Asuransi Penyakit Kritis: Pengertian, Untung Rugi, Klaim, dan Cara Memilihnya

Risiko penyakit tidak ada yang tahu kapan akan terjadi. Sekuat apapun kamu menjaga daya tahan tubuh, begitu sudah terkena penyakit kritis, bagai disambar petir.

Yang terbayang bukan soal kematian saja, tetapi juga biaya pengobatan selangit. Kondisi finansial keluarga pasti akan terpengaruh.

Bahkan tidak mustahil, dari yang sebelumnya kaya raya, punya banyak aset, bisa bangkrut digerogoti biaya perawatan penyakit kritis yang mahal. Kalau sudah begini, menyesal tidak memiliki asuransi penyakit kritis.

Dengan mendekap asuransi penyakit kritis, keuanganmu di masa depan dapat tetap terjaga. Perusahaan asuransi akan membayar uang pertanggungan bila kamu sudah dalam kondisi kritis. Tentunya harus sesuai polis.

Sebenarnya apa itu asuransi penyakit kritis? Sama atau beda dengan asuransi kesehatan? Untuk mencari jawabannya, simak ulasan berikut ini.

Asuransi Penyakit Kritis


Asuransi penyakit kritis adalah produk perlindungan terhadap penyakit kritis

Asuransi penyakit kritis adalah produk yang memberikan perlindungan kepada tertanggung yang mengidap suatu penyakit kritis. Asuransi ini memberikan pertanggungan atau dana santunan cukup besar, ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Asuransi penyakit kritis atau Critical Illness Insurance umumnya menanggung sekitar 50 sampai 100 jenis penyakit kritis. Penyakit kritis yang paling banyak pengajuan klaim, di antaranya:

  • Kanker
  • Stroke
  • Jantung
  • Diabetes
  • TBC
  • Ginjal
  • dan lainnya.

Bukan hal aneh lagi kalau biaya pengobatan penyakit-penyakit kritis di atas sangat mahal. Paling minim sekitar Rp 150 juta.

Penyakit kritis tersebut juga merupakan penyakit yang bikin keuangan BPJS Kesehatan tekor. Menghabiskan dana lebih dari Rp 17 triliun pada 2020.

Coba bayangkan, ke mana harus mencari uang ratusan juta rupiah dalam waktu singkat untuk biaya pengobatan. Punya tabungan dikuras habis, jual aset, atau pinjam sana sini agar kamu bisa sembuh.

Beda Asuransi Kesehatan vs Asuransi Penyakit Kritis


Asuransi penyakit kritis dan asuransi kesehatan memiliki perbedaan

Antara asuransi kesehatan dan asuransi penyakit kritis sering disamakan. Sebetulnya keduanya memiliki perbedaan.

1.  Fungsi dan Manfaat

Di lihat dari fungsinya, asuransi penyakit kritis memberi uang pertanggungan atas risiko penyakit kritis yang mengancam jiwa. Sedangkan asuransi kesehatan yang menanggung biaya rawat jalan dan rawat inap atas risiko sakit maupun kecelakaan.

Dari segi manfaatnya, uang pertanggungan baru dibayar dengan syarat nasabah harus rawat jalan atau rawat inap terlebih dahulu. Sedangkan asuransi penyakit kritis tidak perlu. Asal sudah ada diagnosis lengkap dari dokter, tertanggung berhak mendapat santunan sesuai polis perjanjian.

Santunan ini dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari karena tertanggung menderita kondisi kritis dan tidak bisa bekerja normal lagi. Atau untuk mengkover biaya yang tidak ditanggung asuransi kesehatan, seperti biaya transplantasi, pengobatan di luar negeri, dan lainnya.

2. Masa tunggu dan masa bertahan hidup

Dalam ketentuan asuransi, biasanya ada masa tunggu. Yakni periode waktu tertentu yang harus dilewati hingga manfaat perlindungan dapat mulai digunakan. Sederhananya klaim santunan asuransi bisa cair.

Pada asuransi penyakit kritis, selain ada masa tunggu, umumnya juga ada masa bertahan hidup sebelum santunan sakit kritis yang diklaim dapat cair. Masa bertahan hidup yang ditetapkan masing-masing perusahaan asuransi berbeda.

Ada yang 30 hari, 14 hari, 7 hari, tetapi ada pula yang tidak mensyaratkan masa bertahan hidup. Pun dengan masa tunggu. Ada yang 90 hari, 30 hari sejak polis disetujui, ada juga yang tidak. Sedangkan asuransi kesehatan kebanyakan menetapkan masa tunggu 30 hari sampai 60 hari.

