Pahami Apa Itu Likuiditas, Aspek Terpenting dalam Perusahaan

Mungkin mayoritas dari Anda pernah mendengar sebuah berita mengenai perusahaan asuransi yang tidak mampu membayar tagihan para nasabahnya. Nasabah di jasa keuangan tersebut lantas terancam tidak dapat mengambil uang yang telah lama disimpan di perusahaan tersebut. Bahkan, utang yang dimiliki oleh perusahaan asuransi tersebut ditaksir mencapai puluhan triliun Rupiah.

Kasus tersebut merupakan sebuah contoh dari perusahaan yang tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk melunasi semua utang dan kewajiban yang dimiliki. Saat likuiditas sebuah perusahaan rendah, bukan tidak mungkin bisnis yang sedang dijalankan tersebut tinggal menunggu kebangkrutannya. Mengetahui fakta tersebut, likuiditas merupakan salah satu aspek yang amat penting dalam sebuah perusahaan. 

Meski sekilas terlihat sama, istilah likuiditas berbeda dengan aset perusahaan. Beberapa orang bahkan menganggap kedua istilah tersebut adalah satu dan tidak memiliki perbedaan sama sekali.

Untuk itu, agar bisa lebih memahami tentang apa itu likuiditas dan perannya dalam kinerja sebuah perusahaan, simak penjelasannya berikut ini. Membedakan antara likuiditas dan aset perusahaan bukanlah perkara yang sulit setelah memahami penjelasan berikut ini. 

Pengertian Likuiditas Perusahaan

likuiditas adalah

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, likuiditas adalah kemampuan sebuah perusahaan dalam melunasi utang serta kewajiban jangka pendek yang dimiliki. Utang jangka pendek perusahaan tersebut meliputi utang usaha, pajak, dividen, dan lain sebagainya. 

Likuiditas juga dapat diartikan sebagai kemampuan individu atau perusahaan dalam melunasi utang dengan segera menggunakan harta lancar yang dimiliki. Tanpa memiliki kemampuan tersebut, perusahaan tidak akan mampu melakukan kegiatan operasional bisnis seperti biasa.

Level likuiditas yang dimiliki perusahaan umumnya digambarkan dengan menggunakan angka tertentu. Angka yang menggambarkan likuiditas tersebut biasa disebut dengan rasio cepat, rasio lancar, serta rasio kas. 

Pada saat mengukur kinerja perusahaan dengan menggunakan likuiditas, semakin tinggi nilainya menunjukkan kinerja  yang semakin baik pula. Alasannya, saat perusahaan memiliki tingkat likuiditas tinggi, kesempatannya untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak juga semakin terbuka lebar. 

Lembaga keuangan, pemasok, hingga kreditur pasti cenderung memilih perusahaan dengan likuiditas tinggi untuk ‘menyimpan’ dana yang dimiliki. Jadi, likuiditas yang dimiliki perusahaan ini memegang peran yang amat penting dalam menunjukkan kinerjanya serta menjadi target investasi para investor.

Baca Juga:  Pentingnya Rekonsiliasi Bank dalam Menjaga Keterbukaan Finansial Perusahaan

Manfaat serta Peran dari Likuiditas

Likuiditas ternyata tidak serta merta menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Ada beberapa manfaat serta peran lain dari tingkat likuiditas yang dimiliki oleh sebuah perusahaan.

Manfaat dari mengetahui tingkat likuiditas bagi perusahaan adalah untuk membantu proses analisis serta interpretasi kondisi keuangan jangka pendek. Jadi, dengan mengetahui tingkat likuiditas, perusahaan dapat memperbaiki kondisi keuangan saat diketahui ada hal yang membuat kinerja bisnis kurang maksimal dan efisien.

Sedangkan, untuk peran-perannya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai Media untuk Melakukan Kegiatan Operasional Bisnis

Peran pertama dari likuiditas adalah sebagai media untuk melakukan kegiatan operasional bisnis sehari-hari. Likuiditas juga dapat menjadi alat atau data untuk mengantisipasi keperluan dana yang secara tiba-tiba muncul dan mendesak perusahaan untuk melunasinya dengan segera.

2. Dapat Memudahkan Perusahaan di Bidang Lembaga Keuangan

Peran kedua adalah untuk memudahkan perusahaan di bidang lembaga keuangan dalam memberikan pinjaman maupun penarikan dana oleh nasabah. Dengan begitu, nasabah tidak perlu direpotkan oleh perusahaan karena dana yang diminta tidak bisa cari dengan cepat.

Tingkat likuiditas yang dimiliki oleh perusahaan juga dapat dijadikan sebagai acuan pada tingkat fleksibilitas perusahaan. Tingkat fleksibilitas perusahaan ini kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kerjasama investasi maupun usaha lainnya yang dapat menguntungkan. 

Saat likuiditas dirasa kurang memuaskan, perusahaan dapat menjadikan informasi tersebut sebagai bukti perlunya upaya perbaikan atas kinerja yang dimiliki selama ini. Perusahaan pun mampu menganalisa keputusan bisnis apa yang dirasa kurang perlu atau merugikan dengan keputusan bisnis lainnya yang lebih menguntungkan. Pihak manajemen perusahaan juga menjadi lebih mampu untuk memeriksa efisiensi atas modal kerja yang dimiliki.  

Komponen Utama pada Likuiditas

Selesai membahas tentang peran dari likuiditas, hal yang perlu dipahami selanjutnya adalah tentang komponen likuiditas. Pada dasarnya, komponen likuiditas dibagi menjadi tiga, yakni, kerapatan, kedalaman, dan resiliensi.

