Mengenal Karakteristik Dinar dan Dirham Serta Potensi Investasinya

Dalam perkembangan peradaban manusia, uang memiliki peran yang sangat penting, khususnya dalam hal perdagangan dan ekonomi. Di berbagai belahan dunia sendiri, ada banyak mata uang atau alat pertukaran yang sering digunakan oleh masyarakat di zamannya. Di antara beragam alat pertukaran tersebut, Dinar dan Dirham menjadi mata uang yang menarik untuk dicermati.

Dengan nilai sejarah panjang serta berkaitan dengan peradaban di masa kejayaan Islam, baik Dinar dan Dirham ini nyatanya masih populer dijadikan aset investasi di zaman sekarang. Pasalnya, kedua mata uang tersebut dicetak menggunakan dua jenis logam mulia yang masih bernilai tinggi saat ini. 

Nah, untuk mengetahui selengkapnya tentang uang Dinar dan Dirham, termasuk sejarah singkat dan potensinya sebagai instrumen investasi di zaman sekarang, simak penjelasan berikut ini.  

Apa Itu Dinar?

Di zaman sekarang, Dinar dikenal sebagai koin emas yang dicetak dengan standar ukuran khusus, yaitu 4,25 gr dan tingkat kemurnian 24 karat. Di zaman dahulu, Dinar digunakan sebagai alat pembayaran resmi, khususnya di kawasan yang dipengaruhi peradaban dan kekhalifahan Islam. 

Dari segi bahasa, Dinar berasal dari bahasa Latin, “denarius”, yaitu koin Romawi di zaman dulu. Penggunaan Dinar sebagai mata uang seiring waktu mungkin telah ditinggalkan dan digantikan dengan uang konvensional. Meski begitu, standar berat dan kadar kemurniannya tetap dijaga hingga sekarang untuk menjamin kredibilitasnya sebagai salah satu bentuk aset investasi emas saat ini.  

Sejarah Uang Dinar

Sejarah penggunaan Dinar sebagai mata uang resmi dimulai di zaman kekhalifahan Umayyah pada pemerintahan Khalifah Abdul Malik di abad ketujuh Masehi. Penggunaan Dinar di zaman tersebut dilakukan untuk mengganti koin asal Persia dan Romawi, serta untuk mencerminkan identitas peradaban Islam.

Seiring berjalannya waktu, Dinar semakin luas digunakan sebagai koin untuk bertransaksi secara luas, khususnya di kawasan Timur Tengah, sebagian Eropa Selatan, hingga ke Afrika Utara. 

Meski penggunaannya tidak sepopuler dulu, tapi Dinar masih memiliki pengaruh besar di sejumlah budaya serta tradisi Islam. Bahkan, di zaman sekarang, Dinar masih menjadi salah satu jenis investasi emas yang dipilih oleh kalangan investor tertentu. 

Apa Itu Dirham?

Di sisi lain, Dirham adalah koin perak dan juga berperan penting pada sejarah ekonomi dan perdagangan Islam. Sama halnya dengan Dinar, Dirham juga merupakan alat pertukaran yang secara luas digunakan di zaman kekhalifahan Islam zaman dahulu. Kata Dirham sendiri berasal dari kata ”drachma”, yaitu mata uang yang digunakan di peradaban Romawi dan Yunani Kuno. 

Berbeda dengan Dinar, Dirham dicetak dengan bahan perak dan standar berat 2,975 gr. Standar tersebut pun masih tetap dijaga hingga sekarang dan menjadi salah satu ukuran perak hingga zaman sekarang. 

Sejarah Uang Dirham

Meski populer digunakan di zaman kekhalifahan Islam, tapi sejarah penggunaan Dirham secara umum jauh lebih panjang. Di era kekaisaran Persia Sassanid, masyarakat telah menggunakan koin perak bernama “drahm” untuk bertransaksi. Setelah itu, koin perak tersebut diadaptasi dan berlanjut digunakan dengan sebutan Dirham. 

Karena dibuat dari bahan perak yang lebih mudah ditemukan dibanding emas, Dirham lebih sering digunakan untuk bertransaksi sehari-hari. Walaupun begitu, baik Dinar dan Dirham sama-sama menjadi cerminan kekuatan ekonomi dan simbol kekayaan di peradaban zaman dulu.