3. Besaran premi

Namanya mengkover biaya besar, premi asuransi penyakit kritis biasanya lebih mahal ketimbang asuransi kesehatan. Itu karena dana santunan yang bisa tertanggung dapatkan cukup besar, ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Untuk asuransi kesehatan, preminya lebih murah. Ada yang menawarkan mulai dari Rp 100 ribu per bulan atau harian mulai dari Rp 9.000.

Klaim Asuransi Penyakit Kritis


Proses klaim dan pencairan dana asuransi penyakit kritis

Sebetulnya asuransi penyakit kritis bukan menanggung biaya rawat jalan maupun rawat inap. Bukan menjamin suatu penyakit, melainkan kondisi kritis tertanggung.

Maksudnya adalah, asuransi penyakit kritis ini membayar dana santunan 100% apabila tertanggung sudah mencapai kondisi kritis diderita sesuai ketentuan polis.

Misalnya, kamu mengidap sakit kanker stadium 1. Dalam polis, uang pertanggungan bisa dibayar, tetapi tidak 100%. Jika ingin cair 100%, syarat klaim disetujui kanker sudah stadium akhir atau stadium 4.

Tetapi, balik lagi syarat pencairan dana atau klaim di masing-masing perusahaan asuransi berbeda.  Untuk dokumen pengajuan klaim, tak berbeda jauh dengan asuransi lainnya:

1. Fotokopi identitas diri tertanggung

2. Salinan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan

3. Formulir pengajuan klaim

4. Surat keterangan dokter mengenai penyakit yang diderita

5. Pemberitahuan nomor rekening

6. Formulir surat kuasa pemaparan isi rekam medis yang diisi ahli waris.

Tips Memilih Asuransi Penyakit Kritis


Memilih asuransi penyakit kritis tidak boleh sembarangan

Produk asuransi penyakit kritis sangat banyak. Kamu harus jeli dalam memilihnya agar tidak menyesal di kemudian hari. Sebab ini menyangkut kesehatan dan uang yang setiap bulan kamu bayarkan sebagai langkah proteksi.

Berikut hal yang perlu diperhatikan dalam memilih atau membeli asuransi penyakit kritis:

1. Cakupan Perlindungan Luas

Cari produk asuransi penyakit kritis yang memberi cakupan perlindungan luas. Menanggung banyak jenis penyakit kritis.

2. Manfaat untuk Ahli Waris

Penyakit kritis sangat berisiko meninggal dunia. Kalau kamu adalah tulang punggung keluarga, pencari nafkah utama, harus memperhatikan nasib anak-anakmu kelak.

Oleh karena itu, asuransi penyakit kritis yang baik mestinya dapat memberikan manfaat untuk keluarga yang ditinggalkan atau ahli waris. Dengan begitu, mereka tetap bisa makan, hidup layak, bersekolah dari dana santunan asuransi jika (amit-amit) kamu meninggal.

3. Pengajuan Klaim Mudah

Poin ini sangat penting. Pilih asuransi penyakit kritis yang memberi jaminan pengajuan klaim yang mudah. Tidak ribet, dipingpong, meski dokumen sudah lengkap. Pencairan dana pun cepat begitu klaim disetujui.

Kamu dapat mencari ulasan atau komentar nasabah produk asuransi penyakit kritis di internet, komunitas tertentu, atau dari keluarga dan teman yang sudah membeli produk tersebut.

4. Sesuaikan dengan Kebutuhan dan Keuangan

Dalam memilih atau membeli asuransi penyakit kritis, tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial untuk besaran premi.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui tentang kondisi kesehatanmu. Kemudian jujur saat mengisi formulir aplikasi polis mengenai penyakit apa yang kamu derita.

Kalau sengaja menutupi, begitu ketahuan perusahaan, sangat mungkin pengajuan klaim kamu ditolak. Jika sudah tahu riwayat kesehatan diri sendiri, kamu dapat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, premi asuransi sebaiknya disesuaikan dengan keuangan agar terhindar dari gagal bayar. Perlu diingat, asuransi yang memberi manfaat besar, biasanya preminya lebih mahal.

5. Pilih Perusahaan Asuransi yang Terpercaya

Jangan tergiur dengan manfaat besar, premi murah agar kamu tidak menjadi korban penipuan perusahaan asuransi kaleng-kaleng. Pastikan membeli produk asuransi di perusahaan yang punya kredibilitas baik, terdaftar dan berizin di OJK maupun asosiasi asuransi supaya uangmu tetap aman.

Pelajari dan Pahami Polis Asuransi Sebelum Membeli

Ini ‘penyakit’ kebanyakan nasabah asuransi, malas membaca polis. Setebal apapun polis perjanjian, kamu wajib mempelajari dan memahaminya. Terutama jenis penyakit kritis yang ditanggung, tingkat kekritisan yang memenuhi syarat klaim agar tidak terjadi masalah di kemudian hari yang dapat merugikanmu.