Tips Beli Perhiasan Emas untuk "Investasi" Biar Tak Boncos: Panduan Jujur
Mari kita mulai dengan sebuah brutally honest truth (kebenaran yang brutal). Banyak orang Indonesia yang masih menganggap membeli kalung atau gelang emas adalah bentuk investasi terbaik. Padahal, jika kita menggunakan kacamata perencana keuangan profesional, perhiasan emas masuk ke dalam kategori Aset Konsumtif yang Memiliki Nilai Sisa, bukan instrumen investasi murni.
Mengapa demikian? Jawabannya ada pada dua komponen biaya siluman:
-
Ongkos Bikin (Making Charge): Saat kamu membeli perhiasan, kamu membayar biaya desain, peleburan, dan kerumitan model. Biaya ini bisa mencapai 10% hingga 20% dari harga total. Parahnya, saat kamu menjual kembali perhiasan tersebut, toko emas tidak akan pernah menghitung making charge ini. Mereka hanya membeli berat emasnya saja. Uang ongkos bikin kamu hangus seketika.
-
Spread (Selisih Harga Jual-Beli) yang Lebar: Tidak seperti emas batangan (Logam Mulia) yang spread-nya transparan dan relatif kecil, potongan harga (buyback penalty) untuk perhiasan sangat bervariasi tergantung kebijakan toko, biasanya berkisar antara 10% hingga 25% dari harga beli.
Lalu, apakah ini berarti kamu dilarang membeli perhiasan? Tentu saja tidak. Tampil menawan di acara pernikahan atau arisan adalah kebutuhan sosial (social currency). Namun, agar uang yang kamu keluarkan tidak menguap begitu saja, kamu wajib menerapkan 5 tips beli perhiasan emas berikut ini agar kerugian bisa ditekan seminimal mungkin.
Tips Cerdas Membeli Perhiasan Emas agar Tidak Rugi
Jika kamu sudah menetapkan niat untuk pergi ke toko emas akhir pekan ini, pastikan kamu membekali diri dengan aturan main (rules of the game) berikut:
1. Pahami Jebakan Model: Pilih yang Solid dan Klasik (Timeless)
Harga emas perhiasan
Semakin rumit desain sebuah perhiasan, semakin mahal making charge-nya. Kalung dengan model anyaman tiga dimensi yang penuh detail mungkin terlihat sangat cantik, tetapi itu adalah mimpi buruk saat dijual kembali.
Selain itu, perhiasan yang rumit dan berongga lebih rentan penyok, patah, atau putus. Jika perhiasan rusak, toko emas akan memotong harga beli kembali (buyback) kamu dengan sangat kejam (dianggap sebagai emas rongsok/leburan).
Action Plan: Belilah perhiasan dengan model padat (solid), klasik, dan minim ukiran rumit. Gelang bangle solid atau kalung rantai standar seperti model Milano atau Nori adalah pilihan paling aman untuk mempertahankan resale value (nilai jual kembali).
2. Jangan Terobsesi dengan 24 Karat (Kadar Emas Terbaik untuk Perhiasan)
Banyak pemula salah kaprah meminta perhiasan emas murni 24 karat (kadar 99,99%). Secara keilmuan metalurgi, emas murni adalah logam yang sangat lunak. Jika dibuat cincin atau gelang, ia akan dengan mudah berubah bentuk (penyok) hanya karena tekanan genggaman tangan, dan pengaitnya akan mudah patah. Untuk perhiasan yang dipakai sehari-hari, emas harus dicampur dengan logam lain (seperti tembaga atau perak) agar keras dan tahan lama. Kadar Sweet Spot:
-
18 Karat (Kadar 75%): Ini adalah standar internasional (sering disebut emas tua). Keseimbangan sempurna antara daya tahan fisik dan nilai intrinsik emas yang masih tinggi.
-
Hindari Emas Muda: Emas dengan kadar di bawah 42% (seperti 37,5% atau 300) sangat rentan menghitam (oksidasi) karena terlalu banyak campuran tembaganya, dan nilai jual kembalinya sangat jatuh.
Baca Juga: Investasi Emas Batangan dan Aturan Pajak Penjualan
3. Hindari Batu Permata, Kristal, atau Zirkonia Berlebihan
Cek kondisi emas perhiasan
Cincin emas dengan taburan batu kristal putih (Zirconia) yang menyerupai berlian memang memanjakan mata. Tapi, ini adalah jebakan terbesar bagi investor perhiasan amatir. Saat kamu membeli, berat total yang ditimbang oleh toko termasuk berat batu kristal tersebut.
Kamu membayar batu kaca dengan harga emas per gram! Namun, saat kamu menjualnya kembali, toko emas akan mencongkel batu tersebut (atau menguranginya dari estimasi timbangan) karena batu zircon tidak memiliki nilai jual kembali di pasar sekunder.
Pengecualian: Kecuali jika batu tersebut adalah berlian asli bersertifikat internasional (GIA), hindari perhiasan dengan batu-batuan besar jika tujuanmu adalah menjaga nilai aset.
4. Simpan "Surat Sakti" (Kuitansi Pembelian) Seperti Menjaga Nyawa
Di industri perhiasan emas Indonesia, kuitansi pembelian dari toko (sering disebut "Surat Emas") adalah dokumen hukum yang sangat krusial.
Surat ini berisi detail kadar, berat, harga beli awal, dan stempel toko. Jika kamu menjual kembali perhiasan ke toko tempat kamu membelinya dengan membawa surat, potongannya biasanya "hanya" sekitar 10% hingga 15%. Namun, jika kamu menjualnya tanpa surat atau menjualnya ke toko lain, mereka akan menganggap itu emas tidak jelas asal-usulnya. Mereka harus mengujinya dengan cairan kimia, meleburnya, dan akan memotong harga jualmu hingga 25% - 30%!
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Investasi Emas Perhiasan
5. Pahami Rumus Keadilan Harga: Hitung Sebelum Membayar
Toko emas sering kali memberikan harga borongan (lump sum) tanpa merinci berapa harga emas murninya dan berapa making charge-nya. Jangan mau dibodohi. Sebagai Smart Consumer, kamu harus tahu cara menghitungnya.
Simulasi Cara Hitung: Kamu ingin membeli gelang 18K (kadar 75%) seberat 10 gram. Harga emas murni 24K hari ini di pasaran adalah Rp1.200.000 per gram.
-
Nilai emas intrinsik di gelangmu: 75% x Rp1.200.000 = Rp900.000 per gram.
-
Nilai emas total (10 gram): Rp9.000.000.
-
Toko menjual gelang itu seharga Rp10.500.000.
-
Artinya, selisih Rp1.500.000 adalah making charge dan margin keuntungan toko. Jika margin toko lebih dari 20% dari nilai intrinsik emasnya, tinggalkan toko tersebut dan cari toko lain yang lebih wajar.
Rawat Aset Perhiasan Emas
Bagi kamu yang berniat melakukan investasi dalam bentuk perhiasan emas, jangan hanya mempertimbangkan saat membelinya saja. Tapi kamu juga perlu melakukan perawatan aset perhiasan emas tersebut dengan benar dan tepat. Hal ini untuk menghindari terjadinya goresan, patah atau lainnya yang membuat nilai emas menjadi turun. Simpanlah aset perhiasan dengan di kotak, dan pastikan kamu tidak mencampur perhiasan agar warna emasnya tetap terjaga. Dengan begitu, nilai investasi bisa menguntungkan.
Baca Juga: Sudah Canggih, Tabungan Emas Digital untuk Para Millenial yang Hobi Investasi Emas