Siklus Menstruasi? Beginilah Runtutan Fase-Fasenya

Menstruasi bukanlah hal yang sebaiknya dianggap tabu untuk diedukasikan kepada masyarakat. Pasalnya, semua wanita pasti mengalami masa tersebut ketika sudah menginjak usia remaja dan akan terus mengalami fase tersebut hingga datang masa menopause. Jadi, pemahaman tentang menstruasi hendaknya bisa didapatkan oleh seluruh kaum hawa sedini mungkin.

Bukan tanpa alasan, meski menstruasi dialami oleh setiap wanita sejak menginjak usia remaja, tak banyak wanita yang tahu tentang siklus menstruasi tersebut. Mengenai apa yang terjadi dalam tubuh saat mengalami menstruasi, fase-fasenya, hingga apa yang sebenarnya dimaksud dengan menstruasi bahkan masih banyak yang tidak mengetahui.

Sederhananya, menstruasi adalah masa di mana perempuan yang sudah berusia remaja dan siap untuk bereproduksi mengeluarkan darah dari alat vitalnya. Keluarnya darah ini dikarenakan peluruhan lapisan dinding rahim akibat tidak mendapat pembuahan. Jadi, saat wanita tidak dibuahi atau tidak sedang mengalami kehamilan, siklus menstruasi akan terus terjadi dan merupakan hal yang wajar.

Lantas, apa menstruasi hanya sebatas terjadinya pendarahan saja? Tentu saja tidak. Ada beberapa fase yang terjadi dalam siklus menstruasi sebelum dinding rahim menjadi luruh dan terjadi pendarahan di vagina.

Setiap fase tersebut juga pada dasarnya dikontrol oleh beberapa hormon yang ada dalam tubuh wanita. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya.

Baca Juga: Kenali Dampak Buruk Cahaya Lampu Bagi Kesehatan Tubuh

5 Macam Hormon yang Berpengaruh pada Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi memang memiliki beberapa fase. Namun, seluruh fase tersebut dikontrol kondisinya oleh 5 hormon yang hanya dimiliki oleh wanita. Hormon-hormon tersebut adalah:

  1. Estrogen

    Estrogen merupakan hormon yang memengaruhi banyak hal dalam tubuh wanita, salah satunya adalah saat memasuki masa siklus menstruasi ini. Diproduksi oleh ovarium, estrogen juga memiliki peran dalam melakukan perubahan pada fisik seorang wanita saat memasuki masa pubertas. 

    Perubahan yang dilakukan oleh hormon estrogen ini termasuk juga pada proses pembentukan kembali lapisan dinding rahim yang luruh. Jadi, tanpa adanya hormon ini, lapisan dinding rahim tidak akan kembali seperti semula pasca terjadinya menstruasi.  

  2. Progesteron

    Selanjutnya ada hormon progesteron yang memiliki peran sama pentingnya dengan estrogen. Pada siklus reproduksi, hormon progesteron dan estrogen bekerja sama untuk menjaga siklus tersebut serta saat terjadi kehamilan. Selaras dengan estrogen, progesteron juga diproduksi oleh ovarium serta berperan untuk menebalkan kembali dinding rahim yang luruh. 

  3. GnRh

    Hormon ketiga yang memengaruhi proses menstruasi adalah hormon pelepas gonadotropin atau biasa disingkat dengan GnRh. Berbeda dengan dua hormon sebelumnya, hormon pelepas gonadotropin ini diproduksi otak dan bermanfaat untuk mendorong tubuh untuk membuat hormon perangsang folikel serta hormon pelutein. 

  4. Pelutein

    Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hormon pelutein ini dapat diproduksi akibat rangsangan yang diberikan oleh hormon gonadotropin pada tubuh. Fungsi dari hormon pelutein ini adalah untuk merangsang ovarium agar menghasilkan sel telur serta proses ovulasi. Dengan begitu, siklus menstruasi dapat terus berulang dan berjalan dengan lancar.  

  5. Perangsang Folikel

    Jenis hormon terakhir adalah hormon perangsang folikel atau biasa disingkat dengan FSH. Sama halnya dengan hormon pelutein, FSH juga dapat diproduksi akibat rangsangan yang diberikan oleh hormon pelepas gonadotropin pada tubuh. Lebih tepatnya, kelenjar pituitari yang merupakan bagian bawah dari otak adalah bagian tubuh yang memproduksi hormon ini. 

    Fungsi dari hormon ini adalah untuk membantu ovum atau sel telur dalam ovarium menjadi matang dan kemudian siap dilepaskan kembali. Dengan begitu, tubuh wanita kembali memasuki masa kesuburan dan dapat dibuahi oleh sperma atau mengulang siklus menstruasi.

Baca Juga: 7 Cara Tepat Mengatasi Nyeri Haid Bagi Wanita Pekerja

Fase-Fase pada Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi banyak diketahui terjadi selama 28 hari. Namun, tidak semua wanita memiliki siklus yang sama. Terdapat beberapa wanita yang sudah mendapatkan masa menstruasinya kembali padahal baru 21 hari pasca masa menstruasi yang sebelumnya.