Mulai Investasi Emas Sekarang!

Peran Dinar dan Dirham dalam Ekonomi dan Perdagangan

Pada sistem perekonomian Islam tradisional, baik Dinar dan Dirham mempunyai peran penting sebagai mata uang dan alat tukar dengan nilai standar. Keduanya dikelompokkan menjadi mata uang karena dibuat dari logam mulia yang bernilai, seperti emas dan perak. 

Hal tersebut berbeda dibanding mata uang modern yang dibuat dengan bahan kertas yang umumnya tak mempunyai nilai intrinsik. Di samping itu, penggunaan uang kertas hanya didasarkan kepada kepercayaan publik, sistem moneter, serta kebijakan pemerintah.  

Dengan bahan dasar emas dan perak, salah satu kelebihan Dinar atau Dirham adalah nilainya cenderung lebih stabil, bahkan dalam jangka waktu yang sangat lama. Meski kondisi ekonomi sedang tidak stabil dan mengalami inflasi, nilai Dinar atau Dirham masih bisa lebih terjaga. Hal tersebut secara tidak langsung menjadikan keduanya sebagai alternatif aset lindung nilai yang menarik bagi pemiliknya. 

Penggunaan Dinar dan Dirham di Era Modern

Dibuat dengan bahan dasar emas serta perak, Dinar dan Dirham masih memiliki karakteristik logam mulia yang berharga. Karenanya, kedua mata uang tersebut masih bisa ditemui dan digunakan di era modern seperti sekarang. Namun, secara umum, penggunaannya hanya dibatasi pada hal-hal berikut ini.

  • Aset Koleksi

    Baik Dinar atau Dirham masih kerap dianggap sebagai barang langka, bahkan menjadi barang koleksi favorit sebagian kalangan kolektor. Tidak hanya karena dibuat dari bahan berharga, tapi tidak sedikit Dinar dan Dirham dibuat dengan ornamen yang indah yang membuatnya cocok dijadikan sebagai hiasan. 

  • Instrumen Investasi

    Salah satu penggunaan paling populer dari Dinar atau Dirham di zaman modern adalah sebagai instrumen investasi. Untuk Dinar, kandungan emas murninya membuat aset tersebut memiliki nilai yang cenderung stabil dan mengikuti acuan harga emas dunia. Hal serupa juga berlaku pada Dirham yang dibuat dari perak murni yang nilainya juga cukup stabil mengikuti acuan harga logam mulia dunia sehingga cocok dipilih oleh investor pemula atau konservatif.

  • Kado, Maskawin, dan Cendera Mata

    Khususnya di tradisi Islam, Dinar atau Dirham juga masih sering dijadikan sebagai kado, mas kawin, ataupun cendera mata. Selain karena nilainya yang tinggi, penggunaan Dinar atau Dirham sebagai hadiah pernikahan juga masih sering menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat Muslim. Sehingga, kedua jenis barang berharga ini masih sering dicari hingga di era sekarang. 

Dinar dan Dirham di Dunia Investasi

Meski sudah tidak populer dijadikan alat tukar, baik Dinar dan Dirham masih dianggap sebagai aset investasi menarik, bahkan bagi investor di zaman sekarang. Karena terbuat dari emas, Dinar memiliki nilai yang cenderung meningkat menyesuaikan perubahan harga emas pada pasar global. 

Hal serupa juga berlaku pada Dirham yang terbuat dari perak dan harganya dipengaruhi harga perak dunia. Sehingga, kedua koin ini masih kerap dijadikan sebagai sarana investasi bagi investor untuk melindungi nilai kekayaannya, ataupun untuk menabung jangka panjang. 

Tak Sekadar Barang Kuno, Dinar dan Dirham Masih Dianggap Berharga dan Digunakan 

Jika melihat sejarah, Dinar atau Dirham telah menjadi simbol kekayaan dan ekonomi, terutama di era kekhalifahan Islam. Meski zaman sudah berubah, tapi kedua mata uang tersebut masih dianggap berharga dan digunakan untuk beberapa hal tertentu di era modern seperti sekarang, misalnya instrumen investasi, barang koleksi, dan kado atau maskawin. Sehingga, nilainya pun masih tergolong stabil dan diminati oleh kalangan masyarakat tertentu.