Pahami Jenis-jenis Obligasi, Investasi Menguntungkan yang Cocok Buat Milenial

Investasi saat ini menjadi salah satu komponen penting dalam merencanakan atau mengatur keuangan. Menyisihkan sebahagian penghasilan untuk ‘ditanam’ pada sebuah instrumen investasi guna memperoleh keuntungan dan masa depan keuangan yang lebih cerah.

Zaman now, banyak produk investasi yang menjadi pilihan investor, termasuk generasi milenial. Baik yang konvensional, seperti emas, tanah, deposito, saham, reksadana, obligasi atau surat utang, properti, maupun yang kekinian, di antaranya pendanaan di fintech peer to peer lending.

Cermati.com kali ini akan membahas instrumen investasi obligasi atau surat utang. Sebab dewasa ini, obligasi bukan hanya untuk kalangan pemodal besar maupun korporasi, tapi juga sudah dijual eceran atau ritel secara online. Target pasarnya anak muda, ibu rumah tangga, pensiunan, Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan swasta, dan perorangan lainnya.

Berikut ulasan mengenai obligasi seperti dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: Zaman Now Investasi Jangan yang Biasa Saja, Mahasiswa Coba Deh Investasi Ini

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Pengertian Obligasi 

Obligasi
Pengertian obligasi

Dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), obligasi adalah surat utang jangka menengah dan panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisi janji dari pihak penerbit untuk membayar imbalan, berupa bunga (kupon) pada periode tertentu. Kemudian melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan kepada pemegang obligasi tersebut.

Obligasi merupakan salah satu investasi berpendapatan tetap. Tujuannya untuk memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang relatif stabil dengan risiko yang sama, dibandingkan saham.

Obligasi diterbitkan dan dijual dengan tujuan mendapatkan dana segar dari investor. Jika diterbitkan oleh sebuah perusahaan, biasanya hasil yang diperoleh digunakan untuk modal kerja, membayar utang, membiayai ekspansi perusahaan, dan lainnya.

Begitupun yang diterbitkan oleh pemerintah atau negara. Dananya diperuntukkan masuk pada pos pembiayaan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembiayaan atau utang tersebut digunakan untuk menambal atau menutup defisit anggaran.

Pemegang Obligasi Dikenai Pajak

Obligasi
Pemegang obligasi dikenakan PPh

Pemegang obligasi akan menerima imbal hasil atau bunga dari surat utang yang didekapnya. Dari hasil tersebut, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh). Sebelumnya 15%, tapi kini turun menjadi 5% hingga tahun 2020.

Selanjutnya menjadi 10% di tahun 2021 dan seterusnya. Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2019.

Penurunan tarif PPh bunga obligasi tersebut berlaku untuk obligasi pemerintah maupun obligasi swasta. Antara lain, bunga obligasi infrastruktur, dana investasi real estate, dan efek beragun yang tercatat pada OJK.

Keuntungan dan Risiko Investasi Obligasi

Obligasi
Keuntungan dan risiko investasi obligasi

Mengutip bahan literasi keuangan OJK, keuntungan investasi obligasi ada tiga. Yakni:

  • Mendapat keuntungan dari pembayaran kupon
  • Memperoleh keuntungan bila memegang obligasi hingga jatuh tempo
  • Jika menjual obligasi di pasar sekunder, investor dapat mengantongi keuntungan dari selisih harga beli dengan harga jual atau disebut capital gain.

Namanya investasi pasti ada saja risikonya. Risiko tersebut harus dipahami para investor, terutama investor pemula.

  • Risiko Gagal Bayar

Karena obligasi merupakan janji untuk membayar, maka risiko paling besar adalah si penerbit tidak dapat memenuhi kewajibannya

  • Risiko Likuiditas

Karena obligasi dapat diperjualbelikan antara satu investor dengan investor lain, maka ada kemungkinan ketika seorang investor ingin menjual suatu obligasi, tidak ada yang bersedia membeli atau bersedia namun dengan harga sangat rendah

  • Risiko Perubahan Inflasi dan Suku Bunga

Harga obligasi sangat ditentukan oleh perubahan inflasi dan suku bunga. Jika inflasi dan suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya jika inflasi dan suku bunga naik, maka harga obligasi akan naik.

Bagi investor yang ingin berinvestasi di obligasi dengan tujuan diperdagangkan, maka inflasi dan suku bunga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan.

Baca Juga: Hati-Hati Pinjam Uang Online! Berikut Daftar Baru Fintech P2P Ilegal yang Ditutup OJK

Jenis-jenis Obligasi

ORI016

Contoh produk obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah Indonesia

Berikut ini jenis-jenis obligasi yang dapat menjadi pilihan investasimu:

1. Dilihat dari sistem pembayaran kupon:

  • Obligasi Tanpa Kupon (Zero Coupon Bonds)

Obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo

  • Obligasi Kupon Tetap (Fixed Coupon Bonds)

Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik

  • Obligasi Kupon Variabel (Variable Coupon Bonds)

Oligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tertentu, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti tingkat suku bunga perbankan.

2. Dilihat dari sisi penerbit: 

  • Obligasi Korporasi (Corporate Bond):

Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta. Obligasi korporasi terbagi atas obligasi dengan kupon tetap, obligasi dengan kupon variabel dan obligasi dengan prinsip syariah. Ada obligasi korporasi yang telah diperingkat atau ada yang tidak diperingkat.

  • Obligasi Pemerintah (Government Bond)

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah menerbitkan obligasi dengan kupon tetap (seri FR- Fixed Rate), obligasi dengan kupon variable (seri VR –Variable Rate) dan obligasi dengan prinsip syariah/Sukuk Negara. Contohnya ORI, sukuk ritel.

  • Obligasi Ritel

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah yang dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen penjual yang ditunjuk oleh pemerintah. Biasanya ada beberapa jenis, yaitu ORI atau Sukuk Ritel.

3. Dilihat dari kepatuhan terhadap kaidah syariah:

  • Sukuk (Obligasi Syariah) Mudharabah

Merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.

  • Sukuk (Obligasi Syariah) Ijarah

Merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan.

Investasi Modal Kecil yang Patut Dicoba

Kini berinvestasi semakin mudah dan murah. Investasi di instrumen obligasi ini contohnya, ada yang menawarkan modal kecil mulai dari Rp1 juta, seperti sukuk tabungan, ORI, sukuk ritel, dan lainnya.

Daripada uang gaji hanya dihabiskan untuk foya-foya, mending diinvestasikan. Tidak harus pada obligasi, kamu juga bisa menempatkan dana di produk lain, seperti reksadana, saham, emas, maupun fintech lending.

Baca Juga: Jangan Takut Investasi Kala Virus Corona Merebak, Ini Tipsnya