Untuk komponen pertama, kerapatan, menjelaskan tentang jarak atau gap dari harga normal sebuah produk dengan harga yang telah disetujui. Jadi, melalui likuiditas, perusahaan mampu menjelaskan tentang perjanjian akan transaksi sebuah produk yang digunakan.

Sedangkan untuk komponen kedua, kedalaman, adalah volume atau jumlah suatu produk yang dijual serta dibeli. Informasi pada komponen kedalaman ini juga menjelaskan tentang tingkat harga atas produk terjual atau dibeli tersebut.

Terakhir, pada komponen resiliensi likuiditas dijelaskan tentang nilai kecepatan perubahan dari harga normal ke harga efisien. Umumnya, penjelasan mengenai komponen ketiga ini terjadi setelah adanya penyimpangan atau harga yang tidak stabil akan suatu barang.

Baca Juga: 4 Perspektif Balance Scorecard yang Bermanfaat untuk Perusahaan

Macam-Macam Rasio Likuiditas Perusahaan

Sebelum beranjak ke pembahasan mengenai macam-macam rasio likuiditas, akan jauh lebih baik jika memahami tentang rasio likuiditas terlebih dahulu. Dengan begitu, memahami tentang jenis dari setiap rasio likuiditas akan menjadi semakin mudah.

Secara sederhana, rasio likuiditas diartikan sebagai rasio pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi tanggungan atau melunasi utang jangka pendek yang dimiliki. Nilai pada rasio likuiditas inilah yang menjadi tolok ukur seberapa likuidnya sebuah perusahaan tersebut.

Jika bisa membayar kewajiban jangka pendek, maka perusahaan tersebut bisa dibilang likuid. Sebaliknya, jika tidak mampu melunasi segala kewajibannya, perusahaan tersebut disebut ilikuid dan perlu diwaspadai kinerja bisnisnya. 

Pengukuran tingkat likuiditas perusahaan dapat dilakukan dengan membandingkan komponen pada neraca. Komponen tersebut meliputi jumlah aktiva lancar dan pasiva lancar atau utang jangka pendek. Proses pengukuran likuiditas juga bisa dilakukan dengan berkala dalam beberapa periode akuntansi agar terlihat perkembangannya. 

Setelah mengetahui dasar dari rasio likuiditas tersebut, lanjut ke pembahasan tentang macam-macam rasio likuiditas. Rasio likuiditas dapat dibagi menjadi 5 jenis:

1. Rasio Lancar

Yang dimaksud dengan rasio lancar merupakan kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar yang dimiliki untuk membayar kewajiban serta utang lancar. Dengan mengukur rasio likuiditas ini, perusahaan mampu mengetahui jumlah aktiva lancar yang dapat digunakan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya.

Cara untuk mengetahui apakah perusahaan memiliki rasio lancar yang sehat atau tidak sebenarnya cukup mudah. Saat jumlah aktiva lancar lebih besar dari jumlah utang lancar, artinya perusahaan tersebut memiliki rasio lancar yang baik dan memiliki kemampuan untuk menutupi kewajibannya. 

2. Rasio Cepat

Lanjut ke penjelasan tentang rasio cepat, rasio likuiditas jenis ini merupakan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendek. Menggunakan aktiva lancar, rasio cepat dapat menunjukkan apakah perusahaan masih perlu memperhitungkan persediaan. Pasalnya, persediaan yang dimiliki perusahaan biasanya membutuhkan waktu lama untuk diproses menjadi uang ketimbang jenis aset lainnya.

Komponen pada rasio cepat ini meliputi piutang serta surat berharga. Hal ini berarti jika rasio cepat perusahaan semakin tinggi, kondisi keuangannya juga semakin sehat. Artinya, perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendek yang dimiliki dengan lebih mudah.

3. Rasio Kas

Macam yang ketiga adalah rasio kas yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek menggunakan uang kas yang dimiliki. Contoh kas perusahaan yang diperhitungkan dalam rasio ini adalah dana kas dan setara kas, seperti rekening giro. Ketika rasio kas ini menunjukkan perbandingan 1:1 atau lebih besar, itu berarti perusahaan memiliki kinerja yang efektif dan kondisi keuangan yang baik.

4. Rasio Perputaran Kas

Selanjutnya adalah rasio perputaran kas yang menunjukkan angka relatif antara jumlah penjualan dengan modal kerja. Hal yang termasuk sebagai modal kerja adalah semua komponen pada aktiva lancar yang dikurangi dengan jumlah utang lancar.

Rasio perputaran kas dihitung dengan membagi angka penjualan dengan modal kerja bersih. Melalui rasio ini, perusahaan mampu mengetahui seberapa tinggi penjualan atau keuntungan yang didapatkan dari pengeluaran untuk modal kerjanya.

5. Rasio Modal Kerja

Terakhir, rasio modal kerja pada total aset menunjukkan tingkat likuiditas perusahaan dari jumlah aktiva serta posisi modal kerja. Cara menghitung rasio ini adalah dengan mengurangi total aset saat ini dengan liabilitas dan membaginya dengan jumlah aset.

Baca Juga:  Telaah Pengertian Akuisisi Perusahaan yang Umum Terjadi dalam Bisnis

Likuiditas Menunjukkan Kemampuan Perusahaan dalam Memenuhi Kewajiban Jangka Pendek

Menghitung tingkat likuiditas suatu perusahaan merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Pasalnya, dengan mengetahui rasio likuiditas, perusahaan mampu memperoleh gambaran akan perkembangan finansial. Dengan begitu, kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban serta utang jangka pendek dapat diketahui.