Cara Mining Ethereum: Mengapa Sekarang Berubah Jadi Staking dan Bagaimana Cara Mulainya?

Mungkin kamu pernah dengar kalau mining Ethereum (ETH) bisa bikin kaya mendadak hanya dengan modal kartu grafis (GPU). Tapi tunggu dulu! Sejak pembaruan besar bernama The Merge, Ethereum sudah pindah ke sistem Proof of Stake (PoS). Artinya, kamu tidak bisa lagi menambang ETH dengan cara lama.

Lalu, apakah peluang cuannya sudah hilang? Tentu tidak! Sekarang fokusnya beralih ke Staking atau menambang koin turunan seperti Ethereum Classic (ETC). Yuk, simak panduan terbaru agar kamu tidak salah langkah!

Investasi Kripto di Cermati Sekarang!  

Apa Itu Ethereum?

loader

Sebelum ke proses mining, penting untuk paham dulu apa itu Ethereum. Ethereum adalah sebuah platform blockchain terbuka yang memungkinkan pengembang membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan menjalankan smart contract. Mata uang digital asli di jaringan Ethereum disebut ether (ETH). Jadi, ketika mendengar Ethereum, itu bisa merujuk ke jaringan/blockchain-nya dan ETH adalah token/mata uang yang dipakai dalam ekosistemnya.

Ethereum populer karena fleksibilitasnya, bukan cuma sebagai uang digital, tetapi juga sebagai platform untuk banyak aplikasi kripto. Itu sebabnya banyak yang tertarik untuk ikut mining Ethereum.

Saat ini, status jaringan Ethereum terbagi menjadi beberapa jenis:

  1. Ethereum (Versi Klasik): Jaringan asli yang masih mengandalkan metode mining untuk validasi.
  2. Ethereum 2.0 (PoS): Pasca The Merge pada September 2022, jaringan ini tidak lagi bisa ditambang dengan kartu grafis, melainkan melalui metode staking.
  3. Koin Turunan (Hard-fork): Varian koin yang masih mempertahankan mekanisme Proof of Work (PoW).

Ethereum Tidak Bisa Lagi Ditambang: Mengapa Kini Hanya Bisa Staking

Bagi kamu yang masih berencana merakit komputer canggih untuk "menggali" ether, ada info penting yang wajib kamu tahu. Sejak peristiwa bersejarah bernama The Merge, jaringan utama Ethereum telah sepenuhnya meninggalkan mekanisme Proof of Work (PoW) dan beralih ke Proof of Stake (PoS).

Artinya, Ethereum secara resmi sudah tidak bisa lagi ditambang (mining) menggunakan kartu grafis (GPU) atau mesin ASIC. Lalu, bagaimana cara mendapatkan koin baru? Jawabannya adalah melalui staking. Dalam sistem ini, validasi transaksi tidak lagi mengandalkan adu kekuatan perangkat keras yang boros listrik, melainkan melalui kepemilikan aset. 

Kamu cukup "mengunci" sejumlah ETH yang kamu miliki di dalam jaringan untuk membantu menjaga keamanan transaksi, dan sebagai imbalannya, kamu akan mendapatkan reward berupa bunga koin ETH tambahan. Jadi, alih-alih membeli alat tambang, kini kamu cukup "menanam" koin untuk memanen keuntungan.

Cara Staking Ethereum

Karena Ethereum sudah pindah ke sistem Proof of Stake (PoS), staking adalah cara paling relevan saat ini untuk mendapatkan keuntungan dari jaringan Ethereum tanpa perlu beli kartu grafis yang mahal.

Berikut adalah 3 cara mudah untuk mulai staking Ethereum:

  1. Staking Melalui Bursa Kripto (Cexchange Staking)

    Ini adalah cara yang paling mudah dan cocok untuk pemula. Kamu cukup menggunakan aplikasi bursa kripto (exchange) yang sudah terdaftar resmi.

    • Cara: Buka aplikasi seperti Binance, Tokocrypto, atau Pintu. Pilih menu Earn atau Staking, cari aset ETH, lalu masukkan jumlah yang ingin dikunci.
    • Kelebihan: Sangat praktis, tidak ada batas minimum 32 ETH (bisa mulai dari jumlah kecil), dan kamu tidak perlu mengurus teknis apa pun.
    • Kekurangan: Ada biaya administrasi dari bursa, dan kamu tidak memegang kunci dompet sendiri.
  2. Liquid Staking (Melalui Protokol DeFi)

    Cara ini sangat populer karena kamu tetap bisa menggunakan koin kamu meskipun sedang di-stake.

    • Cara: Kamu menyetorkan ETH ke protokol seperti Lido atau Rocket Pool. Sebagai gantinya, kamu akan menerima token perwakilan (seperti stETH). Token ini bisa kamu simpan atau digunakan lagi untuk transaksi lain sambil tetap mendapatkan bunga harian.
    • Kelebihan: Likuiditas tinggi (koin tidak benar-benar terkunci mati) dan bunga biasanya kompetitif.
    • Kekurangan: Ada risiko pada keamanan smart contract protokol tersebut.
  3. Menjadi Solo Validator (Staking Mandiri)

    Ini adalah cara "kasta tertinggi" dalam ekosistem Ethereum, tapi butuh modal dan keahlian teknis.

    • Cara: Kamu harus menyetorkan minimal 32 ETH dan menjalankan node atau server sendiri yang harus aktif 24 jam non-stop.
    • Kelebihan: Kamu mendapatkan reward penuh tanpa potongan dan berkontribusi langsung pada desentralisasi jaringan.
    • Kekurangan: Modal sangat mahal (32 ETH), butuh komputer spek khusus yang selalu online, dan ada risiko terkena penalti (slashing) jika server kamu mati atau melakukan kesalahan.

Baca juga: Perbedaan Staking dan Yield Farming: Mana yang Paling Menguntungkan buat Kamu?

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Menambang 1 Ethereum?

Banyak yang bertanya, "Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan buat dapat 1 koin?". Jawabannya sangat bergantung pada total hashrate perangkat kamu dan tingkat kesulitan jaringan saat itu. Dengan satu kartu grafis kelas atas, mungkin butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk mendapatkan 1 ETH secara utuh. Itulah sebabnya bergabung dalam pool sangat disarankan agar kamu bisa menerima bayaran dalam jumlah kecil secara rutin.

Mining Ethereum di Era Baru Kripto

Itu dia cara mining Ethereum. Meskipun mining Ethereum sudah tidak aktif di jaringan utama, ilmu dan prosesnya masih relevan untuk memahami dasar-dasar teknologi blockchain serta dunia mining kripto secara umum.

Kalau tertarik mencoba, pastikan untuk selalu memperhitungkan biaya listrik, harga perangkat, dan risiko pasar. Dan jangan lupa, pahami dulu setiap langkahnya agar pengalamanmu di dunia kripto tetap aman.