swab Covid, dan hasilnya negatif.

Sewaktu dirinya berpulang, nama Jakob Oetama langsung menjadi trending topic di media sosial Twitter. Ia meninggal pada 9 September 2020 akibat gangguan multiorgan dan penyakit komorbid. 

Meski sempat membaik saat perawatan sekitar sebulan lamanya, namun faktor usia senja dan berbagai hal membuat kondisi kesehatannya kian menurun. Tak pelak, JO pun mengalami masa kritis lalu jatuh ke dalam koma. 

Kekayaan Jakob Oetama 

Sepeninggal Jakob Oetama, kepemimpinan Kompas jatuh ke tangan putra pertamanya, Lilik Oetomo. Jakob Oetama diketahui mempunyai dua orang anak, yakni Lilik Oetomo dan Irwan Oetama, serta seorang cucu bernama Ery Erlangga.

Sebagai owner media Kompas, nama Jakob Oetama dan keluarga menjadi salah satu orang paling kaya di Indonesia. Apalagi setelah bisnisnya kini kian melebar ke berbagai bidang. Kompas Gramedia diketahui memiliki stasiun televisi sendiri, yakni Kompas TV (2015).

Namun tak hanya berhenti di bisnis media massa saja. Bisnisnya terus merambah ke ranah penerbitan, manufaktur, hotel, resort, event organizer, dan juga pendidikan. 

Berkat keseluruhan bisnisnya yang moncer, Jakob Oetama mengantongi kekayaan hingga 1,65 miliar USD—jumlah yang setara dengan Rp24 triliun. Namanya masuk dalam list orang terkaya Indonesia versi Globe Asia.

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dalam Nilai Humanisme Transendental

Pada tahun 2016, Jakob berusia 85 tahun dan telah menikmati hasil kerja kerasnya. Kompas memang sempat diberedel pada masa pemerintahan Orde Baru. 

JO juga harus berupaya lebih keras sewaktu sahabatnya, Ojong, meninggal. Hal itu praktis membuat JO mesti mempelajari seluk-beluk bisnis, selain mengurus perihal redaksional.

Namun semuanya berbuah manis. Karena Harian Kompas yang telah dibangun dan diperjuangkannya bertahun-tahun telah berkembang menjadi salah satu industri raksasa dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Baginya, kekayaan bukanlah target karena tujuan utamanya bukan hal itu. Sebaliknya, Oetama berpegang teguh pada prinsip dan nilai Humanisme Transendental. 

Nilai ini telah ditanamkannya sejak lama dalam Kompas Gramedia, dan terus menjadi landasan perusahaan. Falsafah hidup dan idealisme JO diterapkan dalam setiap gerakan usaha Kompas Gramedia, yang mana tujuan utamanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemimpin yang Tidak Angkuh dan Dijadikan Panutan

Jakob Oetama, Pemimpin yang Tidak Angkuh dan Dijadikan Panutan (Sumber: www.viva.co.id)

JO ialah sosok sederhana yang senantiasa mengutamakan rasa syukur, kejujuran, integritas, serta humanisme. Di mata para karyawannya, ia adalah pemimpin yang nguwongke (memanusiakan manusia) serta tak pernah jumawa menonjolkan jabatan atau statusnya.

Corporate Communication Director Kompas Gramedia, Rusdi Amral dalam siaran pers sewaktu JO meninggal memberikan ungkapan terkait sosok Jakob Oetama.

“Jakob Oetama adalah legenda, jurnalis sejati yang tidak hanya meninggalkan nama baik, tetapi juga kebanggaan serta nilai-nilai kehidupan bagi Kompas Gramedia. Beliau sekaligus teladan dalam profesi wartawan yang turut mengukir sejarah jurnalistik bangsa Indonesia. Walaupun kini beliau telah tiada, nilai dan idealismenya akan tetap hidup dan abadi selamanya.”

Baca Juga: Begini Kisah Sukses James Riady, Chairman dari Lippo Group