Ada pula wanita yang siklus menstruasinya lebih lama, sekitar 40 hari hingga siklus menstruasi selanjutnya kembali terjadi. Jadi, selama berada pada rentang waktu tersebut, siklus menstruasi masih tergolong normal dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. 

  1. Fase Proliferasi

    Setiap fase dalam siklus menstruasi dipengaruhi kinerja dari hormon kewanitaan. Fungsi dari seluruh hormon kewanitaan tersebut adalah sebagai pembawa pesan bagi tubuh untuk melakukan perannya. 

    Pada masa awal siklus menstruasi, otak akan memproduksi hormon perangsang folikel. Hormon tersebut kemudian akan dibawa dan diedarkan melalui aliran darah untuk kemudian merangsang tubuh memproduksi folikel atau bagian di ovarium atau indung telur yang bertugas untuk menyimpan sel telur beserta sel pelindungnya. 

    Dalam tahap proliferasi ini, folikel mendapatkan pesan melalui hormon perangsang folikel untuk bersiap-siap segera melepaskan sel telur. Setelah itu, hormon estrogen akan mulai diproduksi kembali. Biasanya, fase proliferasi ini berlangsung selama 8 hari pada siklus menstruasi dengan rentang waktu 28 hari. 

  2. Fase Ovulasi

    Proses ovulasi sebenarnya juga terjadi dalam fase proliferasi. Dalam kata lain, fase ovulasi merupakan bagian dari fase proliferasi. Fase ovulasi ini terjadi dengan ditandai adanya proses pelepasan ovum atau sel telur dari ovarium.

    Dalam fase ini, sel telur bergerak menuju sebuah saluran yang disebut dengan fallopian tube atau tuba falopi. Selama fase ovulasi berlangsung, sel telur akan terus menempel pada saluran tersebut hingga ada sel sperma yang datang untuk membuahinya. 

    Pada bahasa awamnya, fase ovulasi inilah yang sering dianggap sebagai masa tersubur wanita. Artinya, jika ingin memiliki keturunan, melakukan hubungan intim dalam masa kesuburan ini memiliki potensi paling tinggi untuk berakhir pada kehamilan. Fase ovulasi biasa terjadi dan berlangsung selama 2 hari dari 8 hari fase proliferasi atau folikuler.

  3. Fase Sekresi

    Fase selanjutnya disebut dengan fase sekresi. Saat fase ini terjadi, rahim atau uterus sedang mempersiapkan diri agar bisa menampung sel telur atau ovum yang sudah mendapatkan pembuahan oleh sperma.

    Dalam fase sekresi ini, dinding rahim atau bisa juga disebut endometrium menjadi lebih tebal. Tujuannya adalah untuk menjadikannya sebagai cadangan darah serta jaringan guna bisa dimanfaatkan oleh sel telur yang sudah dibuahi sebagai sumber nutrisi. Pada umumnya, fase sekresi berlangsung selama kurang lebih 14 hari. 

  4. Fase Menstruasi

    Fase terakhir dalam siklus menstruasi adalah menstruasi itu sendiri. Jika sel telur yang sudah matang tersebut tidak mendapatkan pembuahan dari sel sperma selama 14 hari, sel telur tersebut akan mati. Rahim yang sudah menebalkan dindingnya dan menampung cadangan nutrisi untuk ovum yang sudah dibuahi akan ikut luruh bersama sel telur tersebut. 

    Proses peluruhan darah serta jaringan pada dinding rahim tersebut terjadi secara berkala setiap harinya. Pada umumnya, total darah serta jaringan yang luruh dan dikeluarkan melalui organ vital wanita tersebut memiliki berat sekitar 28 gram setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan ukuran 2 sendok makan.

    Pendarahan pada fase menstruasi ini biasanya berlangsung selama 4 hingga 7 hari lamanya. Jadi, tidak dapat dipastikan berapa lama fase menstruasi ini akan terjadi. Namun, asal masih dalam kurun waktu tersebut, maka fase ini masih tergolong dalam kondisi yang normal. 

    Setelah fase menstruasi selesai, tubuh wanita akan mengulang kembali siklus menstruasi dari fase yang paling awal. Selama sel telur dalam masa kesuburan tidak mendapatkan pembuahan dari sel sperma, siklus menstruasi ini akan terus berlangsung berulang kali sampai pada akhirnya memasuki masa menopause. Jadi, tidak mengherankan jika kaum hawa mengalami menstruasi tersebut paling tidak sebulan sekali. 

Pahami Fase dalam Siklus Menstruasi untuk Mengetahui Momen Paling Subur Istri

Mendapatkan keturunan merupakan impian dari setiap pasangan suami istri yang sudah lama menikah. Bahkan, dengan dianugerahi seorang bayi, para orang tua bisa mendapatkan pengalaman menjadi orang paling beruntung di dunia. Nah, bagi Anda yang masih kesulitan untuk memasuki masa kehamilan, tidak ada salahnya untuk memerhatikan siklus menstruasi ini dan mengetahui kapan masa paling subur istri akan terjadi. 

Baca Juga: Kanker Serviks: Penyebab Kanker Serviks, Gejala Kanker Serviks, Ciri-Ciri, Pencegahan dan Pengobatan yang Perlu Diketahui