Remittance: Pengertian, Jenis, dan Komponennya

Remittance adalah layanan transfer yang disediakan oleh bank untuk mengirim uang dalam bentuk valuta asing (valas) ke luar negeri. Tidak hanya sebagai sarana pengiriman uang, remittance juga menjadi sumber paling utama perdagangan valas di negara berkembang.

Ada berbagai macam alasan mengapa seseorang melakukan layanan transfer ini. 

Beberapa di antaranya yaitu para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengirimkan uang untuk keluarganya.pelajar yang menanti jajan bulanan, hingga mengirim uang sumbangan untuk membantu korban bencana alam.

Dulu mungkin orang akan menggunakan POS Indonesia untuk mengirim uang. Namun, zaman telah berubah, teknologi perbankan pun semakin berkembang dan mempermudah masyarakat dalam mengirim uang berbentuk valuta asing. 

Remittance tidak bisa dilakukan sesederhana melakukan transfer antar bank di dalam negeri. Tentu karena sistem perbankan di Indonesia menerapkan sistem yang berbeda untuk layanan ini. 

Seperti, sistem Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Sedangkan kebanyakan bank di luar negeri menggunakan International Bank Account Number (IBAN). Sehingga, akan terjadi beberapa penyesuaian dalam proses transfer.

Baca Juga: Kenali Bedanya Transfer Uang Secara Kliring, RTGS, dan Real Time

Beberapa Sistem Pengiriman Uang di Indonesia

Sebelum mengetahui lebih lanjut soal remittance. Sebaiknya Anda mengetahui terlebih dahulu beberapa cara pengiriman uang yang dilakukan di Indonesia. Meskipun tidak semudah remittance, beberapa cara ini juga masih diminati sampai saat ini. Berikut merupakan contoh-contohnya:

Real Time Gross Settlement (RTGS)

Jenis pengiriman uang yang satu ini, hanya diterapkan untuk mata uang Rupiah. Bank Indonesia (BI) menamai sistem tersebut dengan nama BI-RTGS. Sistem pengiriman Real Time Gross Settlement memiliki kelebihan dalam efisiensi, kecepatan, dan keamanan.

Seperti transfer uang pada umumnya, BI-RTGS dilakukan antar individu yang bersangkutan dan biasanya digunakan untuk pengiriman uang dalam jumlah yang tidak kecil.

Sistem Kliring Nasional (SKN)

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) adalah sistem kliring (kliring debit dan kredit) yang dianut oleh BI dan penyelesaian akhirnya akan dilakukan secara nasional.

Proses kliring sendiri tidaklah cepat dan bisa memakan waktu beberapa jam dan biasanya sistem ini akan mengenakan biaya sebesar Rp2.900,- saja.

SWIFT

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, metode SWIFT adalah sistem yang digunakan pada transfer remittance. Walaupun jarang tetapi masih ada beberapa negara yang juga menerapkan sistem transaksi SWIFT ini. 

Mengirim uang ke bank penganut sistem SWIFT akan jauh lebih mudah, jika dibandingkan dengan bank penganut sistem lain. Pengirim cukup menyediakan nama dan kode bank yang digunakan beserta nama dan kode bank yang akan dituju.

Pengirim lantas langsung bisa menyebutkan berapa nominal yang hendak ditransfer. Ketika transfer remittance dilakukan, biasanya bank akan memilih beberapa kode preset. Kode ini dipilih untuk memberikan pesan kepada bank penerima tentang nominal yang ditransfer.

Setiap nomor SWIFT bisa digunakan di seluruh dunia. Sebab SWIFT memiliki Badan Usaha Identifier (BEI) yang mampu mengenali semua kode SWIFT di seluruh dunia.


Jenis-jenis
Remittance

Jenis-jenis Layanan Remittance

Jika dibedakan berdasarkan tujuan pengirimannya, remittance dibagi menjadi dua jenis yaitu:

  1. Outgoing/Outward Remittance

    Outgoing/outward remittance adalah layanan transfer atau pengiriman uang dari dalam ke luar negeri. Pengiriman uang dilakukan dalam mata uang Rupiah dan diterima dalam bentuk valas. Biasanya transaksi jenis ini digunakan oleh para orang tua yang anaknya sekolah dan tinggal di luar negeri.

    Tidak hanya menguntungkan nasabah, outgoing/outward remittance sebenarnya juga memberi keuntungan kepada pihak bank. Mengingat pengirim akan dikenai biaya setiap kali memanfaatkan layanan ini.

