Memahami Istilah Valuasi Saham Perusahaan, Indikator, dan Jenis Rasio untuk Mengukurnya

Di dunia investasi, ada banyak sekali istilah yang menarik untuk dibahas dan juga penting untuk dipahami. Khususnya pada sektor saham, kamu selaku investor perlu mencari tahu berbagai macam informasi yang mampu membantumu menyusun rencana dan mengambil keputusan investasi yang optimal. 

Salah satu istilah yang wajib untuk diketahui dalam dunia investasi adalah tentang valuasi saham. Pada dasarnya, valuasi saham bisa dipahami sebagai penilaian atas harga dari saham sebuah perusahaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah nilainya sesuai dengan nilai intrinsik perusahaan atau tidak. 

Tentunya, istilah valuasi ini memiliki arti yang berbeda dengan keuntungan atau profit dalam investasi saham. Sebab, terkait valuasi saham ini dikenal pula istilah seperti indikator dan jenis rasio untuk mengukurnya agar mampu mengoptimalkan rencana menanam modal. 

Nah, jika kamu ingin tahu selengkapnya tentang apa itu valuasi saham, indikator, dan beragam jenis rasio untuk menghitungnya, simak penjelasan berikut ini. 

Selengkapnya tentang Valuasi Saham

Dalam dunia investasi saham, salah satu istilah yang penting untuk dipahami adalah valuasi saham. Secara umum, istilah ini bisa dipahami sebagai proses penilaian pada sebuah saham untuk mengetahui kesesuaian harganya dengan nilai intrinsik perusahaan. 

Dengan kata lain, valuasi saham adalah metode penilaian untuk mengetahui mahal atau murahnya harga dari saham pada pasar. Tentunya, sebelum mengambil keputusan untuk menanam modal dan membeli saham sebuah perusahaan, kamu selaku investor harus lebih dulu memahami istilah ini. 

Pengertian lain dari valuasi saham adalah suatu proses penilaian dan dilakukan pada harga saham sebuah perusahaan. Hal tersebut dilakukan untuk memberi tahu investor apakah harga saham dari sebuah perusahaan sesuai nilai intrinsiknya ataukah tidak. Jadi, investor pun memiliki dasar pertimbangan untuk menentukan apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak. 

Bagi yang belum tahu, istilah nilai intrinsik dalam saham perusahaan mengacu pada nominal yang bakal didapatkan oleh investor apabila perusahaan dijual. Dengan menggunakan analisis valuasi saham, investor bisa dengan lebih mudah melakukan perbandingan terkait harga pasar dari saham yang diterbitkan oleh perusahaan dan nilai intrinsik alias nilai kewajarannya. 

Jadi, dengan melakukan perhitungan valuasi saham ini, kamu bisa mengetahui apakah nilai saham yang ditawarkan perusahaan termasuk wajar ataukah tidak. Hal ini bisa menjadi dasar pertimbangan untuk memutuskan akan membeli saham perusahaan tersebut atau tidak. Jika memang valuasi saham tidak sebanding dengan nilai intrinsik saham, artinya saham perusahaan tersebut kurang ideal untuk dibeli. 

Di samping itu, perlu dipahami jika informasi seputar valuasi saham ini berbeda dengan harga saham secara umum. Pasalnya, harga saham merupakan nominal harga saham yang akan dibeli. Sementara valuasi saham adalah penilaian pada harga saham tersebut dan perbandingannya dengan nilai intrinsik perusahaan penerbitnya. 

Mengenai valuasi saham sendiri, istilah ini bisa dibagi ke dalam 2 jenis. Kedua jenis valuasi saham tersebut adalah indikator valuasi saham serta rasio valuasi saham, di mana keduanya mampu membantu investor dalam menilai potensi dari saham yang hendak dibelinya. 

Baca Juga: Dividen Berdatangan, Kenali Istilah Cum Date, Ex Date, Recording Date, dan Payment Date

Memahami Indikator dari Valuasi Saham

Ketika menganalisis valuasi saham, terdapat 3 pedoman yang penting untuk kamu gunakan agar bisa memahami indikator yang muncul. Berikut adalah penjelasan dari ketiga pedoman dalam memahami indikator valuasi saham. 

  • Jika nilai intrinsik lebih besar dari harga pasar, bisa dipahami jika saham dijual dengan harga lebih murah atau istilahnya undervalued. Dalam kondisi ini, saham masih layak dan ideal untuk dibeli ataupun dipertahankan apabila kamu sudah memilikinya. 
  • Sementara jika nilai intrinsik lebih rendah dibanding harga pasar, hal tersebut mengindikasikan saham dijual dengan harga yang lebih mahal dari seharusnya atau overvalued. Pada kondisi tersebut, investor dianjurkan untuk tak melakukan pembelian saham. Jika sudah memiliki saham, kondisi ini bisa menjadi waktu yang pas untuk menjualnya agar bisa memperoleh profit dan capital gain yang menjanjikan. 
  • Lalu, apabila nilai intrinsik setara dengan harga pasar, kondisi ini mengindikasikan jika nilai saham dari perusahaan masih berada di kategori wajar atau istilahnya fair. Meskipun begitu, tidak sedikit investor yang menganggap jika saham dalam kategori ini kurang menarik. 

