Reksadana Syariah: Pengertian, Keuntungan, Bentuk, dan Cara Kerjanya

Sebagai negara yang memiliki mayoritas penduduk muslim, Indonesia menjadi negara dengan pasar yang sangat empuk untuk produk-produk yang berbasis syariah. Produk perbankan sudah mulai memperkenalkan produk mereka dalam bentuk syariah. Bahkan, banyak lembaga perbankan atau lembaga finansial lainnya yang sudah secara mandiri berdiri dengan basis syariah.

Produk-produk syariah sudah menjadi hal yang lumrah di antara masyarakat. Sebab, sudah banyak masyarakat Indonesia yang sudah mulai mencari produk syariah, terutama dalam sektor finansial.

Tidak hanya perbankan yang umum dicari, tetapi juga produk finansial seperti investasi juga sudah marak dicari oleh masyarakat Indonesia. Salah satu produk investasi syariah yang umum disukai masyarakat adalah reksadana syariah.

Lalu, apa itu reksadana syariah? Simak penjelasan mengenai pengertian, keuntungan, bentuk, dan cara kerja reksadana syariah sebagai berikut.

Baca juga: Bunga Reksadana – Besaran, Cara Hitung, dan Daftar Reksadana Bunga Tertinggi

Apa Itu Reksadana Syariah?

loader

Reksadana Syariah

Untuk bisa memahami reksadana syariah, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian reksadana syariah. Berdasarkan pengertian yang dikeluarkan OJK atau Otoritas Jasa Keuangan, reksadana syariah adalah tempat penghimpunan data masyarakat yang dikelola oleh Manajer Investasi dan kemudian diinvestasikan dalam berbagai bentuk reksadana syariah, seperti saham, obligasi, dan instrumen investasi lainnya. Tentunya, pengelolaan dana masyarakat ini berdasarkan ketentuan dan prinsip syariah.

Tujuan dibentuknya reksadana yang berbasis syariah agar investor lebih mudah dalam menanamkan modalnya dan tidak memusingkan perkara status syariahnya. OJK telah menetapkan berbagai ketentuan dan juga batasan tertentu sesuai dengan kaidah agama Islam. 

5 Keuntungan Reksadana Syariah

1. Unit Penyertaannya Terjangkau 

Unit penyertaan yang dapat dibeli oleh investor dimulai dari harga Rp100.000 tergantung pada tujuan investasi. Dengan begitu, investor bisa memulai investasi lebih mudah tanpa harus menyediakan modal yang besar. Investasi di reksadana syariah juga dapat dilakukan secara online maupun offline.

2. Diversifikasi Investasi

Dengan adanya diversifikasi investasi, risiko investasi dalam reksadana syariah bisa jadi lebih kecil apabila salah satu jenis investasi yang dimiliki investor mengalami penurunan. Investor tidak usah panik karena ada penurunan di suatu efek karena ia bisa fokus pada efek yang lain. Jika investor juga membagi modalnya pada berbagai jenis efek, ia juga tidak mengalami kerugian yang cukup besar dibanding menanam modal hanya pada satu efek.

3. Dikelola dan Dipantau oleh Manajer Investasi

Tidak hanya mudah dalam menanamkan modal, investor juga mendapat kemudahan dalam mengelola modal tersebut. Bahkan, investor cenderung untuk tidak mengelola dan mengolah modal yang ia tanamkan karena semua telah dilakukan oleh Manajer Investasi. Pengawasan dan analisis dana yang diinvestasikan juga dilakukan oleh Manajer Investasi.

4. Hemat Biaya, Tapi Return Optimal

Biaya yang dikeluarkan oleh investor relatif lebih rendah, mulai dari modal yang dikeluarkan sampai aktivitas transaksi reksadana syariah. Meskipun kamu tidak mengeluarkan biaya yang besar, hasil yang didapatkan relatif optimal, sesuai dengan periode dan produk reksadana syariah pilihan investor.

5. Praktis, Jelas, dan Aman

Dana investasi yang dicairkan bisa dilakukan kapan saja. Dengan begitu, likuiditas dari reksadana syariah pun terjamin. Proses pencairan dana pun menjadi praktis.

Selain pencairan dana yang mudah, pengelolaan dana pun juga jelas karena di reksadana syariah investor akan menerima laporan kinerja secara jelas. Kenaikan dan penurunan hasil investasi dapat terlihat secara transparan. Di samping itu, hasil investasi juga dapat dilihat secara real time.

Investor juga tidak perlu khawatir karena produk-produk yang ada di reksadana syariah diawasi OJK dan dikelola oleh Manajer Investasi dengan izin OJK. Status syariah reksadana syariah juga tidak perlu diragukan lagi karena telah ada fatwa dari DSN-MUI atau Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Bentuk Reksadana Syariah

1. Reksadana Syariah Pasar Uang

Investasi dilakukan hanya pada instrumen pasar uang syariah yang ada di dalam negeri. Jangka waktu dari efek syariah pendapatan tetap ini adalah maksimum satu tahun. Risiko investasi dari bentuk reksadana ini adalah yang paling rendah dibanding reksadana lainnya.

2. Reksadana Syariah Pendapatan Tetap

Jika memilih bentuk reksadana ini, investor melakukan investasi minimal 80% dari nilai aktiva bersih (NAB) berbentuk efek syariah pendapatan tetap.

3. Reksadana Syariah Campuran

Investasi dilakukan pada efek syariah dengan sifat ekuitas, efek syariah pendapatan tetap, dan instrumen pasar uang yang ada di dalam negeri. Setiap efek syariah yang diinvestasikan tidak lebih dari 79% nilai aktiva bersih. Adapun persebarannya terdiri dari 0–20% pasar uang, 1–79% obligasi, dan 1–79% saham.

