Panduan Lengkap Memahami Average Up untuk Investasi Saham, Ini Cara Hitung dan Keuntungannya

Investasi saham tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu cara optimal untuk meningkatkan kekayaan dalam jangka panjang. Namun, menanam modal di instrumen tersebut memiliki risiko yang terbilang tinggi sehingga perlu diantisipasi dengan strategi investasi yang tepat. Salah satunya dengan menerapkan metode investasi yang disebut average up. 

Secara sederhana, average up bisa dipahami sebagai teknik investasi di mana investor tetap membeli saham meski harganya telah lebih tinggi dibanding harga sebelumnya. Tentunya, strategi ini perlu dilakukan dengan pertimbangan khusus agar mampu memberi potensi keuntungan yang menjanjikan. 

Nah, agar mampu memahami lebih lanjut tentang average up dalam investasi saham, termasuk cara hitung, keuntungan, dan tips menjalankannya, simak panduan lengkap berikut ini. 

Pengertian Average Up

Average up adalah salah satu strategi yang biasa digunakan oleh investor saham dengan melakukan pembelian saham yang sudah dibelinya ketika harganya lebih tinggi dari sebelumnya. Tujuannya agar bisa mendapatkan rerata harga beli lebih tinggi sebagai upaya memperoleh imbal hasil lebih besar. 

Dengan average up, kamu tak perlu menutup posisi pembelian saham sebelumnya. Alih-alih demikian, kamu terus melakukan pembelian pada saham ketika harganya meningkat dan menambah jumlah kepemilikan saham. Idealnya, strategi ini cocok untuk dilakukan investor yang memiliki tujuan investasi jangka panjang.  

Rumus dan Cara Hitung Average Up

Agar bisa menghitung average up, ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui, antara lain:

  1. Jumlah saham yang sudah dibeli sebelumnya, contohnya 1 lot atau 2 lot.
  2. Harga beli tiap saham di transaksi sebelumnya, misalnya 500 rupiah atau 1.000 rupiah per lembar. 
  3. Jumlah saham yang akan ditambahkan.
  4. Harga beli tiap saham di transaksi yang baru.

Setelah mengetahui informasi di atas, kamu bisa menghitung average up dengan rumus berikut ini.

(Jumlah Saham Pertama * Harga Beli Pertama) + (Jumlah Saham Selanjutnya * Harga Beli Selanjutnya) / (Jumlah Saham Pertama + Jumlah Saham Selanjutnya)

Contoh Perhitungan Average Up

Setelah memahami rumusnya, mungkin kamu masih bingung tentang cara hitung average up. Untuk lebih jelasnya, simak contoh perhitungan berikut ini. 

Anggap saja kamu pernah membeli 100 lembar saham di harga 1.000 rupiah per lembar. Lalu, saat ini, kamu ingin menambah pembelian saham sebanyak 100 lembar di harga 1.500 rupiah per lembar. 

Dari contoh tersebut, maka perhitungan average up menjadi sebagai berikut.

  • (100 saham * 1.000) + (100 saham * 1.500 rupiah) / (100 + 100)
  • (100.000 + 150.000) / 200
  • 250.000 / 200 = 1.250 per saham

Keuntungan dan Risiko Average Up

Sebenarnya, sebagai strategi investasi, average up kerap digunakan oleh investor saham dengan tujuan jangka panjang. Hal ini dikarenakan teknik investasi tersebut membuat investor mampu mendapat rerata harga beli saham lebih tinggi saat harganya terus meningkat. 

Dalam kata lain, strategi ini mampu memberi imbal hasil menjanjikan jika digunakan pada saham yang nilainya terus bertumbuh seiring waktu. Contohnya adalah pada saham blue chip yang telah terjamin kinerjanya selama beberapa dekade terakhir. Di samping itu, strategi ini juga mampu memberi kesempatan dalam memperbaiki posisi buy yang mungkin sebelumnya kurang menguntungkan. 

Hanya saja, perlu dipahami jika kondisi harga saham terus meningkat tidak bisa sepenuhnya dipastikan dalam dunia investasi. Jika nilai saham ternyata terus menurun pasca menerapkan average up, artinya kamu akan mempunyai rerata harga pembelian harga saham terlalu tinggi. Bukannya mendulang cuan, cara investasi ini malah memberikan kerugian jika terus dilakukan.  

Tips Menerapkan Average Up dengan Optimal

Ketika menerapkan average up, ada beberapa hal dan tips yang perlu kamu ketahui, yaitu:

1. Susun Rencana Investasi dengan Matang

Sebelum menerapkan strategi average up, kamu perlu mempunyai rencana dan tujuan investasi yang jelas. Tentukan batasan maksimal dan minimal dari harga saham incaran sesuai toleransi risiko yang dimiliki. Dengan begitu, kamu tidak akan terjebak pada emosi pasar tidak rasional yang mampu memicu risiko kerugian selama berinvestasi. 

2. Lakukan Analisis Fundamental

Tips selanjutnya, average up bisa dioptimalkan dengan melakukan analisis fundamental pada perusahaan yang sahamnya ingin kamu beli. Riset kondisi finansial perusahaan, termasuk prospek bisnis serta sederet faktor lain yang mampu mempengaruhi fluktuasi harga sahamnya untuk memastikannya layak dibeli atau tidak. 

3. Mendiversifikasi Portofolio

Terakhir, tetap lakukan diversifikasi portofolio dengan membeli saham atau instrumen investasi lain. Dengan begitu, risiko penurunan harga bisa diminimalkan dampaknya pada kondisi keuanganmu. Yang terpenting, sesuaikan nominal investasi ini dengan kemampuan dan kebutuhan agar pengeluaran lain yang seharusnya diprioritaskan tetap terpenuhi. 

Tergantung Tujuan dan Kebutuhan, Average Up Bisa Jadi Strategi Investasi Ideal Buatmu

Intinya, average up adalah strategi investasi di mana kamu terus membeli sebuah saham ketika harganya terus naik seiring waktu. Teknik ini cocok dilakukan jika kamu memiliki tujuan investasi jangka panjang dan menanam modal pada saham yang memiliki fundamental menjanjikan. Dengan begitu, harga saham bisa terus meningkat dan memberikan keuntungan jika terus dilakukan dalam jangka panjang.