Menumbangkan Perbankan, Ini Pengertian Bank Run, Penyebab, dan Dampak yang Diberikannya

Semua orang pasti memahami jika salah satu tugas utama dari sebuah bank adalah menyimpan dana yang diberikan oleh nasabahnya. Dana tersebut biasanya akan dikelola agar bisa dijadikan sebagai modal pinjaman bagi masyarakat yang membutuhkan atau hal lainnya. Tentunya, nasabah yang dananya tersimpan di layanan perbankan bisa dengan mudah melakukan penarikan kapanpun dibutuhkan tanpa perlu melakukan beragam proses yang ribet.

Tapi, bagaimana jika ternyata mayoritas nasabah sebuah perusahaan perbankan kemudian memutuskan untuk menarik seluruh dana yang disimpannya tersebut secara bersamaan? Saat hal tersebut terjadi, perbankan akan mengalami yang namanya bank run, yaitu sebuah kondisi di mana banyak nasabah bank yang menarik dana secara bersamaan dan besar-besaran karena suatu pemicu tertentu. 

Kondisi ini tentu menjadi salah satu hal yang penting untuk dipahami oleh para pengguna layanan perbankan. Pasalnya, saat terjadi, dampaknya bisa begitu berisiko dan mampu mengancam situasi keuangan nasabah dan perbankan. Nah, jika kamu ingin tahu lebih lanjut seputar bank run, penyebab, dampak, hingga beberapa contoh situasinya yang pernah terjadi di dunia, simak penjelasan berikut ini. 

Bingung cari investasi Reksa Dana yang aman dan menguntungkan? Cermati solusinya!

Mulai Berinvestasi Sekarang!  

Apa Itu Bank Run?

loader

Jadi, apa yang sebenarnya dimaksud dengan bank run? Bisa juga disebut sebagai bank rush, bank run adalah suatu aksi atau fenomena di mana nasabah dari sebuah perusahaan perbankan melakukan penarikan dana secara besar-besaran dan bersamaan dalam waktu yang singkat.

Pengertian bank run yang lainnya adalah suatu peristiwa di mana banyak nasabah yang menarik dana secara bersamaan dan besar-besaran, serta sesegera mungkin terhadap sebuah bank dengan alasan nasabah tidak lagi percaya jika perusahaan perbankan yang digunakannya dapat mengembalikan dana yang telah ditabungnya dengan jumlah penuh serta tepat waktu. 

Fenomena ini juga bisa terjadi ditengarai oleh adanya kekhawatiran atau kepanikan yang dirasakan oleh para nasabahnya jika perbankan tak akan bisa memenuhi segala kewajibannya dengan semestinya. 

Istilah bank run sendiri sudah dikenal dan terjadi semenjak tahun 1830an dan kerap disebut sebagai peristiwa krisis perbankan. Pada sejarah di Amerika Serikat sendiri, tercatat setidaknya telah terjadi beberapa kali fenomena bank run, yakni tahun 1837, 1884, 1933, hingga yang paling baru di tahun 2023 lalu. 

Penyebab Terjadinya Bank Run

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fenomena bank run terjadi karena nasabah yang secara bersamaan dan besar-besaran melakukan likuidasi atau pencairan atas dana yang telah disimpannya di sebuah perbankan. Alhasil, perbankan kehabisan modal atau dana untuk bisa melakukan operasional bisnisnya dengan lancar. Bahkan, hal tersebut kerap kali membuat perbankan kesulitan untuk memenuhi kewajibannya dan mengembalikan seluruh dana pada para nasabahnya. 

Tentunya, ada beragam penyebab atau pemicu yang membuat nasabah melakukan penarikan dana dengan besar-besaran tersebut. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah sederet penyebab atau alasan terjadinya fenomena bank run. 

  • Rasio Load to Deposit alias LDR, atau rasio likuiditas dari perbankan berada di bawah kisaran rasio ideal yang dianjurkan. Pada dasarnya, perbankan perlu memiliki rasio LDR atau likuiditas di kisaran 80 persen sampai 90 persen. Semakin rendah rasio LDR yang dimiliki oleh sebuah perbankan, hal tersebut bisa menjadi pertanda jika bank yang bersangkutan tak memberikan tingkat margin yang besar. 

Di sisi lain, saat rasio LDR kian tinggi, apalagi sampai melebihi rerata atau kisaran idealnya, meski memberikan margin lebih besar, hal tersebut membuat perbankan mempunyai risiko tidak mempunyai cukup dana ketika harus dicairkan pada para nasabahnya. 

  • Penyebab bank run yang lainnya adalah terjadinya proses penarikan dana oleh nasabah secara abnormal. Dalam situasi tersebut, perbankan biasanya akan dipaksa untuk menjual aset yang dimilikinya. Yang mampu memicu kekhawatiran adalah aset yang dijual oleh pihak bank tersebut memiliki nilai di bawah harga pasar sehingga perlu merealisasikan kerugian dengan lebih tinggi lagi. 

Dampak yang Ditimbulkan oleh Bank Run

loader

Disebabkan oleh sejumlah hal, fenomena bank run mampu berdampak pada beragam masalah lain yang tak boleh dipandang remeh dan sepele. Berikut adalah sederet dampak yang ditimbulkan oleh fenomena bank run yang dialami oleh sebuah lembaga perbankan. 