4. Reksadana Syariah Saham

Investor melakukan investasi minimal 80% dari nilai aktiva bersih (NAB) dalam bentuk efek syariah dengan sifat ekuitas. Risiko investasi dari reksadana jenis ini adalah yang paling tinggi dibanding jenis lainnya.

Tips Memilih Bentuk Reksadana Syariah

Bagi investor pemula, mungkin bingung untuk memilih bentuk reksadana yang tepat. Ada baiknya, pemilihan bentuk reksadana disesuaikan dengan jangka waktu investasi yang diinginkan. Berikut merupakan tips memilih bentuk reksadana syariah berdasarkan jangka waktunya.

1. Investasi Jangka Pendek

Umumnya, investasi jangka pendek ini merupakan investasi yang dilakukan di bawah 1 tahun. Reksadana yang tepat untuk jenis investasi ini adalah reksadana pasar uang syariah. Meskipun rentang periode investasi singkat, dana dapat tetap berputar dengan cara yang aman dan halal.

2. Investasi Jangka Menengah

Investasi jangka menengah merupakan investasi yang dilakukan selama 1 sampai 3 tahun. Jenis reksadana yang tepat untuk jenis ini adalah reksadana pendapatan syariah. Dengan investasi jangka menengah ini, modal berputar dalam waktu yang cukup demi mendapatkan keuntungan yang baik. Namun, jika dirasa modal yang dikeluarkan cukup besar, investor juga dapat memiliki reksadana campuran syariah. 

3. Investasi Jangka Panjang

Investasi yang dilakukan lebih dari 5 tahun ini bisa membuat investor bisa menjaga portofolio aset. Dengan berinvestasi dengan periode ini, modal dapat berputar lebih optimal.

Cara Kerja Reksadana Syariah

loader

Reksadana Syariah

Reksadana syariah merupakan instrumen investasi yang berbeda dengan reksadana konvensional. Maka, cara kerjanya pun juga berbeda.

Instrumen investasi ini dikeluarkan langsung oleh OJK berdasarkan Daftar Efek Syariah (DES). Di dalam daftar ini, tercantum nama dan jenis perusahaan yang mendapatkan izin memperjualbelikan reksadana syariah. Maka, kehalalan hasil yang diterima investor dapat dipertanggungjawabkan, apalagi perusahaan yang tercantum telah lulus verifikasi DPS. 

Berbeda dengan reksadana konvensional, instrumen investasi ini telah melalui tahap pembersihan kekayaan atau proses cleansing dari unsur tidak halal yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Tidak hanya itu, perbedaan lainnya adalah adanya akad wakalah bin ujrah yang dikuasakan investor kepada Manajer Investasi dan Bank Kustodian untuk mengelola modalnya. 

Adapun perhitungan keuntungan reksadana syariah sebagai berikut.

Misalnya, kamu menerima gaji sebesar 5 juta rupiah setiap bulannya dan ingin menginvestasikan 10% dari gaji atau sebesar 500 ribu rupiah ke dalam reksadana syariah. Investasi yang kamu lakukan selama 1 tahun. Setelah sudah menentukan bentuk investasi yang tepat, diketahui bahwa hasil tahunan yang akan kamu dapat sekitar 10,55%. Maka, perhitungan keuntungan yang kamu dapat adalah sebagai berikut.

Keuntungan Investasi = (Nominal Investasi x Jangka Waktu) x Hasil Tahun

Keuntungan Investasi = (500.000 x 12) x 10,55%

Keuntungan Investasi = 6.000.000 x 10,55%

Keuntungan Investasi = 633.000

Dengan ilustrasi di atas, kamu akan mendapatkan keuntungan tahunannya sebesar 633 ribu. Lumayan sekali, bukan?

Perbedaan Reksadana Syariah dan Reksadana Konvensional

Reksadana Syariah

Reksadana Konvensional

Pengelolaan dilakukan berdasarkan prinsip syariah serta diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan OJK.

Pengelolaan dilakukan berdasarkan prinsip kontrak investasi kolektif serta diawasi oleh OJK saja.

Dilakukan proses cleansing.

Tidak dilakukan proses cleansing.

Prinsip saham menjadi acuan dalam penentuan jenis saham perusahaan beserta segala transaksi di dalamnya.

Penentuan saham perusahaan dan transaksi di dalamnya tidak harus mengacu pada prinsip syariah.

Keuntungan dibagi ke investor dan Manajer Investasi berdasarkan ketentuan yang telah disetujui.

Keuntungan dibagi ke investor dan Manajer Investasi berdasarkan suku bunga yang berlaku.

Kerugian ditanggung oleh pemodal.

Kerugian atau risiko ditanggung oleh Manajer Investasi karena adanya prinsip kolektivitas.

Baca juga: Reksadana Panin: Cara Beli dan Tips Investasi Reksadana untuk Pemula

Kehalalan Reksadana Syariah Terjamin

Reksadana syariah lebih menjamin terpenuhinya nilai-nilai syariah yang aman dan halal dan tentu saja menguntungkan. Meskipun demikian, potensi risiko rugi bisa saja terjadi karena tidak ada investasi yang bebas dari risiko.

Risiko ini perlu dipahami calon investor baik produk konvensional maupun syariah. Oleh karena itu, pastikan bahwa tujuan berinvestasi jelas dan pastikan modal yang diputar adalah modal yang aman atau yang tidak mengganggu ekonomi operasional pribadi maupun keluarga.