Inilah Mitos-Mitos Seputar KPR yang Keliru

Semakin banyaknya penduduk Indonesia dan mulai sedikitnya lahan untuk tempat tinggal menjadikan rumah-rumah naik menjadi mahal. Selain itu tanah pun ikut melambung tinggi dan banyak dijadikan investasi serta simpanan jangka panjang pribadi.

Maka dari itu beberapa orang justru senang membisniskan tanah mereka. Lantas bagaimana dengan ketersediaan tempat tinggal yang kurang? Tentu tidak semua orang bisa dan betah tinggal di rumah susun atau apartemen bertingkat, bukan?

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah jenis KPR. Di mana KPR adalah kredit kepemilikan rumah bagi beberapa orang yang memiliki pendapatan terbatas dan tidak memiliki uang sebesar jumlah pembelian tanah dan rumah secara cash.

KPR ini juga merupakan bangunan atau subsidi pemerintah untuk memudahkan masyarakat dalam memiliki rumah. Dengan begitu bila pendapatan Anda tidak tinggi, tentu bisa memanfaatkan fasilitas ini.

Namun ada beberapa mitos KPR yang sepertinya keliru. Apa saja itu? Simak ulasan berikut ini.

1. Uang Muka Besar Lebih Baik

Banyak yang mengatakan bahwa dengan mengambil uang muka yang besar maka akan lebih baik dalam kredit KPR dan lebih aman. Ternyata masalah pertama ini adalah mitos terbesar yang tersebar.

Uang muka merupakan pembayaran yang bisa dibayarkan ketika di awal mengajukan KPR. Uang muka ini dianggap bisa meringankan cicilan KPR selanjutnya. Hal tersebut memang benar, namun bukan berarti uang muka besar akan lebih baik.

KPR biasanya menyediakan rumah dasar saja, di mana Anda masih harus memoles rumah tersebut menjadi bagus atau sedikit merenovasinya. Uang muka yang besar tentu akan mengurangi anggaran merenovasi rumah tersebut. Maka dari itulah anggaran besar belum tentu pilihan yang baik.