    Tak khayal, jika banyak dari bank yang melakukan kompetisi. Berbagai macam tawaran pun diberikan kepada nasabah maupun non nasabah. Mulai dari kecepatan, kurs bersaing, hingga biaya yang lebih rendah.

  2. Incoming Remittance

    Kebalikan dari outgoing/outward, incoming remittance adalah layanan transfer dari luar negeri dan membuat orang yang ada di dalam negeri bertindak sebagai penerima. Transaksi ini biasa dilakukan dari valas ke Rupiah. Biasanya layanan ini dimanfaatkan oleh para TKI yang ingin mengirim uang ke keluarganya.

    Secara garis besar, ada beberapa pihak yang diuntungkan dalam transaksi ini mulai dari penerima hingga negara. Incoming remittance adalah salah satu sumber pemasukan bagi negara.

    Semakin tinggi incoming remittance yang masuk, akan semakin sehat pula perekonomian negara tersebut. Layanan ini juga menjadi salah satu pemasukan terbesar bagi sebuah negara. Terutama negara berkembang seperti Indonesia.

Baca Juga: Cek dan Bilyet Giro, Inilah Persamaan dan Perbedaannya

Bagaimana Perkembangan Remittance?

Titik balik meningginya peran remittance terjadi pada tahun 2000-an. Banyak negara-negara berkembang yang dibantu perekonomiannya dari banyaknya remittance yang diterima. Nepal dan Maldova contohnya, pemasukan remittance mereka mencapai sepertiga PDB.

Bisa dibilang, masuknya remittance akan menjadi penyumbang besar bagi pembangunan negara tersebut. Terutama pada negara berkembang, yang banyak menyuplai tenaga kerja. 

Pada 2014 lalu, tercatat 583 Miliar USD didapatkan dalam transaksi antar negara. Dari jumlah tersebut, 436 Miliar USD di antaranya masuk ke negara-negara berkembang di penjuru dunia.

Tiongkok dan India menempati peringkat nomor satu dalam kategori pemasukan remittance terbesar. Pada 2013 lalu saja contohnya, Tiongkok mendapatkan 69.97 Miliar USD. Sedangkan India mendapatkan 49-59 Miliar USD.

Tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Remittance juga biasa dilakukan untuk memberikan bantuan ke sebuah negara. 

Biasanya motif seperti ini muncul ketika sebuah negara tertimpa musibah dan memberikan dampak negatif pada perekonomian mereka. Sehingga, negara tersebut membutuhkan bantuan secara finansial dari negara lain.

Komponen Remittance

Tidak seperti transfer biasa yang hanya melibatkan satu individu ke individu lainnya. Remittance melibatkan lebih dari satu pihak. Berikut ini merupakan beberapa komponen yang biasanya ada di dalam layanan remittance:

  • Beneficiary adalah pihak yang namanya tertera pada form aplikasi layanan dan berhak menerima uang dari pengirim (harus sesuai dengan instruksi dari pihak pengirim). 
  • Beneficiary Bank adalah bank yang menerima uang dari bank lain. Bank tersebut sudah ditentukan dan ditunjuk oleh pengirim untuk meneruskannya ke pihak penerima.
  • Remitting Bank adalah bank yang memiliki layanan remittance. Bank inilah yang bertugas untuk melakukan pengiriman uang ke bank lain secara langsung berdasarkan instruksi dari pengirim.
  • Correspondent Bank adalah bank yang digunakan sebagai perantara atau penghubung antara Remitting dan Beneficiary Bank

Tidak Selalu Baik, Remittance juga Bisa Disalahgunakan

Seperti yang sudah dijelaskan, jasa remittance biasanya digunakan untuk berbagai transaksi. Mulai dari TKI, orang tua, hingga pihak-pihak yang ingin memberi bantuan dalam bentuk uang ke negara lain. 

Pengirim hanya perlu mengetahui kode SWIFT dari bank yang akan digunakan untuk melakukan transaksi. Mereka bahkan bisa melakukan transaksi ini ke bank yang tidak memiliki koneksi remittance.

Prosesnya yang sedikit susah dan agak rumiy, membuat transaksi remittance pun juga susah dilacak. Sebab dana ditransfer dari satu bank ke bank lain. Terkadang bahkan bisa lebih dari dua bank.

Hal ini menjadi menjadi celah, di mana layanan ini bisa disalahgunakan. Seperti mendanai terorisme, money laundry, atau kejahatan yang dilakukan antar negara. 

Baca Juga: Biaya Transfer Antar Bank, Berapa yang Mesti Dibayar?