  • Nasabah dari sebuah perbankan, baik itu individu atau korporasi, tak bisa melakukan penarikan dana dengan nominal yang cukup agar bisa menjalankan operasionalnya. 
  • Risiko terjadinya bank run serta kesulitan likuidasi pada sebuah bank membuat premi risiko meningkat dan bank yang bersangkutan diharuskan memperoleh pendanaan dengan tarif bunga lebih tinggi. 
  • Risiko yang ditanggung bank akibat bank run menimbulkan munculnya risiko efek domino atau domino effect pada beragam lembaga perbankan lain secara menyeluruh pada sektor riil. Alhasil, dampak sistemik terkait risiko kegagalan pada sistem finansial dan pelemahan ekonomi juga bisa terjadi. 
  • Efek domino tersebut mencakup pula risiko bank lain yang berada di kasta yang lebih rendah atau yang mempunyai pengelolaan solvabilitas setara akan terkena imbasnya. Jika tidak sigap, lembaga perbankan mampu mengalami risiko yang sama dan tidak bisa dibendung dampaknya. 

Untuk menyiasati dan mengatasi risiko dampak yang disebabkan oleh fenomena bank rush, dibutuhkan respons yang tanggap oleh bank sentral. Peran bank sentral amat penting untuk membendung risiko lanjutan dari masalah bank run agar tak terjadi snowballing effect hingga mampu memperparah kondisi industri perbankan. 

Misalnya, bank sentral bisa mendorong pengambilan kebijakan moneter agar lebih lunak dalam kurun waktu pendek maupun menengah hingga masalah dan risiko bisa diredam. Salah satu contoh kebijakan yang bisa diambil oleh bank sentral adalah dengan menahan maupun memangkas tingkat suku bunga yang dibebankan.

Pemangkasan suku bunga ini dianggap mampu mencegah terjadinya masalah sistemik lebih besar di sektor ekonomi. Dengan begitu, industri perbankan juga bisa lebih optimal berjuang melawan risiko ekonomi yang ditimbulkan oleh fenomena bank run yang tengah terjadi. Di samping itu, kebijakan yang melonggarkan suku bunga tersebut juga mampu mendorong kembalinya tingkat likuiditas pada pasar di waktu mendatang dan mendorong performa aset yang berisiko.

Baca Juga: Membahas Loan to Deposit Ratio dan Segala Hal yang Penting Dipahami Seputarnya

Contoh Kasus Bank Run yang Pernah Terjadi

Bukan hal baru, kasus bank run sudah pernah terjadi beberapa kali sebelumnya pada lembaga perbankan di sejumlah negara. Bahkan, fenomena ini pertama kali terjadi di abad 19, tepatnya tahun 1830an di Amerika Serikat. 

Sementara untuk kasus yang terbaru sendiri terjadi pada Silicon Valley Bank atau SVB di Amerika Serikat yang sempat menggemparkan dunia beberapa waktu lalu. SVB sendiri tercatat sebagai bank paling besar ke-16 di Amerika Serikat, dan melaporkan kebangkrutannya di tanggal 10 Maret lalu. Penyebabnya adalah terlalu agresif dalam mengelola solvabilitas, serta diperburuk oleh masalah bank rush atau bank run ini. 

Fenomena bank run yang dialami oleh SVB sendiri ditengarai oleh kepanikan serta kekhawatiran jika bank tersebut tak bisa memenuhi kewajibannya pada setiap nasabahnya. Imbas dari kebangkrutan SVB ini tentu memberi efek domino pada kondisi perbankan di kelas menengah lain yang mempunyai strategi pengelolaan solvabilitas mirip dengan bank tersebut. Alhasil, pihak bank sentral AS perlu mencari cara guna mencegah efek yang lebih buruk hingga mampu mengancam sistem perbankan di sana. 

Di Indonesia sendiri, fenomena bank run juga pernah beberapa kali terjadi sebelumnya. Salah satunya yang terbesar adalah yang menyebabkan bangkrutnya Bank Summa di tahun 1992 silam. 

Contoh lainnya adalah di tahun 1997 dan 1998, di mana krisis moneter terjadi di dalam negeri, membuat setidaknya 16 bank harus gulung tikar. Bahkan, di tahun tersebut, bank sebesar BCA juga dibuat ketar-ketir hingga nyaris bangkrut jika tidak melakukan langkah BTO atau Bank Take Over serta dimasukkan pada program restrukturisasi dan rekapitulasi oleh BPPN kala itu. 

Baca Juga: Jadi Alat Pembayaran Sah Internasional, Ini Pengertian Bank Notes, Jenis, Hingga Beragam Fungsinya

Pentingnya Meredam Dampak Bank Run Demi Terjaganya Kondisi Ekonomi

Terjadi saat mayoritas nasabah melakukan penarikan dana secara bersamaan dan besar-besaran, fenomena bank run mampu berdampak pada kebangkrutan sebuah perbankan. Saat ada perbankan yang mengalami kebangkrutan, hal tersebut bisa memicu efek domino yang membahayakan industri perbankan secara umum dan kondisi ekonomi. Karenanya, bank sentral wajib mengambil langkah bijak dan strategis agar bisa meredam dampak dari fenomena bank run ini. 

Baca Juga:  Pengertian FASBI, Layanan Simpanan Bank Sebagai Upaya Aktivitas Operasi Pasar Terbuka