Baca Juga: Istilah Unik di Dunia Investasi, Ini Pengertian Odd Lot dan 3 Tips Mengelolanya

Beragam Jenis Rasio untuk Mengetahui Valuasi Saham

Tak hanya indikatornya, kamu juga perlu memahami bagaimana cara menganalisis valuasi saham. Agar bisa menganalisis valuasi saham, ada sejumlah rasio yang penting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan penggunaannya. Berikut adalah penjelasan dari rasio untuk menghitung valuasi saham. 

Jenis Rasio Keterangan

Price Earning Ratio atau PER

Biasa disingkat sebagai PER, rasio price earning dibutuhkan calon investor guna menggambarkan harga dari saham perusahaan lalu membandingkannya dengan keuntungan yang diperoleh. Pada perbandingan tersebut, kamu perlu menempatkan sejumlah perusahaan dari sektor bisnis yang sama. 

Apabila nilai PER dari perusahaan yang diincar lebih rendah dibanding rerata industri yang sama, artinya harga sahamnya terbilang murah. Rumus hitung PER adalah nilai saham dibagi dengan laba atau keuntungan per saham.

Earning Per Share atau EPS

Bisa juga disebut sebagai keuntungan per saham, earning per share atau EPS adalah laba perusahaan pasca dibagi dengan jumlah lembar saham. Apabila nilai EPS terus meningkat seiring waktu, artinya perusahaan tengah bertumbuh dan berkembang dengan menjanjikan.

Alasannya karena laba atau keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut terus meningkat. Untuk menghitung EPS, kamu perlu membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah lembar sahamnya. 

Price to Book Value atau PBV

Selanjutnya ada PBV, yaitu rasio harga dengan nilai buku sebuah perusahaan. Melalui perhitungan rasio ini, kamu bisa mengetahui nominal kelipatan dari nilai pasar saham dan aset ataupun kekayaan bersih dari perusahaan yang bersangkutan. 

Perhitungan PBV sering dilakukan oleh investor agar mendapat saham dengan harga murah alias undervalued. Investor membandingkan nilai PBV saham terhadap rerata nilai rasio tersebut di perusahaan lain dengan sektor sama. PBV bisa diketahui dengan cara membagi harga saham dengan nilai buku tiap saham.

Returns on Equity atau ROE

ROE adalah rasio yang bisa disebut juga dengan rasio profitabilitas dan menjadi tolok ukur agar mengetahui potensi perusahaan dalam memperoleh imbal hasil dari investasi yang dilakukannya. Untuk investor, rasio ini berguna dalam mengetahui keuntungan yang diperoleh dari tiap 1 rupiah modal yang ditanamnya. Nilai ROE ditunjukkan dengan bentuk persentase dari perhitungan rumus keuntungan bersih pasca pajak dibagi dengan ekuitas dari pemilik saham. 

Debt to Equity Ratio atau DER

Jenis rasio valuasi saham ini berguna untuk mengetahui berapa nominal utang yang ditanggung perusahaan dibanding total ekuitasnya. Nominal utang harus dihitung karena termasuk sebagai risiko perusahaan. DER bisa dihitung dengan cara membagi total utang perusahaan dengan total ekuitasnya. 

Price/Earnings to Growth atau PEG

Selain itu ada jenis rasio Price/Earning to Growth atau PEG yang digunakan untuk menilai harga wajar dari saham mengacu dari potensi kenaikan keuntungan perusahaan di waktu mendatang. Rumus untuk menghitung PEG ialah harga saham sekarang dibagi dengan laba atau keuntungan per saham. 

EBITDA dan EV

EBITDA yang menjadi singkatan dari Earning Before Interest, Tax, Depreciation, & Amortization dan EV atau Enterprise Value adalah jenis rasio valuasi saham lain yang juga tak kalah penting kamu pahami. Rasio ini berguna untuk mengetahui nilai perusahaan terkait kemampuannya menghasilkan laba atau kas operasional. Dengan begitu, calon investor dapat mengetahui apakah pihak perusahaan masuk kategori mahal ataukah tidak. 

Rumus untuk menghitung EV adalah menambah kapitalisasi pasar dengan total utang, lalu menguranginya dengan kas serta setara kas. Sementara rumus hitung EBITDA adalah laba sebelum dikenai beban bunga, depresiasi, pajak, serta amortisasi. 

Tepat Ambil Keputusan Investasi dengan Mempelajari Valuasi Saham

Itulah penjelasan dari apa itu valuasi saham, cara memahami indikator, dan beragam jenis rasio untuk menilainya. Dengan mempelajari valuasi saham, kamu bisa memperoleh bahan pertimbangan yang mampu memudahkan pengambilan keputusan investasi. Jadi, potensi untuk mengambil keputusan investasi yang tepat akan menjadi lebih tinggi saat kamu memahami valuasi saham ini.

Baca Juga: Mengenal Kondisi Saham Oversold yang Bisa Jadi Indikasi Kenaikan Harga, Begini Cara Tepat Menanggapinya