Market Insight: Badai Januari & Peluang Rebound di Februari 2026

Data 20 Januari 2026 mencatat 9174.474 sebagai angka IHSG tertinggi sepanjang sejarah, kemudian merosot tajam sampai 7481.988 yang menyebabkan trading halt (penghentian perdagangan sementara) 2 kali yaitu pada 28 dan 29 Januari 2026. IHSG terkoreksi lebih cepat dari yang diperkirakan, turun –22.62 persen dalam sepekan.

IHSG ambruk setelah penyedia indeks global MSCI mengeluarkan peringatan keras bagi pasar modal Indonesia. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana strategi kita menghadapi volatilitas ekstrem ini? Mari kita bedah.

Di Balik Runtuhnya IHSG: Peringatan Keras MSCI

Koreksi tajam IHSG hingga -22,62% dalam sepekan bukan tanpa sebab. Pemicu utamanya adalah "kartu kuning" dari MSCI (Morgan Stanley Capital International). Lembaga penyedia indeks global ini membekukan sementara indeks saham Indonesia akibat kekhawatiran serius terkait isu free float (saham publik) dan aksesibilitas pasar.

Respon Dramatis Regulator: Kepanikan pasar memicu intervensi langsung dari "Tiga Pilar" (Danantara, OJK, dan IDX) pada 29 Januari 2026. Langkah tegas diambil:

  • Aturan Baru: Free float minimum 15% wajib bagi emiten lama dan baru.
  • Transparansi: Regulator akan membuka data Ultimate Beneficial Owner (UBO) untuk 100 emiten demi memulihkan kepercayaan MSCI.
  • Suntikan Dana: Presiden Prabowo menginstruksikan peningkatan limit investasi Dana Pensiun & Asuransi ke pasar modal menjadi 20% untuk menahan kejatuhan harga.

Buntut dari kekacauan ini cukup mengejutkan yaitu jajaran petinggi OJK dan BEI, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK dan Direktur Utama BEI, mengundurkan diri secara serentak pada 30 Januari 2026.

Komoditas & Emas Ikut Terjun Bebas

Bukan hanya saham, aset safe haven pun tak luput dari aksi jual massal. Emas, perak, dan kripto yang sebelumnya memecahkan rekor harga tertinggi, kini mengalami penurunan drastis.

  • Emas Dunia: Turun tajam mencari support di area US$4.333 - US$4.486 per troy ounce.
  • Emas Domestik: Harganya anjlok drastis dari puncak Rp3,05 juta menjadi Rp2,3 juta per gram (-21,68%) hanya dalam 2 hari. Sebuah anomali pasar yang sangat langka.

Sinar Harapan: Saatnya Buy on Weakness?

Di tengah puing-puing koreksi, IHSG yang patah tren naik (uptrend) justru membuka peluang emas bagi investor jangka panjang. Fokuskan radar kamu pada saham-saham Big Cap dan Blue Chip (Indeks IDX30, LQ45) yang valuasinya kini menjadi sangat murah. Sektor yang diprediksi akan memimpin rebound adalah Energi, Keuangan, dan Teknologi.

Saham Penggerak Pasar yang Wajib Dipantau: ASII, TLKM, BBRI, BBCA, BMRI, AADI, INDY, dan JSMR.

Corporate Action Watch: DSSA akan melakukan Stock Split (1:25) yang efektif pada 7 April 2026. Ini akan membuat harganya lebih terjangkau dan likuiditas meningkat drastis.

Stock Pick of The Week (Potensi 2026)

Berdasarkan analisis teknikal di tengah volatilitas ini, berikut adalah rekomendasi saham pilihan:

Saham Aksi Area Masuk (Entry) Target Harga Stop Loss Analisa Singkat
AMMN BUY 7.050 - 7.500 10.450 7.050 Potensi upside tinggi pasca koreksi.
AADI BUY 7.275 - 7.575 8.375 7.450 Momentum rebound sektor energi.
JSMR BUY 3.350 - 3.500 3.850 3.300 Defensif & stabil di sektor infrastruktur.
BBRI SELL 3.750 - 4.100 4.675 3.750 Waspada: Tekanan jual masih terlihat (Mengindikasikan target koreksi atau exit jika rebound terbatas).

Disclaimer: Semua keputusan investasi ada di tangan kamu. Pastikan untuk melakukan riset mandiri sebelum bertransaksi.